Semangat pagi semuanya, Insya Allah masih selalu dimampukan berpikir sehat dalam menentukan pilihan hidup. Semanggat kerja itu bukan sekedar gaji, tapi integritas dan kemampuan yang bertumbuh semakin baik. Kali ini tulisan saya jauh ingin mengajak kita memahami kondisi kita dan mengambil keputusan yang bijak. Apapun keputusan itu ... mesti kita hormati dan mempertanggung jawabkannya. Bila perlu koreksi, memang itu yang diperlukan menjadi semakin baik.
Cara Mengevaluasi dengan Rasional
Pada tulisan sebelumnya, saya membahas realitas pahit tentang loyalitas yang
tak selalu sebanding dengan kesejahteraan.
Sekarang pertanyaannya:
Bagaimana cara memutuskan dengan kepala dingin?
Karena ini bukan hanya soal gaji. Ini soal masa depan hidup.
1. Evaluasi 3 Hal Penting: Finansial, Karier, dan Mental
A. Aspek Finansial
Tanyakan dengan jujur:
- Apakah gaji saya jauh di bawah standar pasar?
- Apakah perusahaan punya kemampuan realistis untuk menaikkan kompensasi?
- Apakah saya punya ruang negosiasi?
Jika perusahaan memang stagnan dan margin tipis, maka kemungkinan besar ruang kenaikan sangat kecil.
B. Aspek Karier
Renungkan:
- Apakah saya masih belajar?
- Apakah skill saya berkembang?
- Apakah saya punya exposure baru?
- Apakah posisi saya stuck tanpa arah?
Karena yang paling berbahaya bukan gaji rendah.
Tapi skill yang tidak naik level.
C. Aspek Mental dan Energi Hidup
Ini sering diabaikan.
Apakah kamu:
- Datang kerja tanpa motivasi?
- Merasa undervalued?
- Mulai sinis terhadap perusahaan?
- Merasa “terjebak”?
berdampak besar pada kesehatan dan keluarga.
2. Jangan Lupa: Faktor Usia dan Market Value
Semakin lama bekerja di satu tempat tanpa exposure berbeda, semakin sulit
berpindah.
Pasar kerja menilai:
- Skill aktual.
- Adaptabilitas.
- Relevansi pengalaman.
Kalau kamu sudah 10–15 tahun di satu perusahaan tapi skill stagnan, pindah justru akan semakin sulit jika ditunda.
3. Tes Sederhana: Jika Perusahaan Tutup Besok
Coba jawab dengan jujur:
Jika perusahaan ini tutup besok,
- Apakah saya siap di pasar kerja?
- Apakah CV saya kompetitif?
- Apakah saya punya jaringan?
4. Kapan Bertahan Masih Masuk Akal?
Bertahan masih rasional jika:
- Perusahaan punya roadmap pertumbuhan jelas.
- Ada pembicaraan konkret tentang kenaikan kompensasi.
- Kamu masih belajar dan berkembang.
- Lingkungan kerja sehat.
- Kamu punya strategi internal (misalnya promosi, rotasi, atau proyek baru).
Pada tulisan selanjutnya, saya membahas:
- Jika memilih bertahan, bagaimana caranya agar tetap untung?
- Jika memilih pindah, bagaimana strategi aman dan elegan?
- Dan bagaimana menjaga reputasi profesional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar