Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Selasa, Februari 17, 2026

Ibadah sepanjang hari

Semangat pagi semua, hari ini saya menulis kembali setelah rehat cukup lama. Saya masih terdorong untuk berbagi tentang dunia kerja dan iman. Seringkali beberapa orang masih berpikir kerja itu ya kerja, dan iman itu (diantaranya salat - ibadah) ditafsirkan sebagai pengungkit kerja agar tercapai keinginan kita. Insya Allah semua dapat saya bagikan pula dari pengalaman selama menjadi karyawan dan pimpinan (manager).



 Untuk hal diatas, saya mulai dari niat kerja untuk mencari rezeki buat keluarga. Yang pertama kita mesti apresiasi niat baik ini. Dalam dalam hadist disebutkan perbuatan itu tergantung niatnya. Dari contoh niat ini mencari rezeki untuk keluarga. Artinya niat mencari rezeki ini mesti tertuju kepada Allah, mencari memberi makna cara kerja kita dalam mendapatkan rezeki. Niat ini mesti kita terjemahkan ke dalam action atau kerja kita yang lebih nyata. Tidak hanya  sekedar memdapatkan gaji dengan apa yang kita kerjakan. Tapi jauh lebih luas dari sekedar gaji, diantara kemampuan, ilmu, kemanfaatan kerja, fisik yang sehat, keluarga yang mampu mengadaptasi perjalanan kerja kita, dan ibadah yang semakin baik.

Kata mencari rezeki seperti kurang pas, karena Allah berfirman "Allahlah yang memberi rezeki kepada hambaNya". Mencari seringkali dipersepsikan kerja yang menghasilkan uang atau gaji. Mau dicari dimana ? Ditempat kerja ? Iya dong. kalau ada pendapat yang mengatakan gaji itu tidak perlu dicari, karena kita tidak pernah tahu malaikat pembawa rezeki dari Allah itu berada. Tapi malaikat pembawa rezeki itu tahu dimana rezeki yang  dibawa itu diberikan kepada siapa. Tentunya rezeki yang disalurkan dari Allah, karena Allahlah yang memberi rezeki. Diantara rezeki itu adalah gaji kita. Allah memberi rezeki atas apa yang kita kerjakan, baik ibadah khusus (salat cs) dan ibadah umum (kerja dan aktivitas harian). Sudahkah kita mempertunjukkan kedua ibadah itu menjadi luar biasa ?? atau membuat Allah takjub ?

Pertanyaan terakhir inilah yang sering hany diterjemahkan sebagai hal yang biasa, salatnya (ibadah utama) dan kerjanya biasa-biasa saja. Yang ada dibenak banyak karyawan adalah kerja aja mengikuti SOP atau tugas yang diberikan. Padahal tidak ada yang salah jika kita salatnya luar biasa, salatnya dijalankan dengan benar dan kerjanya dilakukan lebih dari apa yang diminta. Sampai saat ini kita cenderung mengacu kepada atasan dan perusahaan. Ini tidak salah, tapi bisa diselaraskan kepada yang lebih tinggi lagi, apa itu ? Ternyata kerja kita adalah pengakuan kepercayaan oleh atasan/HRD atas kemampuan dan diizinkan oleh Allah. Izin Allah ini berupa kerja sebagai amanah Allah. Disinilah Allah menilai apa yang kita kerjakan, berarti kita yang menjadi karyawan dipercaya untuk dibuktikan dan diberi amanah untuk dipertanggungjawabkan kepada Allah. Disinilah sebenarnya apa yang kita sebut sebagai mencari rezeki dengan kerja kita.

Mncari rezeki itu adalah mencari kerja yang membuktikan dan bertanggung jawab. Apakah hal ini hanya dilakukan dengan kerja biasa-biasa saja ? Jawabannya pasti tidak. Perusahaan menginginkan kita bekerja maksimal dan terus bertumbuh, dan Allah meminta kita kerja di jalan Allah.  Apa yang terjadi dengan keinginan kita kerja mencari duit, maka alangkah indahnya kita luruskan niatnya.

Niat awal kerja itu mencari rezeki Allah, niat mencari rezeki itu adalah mempertanggung jawabkan amanah Allah dengan apa menjadi pekerjaan kita, niat mempertanggung jawabkan amanah itu menuntun kita menemukan petunjuk Allah agar apa yang kita kerjakan selaras dengan iman. Actionnya adalah kerja yang luar biasa, kerja yang melebihi apa yang diminta dalam SOP/job desc, dan beribadah yang membuat Allah takjub. Jadi kerja yang luar biasa (perusahaan takjub) yang mendorong rasa syukur untuk semakin bagus salatnya. Dan semakin salatnya bagus membuat semakin kerjanya semakin takjub lagi.

Dalam aktivitas kesehariannya, kita benar-benar produktif, semakin kerja bernilai di hadapan Allah. Rasanya tak mungkin ada orang yang mempertanggungjawabkan kepada Allah tidak mampu memberikan kerja yang luar biasa. 

Dari penjelasan ini kita bisa menarik hikmah, yaitu niat baik secara makna mesti dapat memberi persepsi baik di mata Allah. Oleh sebab itu perdalam niat kita kerja, perdalam terus sehingga menemukan niat dasar kita bekerja. Lalu jangan pernah ada persepsi yang tidak pas yang membuat kerja semakin tertekan. Dari sini kita belajar bahwa kerja dan ibadah itu adalah dua hal yang tidak terpisah tapi saling menguatkan di jalan Allah. Hindari ibadah seperti salat dan doa dijadikan pengungkit agar kita mendapatkan rezeki yang lancar dengan kerja kita.

Insya Allah tulisan ini memberi kekuatan bagi kita yang beriman untuk menghargai kerja itu ibadah juga BUKAN kerja sebagai ibadah. Teruslah bekerja dengan cara yang Allah ridhai, kerja bener dan efektif. Bayangkan sepanjang hari kita ibadah kepada Allah (sebagaimana tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu untuk mengabdi atau beribadah) lewat kerja dan ibadah salat kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang n...