Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Minggu, Februari 22, 2026

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hidup.  Ini bukan langkah sadar berpikir tapi diONkan hati yang luas. Melanjutkan pemahaman surah hud 6 dalam kehidupan sehari-hari.


Kita baca kembali surah Hud ayat 6,

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)

“Uang bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat.”
“Jika Anda masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti.”
“Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa Kita Masih Gelisah?”
“Gelisah Karena Rezeki, Padahal Sudah Dijamin”
Bujang sedang termenung melihat laporan keuangannya.
Mamat sibuk membandingkan dirinya dengan teman-teman yang sudah “sukses”.
Mira merasa takut menikah karena belum mapan.
Mereka bertiga sering berbincang, tapi selalu berujung pada satu kalimat:
“Bagaimana kalau rezeki tidak cukup?”
Suatu hari mereka mendengar kajian tentang QS Hud ayat 6.
Ayat itu seperti menampar mereka:
“Semua makhluk sudah dijamin rezekinya…”
Mereka tersadar — selama ini mereka lebih percaya pada angka daripada pada janji Allah.



Kata “dābbah” berarti semua makhluk melata — termasuk hewan kecil yang tersembunyi. Allah tidak hanya menjamin jumlahnya, tapi juga:
tempat tinggalnya tempat penyimpanannya
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengetahui tempat tinggal dan tempat kembalinya setiap makhluk.
Artinya: bukan hanya rezekinya yang Allah tahu, tapi perjalanan hidupnya.
Rasulullah ﷺ  bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari ia lapar, sore hari ia kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak menunggu rezeki turun ke sarang.
Ia keluar. Ia bergerak. Tapi hatinya tidak gelisah.

Bujang sadar: selama ini ia bekerja dengan ketakutan, bukan dengan tawakal.
Mamat sadar: ia membandingkan takdirnya dengan takdir orang lain.
Mira sadar: ia takut pada masa depan yang bahkan belum terjadi.
Masalahnya bukan kurang rezeki.
Masalahnya adalah kurang yakin.

Kegelisahan yang Diam-Diam Menjadi Kebiasaan
Bujang tidak pernah benar-benar mengeluh. Ia bekerja dengan disiplin, datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, bahkan sering lembur. Namun beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia mulai lebih sering membuka aplikasi perbankan.
Bukan karena ada transfer tambahan. Tapi karena ada rasa takut.
Takut kalau tiba-tiba kurang.
Takut kalau kebutuhan meningkat.
Takut kalau masa depan tidak aman.
Slip gaji yang dulu ia terima dengan rasa syukur, kini ia terima dengan kalkulasi.
“Kalau angka ini naik sedikit saja, hidup pasti lebih tenang,” pikirnya.
Di sisi lain kota, Mamat sedang duduk menatap layar ponselnya. Media sosial dipenuhi kabar pencapaian teman-teman lamanya. Ada yang naik jabatan. Ada yang membeli rumah. Ada yang membuka bisnis baru.
Ia menutup layar itu pelan-pelan.
Tanpa ia sadari, hatinya mulai membandingkan takdir.
Mira pun tak jauh berbeda. Setiap kali pembicaraan tentang masa depan muncul, yang pertama terlintas bukan kesiapan hati, tetapi kesiapan finansial.
“Bagaimana kalau nanti tidak cukup?” katanya suatu malam.
Tiga orang. Tiga kegelisahan. Satu akar masalah yang sama.
Mereka menyempitkan makna rezeki menjadi angka.



Ayat yang Mengguncang Cara Pandang
Suatu sore mereka mengikuti kajian kecil di masjid dekat kantor. Ustaz membuka mushaf dan membacakan satu ayat:
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…” (QS. Hud: 6)
Ayat itu terdengar biasa. Bahkan sering mereka dengar.
Namun sore itu berbeda.
Ustaz melanjutkan, “Allah tidak mengatakan sebagian makhluk. Tidak juga mengatakan yang punya pekerjaan tetap. Semua. Bahkan yang tidak punya jabatan.”
Bujang terdiam.
Namun dalam hatinya muncul pertanyaan yang jujur.
“Memangnya burung diberi makan langsung oleh Allah? Bukankah ia tetap harus terbang? Tetap harus mencari?”
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Tapi ia bawa pulang.

Memahami Burung dengan Cara yang Baru
Malam itu mereka bertiga kembali berdiskusi.
“Burung itu,” kata Bujang perlahan, “tidak bangun lalu makanan jatuh ke paruhnya. Ia tetap keluar. Ia tetap mencari.”
Mamat mengangguk. “Berarti jaminan rezeki bukan berarti tanpa usaha.”
Di situlah pemahaman mereka mulai bergeser.
Allah memang menjamin rezeki burung. Tapi cara Allah memberi bukan dengan menyuapi langsung. Allah memberi dengan memampukan.
Burung diberi sayap.
Diberi naluri.
Diberi insting membaca arah angin.
Diberi kemampuan menemukan biji yang tersembunyi.
Setiap pagi ia keluar dalam keadaan lapar, dan sore pulang dalam keadaan kenyang.
Jaminan Allah bekerja melalui kemampuan yang Allah berikan.
Maka rezeki bukan hanya hasil akhirnya.
Rezeki adalah kemampuan untuk bergerak.
Rezeki adalah petunjuk untuk menemukan.
Rezeki adalah perlindungan selama perjalanan.
Dan tiba-tiba mereka menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Manusia beriman juga begitu.
Allah ingin kita salat dan bekerja.
Salat menjaga hati agar tetap tunduk kepada Pemberi rezeki.
Bekerja adalah media untuk menjemput karunia-Nya.

