Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Rabu, Februari 18, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang nafsu dalam kerja. Kali ini ngebahas ambisi, karir dan keterkaitannya dengan amanah.



Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas. Setiap orang ingin berkembang. Naik jabatan. Diakui. Dihargai. Ambisi ini sering dianggap bertentangan dengan kesalehan. Namun tanpa ambisi, manusia berhenti bertumbuh.

Ada orang yang mengejar jabatan demi gengsi. Ada pula yang menerimanya dengan rasa takut, karena tahu semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban. Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.

Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi. Islam tidak memusuhi ambisi. Yang diuji adalah niat dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Ia membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih rakus.

Dalam dunia kerja, karier adalah medan ujian:

  • apakah kita adil saat punya kuasa
  • apakah kita tetap rendah hati saat dipuji
  • apakah kita melindungi yang lemah

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. Ambisi yang diserahkan kepada Allah tidak mengecilkan jiwa, justru mendewasakannya


Insya Allah kita diberikan cahaya dari sisi Allah dalam memahami ambisi dan karir sebagai amanah dari Allah. Hati-hati dengan keinginan sesaat, maka perlu sadar kepada Allah. 

Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi, Insya Allah tetap selalu bersemangat membuktikan amanah Allah dengan tanggungjawab. Aamiin. Kali ini saya masih meneruskan pembahasan tentang nafsu atau keinginan.

Memahami ‘Nafsu yang Dirahmati Allah’: Bukan Sekadar Ibadah

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan


Meluruskan Nafsu yang Dirahmati Allah :

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.



Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi. 

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah kita selalu tidak terburu-buru untuk merespon keinginan atau hawa nafsu sehingga memberi ruang bagi pikiran untuk merespon dengan akal sehat dan hati.

Nafsu tidak mesti dilawan, disadari dan diarahkan

Semangat pagi, saya masih tetap fokus menulis kerja dan ibadah yang selaras. Sebelumnya tentang niat, maka kali ini nafsu atau keinginan yang mendompleng kerja kita. Ada apa ? Bisa jadi setelah niat kita tetapkan, sering ada lintasan pikiran dari luar atau keinginan dari dalam dari hasil kerja. Apa itu ? Pengen uang banyak, pengen jabatan, pengen cari karir dan sebagainya.

Saya ingin menulis artikel ini agar bisa disadari lalu menselaraskan dengan Al Qur'an dan menerapkan ilmu yang bener. Saya mulai dari sebuah keinginan atau nafsu dalam kerja yang berorientasi kepada uang dan materi. Ada ayat Al Qur'an yang menjelaskan bahwa nafsu itu cenderung kepada keburukan, tapi yang dikuatkan adalah nafsu yang dirahmat Allah dalam surah yusuf ayat 53. Tentang hal ini banyak yang berpersepsi bahwa nafsu yang dirahmati Allah itu tentang ibadah dan amal saleh. 

Baik, gagasan ide ini sangat kuat dan relevan untuk dunia kerja modern, terutama bagi pembaca Muslim yang ingin berdamai antara dorongan materi dan ketaatan kepada Allah. 

QS Yusuf ayat 53 menyatakan dengan jelas:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Ayat ini tidak membatasi konteks nafsu hanya pada ibadah, melainkan berbicara tentang jiwa manusia secara utuh, termasuk keinginan duniawi seperti kekuasaan, harta, dan pekerjaan—yang jika dirahmati Allah, arah dan dampaknya berubah.

Nafsu bekerja dan mencari uang bukan musuh iman, tetapi energi. Ia menjadi keburukan jika liar, dan menjadi rahmat jika diselaraskan dengan Allah.


Islam tidak mematikan keinginan materi, Islam mengarahkan, membersihkan, dan menundukkannya

Kerja → Uang → Manfaat → Nafkah di jalan Allah
Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi?
Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”
QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk 
“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Karena nafsu itu fitrah manusia.

Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi yang Disalahpahami

Beri ruang hati 
Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan hati yang berbeda-beda. Ada yang berangkat dengan semangat, ada yang dengan keterpaksaan, ada pula yang dengan kegelisahan. Namun di balik semua itu, ada satu dorongan yang hampir selalu sama: keinginan untuk hidup layak. Kita ingin makan dengan tenang, membiayai keluarga, dan merasa aman menghadapi masa depan. Keinginan itu sering disebut nafsu—dan sering pula dicurigai.


Seorang ayah pulang larut malam, lelah setelah seharian bekerja. Di rumah, anaknya sudah tertidur. Ia duduk sebentar, menatap tagihan di meja, lalu bergumam, “Kalau bukan karena ini semua, mungkin aku sudah menyerah.” Tidak ada kata ibadah, tidak ada kalimat suci. Tapi di sanalah realitas manusia bekerja: antara tanggung jawab dan dorongan bertahan hidup.
Pembahasan Mendalam
Islam tidak lahir di ruang hampa yang steril dari kebutuhan dunia. Al Qur’an berbicara kepada manusia apa adanya. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini bukan vonis, melainkan diagnosis.
Nafsu bukan kesalahan. Ia adalah energi dasar manusia. Tanpa nafsu, tidak ada usaha. Tidak ada kerja. Tidak ada peradaban. Yang bermasalah adalah ketika nafsu berjalan tanpa kendali, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran akan Allah.
Bekerja demi uang sering diposisikan sebagai niat yang “rendah”. Padahal, mencari nafkah adalah bagian dari menjaga kehidupan. Yang membuat kerja menjadi gelap bukan tujuannya, tetapi ketika tujuan itu menghalalkan segala cara.

Nafsu tidak selalu harus dilawan. Kadang ia perlu dipahami. Karena dari situlah perjalanan menata kerja dan iman dimulai.

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi untuk menjadi semakin baik untuk memotivasi diri. Sesuatu yang kita hadapi itu normal atau netral, semua tergantung kita menyikapinya. Bangun diri untuk mampu bersikap yang baik, dan referensikan dengan Al Qur'an menjadi sikap dalam beriman.

Selasa, Februari 17, 2026

Ibadah sepanjang hari

Semangat pagi semua, hari ini saya menulis kembali setelah rehat cukup lama. Saya masih terdorong untuk berbagi tentang dunia kerja dan iman. Seringkali beberapa orang masih berpikir kerja itu ya kerja, dan iman itu (diantaranya salat - ibadah) ditafsirkan sebagai pengungkit kerja agar tercapai keinginan kita. Insya Allah semua dapat saya bagikan pula dari pengalaman selama menjadi karyawan dan pimpinan (manager).



 Untuk hal diatas, saya mulai dari niat kerja untuk mencari rezeki buat keluarga. Yang pertama kita mesti apresiasi niat baik ini. Dalam dalam hadist disebutkan perbuatan itu tergantung niatnya. Dari contoh niat ini mencari rezeki untuk keluarga. Artinya niat mencari rezeki ini mesti tertuju kepada Allah, mencari memberi makna cara kerja kita dalam mendapatkan rezeki. Niat ini mesti kita terjemahkan ke dalam action atau kerja kita yang lebih nyata. Tidak hanya  sekedar memdapatkan gaji dengan apa yang kita kerjakan. Tapi jauh lebih luas dari sekedar gaji, diantara kemampuan, ilmu, kemanfaatan kerja, fisik yang sehat, keluarga yang mampu mengadaptasi perjalanan kerja kita, dan ibadah yang semakin baik.

Kata mencari rezeki seperti kurang pas, karena Allah berfirman "Allahlah yang memberi rezeki kepada hambaNya". Mencari seringkali dipersepsikan kerja yang menghasilkan uang atau gaji. Mau dicari dimana ? Ditempat kerja ? Iya dong. kalau ada pendapat yang mengatakan gaji itu tidak perlu dicari, karena kita tidak pernah tahu malaikat pembawa rezeki dari Allah itu berada. Tapi malaikat pembawa rezeki itu tahu dimana rezeki yang  dibawa itu diberikan kepada siapa. Tentunya rezeki yang disalurkan dari Allah, karena Allahlah yang memberi rezeki. Diantara rezeki itu adalah gaji kita. Allah memberi rezeki atas apa yang kita kerjakan, baik ibadah khusus (salat cs) dan ibadah umum (kerja dan aktivitas harian). Sudahkah kita mempertunjukkan kedua ibadah itu menjadi luar biasa ?? atau membuat Allah takjub ?

Pertanyaan terakhir inilah yang sering hany diterjemahkan sebagai hal yang biasa, salatnya (ibadah utama) dan kerjanya biasa-biasa saja. Yang ada dibenak banyak karyawan adalah kerja aja mengikuti SOP atau tugas yang diberikan. Padahal tidak ada yang salah jika kita salatnya luar biasa, salatnya dijalankan dengan benar dan kerjanya dilakukan lebih dari apa yang diminta. Sampai saat ini kita cenderung mengacu kepada atasan dan perusahaan. Ini tidak salah, tapi bisa diselaraskan kepada yang lebih tinggi lagi, apa itu ? Ternyata kerja kita adalah pengakuan kepercayaan oleh atasan/HRD atas kemampuan dan diizinkan oleh Allah. Izin Allah ini berupa kerja sebagai amanah Allah. Disinilah Allah menilai apa yang kita kerjakan, berarti kita yang menjadi karyawan dipercaya untuk dibuktikan dan diberi amanah untuk dipertanggungjawabkan kepada Allah. Disinilah sebenarnya apa yang kita sebut sebagai mencari rezeki dengan kerja kita.

Mncari rezeki itu adalah mencari kerja yang membuktikan dan bertanggung jawab. Apakah hal ini hanya dilakukan dengan kerja biasa-biasa saja ? Jawabannya pasti tidak. Perusahaan menginginkan kita bekerja maksimal dan terus bertumbuh, dan Allah meminta kita kerja di jalan Allah.  Apa yang terjadi dengan keinginan kita kerja mencari duit, maka alangkah indahnya kita luruskan niatnya.

Niat awal kerja itu mencari rezeki Allah, niat mencari rezeki itu adalah mempertanggung jawabkan amanah Allah dengan apa menjadi pekerjaan kita, niat mempertanggung jawabkan amanah itu menuntun kita menemukan petunjuk Allah agar apa yang kita kerjakan selaras dengan iman. Actionnya adalah kerja yang luar biasa, kerja yang melebihi apa yang diminta dalam SOP/job desc, dan beribadah yang membuat Allah takjub. Jadi kerja yang luar biasa (perusahaan takjub) yang mendorong rasa syukur untuk semakin bagus salatnya. Dan semakin salatnya bagus membuat semakin kerjanya semakin takjub lagi.

Dalam aktivitas kesehariannya, kita benar-benar produktif, semakin kerja bernilai di hadapan Allah. Rasanya tak mungkin ada orang yang mempertanggungjawabkan kepada Allah tidak mampu memberikan kerja yang luar biasa. 

Dari penjelasan ini kita bisa menarik hikmah, yaitu niat baik secara makna mesti dapat memberi persepsi baik di mata Allah. Oleh sebab itu perdalam niat kita kerja, perdalam terus sehingga menemukan niat dasar kita bekerja. Lalu jangan pernah ada persepsi yang tidak pas yang membuat kerja semakin tertekan. Dari sini kita belajar bahwa kerja dan ibadah itu adalah dua hal yang tidak terpisah tapi saling menguatkan di jalan Allah. Hindari ibadah seperti salat dan doa dijadikan pengungkit agar kita mendapatkan rezeki yang lancar dengan kerja kita.

Insya Allah tulisan ini memberi kekuatan bagi kita yang beriman untuk menghargai kerja itu ibadah juga BUKAN kerja sebagai ibadah. Teruslah bekerja dengan cara yang Allah ridhai, kerja bener dan efektif. Bayangkan sepanjang hari kita ibadah kepada Allah (sebagaimana tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu untuk mengabdi atau beribadah) lewat kerja dan ibadah salat kita.


Selasa, Agustus 26, 2025

Bos Sok tahu, ngga ada yang salah ...

Alhamdulillahirabbilalamin, Allah telah memberi ilmu yang banyak, tapi kadang kita tidak merasakannya. Seringkali kita menganggap kecil ilmu tersebut. Padahal ilmu itu bila didalami memberi kebaikan yang banyak. Tetapi disisi lain ada orang yang tahu sedikit ngakunya tahu banyak. Insya Allah kita bisa sadar diri dan menjadi hamba yang mau semakin baik. 


Dalam dunia kerja, sudah lazim soal delegasi. Setiap hari delegasi berlangsung, dari atasan ke bawahan. Bisa bernilai kecil sampai yang besar. Kata atasan, "Saya banyak tugas dan target yang lebih besar, maka saya meminta bawahan bantu saya". Setiap karyawan pernah mengalami delegasi tugas atau wewenang, baik sebagai bawahan atau juga sebagai atasan. Secara umum, delegasi tugas biasanya dilakukan dari atasan ke bawahan karena atasan memiliki tanggung jawab untuk mengelola tim dan memastikan pekerjaan terselesaikan. Namun, dalam praktik kerja modern, delegasi dari bawahan ke atasan bisa saja terjadi, meskipun dalam konteks yang berbeda. Kali ini saya menekankan delegasi dan wewenang dari bos yang sok tahu. Bos yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, tapi berlagak bos. Bos yang tidak meniti dari bawah dan hanya belajar sedikit. Yang bisa dilakukan bos sok tahu ... hanya memberi tugas kepada bawahan yang dipercayanya agar tidak semua orang tahu bahwa dia adalah bos sok tahu.




Berikut ini ada obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif) tentang kejadian dengan bos sok tahu, "Tiga Sekawan dan Satu Bos Maha Tahu"
Di Ruang kerja kecil, jam 10 pagi, kopi sudah dingin, tapi konflik masih panas.
Myra: “Guys, ini tugas dari Pak Damar lagi. Katanya urgent. Tapi brief-nya cuma satu kalimat: ‘Saya tahu, tolong diselesaikan.’ Lah, tahu apanya?!”
Mamat: “Gue udah bilang dari kemarin, kita butuh detail. Tapi tiap nanya, jawabannya selalu: ‘Saya sedang fokus ke hal yang lebih besar.’ Emangnya kita ini semut?”
Bujang: “Udah lah, kalian ribut mulu. Kita kerjain aja. Toh ujung-ujungnya kalau gagal, kita juga yang disalahin. Kalau berhasil, dia yang update di LinkedIn.
Myra: “Bujang, kamu tuh terlalu pasrah. Kita harus lawan sistem ini!”
Mamat: “Iya, kita bikin revolusi! Tapi... abis makan siang ya. Gue lapar.”
[Semua diam sejenak. Lalu notifikasi masuk: “Reminder: Deadline tugas jam 3 sore.”]
Bujang: “Oke, revolusinya kita jadwalin minggu depan. Sekarang kita kerjain dulu. Tapi sambil ngedumel, biar tetap waras.”
Myra: “Setuju. Tapi nanti kalau Pak Damar bilang ‘Saya tahu ini akan berhasil’, gue yang pertama lempar stapler.”
Mamat: “Gue yang pegang printer-nya.”
Bujang: “Gue yang rekam buat konten TikTok.”

Di sebuah kantor yang sibuk, ada seorang bos bernama Pak Damar. Ia dikenal bukan karena kepemimpinannya yang inspiratif, tapi karena satu kalimat andalannya: "Saya tahu, tolong diselesaikan karena saya tidak ada waktu dan ada tugas yang lebih besar yang saya lakukan."
Setiap kali tim menghadapi masalah kompleks, alih-alih berdiskusi atau memberi arahan yang jelas, Pak Damar langsung memotong pembicaraan. Ia tidak ingin mendengar penjelasan panjang, apalagi masukan dari tim. Baginya, semua masalah bisa diselesaikan asal "dikerjakan saja."
Suatu hari, tim menghadapi kendala teknis dalam proyek klien besar. Mereka butuh keputusan strategis, tapi saat mereka mencoba menjelaskan, Pak Damar langsung berkata: 
"Saya tahu masalahnya. Ini bukan hal besar. Tolong diselesaikan. Saya sedang mengurus hal yang lebih penting."
Tim pun terdiam. Mereka tahu, Pak Damar sebenarnya tidak benar-benar memahami masalahnya. Tapi karena perintah sudah keluar, mereka mencoba menyelesaikannya sendiri. Hasilnya? Proyek jadi kacau, klien kecewa, dan akhirnya... Pak Damar menyalahkan tim karena tidak "mengantisipasi risiko."
Cerita seperti ini sering terjadi di lingkungan kerja di mana komunikasi satu arah dan ego lebih dominan daripada kolaborasi. Bos yang sok tahu sering kali merasa harus terlihat paling pintar, padahal justru menghambat solusi yang lebih baik.

Bosku, Sang Maha Tahu
Di sebuah kantor yang katanya “inovatif”, hiduplah seorang bos bernama Pak Damar. Gelarnya bukan S.T. atau M.M., tapi S.M.T. — Sang Maha Tahu.
Setiap pagi, tim rapat. Mereka sudah siap dengan data, analisis, dan solusi. Tapi sebelum satu slide pun ditampilkan, Pak Damar langsung angkat tangan:
“Saya tahu. Ini masalah kecil. Tolong diselesaikan. Saya sedang mengurus tugas yang lebih besar.”
Tugas lebih besar itu? Menentukan warna latar presentasi untuk meeting minggu depan.
Ketika tim bertanya soal anggaran yang tidak cocok, Pak Damar menjawab: “Saya tahu. Anggaran itu fleksibel. Kita pakai feeling saja.” Saat sistem error dan butuh keputusan teknis, Pak Damar berkata: “Saya tahu. Restart saja komputernya. Kalau masih error, ya berarti bukan masalah kita.”
Tim pun bingung. Mereka mulai membuat istilah baru: “Damarisasi”, yaitu proses menyederhanakan masalah kompleks menjadi kalimat ajaib: “Saya tahu, tolong diselesaikan.”
Suatu hari, proyek besar gagal total. Klien marah, sistem kacau, dan reputasi hancur. Pak Damar pun mengumpulkan tim dan berkata: “Saya tahu ini akan terjadi. Tapi saya sedang fokus pada hal yang lebih besar: rebranding logo kantor.”

