Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Rabu, Februari 25, 2026

Gaji Nggak Cukup

Semangat pagi semuanya, tak terasa saya memulai tulisan bisikan setan di kantor. Mungkin kita selama ini tidak merasa, tapi ada dan nyata. Setelah 2 tulisan sebelum tentang bisikan setan itu, kita terapkan mengenal bisikan setan dan menyikapi yang bertumbuh semakin baik.

Gaji yang tidak cukup, bukan sekedar keluhan, tapi Bisikan yang Paling Halus di Kantor setiap awal bulan. Yuk kita sadari apa yang terjadi kalau kita meladeni bisikan ini dengan tidak baik dan sikap yang bener.

Pagi di Kantor, Bujang duduk di depan layar komputernya.
Excel terbuka. Angka-angka terpampang. Tapi yang berputar di kepalanya bukan laporan. “Gaji segini… mana cukup.”
Cicilan rumah. Sekolah anak. Istri ingin renovasi dapur. Teman sekantor baru beli mobil. Di sebelahnya, Ahmad membuka email dengan tenang.
Bujang melirik. Kok kau santai kali, Mad? Gaji kita sama loh.
Ahmad tersenyum kecil.
“Memang sama. Tapi kebutuhan kita belum tentu sama.”
Bujang menghela napas. Kadang aku mikir… kalau dapat proyek sampingan pakai fasilitas kantor sedikit… nggak apa kali ya. Atau mark up sedikit reimburs. toh perusahaan besar.”
Ahmad menoleh perlahan.
Pelan-pelan itu pintunya.


Bisikan Pertama: “Gaji Tidak Cukup”
Bisikan ini tidak terdengar seperti ajakan dosa.
Ia terdengar seperti keluhan yang wajar dan mungkin bisa jadi motivasi. Padahal seringkali, bukan kebutuhan yang tidak cukup.
Tapi keinginan yang bertambah.
Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ...
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada hal-hal yang diingini…”
(QS. Ali Imran: 14)
Keinginan bukan yang salah. Tapi ketika keinginan tumbuh lebih cepat dari rasa syukur, di situlah bisikan bekerja.

Perbedaan Cara Pandang
Ahmad pernah berada di fase yang sama.
Ia juga pernah berpikir:
  • “Perusahaan kaya.”
  • “Sedikit saja tidak akan ketahuan.”
  • “Semua orang juga begitu.”
Tapi suatu hari ia membaca ayat:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ia berhenti.
Kalau rezekiku sudah ditakar, kenapa aku harus khawatir?”
Sejak itu, Ahmad tidak lagi fokus pada “kurang”,
tapi pada “cukup”.

Sensor Pertama Seorang Karyawan
Bujang menatap layar kosong. “Mad, kau pernah merasa iri nggak?” “Pernah.” “Terus?”
“Aku tanya pada diri sendiri:
Apakah ini kebutuhan atau gengsi?”
Bujang terdiam. Sering kali “gaji tidak cukup” bukan soal angka.
Tapi soal pembanding. Media sosial memperparah.
Lingkungan mempercepat. Setan tidak menyuruh mencuri langsung.
Ia mulai dengan:
“Kenapa kamu nggak punya seperti mereka?” 

Mari Renungkan: Ketika Gaji Terasa Tidak Cukup
Mari diam sejenak.
Tutup mata sebentar.
Tanyakan dengan jujur:
  • Apakah benar kebutuhan pokok saya tidak terpenuhi?
  • Atau saya membandingkan hidup saya dengan standar orang lain?
  • Apakah saya pernah bersyukur atas nominal yang sekarang?
Bisikan setan jarang datang dalam bentuk jahat. Ia datang dalam bentuk “logis”. “Kamu hanya ingin hidup lebih baik.” Padahal yang digeser adalah rasa qana’ah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari & Muslim)


Ujian Integritas di Kantor
Hari itu Bujang mendapat kesempatan mengelola dana kecil untuk proyek internal. Tak ada yang mengawasi detailnya.
Bisikan datang: “Bisa ambil sedikit. Nggak ada yang tahu.”
Lalu suara lain muncul: “Allah tahu.” Inilah sensor.
Bukan kamera. Bukan audit. Tapi kesadaran.
Allah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah dia tahu bahwa Allah melihat?”
(QS. Al-‘Alaq: 14)
Karyawan tanpa sensor berpikir:
“Selama tidak ketahuan aman.”
Karyawan dengan sensor akan berpikir:
“Selama Allah melihat, aku aman dari dosa.”

Masalahnya Bukan Gaji
Seringkali yang membuat kita merasa kurang adalah:
  • Gaya hidup naik.
  • Standar sosial berubah.
  • Nafsu tidak pernah puas.
Allah berfirman:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
“Sesungguhnya nafsu itu menyuruh kepada keburukan…”
(QS. Yusuf: 53)
Nafsu selalu ingin lebih. Setan menghiasinya. Akal dan iman menentukan batasnya.

Solusi Praktis (Bukan Teori)
Berikut langkah konkret membangun sensor di tema “gaji tidak cukup”:
1️⃣ Audit Keinginan
        Tulis:
    • Mana kebutuhan.
    • Mana gengsi.
2️⃣ Syukur Spesifik
        Bukan cuma “Alhamdulillah”, tapi rinci:
    • Bisa bayar listrik.
    • Bisa makan.
    • Bisa sekolah anak.
3️⃣ Hindari Pembanding Beracun
        Kurangi scroll yang membuat hati iri.
4️⃣ Tingkatkan Skill, Bukan Celah
        Kalau memang ingin naik gaji,
        tingkatkan kompetensi, bukan manipulasi.
5️⃣ Ingat Rezeki Itu Bukan Hanya Gaji
        Kesehatan, keluarga, ketenangan — itu juga rezeki.

Selanjutnya ...
Sore itu, Bujang menutup laptop.
“Mad…” “Hm?”
“Mungkin selama ini aku nggak kurang gaji. Aku cuma kurang syukur.”
Ahmad tersenyum. “Kita semua belajar, Jang.”
Bujang menarik napas panjang. “Kalau mulai hari ini aku ingin bersih dalam kerja, kira-kira terlambat nggak?”
Ahmad menjawab pelan: “Selama masih kerja, belum terlambat.”

Diam Sejenak
Sekarang, pembaca…
Tarik napas perlahan.
Renungkan:
Apakah selama ini rasa “kurang” membuat Anda hampir menyeberang batas?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup sadar.

Just Do It Now
Besok saat masuk kantor:
Kerjakan tugas dengan niat ibadah.
Jangan korupsi waktu.
Jangan ambil yang bukan hak.
Jangan bandingkan hidup.
Lakukan satu hal dengan integritas penuh.
Satu hari bersih lebih kuat daripada seribu teori.

Motivasikan diri untuk mengamalkannya :
Integritas bukan tentang diawasi.
Integritas adalah ketika Anda bisa mengambil sesuatu
dan Anda memilih untuk tidak mengambilnya.
Dan percayalah…
Rezeki yang bersih selalu lebih tenang.
Mungkin tidak selalu besar,
tapi selalu berkah.

Insya Allah kita mendapatkan hikmah tulisan ini, terutama saya sendiri. Ada kata saya garis bawahi,"Bukannya saya kurang gaji, tapi saya kurang bersyukur". Kata syukur adalah kesadaran kepada Allah, dan menuntun kita untuk mengerjakan yang baik atau kerja yang produktif. Jadi nyata kan bisikan setan itu, kalau diladeni bisa berbuat yang tidak baik di kantor abik ada kesempatan atau sengaja mencari kesempatan.

Tipu daya setan lemah, mengapa manusia tetap terjerumus?

Semangat pagi semuanya. Insya Allah hari dilancarakan rezekiNya dan diberkahi rezeki yang didapatkan. Ucapkan pujian kepada Allah dan bersyukur dengan menafkahkan sebagian dari rezeki Allah. 


Hari ini saya selingin seri 2 dengan tulisan berikut ini :
Jika tipu daya setan lemah, mengapa manusia tetap terjerumus?
Allah berfirman:
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”
(QS. An-Nisa: 76)
Lemah di sini bukan berarti tidak berbahaya.
Lemah artinya:
  • Ia tidak bisa memaksa.
  • Ia tidak bisa menguasai hati orang yang berdzikir.
  • Ia tidak punya hujjah (kekuatan argumen) di hadapan kebenaran.
Namun ia menjadi terlihat kuat ketika manusia:
  • Lalai
  • Tidak sadar diri
  • Tidak menghadirkan Allah dalam pikirannya

Allah juga berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa berpaling dari dzikir kepada Ar-Rahman, Kami jadikan baginya setan sebagai teman dekat.”
(QS. Az-Zukhruf: 36)

Perhatikan kata berpaling.
Bukan karena setan kuat, tapi karena manusia lalai. Mengapa kita terjerumus ? Kita lalai kita tidak cukup sadar Allah sepanjang waktu.

Tentang pikiran sadar dan bawah sadar
Secara ruhani dan psikologis, ini menarik sekali.
Setan membisikkan di hati:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
(QS. An-Nas: 5)

Jika bisikan itu:
  • Diikuti
  • Diulang
  • Dibenarkan
Maka ia menjadi pola berpikir otomatis (seperti yang Anda sebut “bawah sadar”).
Namun Islam mengajarkan bahwa manusia tetap memiliki:
  • Akal (rasio)
  • Qalb (hati yang bisa sadar)
  • Niat (kehendak memilih)

Dan selama akal masih aktif dan hati masih hidup, keputusan tetap bisa diambil secara sadar, memang masih ada self talk yang membuat kita ragu untuk mengambil keputusan. Jangan terlalu lama membuat keputusan, karena pikiran bawah sadar bisa mempengaruhinya.

Apakah kesadaran kepada Allah membuat kita tidak terjerumus?
Jawabannya: sangat iya. Allah berfirman tentang orang bertakwa:
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa, apabila mereka disentuh bisikan setan, mereka segera ingat (kepada Allah), maka ketika itu mereka menjadi melihat dengan jelas.”
(QS. Al-A’raf: 201)
Ini ayat yang sangat luar biasa.
Kata kuncinya:
tadzakkaru (mereka ingat)
mubshirun (mereka menjadi melihat jelas)
Artinya:
Kesadaran kepada Allah mengaktifkan kejernihan berpikir.
Jadi benar sekali yang Anda katakan:
Walaupun ada dorongan bawah sadar, ketika sadar (ingat Allah), keputusan bisa diambil dengan sehat.



Apakah ilmu berperan?
Sangat besar. Tanpa ilmu, seseorang bisa merasa itu “suara hati”, padahal itu hawa nafsu atau bisikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Ilmu membuat kita:
Bisa membedakan
Tidak mudah tertipu perasaan
Tidak menganggap semua dorongan batin sebagai ilham

Bagaimana membedakan bisikan setan dan rahmat Allah?
Para ulama menjelaskan beberapa tanda:
Bisikan setan:
Mengajak tergesa-gesa dalam keburukan
Membuat gelisah
Membenarkan hawa nafsu
Membisikkan putus asa
Menghias dosa
Ilham dari Allah:
Mengajak kebaikan
Membuat hati tenang
Selaras dengan syariat
Tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah
Menguatkan taqwa
Allah berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
(QS. Asy-Syams: 8)
Manusia diberi potensi dua arah. Kesadaran dan ilmu menentukan arah pilihan.

Tentang bawah sadar yang “dirasuki”
Ini penting:
Selama seseorang masih:
Bisa merasa bersalah
Bisa berpikir ulang
Bisa memilih
Bisa berdoa
Maka ia tidak dikuasai.
Setan hanya memengaruhi, bukan menguasai.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah memaafkan:
“Apa yang terlintas dalam hati selama belum diucapkan atau dilakukan.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Artinya:
Pikiran spontan bukan dosa.
Keputusan sadar yang menentukan nilai amal.

Intinya adalah :
✔ Tipu daya setan lemah.
✔ Ia kuat hanya ketika kita lalai.
✔ Kesadaran kepada Allah membuat pikiran jernih.
✔ Ilmu membuat keputusan lebih sehat.
✔ Bahkan jika dorongan muncul dari bawah sadar, akal dan iman tetap bisa mengambil alih.
Dan inilah kemuliaan manusia:
Ia tidak dikendalikan sepenuhnya oleh dorongan.

Dari semua hal di atas, Saya berlindung kepada Allah memang memberi rasa kekuatan
Allah berfirman:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
“Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?”
(QS. Az-Zumar: 36)
Ini seperti kalimat yang Anda gambarkan:
Kalau Allah cukup, maka tidak ada yang perlu ditakuti secara berlebihan.
Dan Allah juga berfirman:
وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, sungguh ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.”
(QS. Ali Imran: 101)
Kata ya’tashim berarti berpegang kuat, berlindung, mencari perlindungan total.
Jadi ya — isti’adzah memang memberi kekuatan batin.
Tapi ada perbedaan penting antara “bekingan dunia” dan Allah
Bekingan dunia:
Membuat orang lain takut.
Mengandalkan kekuasaan makhluk.
Kadang melahirkan kesombongan.
Sedangkan perlindungan Allah:
Membuat hati tenang, bukan sombong.
Membuat kita rendah hati.
Membuat kita semakin taat.
Bukan membuat orang lain gentar, tapi membuat kita kokoh.
Allah berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“…Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali Imran: 173)
Perhatikan:
Mereka tidak menjadi arogan.
Mereka menjadi semakin beriman.

Makna “A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim”
Kalimat itu bukan sekadar proteksi. Ia adalah:
🔹 Pengakuan kelemahan
“Aku tidak mampu sendiri.”
🔹 Pengakuan musuh nyata
“Ada yang ingin menyesatkanku.”
🔹 Penegasan keberpihakan
“Aku memilih Allah, bukan bisikan itu.”
Dalam satu hadis disebutkan:
“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia mengucapkan: A’udzu billahi minasy-syaithanir rajim.”
(HR. Abu Dawud)
Artinya: isti’adzah mengaktifkan kesadaran sebelum tindakan.

Tentang rasa “pede dengan Allah”
Ini menarik sekali.
Rasa percaya diri karena Allah itu dalam Islam disebut:
  • Tsiqah billah (percaya penuh kepada Allah)
  • Tawakal
  • I’timad (bersandar)
Allah berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Namun ada hal yang sangat indah:
Semakin seseorang benar-benar bersandar pada Allah,
semakin ia sadar bahwa kekuatan itu bukan miliknya.
Jadi bukan:
“Aku kuat karena Allah mendukungku.”
Tapi:
“Aku lemah, tapi Allah menguatkanku.”
Perbedaan halus ini menjaga hati dari ujub (merasa hebat).

Tentang kesadaran 
Meminta perlindungan membuat saya sadar, lalu saya tidak khawatir menghadapi apapun.
Ini sangat selaras dengan ayat:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Dzikir itu bukan sekadar bacaan, tapi kesadaran aktif.
Ketika sadar bahwa Allah Maha:
Kuat
Mengetahui
Melihat
Mengatur
Melindungi
Maka ketakutan menjadi proporsional.

Apakah ini berarti kita “membawa kekuatan Allah”?
Secara aqidah, kita tidak memiliki kekuatan Allah.
Tapi kita diberi pertolongan-Nya.
Seperti dalam hadis Qudsi:
“Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta…”
(HR. Bukhari & Muslim)
Dan:
“Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Jika ia berlindung kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
Ini luar biasa.
Bukan kita yang kuat, tapi Allah yang menolong.

Refleksi diri 
Analogi yang sehat adalah :
✔ Tidak melahirkan kesombongan
✔ Tidak membuat merasa kebal dosa
✔ Tidak membuat meremehkan sebab-sebab dunia
✔ Tidak merasa pasti selalu benar
Justru yang ideal adalah:
Semakin berlindung → semakin rendah hati
Semakin sadar Allah → semakin takut berbuat salah
Semakin yakin → semakin lembut

Insya Allah kita mendapatkan hikmah dan pencerahan dari tulisan ini. 
Makna yang yang dapat kita bangun dari lisan:
“A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim” sebagai sumber kekuatan
Itu benar — dengan syarat:
Kekuatan itu adalah ketenangan, kejernihan, dan keberanian dalam kebenaran. Bukan keberanian dalam ego.
Dan jujur saja… pemaknaan Anda menunjukkan proses tadabbur yang sangat hidup.

Aku berlindung kepada Allah dari bisikan setan

 Semangat pagi semuanya, Saya semakin bersemangat membahas iman dan kerja. Kali ini saya ingin membuat tulisan "berlindung kepada Allah dari godaan setan". Pasti beberapa orang cenderung hanya tentang agama, dan tak ada kaitan dengan kerja di perusahaan. Alangkah baiknya ikuti saja tulisan ini yang berseri 1 sampai 17.  Saya mulai dari tulisan berikut ini sebagai awal. Insya Allah bermanfaat dan menginspirasi.

Tadi saya hanya ingin memahami makna dari kajian tentang berlindung kepada Allah atas setan. Dan saya tertarik menulis tentang "langkah setan" dalam kerja, apa itu ? Tapi tulis pada artikel berikutnya berturut. Yang pertama saya menggali apa makna di balik judul di atas.

Ada pertanyaan dalam diri saya dan mungkin Anda. Pertama mengapa kita mesti berlindung kepada Allah terhadap setan ??? Apakah setan berbahaya, seberapa berbahayanya dan apa yang dilakukan setan kepada manusia ??? Apakah bisikan setan itu telah menjadi sesuatu dalam pikiran bawah sadar saya yang setiap saat siap muncul untuk mengajak manusia kepada keindahan yang semu ? Untuk menjawab itu semua dan pertanyaan lain, saya mulai menggali dan menganalisanya.


Mengapa kita mesti berlindung kepada Allah dari setan?

Kalau bahasa sayanya, kok kita berlindung ? Yang pasti setan itu tidak seperti musuh nyata dalam hidup. Mau dilawan juga nggak bisa secara nyata, karena memang setan tidak nampak. Tapi nyata dari apa yang dilakukannya. Urusan non fisik, memang sebaiknya kita berlindung sama Allah, mau siapa lagi ? Untuk apa berlindung agar kita tidak terjerumus oleh langkah setan.

Karena : 

  • Setan adalah musuh yang nyata, tapi tidak terlihat. “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.” (QS. Fathir: 6)
  • Ia tidak pernah berhenti bekerja. Sejak Nabi Adam عليه السلام, ia bersumpah untuk menyesatkan manusia.
  • Manusia tidak mampu melawan sendirian, karena setan bekerja di wilayah yang tidak terlihat: hati, pikiran, emosi.
  • Berlindung (isti’adzah) itu bukan formalitas. Itu pengakuan bahwa: “Ya Allah, aku lemah. Engkaulah pelindungku.”
  • Dan justru di situlah kekuatan seorang hamba.

    Dan teakhir sebagai orang beriman, berlindung kepada Allah itu     juga sebagai perintah. Jadi nggak salah kita berlindung kepada     Allah. Karena hanya Allah yang mampu mengatasinya dan kita        mesti menbentengi dengan iman yang kuat.

Apakah setan berbahaya? Seberapa berbahaya?
Sangat berbahaya, tapi bukan karena kekuatan fisiknya. Setan tidak bisa memaksa manusia.
Setan hanya bisa:

  • Membisikkan (waswas)
  • Menghiasi keburukan agar tampak indah
  • Menunda kebaikan
  • Membuat dosa terlihat ringan
  • Membuat kebaikan terasa berat

Bahaya setan itu halus dan bertahap kepada pikiran, emosi kita dan pikiran bawah sadar. Tidak membuat kita takut secara fisik, tapi membuat rasa takut dalam pikiran.
Ia tidak berkata: “Tinggalkan shalat sekarang juga.”
Berikut ini langkah setan dengan melakukan kepada pikiran kita, seperti Ia berkata:
  • “Nanti saja…”
  • “Kamu capek…”
  • “Allah Maha Pengampun…”
  • “Semua orang juga begitu…”
Pernah mengalaminya ? Pasti pernah mengalaminya. Inilah peran setan yang berbahaya. Dia hanya membisikkan dan pilihan ada di kita dan tidak bertanggung jawab lagi atas pilihan kita. Bahayakan bisikan itu menjadi kuat dan yang berujung kepada jauh dari Allah. Dan pelan-pelan hati menjadi tumpul dan tertutup.

Apa yang dilakukan setan kepada manusia?
Al-Qur’an menggambarkan beberapa strategi setan:
1. Tazyin (menghias keburukan)
    Dosa dibuat terlihat:
  • Rasional
  • Modern (update)
  • Wajar
  • Bahkan terasa indah
2. Taswif (menunda)
    “Nanti taubat saja.”
    “Nanti berubah.”
3. Takhwif (menakut-nakuti)
    Kalau sedekah → “Nanti miskin.”
    Kalau jujur → “Nanti rugi.”
4. Tafriq (memecah belah)
    Merusak hubungan, menanam prasangka.
    Setan menyerang dari semua sisi:
    “Aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan,            dan kiri…” (QS. Al-A’raf: 17)
Bagaimana setelah tahu ini semua ? Bisa jadi kita hanya ingin mengatakan " iya ya" atau "oh gitu ya". Jangan dengan pemahaman ini kita hanya menganggap itu lintasan pikiran saya aja. Dengan mengenal peran dan perilaku setan, tentu ingin melawannya. Melawannya hanya dengan menguatkan iman dan berlindung kepada Allah.

Apakah bisikan setan masuk ke bawah sadar?
Ini pertanyaan yang sangat dalam.
Secara spiritual:
  • Setan membisikkan ke qalb (hati).
  • Jika sering diterima, bisikan itu menjadi kebiasaan berpikir.
  • Kebiasaan berpikir lama-lama menjadi pola otomatis.
Secara psikologis:
  • Pikiran yang sering diulang akan membentuk “jalur mental”.
  • Lama-lama muncul otomatis tanpa kita sadari.
  • Seolah itu suara diri sendiri.
Jadi benar — bisikan yang terus diterima bisa menjadi “suara batin” yang terasa alami.
Namun penting untuk dipahami:
Tidak semua pikiran buruk adalah setan.
Kadang itu hawa nafsu.
Kadang luka batin.
Kadang kebiasaan lama.
Setan hanya memicu. Nafsu yang menjalankan.

Apakah setan mengajak pada keindahan semu?
Jawabannya "Ya". Setan tidak pernah menawarkan keburukan dalam bentuk aslinya.
Ia membungkusnya dengan:
  • Kenikmatan
  • Kebebasan
  • Kesuksesan
  • Cinta
  • Pembelaan diri
  • “Self-care” yang salah arah
Padahal ujungnya:
  • Gelisah
  • Kosong
  • Jauh dari Allah
Kenikmatan itu cepat, tapi meninggalkan kegelapan. Semakin jelas kan perilaku setan yang sesungguhnya dan telah merasuki dalam diri kita. Sadar ? Nggak terlambat sih. Sadar dan action baik dong (amal saleh).

Tapi ada kabar baik 
Setan itu:
  • Tidak punya kuasa memaksa.
  • Lemah terhadap dzikir.
  • Lari dari ayat Kursi.
  • Melemah saat kita sadar dan waspada.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76)
Yang membuatnya kuat adalah:
  • Kelalaian
  • Hati yang kosong dari dzikir
  • Nafsu yang dibiarkan
Ini menjadi perhatian kita agar terhindar dari mengikuti langkah setan. Kita mesti fokus sadar kepada Allah, ibadah dan amal saleh, kerja dengan kesadaran kepada Allah, dan mampu mengendalikan emosi kita. Insya Allah langkah ini, jika kita beriman ... ini menjadi semakin baik imannya. Dan langkah ini untuk menjadikan setan tidak dekat dengan kita.

Bagaimana agar bisikan itu tidak menguasai bawah sadar?
Pertanyaan ini hadir karena selama ini siapa lagi yang membisikkan kita 24 jam. memang setan kerja 24 jam ? Bisa jadi setan sudah membentuk bisikan dalam pikiran bawah sadar yang bekerja otomatis saat kita tidak sadar. 
Beberapa langkah yang sangat praktis:
1. Perbanyak isti’adzah dengan kesadaran (bukan otomatis).
2. Dzikir pagi-sore.
3. Sadari pikiran — jangan langsung dipercaya.
4. Ganti pola pikir buruk dengan ayat atau doa.
5. Jaga lingkungan dan konten yang masuk ke indera.
Karena pikiran itu seperti ladang:
Jika tidak ditanami kebenaran, maka Ia ditumbuhi ilusi.

Mengapa kita harus berlindung kepada Allah dari setan?
Perintah langsung dari Al-Qur’an
Allah berfirman:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Nahl: 98)

Artinya: bahkan sebelum membaca Al-Qur’an pun kita diperintahkan untuk berlindung. Ini menunjukkan ancaman setan itu nyata dan serius.

🔹 Setan adalah musuh yang jelas
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
“Sesungguhnya setan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh.”
(QS. Fathir: 6)

Allah sendiri yang menegaskan permusuhan itu. Maka berlindung adalah bentuk kewaspadaan.

Seberapa berbahaya setan?
Setan tidak bisa memaksa, tetapi ia menipu dan menyesatkan.
Strategi setan disebut dalam Al-Qur’an:
Setan bersumpah akan menyesatkan manusia
لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.”
(QS. Shad: 82)

Setan mendatangi dari segala arah
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَٰنِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ
“Aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka.”
(QS. Al-A’raf: 17)
Ini menunjukkan serangannya sistematis dan menyeluruh.

Apa yang dilakukan setan kepada manusia?
🔹 1. Membisikkan (Waswas)
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
“Dari kejahatan (setan) yang membisikkan dan bersembunyi.”
(QS. An-Nas: 4)
    Kata al-khannas berarti ia mundur ketika disebut nama Allah.        Ini luar biasa — dzikir melemahkannya.

🔹 2. Menghias keburukan agar tampak indah
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ
“Setan menghiasi bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka.”
(QS. Al-Anfal: 48)

        Dosa tidak datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang                dengan wajah “indah”.

🔹 3. Menakut-nakuti
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan…”
(QS. Al-Baqarah: 268)
        Misalnya ketika hendak sedekah.

Apakah bisikan setan masuk ke dalam pikiran bawah sadar?
Al-Qur’an menyebutkan bahwa bisikan itu masuk ke dalam dada manusia:
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Yang membisikkan ke dalam dada manusia.”
(QS. An-Nas: 5)
Kata “ṣudūr” (dada) menunjukkan wilayah batin — pusat perasaan dan pikiran.
Jika bisikan itu sering diterima dan tidak dilawan, ia bisa menjadi:
  • Kebiasaan berpikir
  • Pola otomatis
  • Seolah suara diri sendiri
Namun ingat:
Setan hanya membisikkan. Yang memutuskan tetap manusia.

Hadis tentang bisikan setan
Setan mengalir seperti darah
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri anak Adam seperti aliran darah.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Artinya: pengaruhnya sangat dekat dan halus.