Kesalahan yang Tak Terasa: Mengganti Pemberi dengan Perantara
Perlahan Bujang mulai jujur pada dirinya sendiri.
Selama ini ia menggantungkan rasa aman pada perusahaan.
Seolah-olah perusahaanlah yang memberi makan.
Padahal perusahaan hanyalah perantara.
Pemberinya tetap Allah.
Mamat pun mulai sadar bahwa ia lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan kekhusyukan salat.
Mira menyadari bahDan di situlah letak kegelisahan itu.
Ketika hati bergantung pada angka, angka menjadi tuhan kecil.
Padahal angka bisa naik dan turun.
Allah tidak.

Menghitung Ulang Apa Itu Rezeki
Suatu malam mereka mencoba melakukan sesuatu yang sederhana.
Alih-alih menghitung pengeluaran, mereka menghitung nikmat.
Bujang menyadari ia masih sehat.
Masih bisa sujud.
Masih bisa bekerja.
Masih punya orang tua yang mendoakan.
Mamat menyadari ia punya pengalaman, jaringan, reputasi baik.
Itu semua modal. Itu semua rezeki.
Mira menyadari ia punya waktu, ide, kreativitas, dan kesempatan belajar.
Lalu mereka bertanya:
Mengapa kita menyimpulkan “kurang rezeki” hanya karena nominal belum sesuai harapan?
Rezeki ternyata jauh lebih luas daripada gaji.
Rezeki adalah kesehatan.
Rezeki adalah iman.
Rezeki adalah waktu.
Rezeki adalah kesempatan taubat.
Rezeki adalah terhindar dari musibah yang tak kita tahu.
Ada orang bergaji besar tetapi tidurnya tidak tenang.
Ada yang hartanya banyak tetapi keluarganya retak.
Jika rezeki hanya uang, mengapa mereka tetap gelisah?

Tawakal yang Aktif, Bukan Pasif
Mereka kembali pada hadis tentang burung.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika kita bertawakal seperti burung, kita akan diberi rezeki.
Tawakal seperti burung bukan berarti diam di sarang.
Tawakal berarti keluar dengan usaha, tapi tanpa rasa putus asa.
Bergerak tanpa kehilangan keyakinan.
Orang beriman tidak pasif.
Ia salat dengan tunduk.
Ia bekerja dengan profesional.
Namun hatinya tidak menggantung pada pekerjaan.
Ia tahu bahwa pekerjaannya hanyalah jalan.
Yang menentukan hasil adalah Allah.

JUST DO IT NOW 
Bukan Sekadar Amalan, Tapi Perubahan Paradigma
Hari ini, sebelum membaca seri berikutnya, lakukan ini:
1️⃣ Perbaiki Niat Kerja
Besok pagi sebelum berangkat, ucapkan dalam hati:
“Ya Allah, aku bekerja hari ini sebagai ibadah kepada-Mu.”
Ubah orientasi.
Bukan sekadar gaji.
Tapi pengabdian.
2️⃣ Jaga Salat Tepat Waktu
Jika selama ini salat sering diakhirkan karena pekerjaan, ubah hari ini.
Biarkan pekerjaan menunggu salat.
Karena salatlah yang menjaga rezeki, bukan sebaliknya.
3️⃣ Tulis 15 Rezeki Non-Uang yang Anda Miliki
Jangan berhenti di angka kecil. Paksa diri Anda melihat luasnya karunia Allah.
4️⃣ Hentikan Kalimat “Rezekiku Kecil”
Ganti dengan:
“Allah sedang mengatur rezekiku dengan cara terbaik.”
5️⃣ Sedekah Hari Ini
Walau kecil.
Karena sedekah adalah deklarasi bahwa Anda percaya rezeki datang dari Allah, bukan dari saldo.






Saat apa yang dimiliki merasa kurang

Semangat pagi semuanya, hari libur tidak juga membuat libur aktivitas. Istirahat perlu, tapi secukupnya. Bangkit untuk beraktivitas sekarang. Insya Allah selalu ada semangat untuk terus beraktivitas yang bermakna bagi kehidupan ini. Berikut ini adalah pendalaman seri 1 dari petunjuk Allah yang ada di Surah Hud ayat 6.

Saya mulai dari ilustrasi berikut ini : 


Mamat kehilangan proyek besar yang selama ini menopang penghasilannya. Bukan karena ia malas. Bukan karena ia tidak kompeten. Hanya saja kontrak itu tidak diperpanjang. Ada rasa khawatir atas rezekinya. 

Hari itu ia duduk lama di dalam mobilnya sebelum pulang ke rumah. “Berarti rezekiku berkurang,” bisiknya. Kalimat itu terdengar logis. Tapi hatinya tidak tenang.
Malamnya ia bertemu Bujang dan Mira. Wajahnya berbeda dari biasanya.
“Kalau rezeki sudah dijamin,” kata Mamat pelan, “kenapa tetap terasa sesak begini ketika penghasilan turun?” Tidak ada yang langsung menjawab.
Bujang mengingat kembali pertanyaan tentang burung.
“Burung itu,” katanya perlahan, “pagi keluar lapar, sore pulang kenyang. Tapi tidak pernah dijanjikan menemukan makanan di cabang pertama yang ia Mira menambahkan, “Mungkin kita selama ini mengira rezeki itu tetap bentuknya. Padahal Allah menjamin rezeki, bukan menjamin bentuknya selalu sama.”
Mamat terdiam.
Selama ini ia menyamakan rezeki dengan nominal. Ketika nominal turun, ia menyimpulkan rezekinya menyusut. Padahal bisa jadi yang berubah hanya jalurnya.
Bukankah ketika proyek itu hilang, ia jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarganya? 
Bukankah ia mulai mengevaluasi keuangannya dengan lebih bijak?
Bukankah ia mulai lebih sering bangun malam karena merasa butuh pertolongan Allah?
Lalu muncul kesadaran yang pelan tapi dalam:
Bagaimana jika hilangnya satu sumber penghasilan adalah cara Allah menumbuhkan tawakal?

Surah Hud ayat 6 tidak mengatakan bahwa rezeki selalu terasa nyaman. Ayat itu mengatakan bahwa rezeki dijamin.
datangi.”Dijamin tidak selalu berarti dilapangkan sesuai keinginan.
Kadang dijamin berarti dijaga dari yang lebih buruk.
Kadang dijamin berarti diarahkan ke sesuatu yang lebih baik.
Mamat mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Rezeki bukan hanya tambahan.
Rezeki juga bisa berupa perlindungan.
Jika Allah menahan kenaikan gaji, mungkin Allah sedang menjaga hatinya dari kesombongan.
Jika Allah menutup satu pintu proyek, mungkin Allah sedang membuka pintu kedewasaan.
Burung tidak tahu di mana makanan itu berada. Tapi ia tetap terbang.
Orang beriman tidak tahu bagaimana masa depannya. Tapi ia tetap salat dan bekerja.
Dan di situlah tawakal diuji.

Ujian yang Tidak Direncanakan
Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan.
Suatu pagi, Mamat menerima email yang singkat, formal, dan dingin. Proyek besar yang selama ini menjadi penopang utama penghasilannya tidak diperpanjang. Bukan karena performanya buruk. Bukan karena ia lalai. Hanya karena kebijakan perusahaan berubah.
Ia membaca email itu tiga kali.
Tangannya terasa dingin.
Ia langsung membuka aplikasi perbankan. Menghitung ulang. Mengurangi proyeksi. Mengubah rencana.
Dan tanpa sadar satu kalimat muncul di benaknya:
“Rezekiku berkurang.”
Kalimat itu terdengar logis. Rasional. Masuk akal.
Tapi ada yang mengganjal.
Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?
Bukankah beberapa bulan lalu ia dan sahabat-sahabatnya baru saja berdiskusi tentang Surah Hud ayat 6?
Bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk?
Mengapa sekarang ayat itu terasa jauh?


Ketika Ayat Diuji oleh Kenyataan
Malam itu Mamat tidak langsung pulang. Ia duduk lama di dalam mobilnya. Lampu-lampu kota menyala, tetapi pikirannya redup.
Ia berusaha kuat. Tapi jujur saja, ia takut.
Takut tidak cukup.
Takut dianggap gagal.
Takut masa depan menjadi sempit.
Ia teringat kembali hadis tentang burung.
Burung keluar pagi dalam keadaan lapar. Pulang sore dalam keadaan kenyang.
“Tapi bagaimana kalau burung itu terbang dan tidak menemukan apa-apa?” pikirnya.
Di situlah pertarungan batin dimulai.
Apakah jaminan Allah berarti tidak ada hari sulit? Ataukah jaminan Allah tetap ada meski hari terasa sulit?



Diskusi yang Mengubah Arah
Ketika Mamat menceritakan semuanya kepada Bujang dan Mira, suasana hening cukup lama.
Bujang berkata pelan, “Kalau penghasilan turun, itu fakta. Tapi apakah itu berarti rezeki turun?”
Mamat menghela napas. “Bukankah rezeki itu penghasilan?”
Mira menatapnya serius. “Atau selama ini kita yang menyamakan keduanya?”
Kalimat itu menembus.
Mereka kembali pada ayat itu.
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…”
Ayat itu tidak mengatakan bahwa rezeki selalu datang lewat jalur yang sama.
Ayat itu tidak mengatakan bahwa nominalnya selalu naik.
Ayat itu hanya mengatakan: dijamin.
Dan jaminan Allah tidak pernah gagal.

Rezeki yang Tidak Terlihat
Beberapa minggu setelah proyek itu hilang, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Mamat jadi lebih sering makan malam bersama keluarganya. Ia tidak lagi pulang larut karena tekanan pekerjaan.
Ia mulai membaca lebih banyak. Ia mulai merenung lebih dalam.
Ia mulai bangun malam karena merasa benar-benar butuh pertolongan Allah.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia menangis dalam sujudnya.
Ia sadar sesuatu.
Selama ini ia merasa mandiri karena proyeknya stabil. Ia merasa aman karena penghasilannya terukur. Tanpa sadar, hatinya mulai bergantung pada stabilitas itu.
Mungkin Allah sedang membersihkan ketergantungannya.
Rezeki bukan hanya yang ditambahkan.
Rezeki juga bisa berupa yang diambil untuk menyelamatkan.
Bagaimana jika proyek yang hilang itu justru menyelamatkannya dari kesombongan? Bagaimana jika kehilangan itu adalah cara Allah menariknya kembali mendekat?