Seringkali bos Sang Maha Tahu, hanya bisa ngomong dengan pintar, yang hanya bicara dikit-dikit dan kalau ditanya detail, si Bos gelapan dengan berbagai alasan. Pengalaman orang menjadi penting saat menghadapi bo Sang Maha Tahu

Strategi Menghadapi Bos Sok Tahu & Tukang Salahkan
1. Dokumentasi adalah Kunci
Selalu simpan bukti komunikasi, instruksi, dan keputusan. Bisa lewat email, chat, atau catatan rapat. Ini berguna saat ada konflik atau tuduhan yang tidak adil.
Contoh: “Sesuai arahan Bapak di email tanggal 12, kami sudah jalankan langkah tersebut.”
Atau ada kesalahan dalam membuat surat dan saat memperbaiki surat disalahkan lagi dan seterusnya. Langkah yang ditempuh adalah pada surat yang salah minta bos menuliskan kata yang bener (dengan mencoret yang salah). Lalu saat menghadap lagi, kita bawa coretan dari bos, saat kita menghadap lagi. 
2. Jangan Debat, Tapi Klarifikasi
Daripada berdebat, ajukan pertanyaan yang mengarah ke klarifikasi. Ini bisa bantu bos merasa tetap “berkuasa” tapi kamu tetap dapat informasi yang kamu butuhkan.
“Baik Pak, jadi maksudnya kita fokus ke bagian A dulu, lalu lanjut ke B, ya?”
Atau kita mencari tahu tentang bos dari sekretaris atau orang yang dipercaya. Dengan tahu banyak gaya dan perilaku bos dari sumber yang dipercaya, maka kita tidak perlu banyak berdebat tapi memberi solusi yang biasa disukai bos.
3. Gunakan Bahasa yang Diplomatis
Kalau bos mulai menyalahkan, jangan langsung defensif. Gunakan bahasa yang netral dan fokus pada solusi.
“Terima kasih masukannya, Pak. Kami evaluasi dan pastikan ke depan lebih tepat sasaran.”
4. Bangun Aliansi Internal
Kalau kamu punya Myra, Mamat, dan Bujang di tim, manfaatkan mereka! Diskusi bareng, saling backup, dan jaga kekompakan. Kadang solidaritas tim bisa jadi tameng dari tekanan atasan.
5. Tetap Profesional, Tapi Jangan Jadi Karpet
Jangan biarkan dirimu jadi tempat bos “mengelap” kesalahan. Kalau memang bukan tanggung jawabmu, sampaikan dengan sopan tapi tegas.
“Kami siap bantu, Pak. Tapi untuk bagian ini, sepertinya perlu koordinasi dengan tim X dulu.”
6. Evaluasi Jangka Panjang
Kalau situasinya terus berulang dan merusak mental atau kariermu, mungkin saatnya evaluasi: apakah lingkungan ini masih sehat untukmu?

Ternyata ada kalanya bos delegasikan tugasnya karena beberapa hal. Sikap atasan terhadap bawahan yang  mendelegasikan tugas bisa sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan mereka. Mari kita lihat dua tipe yang kamu sebutkan: bossy dan sebaliknya (mungkin lebih terbuka atau kolaboratif).
1. Atasan Bossy (Otoriter atau Dominan)
Ciri-ciri:
  • Suka mengontrol detail pekerjaan
  • Kurang memberi ruang untuk inisiatif bawahan
  • Menganggap dirinya sebagai satu-satunya pengambil keputusan
  • Respons terhadap delegasi dari bawahan:
  • Bisa merasa tersinggung atau menganggap bawahan tidak kompeten
  • Menolak permintaan dengan alasan “itu tugasmu”
  • Kurang terbuka terhadap diskusi atau kolaborasi
Cara menyikapi:
Gunakan pendekatan komunikasi yang diplomatis, misalnya:
“Saya sudah berusaha menyelesaikan bagian ini, tapi ada kendala yang mungkin lebih cocok ditangani oleh level manajerial. Boleh saya minta arahan atau dukungan?”
Fokus pada eskalasi masalah, bukan “mendelegasikan” langsung
Sertakan data atau alasan kuat kenapa tugas tersebut perlu bantuan atasan
Atasan Kolaboratif atau Terbuka
Ciri-ciri:
  • Mendorong komunikasi dua arah
  • Memberi ruang untuk diskusi dan ide dari tim
  • Tidak keberatan turun tangan jika dibutuhkan
  • Respons terhadap delegasi dari bawahan:
  • Lebih terbuka untuk membantu atau mengambil alih sebagian tugas
  • Bisa melihat ini sebagai bentuk kepercayaan dan kerja sama
  • Memberi umpan balik konstruktif
Cara menyikapi:
  • Bisa lebih langsung dan jujur, misalnya: “Saya sedang overload dengan beberapa tugas, dan bagian ini membutuhkan keputusan strategis. Apakah bisa Bapak/Ibu bantu atau ambil alih sementara?”
  • Gunakan momen ini untuk membangun kepercayaan dan komunikasi tim
Tips Umum:
Kenali gaya komunikasi atasan sebelum menyampaikan permintaan. Jangan gunakan kata “delegasi” secara langsung, karena bisa terdengar seperti “memindahkan tanggung jawab”
Gunakan pendekatan kolaboratif dan berbasis solusi

