Semangat pagi semuanya. Bertemu lagi di blog ini, saya masih menulis keinginan yang disusupi setan dalam aktivitas kerja di kantor. Bisa jadi dari beberapa tulisan sebelumnya merupakan cermind dari kita sendiri. Tidak perlu malu, yang penting menyadari dan memperbaikinya. Tidak ada yang salah. Itulah fakta.
Suatu sore setelah rapat evaluasi, Bujang berkata:
“Aku nggak mau begini-begini saja. Tahun depan harus naik.”
Ambisi itu tidak salah. Justru terdengar bagus.
Ahmad tersenyum. “Naik itu bagus.
Tapi jangan sampai yang naik cuma jabatan, bukan kualitas.”
Bujang tertawa kecil. Ia belum mengerti maksudnya.
“Aku nggak mau begini-begini saja. Tahun depan harus naik.”
Ambisi itu tidak salah. Justru terdengar bagus.
Ahmad tersenyum. “Naik itu bagus.
Tapi jangan sampai yang naik cuma jabatan, bukan kualitas.”
Bujang tertawa kecil. Ia belum mengerti maksudnya.
Awalnya sederhana: “Aku ingin berkembang.”
Itu sehat.Tapi lalu bercabang:
→ “Aku harus lebih cepat dari yang lain.”
→ “Kalau perlu ambil semua peluang.”
→ “Kalau perlu kerja sampai lupa diri.”
→ “Kalau perlu tutupi kesalahan kecil.”
→ “Yang penting hasil.”
Di sinilah garis tipis mulai kabur.
Itu sehat.Tapi lalu bercabang:
→ “Aku harus lebih cepat dari yang lain.”
→ “Kalau perlu ambil semua peluang.”
→ “Kalau perlu kerja sampai lupa diri.”
→ “Kalau perlu tutupi kesalahan kecil.”
→ “Yang penting hasil.”
Di sinilah garis tipis mulai kabur.
Rantai Ambisi yang Tidak Disadari
Satu keinginan: “Ingin naik.”
Jika tidak disadari berubah menjadi:
Satu keinginan: “Ingin naik.”
Jika tidak disadari berubah menjadi:
→ Takut tertinggal.
→ Membandingkan progres.
→ Gelisah melihat promosi orang lain.
→ Menekan diri berlebihan.
→ Mengorbankan nilai kecil.
Dan akhirnya: Produktivitas bukan lagi ibadah. Tapi perlombaan ego.
→ Gelisah melihat promosi orang lain.
→ Menekan diri berlebihan.
→ Mengorbankan nilai kecil.
Dan akhirnya: Produktivitas bukan lagi ibadah. Tapi perlombaan ego.
Bujang mulai sering membayangkan:
• Duduk di kursi manajer.
• Dipanggil lebih hormat.
• Punya ruangan sendiri.
• Gaji lebih tinggi.
Ia membayangkan itu saat jam kerja.
Ia membayangkan itu saat rapat.
Ia membayangkan itu saat tugas belum selesai.
Waktu hari ini habis untuk masa depan yang belum tentu.
Allah berfirman:
• Duduk di kursi manajer.
• Dipanggil lebih hormat.
• Punya ruangan sendiri.
• Gaji lebih tinggi.
Ia membayangkan itu saat jam kerja.
Ia membayangkan itu saat rapat.
Ia membayangkan itu saat tugas belum selesai.
Waktu hari ini habis untuk masa depan yang belum tentu.
Allah berfirman:
وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ
Dilalakan oleh angan-angan.
Bukan hanya angan-angan kaya.
Tapi juga angan-angan jabatan.Tekanan yang Diciptakan Sendiri
Karena ingin cepat naik, Bujang mulai:
• Mengambil terlalu banyak tugas.
• Sulit berkata tidak.
• Lembur tanpa perhitungan.
• Pulang dengan kepala penuh tekanan.
Di rumah, ia mudah lelah.
Di kantor, ia mudah sensitif.
Ia mulai berpikir: “Kalau gagal tahun ini, aku kalah.”