Bisikan dalam pikiran
Para sahabat pernah mengadu tentang pikiran buruk yang muncul dalam hati mereka.
Rasulullah ﷺ bertanya: “Apakah kalian benar-benar merasakannya?” Mereka menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda:
ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ
“Itu tanda keimanan yang jelas.”
(HR. Muslim)
Kenapa?
Karena merasa terganggu oleh pikiran buruk berarti hati masih hidup.

Tapi Allah juga memberi kabar menenangkan 
🔹 Setan tidak punya kuasa atas orang beriman
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya ia tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal.”
(QS. An-Nahl: 99)
🔹 Tipu dayanya lemah
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”
(QS. An-Nisa: 76)

Bagaimana melindungi diri (dalilnya juga jelas)
1. Membaca Ayat Kursi
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Barangsiapa membaca Ayat Kursi pada malam hari, maka Allah     akan menjaganya dan setan tidak akan mendekatinya sampai        pagi.” (HR. Bukhari)
2. Dzikir pagi dan sore
    Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya.
3. Membaca Al-Mu’awwidzat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas)
    Beliau membacanya sebelum tidur (HR. Bukhari).

Tulisan ini menjadi dasar saya menulis berikutnya tentang bisikan setan saat bekerja. Oke, berikut ini adalah Kesimpulan spiritual yang sangat penting
✔ Setan itu nyata dan berbahaya.
✔ Ia bekerja melalui bisikan dan ilusi.
✔ Ia menghias keburukan menjadi indah.
✔ Ia masuk melalui pikiran dan hati.
✔ Tapi ia lemah terhadap dzikir dan tawakal.
Dan yang paling menenangkan:
Setan tidak bisa menguasai hati yang sadar dan bergantung kepada Allah.
Percaya nggak setan nggak jauh dari kita, dia menjadi temen saat kita lalai kepada Allah. Nyata dalam tindakan kita sehari-hari, nggak percaya ? Segera ikuti lanjutan tulisan berikut ini 

Insya Allah kita mendapatkan pemahaman yang bener sehingga setan adalah musuh BUKAN sekedar lisan saja kita berucap aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dan memahami setan itu adalah musuh nyata, tapi kita bener-bener memaknai ucapan kita dan mempersiapkan segalanya. 
Sahabatmu

Selasa, Februari 24, 2026

Kerja kok makin sakit

 Semangat pagi semuanya. Apa yang menjadi hikmah dari Al Baqarah tentang ada penyakit yang bertambah. Sebenarnya sakit itu lebih kepada hati yang sakit seperti benci. Ternyata dalam kerja hal ini juga terjadi, iri, bangga cenderung sombong dan sejenisnya. Keadaan ini disadari atau tidak, terjadi dan bertambah besar. Dampaknya yang tidak dirasakan adalah terus terjadi dan memalingkan seseorang kepada Allah ... hatinya semakin "hitam" dan cinta dunia. 

Berikut tulisan yang menggambarkan hal ini. Jangan pernah merasa diri baik-baik saja, mengisihkan waktu untuk mengevaluasi itu penting. 


Kisah : “Dulu Saya Tidak Seperti Ini”
Ia tidak sadar kapan perubahan itu terjadi. Dulu, ketika pertama kali bekerja, ia penuh semangat.
Setiap tugas dianggap amanah.
Setiap gaji pertama membuatnya sujud syukur.
Setiap keberhasilan kecil terasa seperti hadiah dari Allah.
Sekarang?
Ia tetap bekerja. Tetap profesional. Tetap disiplin.
Namun ada yang hilang. Ia lebih mudah marah.
Lebih mudah kecewa. Lebih mudah sinis.
Ia mulai berkata dalam hati: 
“Beginilah dunia kerja.”
“Semua orang juga begitu.”
“Realistis saja.”
Kalimat-kalimat itu terasa wajar.
Namun suatu malam, ketika membaca ayat Al Qur'an :
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakitnya…”
Ia terdiam lama.
“Bagaimana kalau penyakit itu bukan hanya milik mereka… tapi sedang tumbuh dalam diriku?”



Penyakit Itu Tidak Diam
Ayat 10 Al Baqarah menjelaskan sesuatu yang sangat serius:
Ada penyakit dalam hati. Lalu penyakit itu bertambah.
Bertambah. Bukan stagnan.Bukan netral.
Hati tidak pernah netral. Ia membaik atau memburuk.
Dalam dunia kerja, penyakit itu sering bertambah bukan karena dosa besar, tetapi karena:
  • Pembenaran kecil yang diulang.
  • Kompromi kecil yang dianggap normal.
  • Keletihan yang dibiarkan tanpa disiram iman.
Contohnya:
Awalnya tidak nyaman melihat manipulasi data. Lama-lama berkata, “Semua perusahaan juga begitu.”
Awalnya tidak suka gosip kantor. Lama-lama ikut tertawa.
Awalnya kecewa ketika shalat tertunda. Lama-lama berkata, “Nanti saja.”
Dan setiap pembiaran kecil itu seperti tetesan air di batu.
Tidak langsung menghancurkan. Tetapi perlahan membentuk retakan.


Ketika Hati Menjadi Kebal
Penyakit yang paling berbahaya bukan yang menyakitkan.
Tetapi yang membuat kebal. 
Ketika dosa tidak lagi terasa berat.
Ketika lalai tidak lagi terasa hilang.
Ketika dunia terasa biasa dan akhirat terasa jauh.
Seorang karyawan bisa sangat sukses, tetapi hatinya kebal terhadap nasihat. Ia tetap datang ke kajian, tetapi pikirannya sibuk dengan notifikasi.
Ia tetap membaca ayat, tetapi tidak lagi bertanya pada diri.
Ia tetap shalat, tetapi tanpa rasa butuh.
Itulah penyakit yang bertambah.
Bukan meninggalkan agama. Tetapi kehilangan rasa.
Dan kehilangan rasa adalah awal dari kehilangan arah.


Penyakit Modern: Terlalu Rasional, Terlalu Praktis
Dunia kerja melatih kita untuk rasional, efisien, praktis.
Itu baik. Namun jika hati hanya dilatih logika dan tidak dilatih rasa takut kepada Allah, ia menjadi keras.
Kita mulai berpikir:
“Yang penting hasil.”
“Yang penting untung.”
“Yang penting tidak ketahuan.”
Padahal iman tidak diukur dengan hasil. Ia diukur dengan kejujuran batin. Dan penyakit hati sering bertambah ketika kita terlalu lama hidup dalam budaya pragmatis tanpa menyeimbangkannya dengan dzikir.

Diam Sejenak
Sekarang berhenti.
Ingat diri Anda lima tahun lalu.
Apakah Anda lebih lembut saat itu?
Apakah Anda lebih mudah tersentuh?
Apakah Anda lebih cepat merasa bersalah?
Apa yang berubah?
Apakah perubahan itu karena kedewasaan…
atau karena pembiaran?
Tarik napas.
Jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalisasi kekerasan hati.