Burung Tidak Diberi Peta
Mamat kembali merenungi burung.
Burung tidak pernah diberi peta lokasi makanan. Ia tidak tahu apakah cabang pertama yang ia hinggapi akan memberi hasil.
Tapi ia tetap terbang.
Dan yang lebih penting: ia tidak membawa kecemasan berlebihan.
Manusia sering ingin tahu seluruh peta masa depan sebelum melangkah. Padahal Allah hanya meminta kita melangkah dengan iman.
Burung diberi naluri. Manusia diberi wahyu.
Burung bergerak dengan fitrah. Manusia bergerak dengan iman.
Jika burung saja tidak berhenti terbang hanya karena satu cabang kosong, mengapa manusia berhenti percaya hanya karena satu proyek hilang?

Ketika Rezeki Berubah Bentuk
Suatu hari Bujang berkata kepada Mamat, “Mungkin rezekimu tidak berkurang. Mungkin hanya berganti bentuk.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.
Selama proyek itu ada, Mamat mendapat rezeki berupa uang.
Ketika proyek itu hilang, ia mendapat rezeki berupa waktu, kedekatan keluarga, kekhusyukan doa, dan kesadaran spiritual.
Mana yang lebih mahal?
Ada orang yang gajinya naik, tapi salatnya turun. Ada yang hartanya bertambah, tapi hatinya kering.
Jika uang bertambah tetapi iman berkurang, apakah itu benar-benar kenaikan rezeki?
Mamat mulai melihat hidupnya dengan sudut pandang baru.
Penghasilan bisa fluktuatif.
Tetapi jaminan Allah tidak pernah fluktuatif.

Tawakal yang Diuji, Bukan Diucapkan
Tawakal mudah diucapkan ketika keadaan stabil.
Tawakal diuji ketika keadaan berubah.
Di situlah Mamat belajar satu hal penting:
Tawakal bukan berarti tidak merasa takut.
Tawakal berarti tetap melangkah meski ada rasa takut.
Ia tetap mencari peluang baru. Ia tetap mengirim proposal. Ia tetap bekerja profesional.
Namun kali ini hatinya berbeda.
Ia tidak lagi bekerja untuk mengamankan masa depan. Ia bekerja sebagai bentuk ketaatan.
Ia tidak lagi menjadikan proyek sebagai sumber ketenangan. Ia menjadikan Allah sebagai sumber ketenangan.
Dan perlahan, rasa sesak itu berkurang.
Bukan karena penghasilannya langsung naik. Tetapi karena keyakinannya yang naik.

JUST DO IT NOW 
Ketika Penghasilan Turun, Jangan Biarkan Iman Turun
Hari ini lakukan ini, bukan sekadar sebagai latihan, tapi sebagai deklarasi hati:
Hentikan Mengukur Nilai Diri dari Penghasilan
Nilai Anda bukan ditentukan oleh angka.
Nilai Anda ditentukan oleh ketakwaan dan usaha.
Tambah Sujud Saat Ujian Datang
Jika biasanya Anda salat sekadar kewajiban, tambahkan dua rakaat khusus untuk meminta ketenangan.
Jangan hanya mencari solusi finansial.Cari ketenangan spiritual.
Lanjutkan Ikhtiar Tanpa Panik
Kirim lamaran. Cari peluang. Bangun relasi.
Tapi lakukan dengan hati yang yakin, bukan hati yang panik.
Syukuri Rezeki yang Tidak Terlihat
Tuliskan apa yang Allah beri di balik ujian ini.
Waktu? Pelajaran? Kedekatan keluarga? Kesadaran spiritual?
Ucapkan Ini Setiap Pagi
“Ya Allah, Engkau menjamin rezekiku. Maka tenangkan hatiku saat mencarinya.”

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi untuk memahami diri sendiri. Pemberdayaan diri adalah cara untuk berubah semakin baik. Temukan motivasi diri dari motivasi islam ... ada pencerahan, ada iman yang tumbuh semakin baik.





Sabtu, Februari 21, 2026

Catatan Allah menjamin semua rezeki makhluknya

Semangat pagi dan salam bahagia. Kebahagian dapat diperoleh dengan hati yang tenang. Insya Allah hati ini banyak berzikir hanya kepadaNya dan saya mendapatkan ketenangan dari sisi Allah. Aamiin

Hari ini, saya tergugah untuk menulis pemahaman dari Surah Hud ayat 6 dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi beberapa orang dan saya yang dulu bilang begini,"Iya saya tahu". Ternyata tidak cukup tahu, karena petunjuk Allah itu terhubung dengan hati, "Tahu dan paham tidak cukup, yuk buka hati dicerahkan Allah dengan bisikan lembutNya".


Saya menuliskan dalam 3 seri, Berikut serinya

SERI 1, Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah
Seri ini bukan tentang optimisme kosong.
Ini tentang menggeser pusat ketergantungan.
Dari slip gaji…
ke janji Allah.
Dan perjalanan ini baru dimulai.

SERI 2, Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?

Seri ini bukan tentang bagaimana mendapatkan kembali proyek.
Ini tentang menemukan kembali Allah dalam proses kehilangan.
Dan perjalanan kita belum selesai.
Di Seri 3 nanti, kita akan sampai pada puncaknya:
Kesadaran bahwa rezeki terbesar bukan uang, bukan proyek, bukan karier…
Tetapi hidayah dan hati yang tenang.
Siap kita lanjut ke klimaksnya? 

 SERI 3, Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji

Surah Hud ayat 6 bukan hanya ayat penghibur.
Ia adalah ayat pembebas.
Membebaskan kita dari ketergantungan pada angka.
Membebaskan kita dari ketakutan berlebihan.
Membebaskan kita dari ilusi bahwa pekerjaanlah yang memberi hidup.
Burung terbang setiap pagi tanpa jaminan tertulis.
Orang beriman bekerja dan salat dengan jaminan dari Allah.
Dan pada akhirnya mereka memahami:
Gaji adalah angka.
Rezeki adalah karunia.
Dan karunia paling mahal adalah hati yang tenang bersama-Nya.

Sebelum saya memasuki seri 1nya, saya ingin mengungkapkan banyak hal yang berhubungan dengan surah Hud ayat 6.


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)


Ada banyak pertanyaan di benak saya tentang ayat di atas bukan sekedar teksnya saya. Saya tahu dan paham, so what ?? Inilah yang ada dalam pikiran saya. 



1. “Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa saya masih Gelisah ?”
Gelisah itu tanda bahwa saya mempertanyakannya. Gelisah itu tentang masa depan, besok makan apa ? Pertanyaan ini karena saya punya pikiran, pikiran itu adalah rezeki Allah juga sih. Karena ada beberapa tidak diberikan kemampuan itu karena sakit atau karena takdir Allah.  Saya tenangkan dulu pikiran saya dan hadir self talk lanjutan. Yang pertama, saya mulai kritis dalam pikiran sendiri, kalau saya punya pikiran tentang kegelisahan rezeki di hari berikutnya ... boleh dong pikiran itu dialihkan untuk fokus kepada rezeki dan jaminan Allah. Dengan demikian kegelisahan itu tidak hadir, dan sekarang belajar tentang rezeki dan jaminan Allah.
Alhamdulillahirabbilalamin, saya bisa berpikir seperti itu karena Engkau dan saya pun membuka hati.
2. Ternyata wawasan saya tentang rezeki itu sempit, hanya kepada pendapatan saja. Rezeki banyak, kalau saya sebut pikiran, ternyata itu rezeki, saya mau bilang "kemampuan" itu juga rezeki dan "kesehatan" pun rezeki. Saya berhenti untuk mau bilang sesuatu," tak pernah abis rezeki itu".
Saya jadi sadar, ternyata semua itu saya dapatkan karena saya berada pada mode sadar Allah, hati yang berfungsi yang diikuti dengan pikiran sehat saya. Mode ini tidak dengan "panik" dan ketakutan. Jadi bersyukurlah hati ini dibuka Allah dan matanya dicerahkan dengan memahami ayat di atas.
3. Oke, saya mesti memberi porsi yang adil terhadap Pendapatan adalah angka. Pendapatan itu salah satu dari rezeki Allah. Pendapatan berupa Uang itu bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat dan tidak pernah habis.
Jika saya masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti dan dijamin Allah.
4. Apakah pendapatan saya tidak cukup ? Bukankah rezeki bukan sekedar pendapatan saja, bisa berupa Kesehatan, kemampuan, Ada kerja, berpikir …
Emang Sanggup menghitung rezeki itu sangat banyak dari Allah ? 
 ? Begitulah saya baru merasakan dan menikmati pendapatan (merasakan uang dari pendapatan), yang lain tidak terlihat dengan hat. Jangan-jangan saya memang hanya ngelihat pendapatan saja, maka tak melihat rezeki yang lain. Biasanya hatinya kembali tertutup (tidak tersambung kepada Allah). Disinilah hati dikuasai "setan" yang membuat buaian dan angan-angan tak pernah berujung dan terlihat indah untuk diraih.
5. Untuk itulah saya mesti sering nyadar sama Allah (hati yang teruju Allah). dengan izinNya, saya mampu melihat rezeki Allah. 
Tenangkan diri ... Tarik napas. Saya merasakan lebih nyaman ... he ... he...  kayak hidpnotis aja ya. 
Iya ya, saya semakin mampu menyadari rezeki itu luas
Mau disebut banyak banget. Sya mesti berhenti menyebutkannya. 
Ternyata Pekerjaan saya saat inipun rezeki, dari sini saya mau mendalami rezeki Allah ini sebagai nikmat Allah yang mesti disyukuri. 
Dibalik pekerjaan itu  Allah memberi Amanah dan meminta tanggung jawab pada saya ??? Yang ada saya mengeluh mengelisahkan pendapatan saya.
Tarik napas lagi ... lebih tenang lagi
Ternyata tanggung jawab atas amanah Allah itu mesti saya wujudkan dalam kerja yang produktif. Bagaimana caranya ? Mesti ada ilmu, saya mesti belajar dan Allah telah berikan "otak" untuk berpikir dan belajar. Iya ya, saya mesti bersyukur dengan otak saya sehingga saya mendapatkan ilmu dan dengan ilmu itu saya bisa bekerja lebih produktif.
Dan temen kerja yang baik itu adalah rezeki, rezeki ini sebaai nikmat yang mesti disyukuri. Dengan temen yang baik ini, saya juga bisa bekerja produktif dalam bekerja sama atau saling membantu.
Ternyata ... selama ini saya belum mampu melihat rezeki Allah karena hati yang tertutup. Saya hanya melihat fisiknya saja, tanpa memahami makna dan kemanfaatannya apalagi amanahnya Allah.



