Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Kamis, Februari 26, 2026

Terlihat baik di hadapan Atasan

 Semangat pagi semuanya. Menarik sekali saya bisa berbagi keinginan disusupi bisikan setan. Tampil dihadapan bos itu baik karena memang memiliki kemampuan, tapi kayaknya banyak orang mengikuti bisikan setan untuk terlihat baik. Tak berlama lagi ikuti kisahnya

Begini awal kisahnya 
Senyum yang Terlatih
Jam 09.00. Atasan masuk ruangan.
Bujang langsung duduk tegak. Layar diganti ke dashboard utama.
Postur diperbaiki.
Nada bicara jadi lebih sopan. “Pagi, Pak.”
Senyumnya rapi. Sepuluh menit kemudian, saat atasan pergi,
ia kembali ke ritme biasa. Scroll pelan.
Kerja santai.Bukan jahat.
Hanya ingin terlihat baik.


Keinginan Awal yang Tampak Wajar
Awalnya sederhana: “Aku ingin diapresiasi.” Itu fitrah.
Semua manusia ingin dihargai.Tapi lalu muncul:
→ “Yang penting atasan lihat.”
→ “Yang lain nggak penting.”
→ “Kalau atasan senang, aman.”
→ “Kalau perlu, lapor dulu sebelum orang lain.”
Pelan-pelan, fokus berpindah. Dari kualitas kerja
ke kualitas citra.


Rantai yang Tidak Disadari
Satu keinginan: “Ingin dihargai.”
Bercabang:
→ Ingin terlihat sibuk.
→ Ingin disebut kontribusinya.
→ Ingin lebih menonjol dari rekan.
→ Mulai membandingkan.
→ Mulai menutupi kekurangan.
Tanpa sadar, energi habis untuk mengatur tampilan.
Bukan meningkatkan substansi.
Allah berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Allah mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.”
(QS. Ghafir: 19)
Yang tersembunyi pun terlihat oleh-Nya.

Lamunan yang Menggerogoti
Siang itu, Bujang membayangkan: “Kalau aku dipromosikan…”
“Kalau atasan melihatku paling loyal…”
“Kalau namaku disebut di rapat…”
Ia membangun skenario di kepala. Padahal laporan belum selesai. Jam berlalu.
Ia tidak sadar bahwa:
Keinginan untuk terlihat baik menghabiskan fokus kerja yang seharusnya nyata.


Ahmad yang Tidak Banyak Bicara
Suatu sore Ahmad berkata pelan: “Jang, kalau atasan tidak ada di ruangan, apakah kualitas kerjamu tetap sama?”
Bujang tersenyum kaku. Ahmad melanjutkan:
“Kalau jawabannya tidak, berarti yang kau kejar bukan kualitas.
Tapi penglihatan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.

Sekali ini direnungkan jadi baik :
Pencitraan yang Halus. Ingin dihargai bukan dosa.
Tapi ketika:
Kerja keras hanya saat dilihat
Rajin hanya saat dinilai
Peduli hanya saat ada keuntungan
Maka yang dibangun bukan integritas.
Tapi citra. Dan citra butuh panggung.
Integritas butuh kesadaran.
Allah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidakkah ia tahu Allah melihat?

Jika Allah sudah melihat, mengapa kita terlalu sibuk mengatur pandangan manusia ?

Sensor Pencitraan
SENSOR 1
Apakah saya bekerja keras hanya saat dilihat?
SENSOR 2
Apakah saya melaporkan lebih banyak dari yang saya lakukan?
SENSOR 3
Apakah saya merasa terganggu saat rekan dipuji?
SENSOR 4
Jika tidak ada promosi, apakah saya tetap bekerja maksimal?

Bahaya yang Pelan
Keinginan ingin dihargai jika tidak disadari
→ melahirkan persaingan tak sehat
→ melahirkan iri
→ melahirkan manipulasi kecil
→ melahirkan karakter tidak tulus
Dan karakter terbentuk bukan oleh tindakan besar.
Tapi oleh tindakan kecil yang diulang.

Diam Sejenak
Pejamkan mata. Dalam satu bulan terakhir:
Apakah Anda pernah bekerja lebih keras karena ada yang melihat?
Apakah semangat turun saat tidak diperhatikan?
Apakah hati tidak nyaman saat orang lain mendapat pujian?
Tidak perlu merasa bersalah.
Cukup jujur aja.

Just Do It Now
Mulai hari ini:
✔ Kerjakan satu tugas dengan kualitas terbaik
meski tidak ada yang tahu.
✔ Jangan umumkan setiap kontribusi kecil.
✔ Fokus pada hasil, bukan pujian.
✔ Ucapkan dalam hati:
“Allah melihat, itu cukup.”

Transformasi Kecil
Suatu hari, atasan memuji rekan lain. Bujang sempat merasa tidak nyaman. Tapi kali ini ia sadar.
Ia berkata dalam hati: “Rezeki pujian bukan bagianku hari ini.Tapi rezeki amanah masih milikku.”
Ia kembali bekerja. Tanpa drama. Tanpa membandingkan.
Ahmad melihatnya dan berkata : “Kalau kita bekerja untuk dilihat Allah,manusia melihat atau tidak, tidak lagi menentukan.”
Bujang tersenyum pelan.Ia belum sempurna.
Tapi ia mulai punya sensor.


Insya Allah tulisan ini jadi pencerahan, kita perlu merasa salah, tapi yang lebih penting adalah sadar dan berubah. Ingat :
Keinginan untuk dihargai
jika tidak disadari
→ melahirkan pencitraan
→ melahirkan pembandingan
→ melahirkan iri
→ melahirkan manipulasi halus
Padahal kerja sejati adalah amanah
Yuk pahami ulang dengan pikiran jernih dan hati yang terbuka. Inilah langkah untuk memberdayakan diri semakin baik dan semakin dihargai bukan saja oleh atasan tapi Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Terlihat baik di hadapan Atasan

 Semangat pagi semuanya. Menarik sekali saya bisa berbagi keinginan disusupi bisikan setan. Tampil dihadapan bos itu baik karena memang memi...