Padahal tidak ada yang sedang melombakan.
Hanya pikirannya sendiri.
Karena ingin cepat naik, Bujang mulai:
• Mengambil terlalu banyak tugas.
• Sulit berkata tidak.
• Lembur tanpa perhitungan.
• Pulang dengan kepala penuh tekanan.
Di rumah, ia mudah lelah.
Di kantor, ia mudah sensitif.
Ia mulai berpikir: “Kalau gagal tahun ini, aku kalah.”
Padahal tidak ada yang sedang melombakan.
Hanya pikirannya sendiri.
Ahmad yang Mengingatkan
Suatu malam lembur, Ahmad berkata pelan:
“Jang, kalau target membuatmu kehilangan ketenangan,
mungkin yang salah bukan targetnya.
Tapi cara memaknainya.”
Bujang terdiam. Ahmad melanjutkan:
“Naik jabatan itu hasil. Bertumbuh itu proses.
Kalau prosesnya benar, hasil akan mengikuti.”
Suatu malam lembur, Ahmad berkata pelan:
“Jang, kalau target membuatmu kehilangan ketenangan,
mungkin yang salah bukan targetnya.
Tapi cara memaknainya.”
Bujang terdiam. Ahmad melanjutkan:
“Naik jabatan itu hasil. Bertumbuh itu proses.
Kalau prosesnya benar, hasil akan mengikuti.”
Merenung yuk
Ambisi: Antara Energi dan Jebakan
Ambisi itu seperti api.
Jika terkontrol, ia menghangatkan.
Jika tidak, ia membakar.
Ambisi yang sehat:
✔ Meningkatkan skill
✔ Menambah disiplin
✔ Membuat fokus
Ambisi yang tidak sadar:
✘ Mengorbankan nilai
✘ Menghalalkan cara kecil
✘ Mengabaikan keluarga
✘ Mengurangi ibadah
Dan yang paling halus:
Ambisi bisa membuat kita merasa selalu kurang.
Padahal Allah sudah mengatur takaran rezeki dan waktu.
Ambisi: Antara Energi dan Jebakan
Ambisi itu seperti api.
Jika terkontrol, ia menghangatkan.
Jika tidak, ia membakar.
Ambisi yang sehat:
✔ Meningkatkan skill
✔ Menambah disiplin
✔ Membuat fokus
Ambisi yang tidak sadar:
✘ Mengorbankan nilai
✘ Menghalalkan cara kecil
✘ Mengabaikan keluarga
✘ Mengurangi ibadah
Dan yang paling halus:
Ambisi bisa membuat kita merasa selalu kurang.
Padahal Allah sudah mengatur takaran rezeki dan waktu.
Pola Bahaya yang Sama
Keinginan:
“Ingin naik.”
Jika tidak disadari:
→ Gelisah melihat orang lain.
→ Terlalu menekan diri.
→ Mengorbankan prinsip kecil.
→ Menjadi lelah secara batin.
→ Menyalahkan sistem jika tidak tercapai.
Padahal awalnya niatnya baik.
Keinginan:
“Ingin naik.”
Jika tidak disadari:
→ Gelisah melihat orang lain.
→ Terlalu menekan diri.
→ Mengorbankan prinsip kecil.
→ Menjadi lelah secara batin.
→ Menyalahkan sistem jika tidak tercapai.
Padahal awalnya niatnya baik.
Sensor Ambisi
SENSOR 1
Apakah saya ingin berkembang atau ingin terlihat lebih tinggi?
SENSOR 2
Apakah ambisi saya membuat saya lebih disiplin atau lebih gelisah?
SENSOR 3
Apakah saya masih menjaga nilai kecil saat mengejar target besar?
SENSOR 4
Jika promosi tertunda, apakah saya tetap bekerja maksimal?
Apakah saya ingin berkembang atau ingin terlihat lebih tinggi?
SENSOR 2
Apakah ambisi saya membuat saya lebih disiplin atau lebih gelisah?
SENSOR 3
Apakah saya masih menjaga nilai kecil saat mengejar target besar?