Bagaimana solusi kalau atasannya tersinggung
Kalau atasan tersinggung karena merasa “didelegasikan” tugas oleh bawahan, itu memang situasi yang sensitif. Tapi masih bisa diatasi dengan pendekatan yang bijak dan komunikatif. Berikut beberapa solusi yang bisa kamu coba:
1. Klarifikasi Niat dengan Rendah Hati
Segera temui atau hubungi atasan dan sampaikan bahwa maksudmu bukan untuk memindahkan tanggung jawab, tapi untuk mencari solusi bersama.
Contoh kalimat:
“Maaf kalau penyampaian saya sebelumnya kurang tepat. Maksud saya bukan untuk melempar tugas, tapi saya merasa perlu dukungan atau arahan agar pekerjaan ini bisa berjalan lebih baik.”
2. Tunjukkan Komitmen dan Tanggung Jawab
Tegaskan bahwa kamu tetap bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan hanya ingin melibatkan atasan karena ada bagian yang membutuhkan keputusan atau otoritas lebih tinggi.
Contoh:
“Saya tetap akan mengerjakan bagian teknisnya, tapi ada aspek yang saya rasa lebih tepat jika Bapak/Ibu yang menangani, terutama karena menyangkut kebijakan atau keputusan strategis.”
3. Gunakan Pendekatan Kolaboratif
Alih-alih “mendelegasikan”, ubah narasi menjadi permintaan kolaborasi atau masukan.
Contoh:
“Saya ingin memastikan hasilnya sesuai ekspektasi. Kalau Bapak/Ibu berkenan, saya sangat terbantu jika bisa mendapat masukan atau dukungan dalam bagian ini.”
4. Evaluasi Cara Komunikasi
Kadang bukan isi pesannya yang salah, tapi cara penyampaiannya. Gunakan bahasa yang sopan, tidak menyudutkan, dan hindari nada menyuruh.

Sebagai bawahan tentu secara fungsional, atasan itu lebih tahu dan paham yang lebih luas. Saya ibaratkan, bawahan berada di lantai bawah, yang kalau melihat hanya sebatas di hadapannya. Kalau ada jalanan macet karena melihat beberapa mobil bergerak lambat atau berhenti. Lalu karena pandangan ini, kita sering protes dengan keadaan ini. Tapi atasan yang berada di lantai 3 atau lebih tinggi, mampu melihat di depan sejauh mata memandang. Atasan melihat keadaan macet tapi melihat juga seberapa parah macetnya. Dan ada kalanya untuk jarak beberapa meter dari sudut pandang yang berada di lantai bawah tidak terjadi kemacetan. Dengan demikian atasan memang memiliki posisi yang lebih tinggi dan mampu melihat lebih luas, maka dia bisa menentukan tugas mana yang mesti didelagasikan. 
Bawahan yang selalu menerima delegasi atau tugas dari atas, sebaiknya tak perlu merisaukan hal ini. Yang perlu dikuatkan adalah mengerjakan dan terus menambah ilmu agar tugas yang diberikan membuat bawahan menjadi semakin mampu. Bila perlu memohon kepada atasan untuk bisa mengerjakan tugasnya. Sikap ini jauh lebih baik daripada kita menganggap bos sok Tahu. 

Di dunia kerja, kita tidak selalu bisa memilih atasan, tapi kita bisa memilih cara menyikapi. Belajar dari Myra, Mamat, dan Bujang, kita tahu bahwa kerja keras, komunikasi yang baik, dan sedikit humor bisa membuat suasana kerja jadi lebih sehat dan produktif.

Insya Allah wawasan atasan dan bawahan di atas, dapat membuka pikiran kita untuk lebih bijak baik sebagai atasan (bos) atau sebagai bawahan. Soal waktu saja kalau kita bisa mengambil hikmahnya ... mau tetap jadi bawahan atau naik menjadi atasan (bos). Upaya ini adalah sikap dan perilaku untuk memberdayakan diri semakin baik. Inilah motivasi diri yang baik dan mesti terus disemangati.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Minggu, Agustus 24, 2025

Udah salat, apa iya masih riya ??

Alhamdulillahirabbilalamin, keadaan kita sekarang sehat dan selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Apapun yang sudah dilakukan, Insya Allah menjadi kebaikan yang berarti untuk menemuiNya. Aamiin. 


Ketika salat tidak membuka hati bagi sesama
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering merasa tenang saat menunaikan salat. Gerakan yang teratur, bacaan yang khusyuk, dan waktu yang sejenak memisahkan kita dari dunia. Tapi pernahkah kita bertanya: Apakah salat kita benar-benar mengubah cara kita memandang sesama?
Di sudut gang, seorang ibu menahan tangis karena anaknya demam dan tak ada uang untuk membeli obat. Di masjid, kita baru saja mengangkat tangan, memohon rahmat dan ampunan. Namun langkah kita berlalu begitu saja, seolah tak ada yang perlu diperhatikan.
Inilah bentuk pendustaan yang tak terucap. Bukan karena kita mengingkari agama secara terang-terangan, tapi karena kita melupakan esensi dari ibadah itu sendiri—bahwa salat bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi juga panggilan untuk peduli secara horizontal kepada manusia.
Kisah dari sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, mengajarkan bahwa keimanan sejati lahir dari keberanian menyuarakan keadilan dan kepedulian. Ia tidak hanya salat di padang pasir, tapi juga menggugat ketimpangan sosial di tengah umat. Ia hidup miskin, tapi hatinya kaya dengan kasih sayang dan keberanian. 
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Abu Dzar mengkritik gaya hidup sebagian pejabat yang mulai hidup mewah. Karena kritiknya dianggap bisa menimbulkan keresahan, ia dipindahkan ke daerah terpencil bernama Rabadzah, tempat ia akhirnya wafat dalam kesederhanaan. Nabi ﷺ pernah bersabda tentangnya:
"Langit tidak menaungi dan bumi tidak memikul seseorang yang lebih jujur dari Abu Dzar." (HR. Tirmidzi)

Bagaimana kita memahami hal di atas ? Sudahkah dampak salat kita tapi peka terhadap lingkungan ? Berikut ini adalaj jawaban atas semua itu dalam Al Qur'an, Surah Al Ma'un, 107 : 1 -7.
Surat Al-Ma'un (الماعون) adalah surat ke-107 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 7 ayat. Surat ini mengandung kritik tajam terhadap orang yang mengabaikan nilai-nilai sosial dan ibadah yang benar, serta menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari keimanan.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
4. Maka celakalah orang-orang yang salat,

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
6. Yang berbuat riya (pamer),
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
7. Dan enggan (memberikan) bantuan yang berguna.

Allah Swt. berfirman, bahwa tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan hari pembalasan ?
Itulah orang yang menghardik anak yatim. (Al-Ma'un: 2)
Yakni dialah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Al-Ma'un: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Sekali-kali tidak (demikian). sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr: 17-18)
Makna yang dimaksud ialah orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk menutupi kebutuhan dan kecukupannya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. (Al-Ma'un: 4-5)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: bagi orang-orang yang salat. (Al-Ma'un: 4) Yaitu mereka yang sudah berkewajiban mengerjakan salat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari; dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka bangkitlah ia (untuk salat) dan mematuk (salat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.
Ini merupakan gambaran salat Asar di waktu yang terakhirnya, salat Asar sebagaimana yang disebutkan dalam nas hadis lain disebut salat wusta, dan yang digambarkan oleh hadis adalah batas terakhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan. Kemudian seseorang mengerjakan salatnya di waktu itu dan mematuk sebagaimana burung gagak mematuk, maksudnya ia mengerjakan salatnya tanpa tumaninah dan tanpa khusyuk. Karena itulah maka dikecam oleh Nabi Saw. bahwa orang tersebut tidak menyebut Allah dalam salatnya, melainkan hanya sedikit (sebentar). Barangkali hal yang mendorongnya melakukan salat tiada lain pamer kepada orang lain, dan bukan karena mengharap rida Allah. Orang yang seperti itu sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan salat sama sekali. Allah Swt. telah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa: 142)
Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma'un: 6)
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na' im, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah, lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah riya. Maka berkatalah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Yazid, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Arnr mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang pamer kepada orang lain dengan perbuatannya, maka Allah akan memamerkannya di hadapan makhluk-Nya dan menjadikannya terhina dan direndahkan.



Dan termasuk hal yang berkaitan dengan makna firman-Nya: orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma'un: 6) ialah bahwa barang siapa yang melakukan suatu perbuatan karena Allah, lalu orang lain melihatnya dan membuatnya merasa takjub dengan perbuatannya, maka sesungguhnya hal ini bukan termasuk perbuatan riya.
Dalil yang membuktikan hal ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya, bahwa: telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma'ruf, telah inenceritakan kepada kami Makhlad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy; dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika aku sedang salat, tiba-tiba masuklah seorang lelaki menemuiku, maka aku merasa kagum dengan perbuatanku. Lalu aku.ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw., maka beliau Saw. bersabda: Dicatatkan bagimu dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.


Ayat 1–3: Kritik terhadap orang yang mendustakan agama
Mendustakan agama bukan hanya menolak secara lisan, tapi juga tidak peduli terhadap nilai-nilai sosial, seperti:
Menghardik anak yatim
Tidak mendorong pemberian makanan kepada orang miskin
Pesan utamanya : dampak Ibadah itu memberi kepedulian sosial.
Ayat 4–5: Salat yang lalai
Salat yang tidak dilakukan dengan khusyuk dan konsisten, atau hanya dilakukan untuk pamer, tidak bernilai di sisi Allah.
Ini adalah peringatan keras bahwa ritual tanpa hati dan niat yang benar adalah sia-sia.
Ayat 6–7: Riya dan enggan membantu
Orang yang salat hanya untuk dilihat orang lain (riya) dan enggan memberi bantuan kecil (al-ma’un: barang berguna seperti air, garam, piring, dll) adalah ciri orang munafik.
Islam menekankan kebaikan kecil sekalipun, sebagai bagian dari amal saleh.
Apa hubungannya antara menghardik anak yatim dengan orang yang lalai salatnya. Apakah iya orang yang lalai salatnya itu memiliki sifat menghardik anak yatim ? 
Pertanyaan ini sangat tajam dan menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap hubungan antara ibadah ritual dan akhlak sosial dalam Islam. Mari kita bahas secara sistematis:
Hubungan antara Menghardik Anak Yatim dan Lalai Salat dalam QS Al-Ma’un. 
1. Konteks Surat Al-Ma’un
Surat ini menyebut dua kelompok perilaku:
Ayat 1–3: Menghardik anak yatim dan tidak peduli pada orang miskin.
Ayat 4–7: Orang yang salat tapi lalai, riya, dan enggan memberi bantuan kecil.
Ini menunjukkan bahwa ibadah ritual (salat) dan kepedulian sosial tidak bisa dipisahkan. Salat yang benar harus berdampak pada akhlak dan empati sosial.
2. Apakah Orang yang Lalai Salat Punya Sifat Menghardik Anak Yatim ? Tidak selalu, tetapi ada korelasi yang penting:
Orang yang lalai salatnya (tidak khusyuk, tidak konsisten, atau hanya pamer) cenderung tidak memiliki kesadaran spiritual yang kuat. Akibatnya, ia kurang peduli terhadap nilai-nilai sosial, seperti menyantuni anak yatim dan membantu orang miskin.
Dalam konteks surat ini, kedua sifat itu berasal dari akar yang sama: ketiadaan iman yang sejati dan ketulusan dalam beragama.
3. Penjelasan Ulama
Ibnu Katsir: Surat ini menggabungkan antara penolakan terhadap nilai sosial dan ibadah yang tidak ikhlas, sebagai ciri orang yang mendustakan agama.
Quraish Shihab: Salat yang tidak berdampak pada perilaku sosial adalah salat yang kosong dari ruh dan makna.
Kesimpulannya : 
Menghardik anak yatim dan lalai salat adalah dua gejala dari penyakit hati yang sama: tidak memahami agama sebagai kesatuan antara ibadah dan akhlak.
Orang yang benar salatnya, seharusnya semakin lembut, peduli, dan dermawan. Maka, salat yang benar akan mencegah sifat kasar terhadap anak yatim dan orang miskin.
Salatlah dengan benar dengan dasar iman agar memiliki hati yang rindu untuk beramal saleh diantara mempedulikan anak yatim.

Alangkah indahnya saya kisahkan obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif) tentang ibadah dan amalan sosialnya. 
Mira: Kopi sore ini enak banget ya... Tapi aku tadi baca Surah Al-Ma’un, dan jadi kepikiran. Katanya orang yang mendustakan agama itu bukan cuma yang nggak salat, tapi juga yang cuek sama anak yatim dan orang miskin.
Mamat: Iya, aku juga pernah dengar itu. Jadi, kalau kita salat rajin tapi nggak peduli sama tetangga yang kelaparan, itu bisa termasuk mendustakan agama ya? Serem juga...
Bujang: Betul banget. Aku jadi ingat kemarin, ada ibu-ibu di ujung gang yang anaknya sakit tapi nggak punya uang buat beli obat. Kita lewat aja, padahal kita baru pulang dari masjid. Itu termasuk mendustakan agama nggak sih?
Mira: Kalau kita tahu dan bisa bantu tapi memilih diam, itu bisa jadi bentuk pendustaan. Karena agama itu bukan cuma soal ritual, tapi soal kasih sayang dan kepedulian.
Mamat: Jadi, salat itu harus bikin kita lebih peka ya? Bukan cuma gerakan, tapi harus bikin hati kita hidup.
Bujang: Setuju. Aku jadi pengen mulai dari hal kecil. Mungkin besok aku bisa ajak anak-anak di gang buat belajar bareng, atau bantu ibu itu beli obat.
Mira: Masya Allah, itu keren, Jang. Kadang kita nggak perlu jadi orang kaya buat peduli. Cukup punya hati yang mau berbagi.
Mamat: Yuk kita mulai bareng-bareng. Biar salat kita nggak cuma jadi rutinitas, tapi jadi sumber cahaya buat sekitar.

Mari kita pahami dengan membaca surah Al Ma'un dengan tuma'ninah, mentadaburi ayat demi ayat  yang mengajari kita beberapa hal berikut :
  1. Salat dan ibadah lainnya mesti membawa dampak positif bagi kita terhadap orang sekitar kita, yang melahirkan kepedulian sosial.
  2. Ada hati yang terpanggil menyuarakan kebenaran adalah bagian dari iman. jangan sampai kita disindir oleh ayat di atas, yaitu orang yang mendustakan agama (hari pembalasan) , kita tahu tapi tidak melaksanakannya, dan bahkan menunjukkan sebaliknya.
  3. Kesederhanaan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kesederhanaan dalam hidup agar tidak menjadi ketimpangan dalam linkungan kita. Kekayaan bukan untuk ditimbun, tapi untuk dibagikan.
  4. Pendustaan agama bisa terjadi saat kita meninggalkan nilai-nilai sosial dalam ibadah. Salat yang benar harus membuat kita lebih peduli, lebih lembut, dan lebih dermawan. Kepedulian sosial adalah bagian dari keimanan yang sejati.
Insya Allah petunjuk Allah ini dapat mengingatkan kita, dan bersegera untuk melaksanakannya. Teruslah memberdayakan diri untuk menjadi semakin dekat dengan Allah, yaitu jalan iman dan ketaqwaan. Tiada hari untuk selalu memotivasi diri dengan motivasi yang islami. Hidup ini semakin dekat kepada Allah, karena usia mendekat kepada pertemuan denganNya, kedekatan itu terasa dengan karunia dan rahmatNya dan kita pun membiasakan setiap hari untuk dekat dengan petunjukNya. 

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Sabtu, Agustus 23, 2025

Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera, keselamatan dan keberkahan bagi kita semua. Keberkahan yang kita rasakan mampu memberi kebaikan dalam hidup ini. Salah satu merasakan keberkahan itu adalah mengingat Allah agar hati terbuka dan fokus kepada apa yang kita perhatikan.


 Ada kalanya seseorang menolong orang lain dengan ikhlas, tapi setelah itu terjadi penilaian orang itu menjadi berubah tidak ingin menolong lagi karena satu hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Apa iya begitu ? Yang paling sering kita alami saja terjadi dalam kehidupan kita seharu-hari. Misalkan pengemis atau pengamen di lampu merah. Bisa jadi kita memberi karena kita ikhlas memberi. Setelah sekian lama mungkin 1 bulan, terpikir oleh kita, orang itu peminta-minta atau profesinya begitu ? Hal inilah yang meragukan kita untuk memberi lagi. Setelah membaca artikel penghasilan pengamen atau pengemis itu ternyata mencapai 14 juta per bulan. Apa iya kita masih mau memberi ? Inilah yang menginspirasi saya menulis tentang ayat 77 dari surah Al Qasas.

Dalam Al Qasas ayat 77, Allah berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." — QS. Al-Qasas: 77

Ayat ini merupakan nasihat kepada Qarun, tetapi juga menjadi pelajaran umum bagi kita semua: untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta meneladani kebaikan Allah dengan berbuat baik kepada sesama.


Berikut adalah penjelasan tafsir dari QS Al-Qasas ayat 77 berdasarkan beberapa sumber tafsir utama:

1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah nasihat kepada Qarun agar:

  • Menggunakan harta dan nikmat sebagai bekal ketaatan kepada Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan meraih pahala di dunia dan akhirat.
  • Tidak melupakan bagian dunia, yaitu hal-hal yang dihalalkan seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Karena manusia punya kewajiban terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan tamu.
  • Berbuat baik kepada sesama, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.
  • Tidak berbuat kerusakan di bumi, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak.

2. Tafsir Al-Misbah (M. Quraish Shihab)

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menekankan:

  • Frasa "wala tansa nashibaka minad-dunya" bukan berarti larangan haram, tetapi mubah (boleh) untuk mengambil bagian duniawi.
  • Keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah prinsip penting. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tapi dimanfaatkan sebagai sarana menuju akhirat.
  • Berbuat baik kepada sesama adalah bentuk syukur atas kebaikan Allah.
  • Larangan berbuat kerusakan adalah peringatan agar tidak menyalahgunakan nikmat untuk hal-hal yang merusak.

3. Tafsir Jalalayn

Tafsir Jalalayn memberikan penjelasan ringkas namun padat:

  • Carilah kebahagiaan akhirat dengan menafkahkan harta di jalan ketaatan.
  • Jangan lupakan bagian dunia, yaitu beramal dengan harta untuk pahala akhirat.
  • Berbuat baiklah kepada orang lain, seperti bersedekah.
  • Jangan membuat kerusakan di bumi, yaitu dengan melakukan maksiat .

