Semangat pagi semuanya, kerja adalah bagian dari hidup kita. Kalau ada harapan dari kerja kita, maka sudah semestinya kita mewujudkannya menjadi kerja nyata. Kali ini bicara nafsu kerja, kurang lebih nafsu ditafsirkan keinginan. Mengapa saya tulis nafsu ? Karena memang kadang kata nafsu cenderung tidak baik dan menjadi netral saat kita bilang keinginan.
Banyak dari kita bekerja bukan karena ingin masuk surga, tetapi karena ingin hidup layak. Kita ingin gaji, keamanan, dan masa depan. Keinginan itu sering dicurigai sebagai nafsu dunia yang harus ditekan. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mematikan nafsunya—yang Allah kecam adalah nafsu yang dibiarkan tanpa arah. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah justru membuka ruang bahwa ada nafsu yang dirahmati-Nya. Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah bekerja demi uang itu salah?”, melainkan “ke mana arah nafsu itu kita bawa?”Tidak banyak dari kita yang bangun pagi dengan niat mulia ingin mengabdi
kepada semesta. Kebanyakan bangun karena alarm, tanggung jawab, dan tagihan
yang menunggu dibayar. Kita bekerja karena perlu. Karena ingin hidup lebih
baik. Karena takut kekurangan. Dalam kejujuran sunyi itu, ada satu dorongan
yang sering kita sembunyikan: keinginan akan uang dan materi. Dan sering kali,
keinginan itu kita curigai sebagai sesuatu yang kotor.
Seorang karyawan pernah berkata lirih, “Saya ingin kerja yang berkah,
tapi jujur saja, saya kerja karena gaji.” Kalimat itu terdengar bersalah,
seolah niat mencari nafkah harus disamarkan dengan bahasa yang lebih suci.
Padahal, justru di sanalah letak kejujuran manusia. Islam tidak dibangun di
atas kepura-puraan niat, melainkan pengakuan atas kondisi jiwa. Apakah ini juga menjadi sebagian dari kisah Anda ??
Berikut ini kita bahas, Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap
realitas ini. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu
manusia memang cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini tidak sedang mengutuk keberadaan nafsu, tetapi
menjelaskan sifat alaminya jika dibiarkan tanpa arah.
Masalahnya bukan pada bekerja demi uang. Masalahnya adalah ketika
uang menjadi tuhan, bukan alat. Ketika nafsu bekerja tidak lagi berada
dalam kendali nilai, maka ia menyeret manusia kepada kecurangan, keserakahan,
dan kezaliman. Namun ketika nafsu itu disadari, dijaga, dan diarahkan, ia
justru menjadi energi yang besar.
Pertanyaan awalnya bukan “bolehkah bekerja karena uang?”, tetapi “ke mana
nafsu itu kita bawa?”. Dari sinilah perjalanan memahami nafsu dimulai.
Fokus kita dalam kerja diantaranya :
- Kejujuran awal: kebanyakan orang
bekerja karena uang
- Nafsu mencari materi sebagai
realitas manusia
- Kesalahan persepsi: menganggap
niat materi otomatis “duniawi dan tercela”
Berpegang kepada Ayat kunci ini :
- QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung
buruk, bukan selalu buruk, tapi ada nafsu yang
“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Jadi alangkah bijaknya kita meluruskan nafsu dan keinginan menuju jalan Allah.
Insya Allah ... nafsu dan keinginan itu mesti diback up dengan iman yang cukup dan dilatih untuk mampu menyikapinya dengan benar.