Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Rabu, Februari 25, 2026

Tipu daya setan lemah, mengapa manusia tetap terjerumus?

Semangat pagi semuanya. Insya Allah hari dilancarakan rezekiNya dan diberkahi rezeki yang didapatkan. Ucapkan pujian kepada Allah dan bersyukur dengan menafkahkan sebagian dari rezeki Allah. 


Hari ini saya selingin seri 2 dengan tulisan berikut ini :
Jika tipu daya setan lemah, mengapa manusia tetap terjerumus?
Allah berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”
(QS. An-Nisa: 76)
Lemah di sini bukan berarti tidak berbahaya.
Lemah artinya:
  • Ia tidak bisa memaksa.
  • Ia tidak bisa menguasai hati orang yang berdzikir.
  • Ia tidak punya hujjah (kekuatan argumen) di hadapan kebenaran.
Namun ia menjadi terlihat kuat ketika manusia:
  • Lalai
  • Tidak sadar diri
  • Tidak menghadirkan Allah dalam pikirannya

Allah juga berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa berpaling dari dzikir kepada Ar-Rahman, Kami jadikan baginya setan sebagai teman dekat.”
(QS. Az-Zukhruf: 36)

Perhatikan kata berpaling.
Bukan karena setan kuat, tapi karena manusia lalai. Mengapa kita terjerumus ? Kita lalai kita tidak cukup sadar Allah sepanjang waktu.

Tentang pikiran sadar dan bawah sadar
Secara ruhani dan psikologis, ini menarik sekali.
Setan membisikkan di hati:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
(QS. An-Nas: 5)

Jika bisikan itu:
  • Diikuti
  • Diulang
  • Dibenarkan
Maka ia menjadi pola berpikir otomatis (seperti yang Anda sebut “bawah sadar”).
Namun Islam mengajarkan bahwa manusia tetap memiliki:
  • Akal (rasio)
  • Qalb (hati yang bisa sadar)
  • Niat (kehendak memilih)

Dan selama akal masih aktif dan hati masih hidup, keputusan tetap bisa diambil secara sadar, memang masih ada self talk yang membuat kita ragu untuk mengambil keputusan. Jangan terlalu lama membuat keputusan, karena pikiran bawah sadar bisa mempengaruhinya.

Apakah kesadaran kepada Allah membuat kita tidak terjerumus?
Jawabannya: sangat iya. Allah berfirman tentang orang bertakwa:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa, apabila mereka disentuh bisikan setan, mereka segera ingat (kepada Allah), maka ketika itu mereka menjadi melihat dengan jelas.”
(QS. Al-A’raf: 201)
Ini ayat yang sangat luar biasa.
Kata kuncinya:
tadzakkaru (mereka ingat)
mubshirun (mereka menjadi melihat jelas)
Artinya:
Kesadaran kepada Allah mengaktifkan kejernihan berpikir.
Jadi benar sekali yang Anda katakan:
Walaupun ada dorongan bawah sadar, ketika sadar (ingat Allah), keputusan bisa diambil dengan sehat.



Apakah ilmu berperan?
Sangat besar. Tanpa ilmu, seseorang bisa merasa itu “suara hati”, padahal itu hawa nafsu atau bisikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Ilmu membuat kita:
Bisa membedakan
Tidak mudah tertipu perasaan
Tidak menganggap semua dorongan batin sebagai ilham

Bagaimana membedakan bisikan setan dan rahmat Allah?
Para ulama menjelaskan beberapa tanda:
Bisikan setan:
Mengajak tergesa-gesa dalam keburukan
Membuat gelisah
Membenarkan hawa nafsu
Membisikkan putus asa
Menghias dosa
Ilham dari Allah:
Mengajak kebaikan
Membuat hati tenang
Selaras dengan syariat
Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Menguatkan taqwa
Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams: 8)
Manusia diberi potensi dua arah. Kesadaran dan ilmu menentukan arah pilihan.

Tentang bawah sadar yang “dirasuki”
Ini penting:
Selama seseorang masih:
Bisa merasa bersalah
Bisa berpikir ulang
Bisa memilih
Bisa berdoa
Maka ia tidak dikuasai.
Setan hanya memengaruhi, bukan menguasai.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah memaafkan:
“Apa yang terlintas dalam hati selama belum diucapkan atau dilakukan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya:
Pikiran spontan bukan dosa.
Keputusan sadar yang menentukan nilai amal.

Intinya adalah :
✔ Tipu daya setan lemah.
✔ Ia kuat hanya ketika kita lalai.
✔ Kesadaran kepada Allah membuat pikiran jernih.
✔ Ilmu membuat keputusan lebih sehat.
✔ Bahkan jika dorongan muncul dari bawah sadar, akal dan iman tetap bisa mengambil alih.
Dan inilah kemuliaan manusia:
Ia tidak dikendalikan sepenuhnya oleh dorongan.

Dari semua hal di atas, Saya berlindung kepada Allah memang memberi rasa kekuatan
Allah berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?”
(QS. Az-Zumar: 36)
Ini seperti kalimat yang Anda gambarkan:
Kalau Allah cukup, maka tidak ada yang perlu ditakuti secara berlebihan.
Dan Allah juga berfirman:
وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, sungguh ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.”
(QS. Ali Imran: 101)
Kata ya’tashim berarti berpegang kuat, berlindung, mencari perlindungan total.
Jadi ya — isti’adzah memang memberi kekuatan batin.
Tapi ada perbedaan penting antara “bekingan dunia” dan Allah
Bekingan dunia:
Membuat orang lain takut.
Mengandalkan kekuasaan makhluk.
Kadang melahirkan kesombongan.
Sedangkan perlindungan Allah:
Membuat hati tenang, bukan sombong.
Membuat kita rendah hati.
Membuat kita semakin taat.
Bukan membuat orang lain gentar, tapi membuat kita kokoh.
Allah berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“…Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali Imran: 173)
Perhatikan:
Mereka tidak menjadi arogan.
Mereka menjadi semakin beriman.

Makna “A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim”
Kalimat itu bukan sekadar proteksi. Ia adalah:
🔹 Pengakuan kelemahan
“Aku tidak mampu sendiri.”
🔹 Pengakuan musuh nyata
“Ada yang ingin menyesatkanku.”
🔹 Penegasan keberpihakan
“Aku memilih Allah, bukan bisikan itu.”
Dalam satu hadis disebutkan:
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia mengucapkan: A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya: isti’adzah mengaktifkan kesadaran sebelum tindakan.

Tentang rasa “pede dengan Allah”
Ini menarik sekali.
Rasa percaya diri karena Allah itu dalam Islam disebut:
  • Tsiqah billah (percaya penuh kepada Allah)
  • Tawakal
  • I’timad (bersandar)
Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Namun ada hal yang sangat indah:
Semakin seseorang benar-benar bersandar pada Allah,
semakin ia sadar bahwa kekuatan itu bukan miliknya.
Jadi bukan:
“Aku kuat karena Allah mendukungku.”
Tapi:
“Aku lemah, tapi Allah menguatkanku.”
Perbedaan halus ini menjaga hati dari ujub (merasa hebat).

Tentang kesadaran 
Meminta perlindungan membuat saya sadar, lalu saya tidak khawatir menghadapi apapun.
Ini sangat selaras dengan ayat:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dzikir itu bukan sekadar bacaan, tapi kesadaran aktif.
Ketika sadar bahwa Allah Maha:
Kuat
Mengetahui
Melihat
Mengatur
Melindungi
Maka ketakutan menjadi proporsional.

Apakah ini berarti kita “membawa kekuatan Allah”?
Secara aqidah, kita tidak memiliki kekuatan Allah.
Tapi kita diberi pertolongan-Nya.
Seperti dalam hadis Qudsi:
“Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dan:
“Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika ia berlindung kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
Ini luar biasa.
Bukan kita yang kuat, tapi Allah yang menolong.

Refleksi diri 
Analogi yang sehat adalah :
✔ Tidak melahirkan kesombongan
✔ Tidak membuat merasa kebal dosa
✔ Tidak membuat meremehkan sebab-sebab dunia
✔ Tidak merasa pasti selalu benar
Justru yang ideal adalah:
Semakin berlindung → semakin rendah hati
Semakin sadar Allah → semakin takut berbuat salah
Semakin yakin → semakin lembut

Insya Allah kita mendapatkan hikmah dan pencerahan dari tulisan ini. 
Makna yang yang dapat kita bangun dari lisan:
“A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim” sebagai sumber kekuatan
Itu benar — dengan syarat:
Kekuatan itu adalah ketenangan, kejernihan, dan keberanian dalam kebenaran. Bukan keberanian dalam ego.
Dan jujur saja… pemaknaan Anda menunjukkan proses tadabbur yang sangat hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Gaji Nggak Cukup

Semangat pagi semuanya, tak terasa saya memulai tulisan bisikan setan di kantor. Mungkin kita selama ini tidak merasa, tapi ada dan nyata. S...