4. Tafsir Al-Munir (Wahbah Az-Zuhaili)

Dalam Tafsir Al-Munir, ayat ini dijelaskan sebagai:

Panduan hidup seimbang: mencari akhirat tanpa melupakan dunia.

  • Keseimbangan manhaj Ilahi: tidak membenci dunia, tapi tidak menjadikannya tujuan utama.
  • Berbuat baik sebagai balasan atas nikmat Allah.
  • Larangan keras terhadap kerusakan, karena Allah tidak menyukai pelaku kerusakan.


Sesuai dengan tulisan saya di awal yaitu kaitan dengan ayat 77 dari Al Qasas adalah "berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita" tentang memberi atau berbuat baik (ihsan). Ternyata ihsan dalam berbagai hadis dijelaskan sebagai berikut :
1. Hadis tentang Ihsan kepada Allah
Hadis ini berasal dari dialog Nabi Muhammad ﷺ dengan Malaikat Jibril:
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." 
— HR. Muslim
Hadis ini menjelaskan makna ihsan kepada Allah, yaitu beramal dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, seolah-olah kita melihat Allah. Ini adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas dan keikhlasan.
2. Hadis tentang Ihsan kepada Sesama
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
— HR. Bukhari

Hadis ini mendukung konsep ihsan sosial, yaitu memperlakukan orang lain dengan kebaikan yang sama seperti yang kita harapkan untuk diri sendiri. Ini sejalan dengan perintah dalam QS An-Nahl: 90 untuk berbuat baik dan memberi kepada kerabat.
3. Hadis tentang Ihsan kepada Diri Sendiri
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
— QS Al-Baqarah: 195, didukung oleh berbagai hadis yang melarang menyakiti diri sendiri.
Ihsan kepada diri sendiri berarti menjaga diri dari bahaya, baik fisik maupun spiritual. Islam melarang tindakan yang merusak diri sendiri, seperti maksiat, keputusasaan, atau kelalaian terhadap kesehatan dan keselamatan
Kesimpulannya :
Ketiga bentuk ihsan ini:
Ihsan kepada Allah → Hadis Jibril (HR. Muslim)
Ihsan kepada sesama → Hadis cinta kepada saudara (HR. Bukhari)
Ihsan kepada diri sendiri → Prinsip menjaga diri dari kebinasaan (QS Al-Baqarah: 195)

Lalu, Bisa jadi kita selalu memberi dan menjadi semakin baik jika diiringi niat yang ikhlas dan berdoa agar kehidupan yang baik. Tapi sekali lagi ... dengan ayat Al Qasas di atas. Allah memberi kita tidak pernah berhenti berupa karunia dan rahmatNya. Apa iya kita terus memberi juga kepada pengemis dan pengamen terus-menerus ??? Iya memberilah terus-menerus. Diakhir ayatnya disampaikan "janganlah kita berbuat kerusakan di muka bumi". Ini mesti menjadi perhatian kita memberi terus-menerus itu membuat kecenderungan kerusakan di muka bumi. Diantaranya "memanja orang yang awalnya meminta-minta berubah menjadi profesi meminta". Saat kita merasakan ini terjadi, maka berhenti memberi. Lengkapi ilmu kita tentang memberi, diantaranya memberi itu memiliki prioritas dari orang terdekat dari lingkup keluarga dan lokasi (tetangga) yang membutuhkan tapi "tidak meminta".

Yang saya ambil hikmah dari "berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepada kita" yaitu mesti ditindaklanjuti dengan petunjuk Allah yang lain seperti ;

1. QS An-Nahl: 90
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebaikan), memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
  • Adil: Menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia secara seimbang.
  • Ihsan: Memberi lebih dari yang diwajibkan, seperti bersedekah, memaafkan, dan berbuat baik bahkan kepada yang menyakiti.
  • Memberi kepada kerabat: Bentuk silaturahmi dan dukungan sosial.
  • Larangan terhadap keji, mungkar, dan permusuhan: Ini mencakup semua bentuk maksiat, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan.
Berbuat baik itu luas, tidak hanya satu hal saja. Tetapi selalu ingat bahwa berbuat baik itu selalu dikaitkan dengan Allah yang terlah baik kepada kita. Tidak ada berbuat baik itu karena melihat yang menerimanya, dia baik atau tidak baik. Dengan dasar ini, kita berbuat baiknya menjadi ikhlas dan hanya berharap hanya kepada Allah tanpa menilai penerima. Biarlah urusan berbuat baik itu, antara kita dan Allah, sedangkan yang menerima adalah urusan Allah.

Hadis tentang ihsan (berbuat baik) dalam segala hal, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (kebaikan) dalam segala hal."
— HR. Muslim, No. 1955


Hadis ini merupakan bagian dari hadis yang lebih panjang, yang juga menyebutkan ihsan dalam menyembelih hewan:
"...Maka apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya."

Makna Hadis:
Ihsan adalah prinsip universal dalam Islam, mencakup ibadah, muamalah, akhlak, bahkan dalam hal yang tampak kecil seperti menyembelih hewan.
Hadis ini menunjukkan bahwa berbuat baik bukan hanya dianjurkan, tapi diwajibkan dalam setiap aspek kehidupan.
Ihsan berarti melakukan sesuatu dengan kesempurnaan, keikhlasan, dan kasih sayang.

Insya Allah, dengan membaca dan memahami penjelasan di atas, maka kita semakin memiliki dasar untuk berbuat baik. Allah berbuat baik kepada setiap makhlukNya, maka kita sebagai hamba Allah pun patut untuk berbuat baik. Ingin nikmat Allah, dan bersegeralah berbuat baik dengan nikmat untuk siapa saja dan alam semesta. Teruslah memberdayakan diri untuk semakin baik dengan belajar dan memahami petunjuk Allah. Inilah motivasi diri yang terus ditindaklanjuti dengan mengamalkannya.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Featured post

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang n...