Ketika Ketidaktaatan Menjadi Biasa, Perjalanan yang Sering Tidak Disadari
Banyak orang tidak meninggalkan jalan ketaatan dalam satu hari.
Tidak ada seorang muslim yang bangun pagi lalu berkata:
"Mulai hari ini saya ingin jauh dari Allah."
Yang lebih sering terjadi justru sebaliknya.
Seseorang tetap salat, tetap bekerja, tetap menjalani hidup seperti biasa. Namun ada ketidaktaatan kecil yang mulai diterima, lalu diulang, lalu dianggap normal. Lambat laun hati berubah tanpa disadari.
Masalah terbesar bukan ketika kita melakukan kesalahan.
Masalah terbesar adalah ketika kesalahan itu tidak lagi terasa sebagai kesalahan.
Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri."
(QS. Al-Hasyr: 19)
Mari melihat beberapa kejadian yang sangat sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Menunda Salat Demi Pekerjaan
Kasus
Waktu Zuhur tiba.
Seseorang sedang mengerjakan laporan.
Ia berkata:
"Tanggung sedikit lagi."
Dua puluh menit berlalu.
Laporan selesai.
Barulah ia salat.
Besok terulang.
Lusa terulang.
Seminggu kemudian menjadi kebiasaan.
Apa yang Terjadi?
Awalnya ia masih merasa tidak nyaman.
Namun perlahan rasa bersalah itu hilang.
Yang berubah bukan hanya waktu salatnya.
Yang berubah adalah posisi Allah dalam prioritas hidupnya.
Tanpa sadar pola pikirnya berubah:
Dari:
"Pekerjaan harus menyesuaikan perintah Allah."
Menjadi:
"Perintah Allah menyesuaikan pekerjaan saya."
Mengapa Berbahaya?
Karena masalahnya bukan sekadar terlambat salat.
Masalahnya adalah hati mulai terbiasa meletakkan urusan dunia di depan panggilan Allah.
Jika hal ini terus terjadi, maka bukan hanya Zuhur yang terdampak.
Ashar ikut terlambat.
Tilawah mulai hilang.
Zikir menjadi jarang.
Ketaatan lain ikut melemah.
Penyadaran
Bayangkan direktur perusahaan mengundang rapat penting pukul 13.00.
Apakah kita akan datang satu jam kemudian sambil berkata:
"Maaf Pak, saya sedang sibuk."
Tentu tidak.
Kita akan menghentikan pekerjaan dan datang tepat waktu karena memahami siapa yang memanggil.
Lalu bagaimana jika yang memanggil adalah Rabb yang memberi pekerjaan itu?
Bukan salat yang mengganggu pekerjaan.
Justru salatlah yang menjaga keberkahan pekerjaan.
2. Terlalu Sibuk untuk Membaca Al-Qur'an
Kasus
Awalnya seseorang memiliki kebiasaan membaca satu halaman Al-Qur'an setelah Subuh.
Suatu hari terlewat.
Besok terlewat lagi.
Kemudian muncul kalimat:
"Nanti saja kalau lebih senggang."
Tetapi hari yang senggang itu tidak pernah datang.
Apa yang Terjadi?
Hubungan dengan Al-Qur'an tidak putus sekaligus.
Ia memudar sedikit demi sedikit.
Semakin lama seseorang jauh dari Al-Qur'an, semakin banyak keputusan hidup yang dibuat tanpa petunjuk Allah.
Mengapa Berbahaya?
Karena hati membutuhkan makanan sebagaimana tubuh membutuhkan makanan.
Tubuh yang tidak makan akan lemah.
Hati yang tidak diberi Al-Qur'an juga akan lemah.
Ketika hati lemah, godaan yang kecil terasa besar.
Masalah yang kecil terasa berat.
Penyadaran
Banyak orang panik ketika baterai ponselnya tinggal 10%.
Tetapi tidak panik ketika hatinya sudah berminggu-minggu tidak diisi dengan firman Allah.
Padahal baterai yang habis hanya membuat kita kehilangan komunikasi beberapa jam.
Hati yang kosong dari Al-Qur'an bisa membuat kita kehilangan arah kehidupan.
3. Menunda Sedekah Sampai Kaya
Kasus
Saat uang sedikit:
"Nanti kalau rezeki lebih banyak saya bersedekah."
Ketika penghasilan naik:
"Sekarang lagi banyak kebutuhan."
Penghasilan naik lagi:
"Lagi mengejar target."
Dan sedekah tetap tidak dilakukan.
Apa yang Terjadi?
Yang bertumbuh bukan kedermawanan.
Yang bertumbuh justru kecintaan terhadap harta.
Hati semakin ahli mencari alasan untuk menunda berbagi.
Mengapa Berbahaya?
Karena harta yang tidak dikeluarkan di jalan Allah perlahan mengikat hati.
Seseorang mulai takut kehilangan.
Takut berkurang.
Takut tidak cukup.
Padahal Allah menjanjikan keberkahan pada yang memberi.
Penyadaran
Masalahnya sering bukan pada jumlah uang.
Masalahnya pada kebiasaan hati.
Jika hari ini kita tidak rela mengeluarkan Rp10.000 untuk Allah, apa jaminannya besok kita rela mengeluarkan Rp1.000.000?
Yang membuat seseorang dermawan bukan banyaknya harta.
Tetapi kebiasaan memberi karena Allah.
4. Manipulasi Kecil di Tempat Kerja
Kasus
Jam masuk kantor pukul 08.00.