Pujilah Allah yang telah memberi rezeki yang banyak itu … 
Mengapa saya belum memanfaatkan rezeki itu agar ditambah nikmat oleh Allah ?
Ya Allah, Engkau Ya Razzaq, Alhamdulillah ... sentuhlah hati ini agar mampumerasakannya dan tahu manfaat pemberianMu. Saya memohon kepadaMu ampunan atas apapun yang tidak mengantarkan hati ini semakin bersih. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahiim

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi dan berharap mampu menggetarkan hati untuk menyadari "sadar Allah". Inilah potensi yang besar dalam memberdayakan diri agar tidak membuat gelisah, khawatir lagi dan berubah menjadi semakin baik.





Jumat, Februari 20, 2026

Strategi Cerdas — Bertahan dengan Nilai atau Pergi dengan Terhormat

Semangat pagi semua, Insya Allah kabarnya baik dan bersemangat. Semangat dapat memberi dorongan kerja yang baik, dimana semangat itu didukung dengan fisik dan jiwa yang sehat. Berharap setiap hari selalu ada kebaikan buat semua. 

Setelah evaluasi rasional, kini saatnya menentukan strategi.

Bukan soal benar atau salah. Tapi soal apa yang paling bijak untuk kondisi hidupmu saat ini.

Jika Memilih Bertahan, 

Bertahanlah, bukan berarti pasrah.
Bertahan harus dengan strategi.

1. Lakukan Negosiasi Terstruktur

  • Siapkan data kontribusi.
  • Siapkan benchmark gaji pasar.
  • Ajukan kenaikan dengan proposal konkret.
  • Minta timeline jelas.

Jika manajemen tidak bisa memberi angka, minimal minta roadmap.

2. Naikkan Nilai Dirimu

Jangan hanya mengandalkan perusahaan.

  • Ambil sertifikasi.
  • Perluas network.
  • Bangun personal branding.
  • Ikut proyek lintas fungsi.

Jadikan perusahaan sekarang sebagai “ladang belajar”, bukan penjara.

3. Siapkan Plan B

Meski memilih bertahan, tetap:

  • Update CV.
  • Bangun koneksi.
  • Lihat peluang pasar.

Ini bukan pengkhianatan. Ini manajemen risiko hidup.

Jika Memilih Pindah,

Keputusan pindah harus matang.

1. Jangan Lompat Tanpa Pegangan

  • Pastikan ada tawaran konkret.
  • Pastikan kenaikan signifikan.
  • Evaluasi budaya perusahaan baru.

Pindah karena emosi sering berakhir penyesalan.

2. Jaga Reputasi

  • Resign secara profesional.
  • Beri waktu transisi.
  • Jangan bakar jembatan.

Dunia profesional itu kecil.

3. Upgrade Diri Sebelum Pergi

Kadang yang perlu dilakukan bukan resign langsung,
tapi upgrade 6–12 bulan, lalu pindah dengan nilai lebih tinggi.

Itu jauh lebih strategis.

Dari 3 tulisan hari ini, Loyalitas Itu Mulia, Tapi Hidupmu Lebih Penting

Loyalitas adalah nilai baik.
Tapi loyalitas tanpa pertumbuhan adalah pengorbanan sepihak.

Kamu bekerja bukan hanya untuk perusahaan.
Kamu bekerja untuk masa depan hidupmu.

Bertahan atau pergi?

Jawabannya bukan di perusahaan.
Jawabannya ada di:

  • Apakah kamu masih berkembang?
  • Apakah kamu dihargai?
  • Apakah masa depanmu membaik?

Karena pada akhirnya,
karier bukan soal berapa lama kamu tinggal.
Tapi seberapa jauh kamu tumbuh.

Insya Allah 3 tulisan dari pagi, siang dan sore ini dapat mencerahkan dan membuka wawasan dalam meniti karir dalam kerja. Tak ada yang peduli dengan kita kecuali kita sendiri. Oleh sebab itu selalu berdayakan diri dengan motivasi yang kuat untuk menjadikan diri memiliki kemampuan tinggi dan berintegritas tinggi, apapun pilihan kita bertahan atau pergi.


Bertahan atau Pergi?

 Semangat pagi semuanya, Insya Allah masih selalu dimampukan berpikir sehat dalam menentukan pilihan hidup. Semanggat kerja itu bukan sekedar gaji, tapi integritas dan kemampuan yang bertumbuh semakin baik. Kali ini tulisan saya jauh ingin mengajak kita memahami kondisi kita dan mengambil keputusan yang bijak. Apapun keputusan itu ... mesti kita hormati dan mempertanggung jawabkannya. Bila perlu koreksi, memang itu yang diperlukan menjadi semakin baik.
 