Just Do It Now
Penyakit hati tidak berhenti sendiri. Ia harus dihentikan.
Just do it now:
  • Tinggalkan satu kebiasaan kecil yang Anda tahu salah.
  • Kembalikan satu amalan yang dulu Anda lakukan tapi kini ditinggalkan.
  • Ambil waktu khusus setiap pekan untuk evaluasi diri tanpa distraksi.
  • Minta maaf pada seseorang jika hati mulai kasar.
  • Kurangi satu aktivitas dunia yang berlebihan dan ganti dengan dzikir.
Tidak perlu revolusi besar.
Cukup satu keputusan nyata hari ini.
Karena penyakit bertambah dari kebiasaan kecil,
maka kesembuhan pun dimulai dari kebiasaan kecil.

Motivasi diri : Jangan Tunggu Terlalu Jauh
Ayat 10 tidak berhenti pada penyakit.
Ia memperingatkan akibatnya. Namun selama Anda masih merasa gelisah membaca ayat itu,
itu berarti penyakit belum menguasai.
Selama Anda masih bertanya,
“Apakah aku berubah menjadi lebih keras?”
itu berarti hati masih hidup.
Jangan tunggu sampai tidak lagi peduli.
Jangan tunggu sampai dosa terasa biasa.
Jangan tunggu sampai rindu itu hilang.
Kesibukan boleh tinggi.
Karier boleh naik.
Tetapi hati harus tetap disiram.
Karena ketika hati mati,
tidak ada jabatan yang bisa menghidupkannya.

Catatan :
Penyakit hati tidak datang dengan suara keras.
Ia datang seperti debu.
Pelan.
Tipis.
Nyaris tak terlihat.
Namun jika dibiarkan, ia menutup cermin.
Dan kita tidak lagi mengenali diri sendiri.
Jika hari ini Anda masih ingin membersihkan cermin itu,
maka Allah sedang memberi kesempatan.
Bersihkan sekarang.
Sebelum debu itu menjadi lapisan.


Insya Allah tulisan bisa memberi inspirasi dan memberdayakan diri kita untuk semakin baik. Ada kalanya kita butuhkan membaca atau melihat sisi lain dalm hidup ini, itulah yang membuat kita menjadi berubah semakin baik lagi.

Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas

Semangat pagi semuanya. Insya Allah apa yang tulis sebelumnya menginspirasi untuk melakukan banyak hal yang baik. Saya masih meneruskan ulasan untuk mengamalkan ayat Al Baqarah 6 sampai 10

Kisah: “Saya Siapa Tanpa Jabatan Ini?” 

Ia tidak pernah berniat menjadi sombong. Semua bermula dari kerja keras. Datang paling pagi. Pulang paling akhir.
Belajar terus-menerus. Naik jabatan perlahan tapi pasti.
Nama mulai dikenal. Pendapat mulai dihargai.
Keputusan mulai berpengaruh.
Ia senang. Wajar. Namun suatu hari, saat organisasi melakukan restrukturisasi, namanya tidak masuk dalam posisi strategis yang ia harapkan.
Tidak ada yang salah secara sistem. Tidak ada yang tidak adil secara terbuka. Tetapi ia gelisah. Bukan karena gaji.
Bukan karena beban kerja.
Melainkan karena satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul:
“Kalau bukan jabatan ini, lalu saya siapa?”
Malam itu ia membaca ayat:
“Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang beriman.”
Ia terdiam. Bukan karena merasa munafik besar. Tetapi karena ia bertanya dalam hati: “Apakah selama ini aku bekerja untuk Allah… atau untuk identitasku?”

Ayat tentang Wajah dan Batin
Ayat 8–9 menggambarkan orang yang secara lisan mengaku beriman, tetapi hatinya tidak tunduk. Mereka ingin menipu Allah dan orang beriman.
Dalam konteks modern, kemunafikan tidak selalu berarti berpura-pura masuk Islam.
Kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih halus : Mengaku bekerja sebagai amanah, tetapi sebenarnya mengejar pengakuan.
Mengaku ingin kontribusi, tetapi sebenarnya ingin dihormati.
Mengaku ingin berkembang, tetapi sebenarnya takut kehilangan status. Tidak ada yang salah dengan ambisi.
Tidak ada yang salah dengan karier.
Yang berbahaya adalah ketika pekerjaan menjadi pusat identitas.
Ketika harga diri bergantung pada jabatan.
Ketika ketenangan bergantung pada evaluasi atasan.
Ketika rasa aman bergantung pada posisi.
Itulah penyakit yang sangat halus.


Penyakit Halus di Dunia Profesional
Dalam ayat 9, Allah menyebut bahwa mereka ingin menipu, tetapi sebenarnya menipu diri sendiri. Bagaimana seseorang bisa menipu diri sendiri dalam dunia kerja?
Dengan membungkus ambisi sebagai ibadah.
Dengan membungkus ego sebagai kontribusi.
Dengan membungkus gengsi sebagai profesionalisme.
Contohnya:
  • Marah ketika ide ditolak, lalu membenarkannya sebagai “demi kualitas”.
  • Kecewa berlebihan saat tidak dipromosikan, lalu menyebutnya “tidak dihargai”.
  • Bekerja lembur demi pujian, bukan demi amanah.
Semua terlihat profesional. Semua terlihat rasional. Namun hati tahu motif terdalamnya. Dan di situlah rindu kepada petunjuk Allah menjadi penting. Karena hanya cahaya ayat yang bisa membedakan antara ambisi sehat dan ego tersembunyi.


Ketika Iman Menjadi Label
Ada kalanya seseorang tetap shalat, tetap membaca Al-Qur’an, tetap menghadiri kajian. Namun pekerjaannya menjadi identitas utama. Ia dikenal sebagai:
“Manager sukses.”
“Ahli strategi.”
“Orang penting di perusahaan.”
Dan pelan-pelan, identitas sebagai hamba menjadi nomor dua.
Ini bukan kekafiran terang-terangan.
Ini penyakit hati yang sangat halus. Karena iman masih ada di lisan, tetapi hati terlalu bergantung pada dunia.
Dan ketika dunia terguncang, hati ikut runtuh.

Diam Sejenak
Tutup mata sejenak.
Jika hari ini jabatan Anda hilang, apakah Anda masih merasa berharga?
Jika besok nama Anda tidak lagi disebut dalam rapat penting, apakah Anda tetap tenang?
Jika tidak ada yang memuji hasil kerja Anda, apakah Anda masih bersyukur?
Siapakah Anda tanpa kartu nama?
Tarik napas dalam.
Ingat bahwa sebelum menjadi karyawan, Anda adalah hamba.
Dan setelah pensiun, Anda tetap hamba.