Seseorang datang pukul 08.15.
Namun sistem absensi diakali.
Atau laporan pekerjaan sedikit dilebihkan agar terlihat lebih baik.
Atau jam kerja diisi seolah-olah produktif padahal tidak demikian.
Katanya:
"Semua orang juga begitu."
Apa yang Terjadi?
Awalnya hati menolak.
Lalu mulai mentoleransi.
Lalu akhirnya menganggapnya sebagai bagian dari budaya kerja.
Mengapa Berbahaya?
Karena pelanggaran kecil yang terus diulang sedang melatih seseorang untuk nyaman dengan ketidakjujuran.
Dosa besar sering tidak dimulai dari kebohongan besar.
Tetapi dari kebohongan kecil yang terus dirawat.
Penyadaran
Kita sering takut jika CCTV kantor merekam semua perbuatan kita.
Namun sering lupa bahwa Allah melihat semuanya tanpa ada satu detik pun yang terlewat.
Jabatan mungkin bisa diperoleh dengan pencitraan.
Bonus mungkin bisa diperoleh dengan manipulasi.
Tetapi keberkahan tidak pernah lahir dari ketidakjujuran.
5. Menunda Mengembalikan Amanah Kerja
Kasus
Kantor memberi tanggung jawab.
Namun pekerjaan ditunda terus.
Deadline masih minggu depan.
Kemudian tinggal tiga hari.
Lalu tinggal satu hari.
Akhirnya pekerjaan dikerjakan terburu-buru.
Apa yang Terjadi?
Kebiasaan menunda membentuk karakter.
Seseorang menjadi reaktif, bukan proaktif.
Selalu berada dalam tekanan.
Selalu mencari alasan.
Mengapa Berbahaya?
Karena seorang muslim seharusnya dikenal dengan sifat amanah.
Ketika amanah mulai diremehkan, kualitas iman dan kualitas kerja sering turun bersamaan.
Penyadaran
Banyak orang ingin sukses dalam karier.
Tetapi lupa bahwa salah satu bentuk ibadah terbesar di tempat kerja adalah menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya.
Allah tidak hanya bertanya tentang salat kita.
Amanah yang dipercayakan kepada kita juga akan ditanya.
6. Ghibah yang Menjadi Budaya Kantor
Kasus
Awalnya hanya mendengarkan.
Lalu ikut tertawa.
Lalu ikut menambahkan cerita.
Lalu menikmati membicarakan kekurangan orang lain.
Apa yang Terjadi?
Ghibah tidak lagi terlihat sebagai dosa.
Ia berubah menjadi hiburan.
Bahkan menjadi sarana membangun kedekatan sosial.
Mengapa Berbahaya?
Karena hati menjadi terbiasa mencari keburukan manusia daripada melihat kebaikan mereka.
Lidah yang terbiasa melukai akan sulit terasa khusyuk saat berdoa.
Penyadaran
Pernahkah kita membayangkan jika seluruh obrolan kita diputar di hadapan orang yang kita bicarakan?
Masihkah kita bangga dengan ucapan itu?
Sering kali kita sangat menjaga reputasi sendiri, namun tanpa sadar ikut merusak reputasi orang lain.
7. Merasa Aman Karena Masih Banyak Ibadah
Kasus
Seseorang masih salat.
Masih menghadiri kajian.
Masih aktif dalam kegiatan dakwah.
Namun ada beberapa perintah Allah yang terus diabaikan.
Dan ia merasa tenang karena amal baiknya masih banyak.
Apa yang Terjadi?
Perhatiannya bukan lagi pada kekurangan diri.
Melainkan pada pencapaian dirinya.
Mengapa Berbahaya?
Karena seorang mukmin selalu melihat betapa banyak yang harus diperbaiki.
Sedangkan orang yang tertipu sering lebih fokus pada apa yang sudah dilakukan.
Penyadaran
Iblis bukan makhluk yang tidak pernah beribadah.
Justru ia pernah beribadah sangat lama.
Yang menghancurkannya adalah satu pembangkangan yang dipertahankan.
Maka jangan hanya bertanya:
"Berapa banyak amal yang sudah saya lakukan?"
Tetapi tanyakan:
"Perintah Allah apa yang masih saya abaikan?"
Renungan Akhir
Tidak ada pohon besar yang tumbuh dalam satu malam.
Begitu pula jauhnya seseorang dari Allah.
Ia tidak terjadi sekaligus.
Dimulai dari satu penundaan.
Satu alasan.
Satu toleransi terhadap kesalahan.
Satu ketidaktaatan yang dianggap biasa.
Lalu diulang.
Lalu diulang lagi.
Lalu menjadi karakter.
Karena itu jangan meremehkan dosa kecil.
Bukan karena ukurannya besar, tetapi karena dampaknya terhadap hati.
Hari ini mungkin Allah sedang mengingatkan kita melalui satu hal yang sering kita abaikan.
Mungkin salat yang selalu ditunda.
Mungkin sedekah yang terus diundur.
Mungkin amanah kerja yang sering disepelekan.
Mungkin Al-Qur'an yang mulai jarang dibaca.
Jangan tunggu sampai hati terbiasa hidup tanpa ketaatan itu.
Sebab ketika dosa masih membuat kita gelisah, itu tanda hati masih hidup. Tetapi ketika dosa sudah terasa biasa, di situlah bahaya sesungguhnya dimulai.
Munir Hasan Basri