Cara Mengevaluasi dengan Rasional
Pada tulisan sebelumnya, saya membahas realitas pahit tentang loyalitas yang tak selalu sebanding dengan kesejahteraan.
Sekarang pertanyaannya:


Bagaimana cara memutuskan dengan kepala dingin?
Karena ini bukan hanya soal gaji. Ini soal masa depan hidup.
1. Evaluasi 3 Hal Penting: Finansial, Karier, dan Mental
    A. Aspek Finansial
    Tanyakan dengan jujur:

    • Apakah gaji saya jauh di bawah standar pasar?
    • Apakah perusahaan punya kemampuan realistis untuk menaikkan kompensasi?
    • Apakah saya punya ruang negosiasi?
    Jika perusahaan memang sehat secara finansial tapi tidak                melakukan penyesuaian, itu masalah kebijakan.
    Jika perusahaan memang stagnan dan margin tipis, maka                kemungkinan besar ruang kenaikan sangat kecil.
    B. Aspek Karier
         Renungkan:
    • Apakah saya masih belajar?
    • Apakah skill saya berkembang?
    • Apakah saya punya exposure baru?
    • Apakah posisi saya stuck tanpa arah?
        Jika 5 tahun terakhir tidak ada perkembangan berarti, itu                sinyal serius.
        Karena yang paling berbahaya bukan gaji rendah.
        Tapi skill yang tidak naik level.
    C. Aspek Mental dan Energi Hidup
         Ini sering diabaikan.
        Apakah kamu:
    • Datang kerja tanpa motivasi?
    • Merasa undervalued?
    • Mulai sinis terhadap perusahaan?
    • Merasa “terjebak”?
        Energi mental yang terkuras bertahun-tahun bisa     
        berdampak besar pada kesehatan dan keluarga.


2. Jangan Lupa: Faktor Usia dan Market Value
     Semakin lama bekerja di satu tempat tanpa exposure                        berbeda, semakin sulit berpindah.
     Pasar kerja menilai:

    • Skill aktual.
    • Adaptabilitas.
    • Relevansi pengalaman.
      Bukan lama kerja semata.
      Kalau kamu sudah 10–15 tahun di satu perusahaan tapi skill              stagnan, pindah justru akan semakin sulit jika ditunda.


3. Tes Sederhana: Jika Perusahaan Tutup Besok
    Coba jawab dengan jujur:
    Jika perusahaan ini tutup besok,

    • Apakah saya siap di pasar kerja?
    • Apakah CV saya kompetitif?
    • Apakah saya punya jaringan?
    Jika jawabannya tidak, maka yang perlu dilakukan bukan                    langsung resign — tapi mulai membangun kembali nilai diri.

4. Kapan Bertahan Masih Masuk Akal?
     Bertahan masih rasional jika:

    • Perusahaan punya roadmap pertumbuhan jelas.
    • Ada pembicaraan konkret tentang kenaikan kompensasi.
    • Kamu masih belajar dan berkembang.
    • Lingkungan kerja sehat.
    • Kamu punya strategi internal (misalnya promosi, rotasi, atau proyek baru).
    Jika tidak ada satu pun dari itu, maka bertahan tanpa                        strategi hanyalah memperpanjang stagnasi.
  
Pada tulisan selanjutnya, saya membahas:
  • Jika memilih bertahan, bagaimana caranya agar tetap untung?
  • Jika memilih pindah, bagaimana strategi aman dan elegan?
  • Dan bagaimana menjaga reputasi profesional.
Insya Allah tulisan ini dapat memberi gambaran dalam mengambil keputusan. Tapi singkatnya, kadang ada orang yang sensitif hatinya. Maka saat sudah tidak nyaman dan mengganggu hati, apalagi soal iman ... pilihan terbaik adalah curhat kepada Allah dan cenderung resign. Bagi siapapun jangan kita "mengemis" untuk gaji kita dengan mengorbankan hati, apalgi soal iman. Mampukan diri dan selalu berdayakan diri dengan update wawasan agar mampu memotivasi diri dengan benar.

Loyalitas Tidak Selalu Dibayar dengan Keadilan

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah semua dalam keadaan sehat dan mampu mengerjakan pekerjaan hari dengan baik. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang loyalitas kerja atau ada yang bilang loyalitas kepada atasan dan perusahaan.



Sepertinya memang kata loyalitas ini sangat diperlukan dalam dunia kerja. Atasan sangat berharap memiliki team yang loyal sehinggan mampu membangun kinerja yang produktif dan berkesinambungan. Bagus sih, tapi dari sisi karyawannya bisa jadi nggak bagus. Loyal sering ditafsirkan sebagai "nurut", nggak salah tapi jangan sampai nurut tanpa ilmu. Disinilah yang menjadi konflik atau bahkan konflik batin seorang karyawan. Karyawan sih mau aman saja dan yang penting kerja sehingga kadang memang bener-bener nurut maunya atasan atau perusahaan. Kalau nggak nurut, tahu sendiri resikonya. Tapi karyawan kan butuh untuk bertumbuh menjadi karyawan yang berilmu dan memiliki integritas. Kejadian seperti ini pernah dialami semua orang, termasuk atasan.  Bagaimana dengan Anda ?? 

Sikap apa yang diambil ? Sangat bergantung integritas seseorang bisa jadi nurut terus agar kerjaan aman, yang berarti karyawannya sangat bergantung kepada atasan atau perusahaan. Lalu apakah aman seterusnya ? Tidak juga. Semua relatif dan bisa berubah kapan saja, baik atasan atau karyawannya. Berikut ini ini sisi lain dari loyalitas. 

Banyak karyawan generasi lama dibesarkan dengan nilai:

  • Kerja keras.
  • Tahan banting.
  • Loyal pada satu perusahaan.
  • Tidak mudah pindah.

Dulu, pola ini masuk akal. Masa kerja panjang biasanya berarti:

  • Kenaikan gaji bertahap.
  • Jabatan meningkat.
  • Stabilitas finansial.
  • Penghargaan atas loyalitas.

Namun realitas dunia kerja sekarang berbeda.

Banyak perusahaan:

  • Tidak punya sistem penyesuaian gaji yang sehat.
  • Tidak melakukan benchmarking pasar secara rutin.
  • Lebih mudah menaikkan gaji karyawan baru daripada menyesuaikan karyawan lama.

Akibatnya?
Karyawan lama justru tertinggal dari karyawan baru. Sampai sini banyak terjadi di banyak perusahaan, apalagi perusahaannya adalah perusahaan keluarga. 

Dampak lain adalah produktivitas dan konflik terjadi yang berujung kepada kinerja yang tidak sehat, hanya terlihat sehat saja. 

Kontribusi Besar, Tapi Perusahaan tidak berkembang

Ada kondisi yang lebih kompleks lagi.

Seorang karyawan bisa saja:

  • Sudah bekerja 8–15 tahun.
  • Menjadi tulang punggung operasional.
  • Menyelesaikan banyak masalah.
  • Mengorbankan waktu dan energi.

Namun perusahaan tetap:

  • Tidak berkembang signifikan.
  • Tidak naik kelas.
  • Tidak mampu memberi peningkatan kesejahteraan.

Di titik ini, muncul kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga mental.

Muncul pertanyaan internal:

“Saya sudah kasih banyak untuk perusahaan ini. Tapi hidup saya kok begini-begini saja?”

Dan itu pertanyaan yang valid.

Tanda-Tanda Kamu Sedang Tidak Proporsional

Beberapa indikator yang perlu direnungkan:

  • Gaji naik sangat lambat dibanding inflasi.
  • Karyawan baru dengan tanggung jawab sama dibayar lebih tinggi.
  • Tidak ada jenjang karier jelas.
  • Perusahaan tidak transparan soal kinerja finansial.
  • Kamu merasa sulit berkembang secara skill maupun exposure.
  • Kamu mulai kehilangan semangat, bukan karena malas, tapi karena merasa stagnan.

Kalau lebih dari 3 poin ini kamu alami, mungkin ini bukan sekadar “fase jenuh”.

Ini bisa jadi sinyal struktural.

Jangan Langsung Emosional

Kesalahan paling umum adalah langsung mengambil keputusan ekstrem:

  • Resign mendadak.
  • Atau sebaliknya, pasrah total dan bertahan tanpa strategi.

Padahal, keputusan pindah atau bertahan harus berbasis pada evaluasi rasional, bukan kekecewaan sesaat.

Di seri berikutnya, kita akan membahas:

  • Apa saja yang perlu dievaluasi sebelum memutuskan?
  • Bagaimana menilai apakah perusahaan masih layak diperjuangkan?
  • Dan kapan tanda bahwa kamu harus mulai menyiapkan exit strategy?
Apapun pilihannya, pastikan setiap karyawan mampu berkembang dengan baik, secara ilmu dan integritas. Jika hal ini dapat dijalankan, maka karyawan mesti banyak menahan "emosional" yang sering mengganggu kinerjanya.

Insya Allah paling tidak tulisan menyadarkan kondisi yang terjadi dan membuka wawasan untuk bisa menentukan pilihan bagi karir kerja yang semakin baik. Kalau tidak memberdayakan diri sendiri, siapa lagi ? Teruslah memotivasi diri dengan motivasi yang kuat ... motivasi bersandarkan iman agar kokoh dan solutif.

Kamis, Februari 19, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semuanya. Berterima kasihlah kita masih kerja, karena itu adalah kebaikan dari Allah. Oleh sebab itu menjadi pantas kita mempertunjukkan kerja yang produktif. Insya Allah.

Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas.


Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.


Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah 
cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi.

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Kita Fokuskan hal berikut :

  • Ambisi karier, jabatan, dan penghasilan
  • Batas antara ambisi yang halal dan nafsu yang merusak
  • Pergeseran mindset: dari “memiliki” ke “dipercaya”

Contoh konkret dunia kerja:

  • Target, bonus, promosi
  • Etika, kejujuran, dan keberkahan

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. 

Menjadi pantas kita menyiapkan iman dan ilmu agar ambisi, karir dan amanah itu menjadi teman yang bersahabat.


Insya Allah dengan pemahaman di atas, kita menjadi semakin bertumbuh lebih baik. Pemberdayaan diri menjadi kunci yang mesti kita lakukan agar iman dan kerja itu berbarengan.

Featured post

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hid...