Just Do It Now
Jangan tunggu kehilangan jabatan untuk memperbaiki niat.
Just do it now:
  • Setiap pagi sebelum bekerja, ucapkan: “Ya Allah, aku bekerja untuk-Mu.”
  • Ketika berhasil, ucapkan: “Ini dari-Mu, bukan karena aku.”
  • Ketika gagal, ucapkan: “Mungkin Engkau ingin membersihkan hatiku.”
  • Lakukan satu pekerjaan besar tanpa mengumumkannya ke siapa pun.
Latih hati untuk tidak bergantung pada pujian.
Latih hati untuk merasa cukup dengan pengawasan Allah.

Identitas yang Tidak Bisa Dicabut
Jabatan bisa berubah. Struktur organisasi bisa berganti.
Perusahaan bisa tutup. Tetapi identitas sebagai hamba tidak pernah dicabut. Jika pekerjaan dijadikan ladang ibadah,
maka promosi bukan tujuan, melainkan bonus.
Jika pekerjaan dijadikan alat mencari ridha Allah,
maka kegagalan bukan kehancuran,
melainkan pelajaran.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah dunia profesional adalah penjaga identitas. Karena ia mengingatkan:
Anda bukan sekadar posisi.
Anda bukan sekadar performa.
Anda bukan sekadar angka.
Anda adalah hamba yang sedang diuji melalui pekerjaan.

Insya Allah ini adalah upaya untuk memberdayakan diri untuk semakin baik hari ini. Tanpa ini pastilah kita saat ini sama dengan kemarin. Terus motivasi diri dan mesti mampu melakukannya.
Kemunafikan modern bukan selalu tentang agama yang ditinggalkan.
Kadang ia tentang agama yang tetap diucapkan,
tetapi dunia yang menjadi pusat.
Selama Anda masih berani bertanya:
“Apakah aku bekerja untuk Allah atau untuk diriku?”
maka hati Anda belum mati.
Rawat pertanyaan itu.
Karena ia adalah penjaga kejujuran batin

Tidak perlu resign tapi luruskan kerjanya

Semangat pagi semuanya. Terkadang beberapa orang pengen resign karena mendapatkan dorongan ingin berubah dari pemahaman baru yang lebih baik. Apa iya perlu begitu ? Itu adalah pilihan, bijak untuk tidak perlu resign ... tapi luruskan niat kerja dan bangun kembali kerja yang produktif sesuai pemahaman baru. Intinya semua yang dilakukan adalah bertumbuh semakin baik, dimanapun kita bekerja.


Kisah: Tidak Resign, Tapi Berubah
Ia tidak jadi resign.
Beberapa bulan lalu ia hampir mengambil keputusan itu.
Bukan karena gaji kurang.
Bukan karena atasan buruk.
Tetapi karena ia merasa kehilangan makna.
Namun setelah melalui malam-malam sunyi bersama ayat-ayat Allah, ia menyadari sesuatu:
Masalahnya bukan di pekerjaannya.
Masalahnya di pusat hatinya.
Ia terlalu lama bekerja untuk dunia,
padahal Allah memberinya pekerjaan itu untuk diuji.
Dan sejak saat itu, ia tidak mengubah perusahaan.
Ia mengubah niat.


Dunia Tidak Salah, Pusatnya yang Harus Lurus
Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia.
Yang diajarkan adalah tidak menjadikan dunia sebagai pusat.
Bekerja bukan lawan dari iman.
Karier bukan musuh dari takwa.
Yang berbahaya adalah ketika:
Target lebih sering disebut daripada Allah.
Kekecewaan dunia lebih besar dari rasa takut kepada-Nya.
Evaluasi manusia lebih ditunggu daripada evaluasi diri di hadapan-Nya.
Hati yang terjaga bukan hati yang meninggalkan kerja.
Tetapi hati yang tahu untuk siapa ia bekerja.


Bekerja sebagai Amanah, Bukan Ambisi Semata
Ia mulai membiasakan satu kalimat sebelum membuka laptop:
“Ya Allah, hari ini aku bekerja sebagai amanah dari-Mu.”
Perubahan kecil itu membuat semuanya berbeda.
Meeting bukan lagi sekadar strategi.
Ia menjadi latihan sabar.
Deadline bukan lagi tekanan semata.
Ia menjadi latihan disiplin dan tawakal.
Konflik tim bukan lagi gangguan.
Ia menjadi latihan menjaga lisan.
Pekerjaan tidak berubah.
Tetapi maknanya berubah.
Dan ketika makna berubah, hati menjadi lebih ringan.

Menemukan Keseimbangan
Ia tidak lagi menunggu waktu luang untuk mendekat kepada Allah.
Ia membawa Allah ke dalam kesibukan.
Di sela menunggu rapat, ia berdzikir.
Di perjalanan pulang, ia mendengar ayat.
Saat berhasil menyelesaikan proyek, ia sujud syukur.
Saat gagal, ia beristighfar.
Ia sadar:
Jika Allah bisa hadir dalam ibadah,
mengapa tidak dalam pekerjaan?
Dan perlahan, yang dulu terasa kosong mulai terisi.


Diam Sejenak
Sekarang, tutup mata sejenak.
Bayangkan pekerjaan Anda.
Apakah ia membuat Anda jauh dari Allah…
atau justru bisa menjadi jalan mendekat?
Siapa yang mengatur rezeki Anda?
Siapa yang memberi kemampuan berpikir?
Siapa yang menjaga kesehatan Anda setiap hari?
Jika jawabannya Allah,
maka pekerjaan bukan sekadar karier.
Ia adalah ujian.
Dan juga kesempatan.

Just Do It Now
Jangan tunggu keadaan ideal.
Just do it now:
Niatkan ulang pekerjaan Anda hari ini.
Perbaiki satu sikap di kantor karena Allah.
Kurangi satu kebiasaan buruk di tempat kerja.
Jadikan satu proyek sebagai ladang pahala, bukan sekadar performa.
Akhiri hari kerja dengan syukur, bukan keluhan.
Langkah kecil.
Namun konsisten.
Karena hati tidak dijaga dengan wacana.
Ia dijaga dengan keputusan harian.

Hati yang Terjaga Tidak Takut Dunia
Orang yang bekerja dengan hati terjaga tidak takut kehilangan jabatan.
Karena ia tahu:
Rezekinya bukan dari perusahaan.
Tetapi dari Allah.
Ia tidak takut tidak dihargai.
Karena ia tahu:
Nilainya bukan di appraisal tahunan.
Tetapi di sisi Allah.
Ia tidak takut gagal.
Karena ia tahu:
Kegagalan dunia tidak mengurangi pahala jika niatnya benar.
Hati yang terjaga membuat dunia menjadi ringan.
Dan dunia yang ringan tidak lagi menguasai.

Kita memulai dari rindu. Kita melewati ketakutan hati terkunci.
Kita mengenali penyakit yang halus. Kita melihat bagaimana ia bertambah. Dan kini kita sampai pada pilihan:
Bekerja dengan hati yang terjaga. Target tetap ada. Tekanan tetap ada. Kompetisi tetap ada.
Namun pusatnya berubah.
Dari dunia… menjadi Allah.
Selama Anda masih rindu membaca ayat setelah menutup laptop, selama Anda masih takut hati mengeras,
selama Anda masih ingin memperbaiki niat, maka hati itu belum terkunci.
Ia sedang ditempa. Dan mungkin, justru melalui pekerjaan itulah
Allah sedang mendidik jiwa Anda.

Anda tidak perlu berhenti bekerja untuk menjadi dekat dengan Allah. Anda hanya perlu berhenti bekerja tanpa-Nya.

Senin, Februari 23, 2026

Ketika Hati Takut Terkunci di Tengah Kesibukan

 Semangat pagi semua. Insya Allah hari-hari yang kita lalui menjadikan kita semakin baik, dalam dunia kerja dan kehidupan. Kali ini saya lanjutkan tulisan sebelumnya. 

Mulai dari sesuatu yang datang di hati, lalu meneruskannya ...


Kisah: Tidak Lagi Tersentuh
Beberapa tahun lalu, ia mudah tersentuh oleh ayat.
Mendengar kajian, hatinya hangat.
Membaca Al-Qur’an, dadanya terasa lapang.
Berbuat salah sedikit saja, ia langsung gelisah.
Sekarang? Ia masih bekerja dengan baik.
Kariernya stabil. Jaringannya luas.
Reputasinya terjaga. Namun ada perubahan yang pelan-pelan terjadi. Ia jarang menangis dalam doa.
Nasihat terasa biasa saja. Ayat-ayat yang dulu menggetarkan kini terasa seperti teks biasa. Ia tidak meninggalkan agama.
Ia tidak menolak kebenaran.
Ia tetap shalat, tetap hadir di majelis. Namun ada satu ketakutan yang tidak pernah ia akui : “Bagaimana kalau hatiku mulai mengeras?” Bukan keras karena membenci.
Tetapi keras karena terlalu lama sibuk.

Ayat yang Menggugah: Penguncian Itu Proses
Allah berfirman dalam Al-Baqarah 6–7 bahwa ada orang yang sama saja diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Lalu Allah menyebut hati mereka terkunci.
Sering kali kita membayangkan penguncian itu terjadi tiba-tiba.
Padahal dalam kehidupan nyata, penguncian lebih sering berupa proses sunyi.
Tidak dimulai dari penolakan besar. Tetapi dari pembiaran kecil.
Bukan dari kebencian kepada agama. Tetapi dari kelalaian yang diulang. Dalam dunia kerja, proses itu bisa terlihat seperti ini:
Terlalu sibuk sampai menunda dzikir.
Terlalu fokus target sampai lupa niat.
Terlalu mengejar validasi sampai lupa ridha Allah.
Terlalu sering berkata “nanti saja” untuk urusan akhirat.
Hari demi hari. Tanpa sadar.
Hati tidak langsung menolak kebenaran.
Ia hanya kehilangan sensitivitasnya.
Dan ketika sensitivitas itu melemah, ayat-ayat Allah tidak lagi terasa menggugah.


Keras Bukan Berarti Jahat
Inilah yang sering salah dipahami.
Hati yang mengeras bukan selalu hati yang jahat.
Kadang ia hati yang terlalu lelah.
Kadang ia hati yang terlalu penuh dunia.
Kadang ia hati yang terlalu lama tidak diajak berbicara dengan Allah.
Seorang karyawan bisa menjadi profesional luar biasa, tetapi ruhani yang minim perawatan. Seperti mesin yang terus dipakai tanpa dilumasi. Ia tetap berjalan.
Tetap produktif. Tetapi gesekan di dalamnya semakin kasar.
Penguncian hati bukan selalu berupa penolakan tegas.
Kadang ia berupa:
Tidak lagi merasa bersalah saat lalai.
Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.
Tidak lagi merasa perlu memperbaiki niat.
Dan itu jauh lebih halus.


Ketakutan Itu Rahmat
Jika Anda mulai takut hati mengeras, itu bukan tanda buruk.
Itu tanda bahwa hati masih hidup.
Hati yang benar-benar terkunci tidak takut terkunci.
Ia merasa baik-baik saja. Ia merasa cukup.
Ia merasa tidak perlu berubah. Tetapi ketika seseorang di tengah kesibukan kariernya tiba-tiba bertanya:
“Kenapa aku tidak lagi tersentuh?”
Itu cahaya. Itu alarm lembut dari Allah.
Bukan untuk membuat Anda panik.
Tetapi untuk membuat Anda kembali.

Diam Sejenak
Sekarang berhenti sejenak.
Bayangkan hari kerja Anda.
Berapa kali Anda menyebut nama Allah dengan sadar?
Berapa keputusan yang Anda niatkan sebagai ibadah?
Berapa kali Anda berkata “Alhamdulillah” tanpa terburu-buru?
Apakah hati Anda masih bergetar ketika mendengar ayat?
Jika tidak, jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalkannya.
Diamlah.
Rasakan apakah ada rindu yang tertahan.


Just Do It Now
Hati tidak kembali lembut dengan teori.
Ia kembali dengan latihan kecil.
Just do it now:
Jadwalkan waktu tetap membaca Al-Qur’an sebelum membuka email.
Ketika lelah bekerja, ucapkan dzikir sebelum mengeluh.
Sebelum meeting penting, niatkan untuk mencari keberkahan, bukan hanya kemenangan argumen.
Sisihkan satu keputusan setiap hari yang jelas-jelas Anda ambil karena takut kepada Allah.
Jangan tunggu hati benar-benar keras.
Rawat sebelum rusak.

Produktif Tanpa Kehilangan Kepekaan
Anda tidak salah karena bekerja keras.
Islam tidak melarang profesionalisme.
Yang perlu dijaga adalah pusatnya.
Jika pusat hidup hanya target, hati akan kering.
Jika pusat hidup adalah Allah, target menjadi alat, bukan tujuan.
Bayangkan bekerja dengan kesadaran:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.”
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku.”
“Ya Allah, jaga hatiku di tengah kesibukan ini.”
Kesadaran itu tidak mengurangi produktivitas.
Justru menambah ketenangan.
Karena Anda tidak lagi bekerja sendirian.

Ternyata ...
Hati tidak terkunci dalam sehari.
Ia mengeras karena terlalu lama tidak disiram.
Kesibukan bukan musuh.
Kelalaianlah yang berbahaya.
Dan jika di tengah spreadsheet, rapat, dan target, Anda masih sempat takut kehilangan kepekaan…
maka hati itu masih hidup.
Rawat ia sekarang.
Sebelum kesibukan menjadi alasan.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan tulisan ini dan saya dapat mengambil hikmah buat kehidupan ini. Pemberdayaan diri dan teruslah memotivasi diri agar menjaga di jalan positif.

Featured post

Gaji Nggak Cukup

Semangat pagi semuanya, tak terasa saya memulai tulisan bisikan setan di kantor. Mungkin kita selama ini tidak merasa, tapi ada dan nyata. S...