SENSOR 4
Jika promosi tertunda, apakah saya tetap bekerja maksimal?
Menata Ulang Ambisi
Ambisi bukan dihapus.
Ambisi diarahkan.
Ubah kalimat: “Aku harus naik.”
Menjadi:“Aku harus bertumbuh.”
Karena bertumbuh adalah kendali kita.
Naik jabatan adalah takdir Allah.
Allah berfirman:
Ambisi bukan dihapus.
Ambisi diarahkan.
Ubah kalimat: “Aku harus naik.”
Menjadi:“Aku harus bertumbuh.”
Karena bertumbuh adalah kendali kita.
Naik jabatan adalah takdir Allah.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَرْفَعُ مَن يَشَاءُ
Allah meninggikan siapa yang Dia kehendaki.
Bukan semata siapa yang paling ingin.Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Tanya pada diri:
Apakah saya sedang menikmati proses,
atau hanya mengejar hasil?
Apakah saya bertumbuh,
atau hanya membayangkan posisi?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup jujur.
Pejamkan mata.
Tanya pada diri:
Apakah saya sedang menikmati proses,
atau hanya mengejar hasil?
Apakah saya bertumbuh,
atau hanya membayangkan posisi?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup jujur.
Just Do It Now
Mulai hari ini :
✔ Fokus pada peningkatan skill, bukan jabatan.
✔ Ambil tugas secukupnya dengan kualitas maksimal.
✔ Jangan korbankan nilai kecil demi target besar.
✔ Niatkan setiap pekerjaan sebagai ibadah.
Jika jabatan datang, syukur.
Jika belum, tetap bertumbuh.
Mulai hari ini :
✔ Fokus pada peningkatan skill, bukan jabatan.
✔ Ambil tugas secukupnya dengan kualitas maksimal.
✔ Jangan korbankan nilai kecil demi target besar.
✔ Niatkan setiap pekerjaan sebagai ibadah.
Jika jabatan datang, syukur.
Jika belum, tetap bertumbuh.
Transformasi Kecil
Beberapa minggu kemudian, promosi diumumkan.
Nama Bujang belum disebut.
Dulu ia mungkin kecewa besar. Sekarang ia hanya menarik napas. Ia berkata dalam hati: “Aku belum naik jabatan.
Tapi aku sudah naik kesadaran.”
Ahmad menepuk bahunya.
“Kalau pondasi kuat, bangunan tinggal menunggu waktu.”
Bujang tersenyum. Ambisinya tidak hilang. Tapi kini lebih tenang.
Beberapa minggu kemudian, promosi diumumkan.
Nama Bujang belum disebut.
Dulu ia mungkin kecewa besar. Sekarang ia hanya menarik napas. Ia berkata dalam hati: “Aku belum naik jabatan.
Tapi aku sudah naik kesadaran.”
Ahmad menepuk bahunya.
“Kalau pondasi kuat, bangunan tinggal menunggu waktu.”
Bujang tersenyum. Ambisinya tidak hilang. Tapi kini lebih tenang.
Alhamdulillah semakin banyak keinginan di kantor diantaranya Keinginan untuk naik
→ jika tidak disadari
→ menjadi ambisi berlebihan
→ menjadi tekanan
→ menjadi pembenaran kecil
→ menjadi kelelahan batin
Padahal yang dibutuhkan adalah pertumbuhan sadar. Bayangkan ingin karir naik, bisa jadi posisinya masih diisi orang lain. Menjadi indah dengan menjadi "pembantu" karir yang diinginkan membuat orang yang memilikinya naik juga.
→ jika tidak disadari
→ menjadi ambisi berlebihan
→ menjadi tekanan
→ menjadi pembenaran kecil
→ menjadi kelelahan batin
Padahal yang dibutuhkan adalah pertumbuhan sadar. Bayangkan ingin karir naik, bisa jadi posisinya masih diisi orang lain. Menjadi indah dengan menjadi "pembantu" karir yang diinginkan membuat orang yang memilikinya naik juga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar