Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Sabtu, Februari 21, 2026

Catatan Allah menjamin semua rezeki makhluknya

Semangat pagi dan salam bahagia. Kebahagian dapat diperoleh dengan hati yang tenang. Insya Allah hati ini banyak berzikir hanya kepadaNya dan saya mendapatkan ketenangan dari sisi Allah. Aamiin

Hari ini, saya tergugah untuk menulis pemahaman dari Surah Hud ayat 6 dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi beberapa orang dan saya yang dulu bilang begini,"Iya saya tahu". Ternyata tidak cukup tahu, karena petunjuk Allah itu terhubung dengan hati, "Tahu dan paham tidak cukup, yuk buka hati dicerahkan Allah dengan bisikan lembutNya".


Saya menuliskan dalam 3 seri, Berikut serinya

SERI 1, Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah
Seri ini bukan tentang optimisme kosong.
Ini tentang menggeser pusat ketergantungan.
Dari slip gaji…
ke janji Allah.
Dan perjalanan ini baru dimulai.

SERI 2, Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?

Seri ini bukan tentang bagaimana mendapatkan kembali proyek.
Ini tentang menemukan kembali Allah dalam proses kehilangan.
Dan perjalanan kita belum selesai.
Di Seri 3 nanti, kita akan sampai pada puncaknya:
Kesadaran bahwa rezeki terbesar bukan uang, bukan proyek, bukan karier…
Tetapi hidayah dan hati yang tenang.
Siap kita lanjut ke klimaksnya? 

 SERI 3, Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji

Surah Hud ayat 6 bukan hanya ayat penghibur.
Ia adalah ayat pembebas.
Membebaskan kita dari ketergantungan pada angka.
Membebaskan kita dari ketakutan berlebihan.
Membebaskan kita dari ilusi bahwa pekerjaanlah yang memberi hidup.
Burung terbang setiap pagi tanpa jaminan tertulis.
Orang beriman bekerja dan salat dengan jaminan dari Allah.
Dan pada akhirnya mereka memahami:
Gaji adalah angka.
Rezeki adalah karunia.
Dan karunia paling mahal adalah hati yang tenang bersama-Nya.

Sebelum saya memasuki seri 1nya, saya ingin mengungkapkan banyak hal yang berhubungan dengan surah Hud ayat 6.


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)


Ada banyak pertanyaan di benak saya tentang ayat di atas bukan sekedar teksnya saya. Saya tahu dan paham, so what ?? Inilah yang ada dalam pikiran saya. 



1. “Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa saya masih Gelisah ?”
Gelisah itu tanda bahwa saya mempertanyakannya. Gelisah itu tentang masa depan, besok makan apa ? Pertanyaan ini karena saya punya pikiran, pikiran itu adalah rezeki Allah juga sih. Karena ada beberapa tidak diberikan kemampuan itu karena sakit atau karena takdir Allah.  Saya tenangkan dulu pikiran saya dan hadir self talk lanjutan. Yang pertama, saya mulai kritis dalam pikiran sendiri, kalau saya punya pikiran tentang kegelisahan rezeki di hari berikutnya ... boleh dong pikiran itu dialihkan untuk fokus kepada rezeki dan jaminan Allah. Dengan demikian kegelisahan itu tidak hadir, dan sekarang belajar tentang rezeki dan jaminan Allah.
Alhamdulillahirabbilalamin, saya bisa berpikir seperti itu karena Engkau dan saya pun membuka hati.
2. Ternyata wawasan saya tentang rezeki itu sempit, hanya kepada pendapatan saja. Rezeki banyak, kalau saya sebut pikiran, ternyata itu rezeki, saya mau bilang "kemampuan" itu juga rezeki dan "kesehatan" pun rezeki. Saya berhenti untuk mau bilang sesuatu," tak pernah abis rezeki itu".
Saya jadi sadar, ternyata semua itu saya dapatkan karena saya berada pada mode sadar Allah, hati yang berfungsi yang diikuti dengan pikiran sehat saya. Mode ini tidak dengan "panik" dan ketakutan. Jadi bersyukurlah hati ini dibuka Allah dan matanya dicerahkan dengan memahami ayat di atas.
3. Oke, saya mesti memberi porsi yang adil terhadap Pendapatan adalah angka. Pendapatan itu salah satu dari rezeki Allah. Pendapatan berupa Uang itu bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat dan tidak pernah habis.
Jika saya masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti dan dijamin Allah.
4. Apakah pendapatan saya tidak cukup ? Bukankah rezeki bukan sekedar pendapatan saja, bisa berupa Kesehatan, kemampuan, Ada kerja, berpikir …
Emang Sanggup menghitung rezeki itu sangat banyak dari Allah ? 
 ? Begitulah saya baru merasakan dan menikmati pendapatan (merasakan uang dari pendapatan), yang lain tidak terlihat dengan hat. Jangan-jangan saya memang hanya ngelihat pendapatan saja, maka tak melihat rezeki yang lain. Biasanya hatinya kembali tertutup (tidak tersambung kepada Allah). Disinilah hati dikuasai "setan" yang membuat buaian dan angan-angan tak pernah berujung dan terlihat indah untuk diraih.
5. Untuk itulah saya mesti sering nyadar sama Allah (hati yang teruju Allah). dengan izinNya, saya mampu melihat rezeki Allah. 
Tenangkan diri ... Tarik napas. Saya merasakan lebih nyaman ... he ... he...  kayak hidpnotis aja ya. 
Iya ya, saya semakin mampu menyadari rezeki itu luas
Mau disebut banyak banget. Sya mesti berhenti menyebutkannya. 
Ternyata Pekerjaan saya saat inipun rezeki, dari sini saya mau mendalami rezeki Allah ini sebagai nikmat Allah yang mesti disyukuri. 
Dibalik pekerjaan itu  Allah memberi Amanah dan meminta tanggung jawab pada saya ??? Yang ada saya mengeluh mengelisahkan pendapatan saya.
Tarik napas lagi ... lebih tenang lagi
Ternyata tanggung jawab atas amanah Allah itu mesti saya wujudkan dalam kerja yang produktif. Bagaimana caranya ? Mesti ada ilmu, saya mesti belajar dan Allah telah berikan "otak" untuk berpikir dan belajar. Iya ya, saya mesti bersyukur dengan otak saya sehingga saya mendapatkan ilmu dan dengan ilmu itu saya bisa bekerja lebih produktif.
Dan temen kerja yang baik itu adalah rezeki, rezeki ini sebaai nikmat yang mesti disyukuri. Dengan temen yang baik ini, saya juga bisa bekerja produktif dalam bekerja sama atau saling membantu.
Ternyata ... selama ini saya belum mampu melihat rezeki Allah karena hati yang tertutup. Saya hanya melihat fisiknya saja, tanpa memahami makna dan kemanfaatannya apalagi amanahnya Allah.



Pujilah Allah yang telah memberi rezeki yang banyak itu … 
Mengapa saya belum memanfaatkan rezeki itu agar ditambah nikmat oleh Allah ?
Ya Allah, Engkau Ya Razzaq, Alhamdulillah ... sentuhlah hati ini agar mampumerasakannya dan tahu manfaat pemberianMu. Saya memohon kepadaMu ampunan atas apapun yang tidak mengantarkan hati ini semakin bersih. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahiim

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi dan berharap mampu menggetarkan hati untuk menyadari "sadar Allah". Inilah potensi yang besar dalam memberdayakan diri agar tidak membuat gelisah, khawatir lagi dan berubah menjadi semakin baik.





Jumat, Februari 20, 2026

Strategi Cerdas — Bertahan dengan Nilai atau Pergi dengan Terhormat

Semangat pagi semua, Insya Allah kabarnya baik dan bersemangat. Semangat dapat memberi dorongan kerja yang baik, dimana semangat itu didukung dengan fisik dan jiwa yang sehat. Berharap setiap hari selalu ada kebaikan buat semua. 

Setelah evaluasi rasional, kini saatnya menentukan strategi.

Bukan soal benar atau salah. Tapi soal apa yang paling bijak untuk kondisi hidupmu saat ini.

Jika Memilih Bertahan, 

Bertahanlah, bukan berarti pasrah.
Bertahan harus dengan strategi.

1. Lakukan Negosiasi Terstruktur

  • Siapkan data kontribusi.
  • Siapkan benchmark gaji pasar.
  • Ajukan kenaikan dengan proposal konkret.
  • Minta timeline jelas.

Jika manajemen tidak bisa memberi angka, minimal minta roadmap.

2. Naikkan Nilai Dirimu

Jangan hanya mengandalkan perusahaan.

  • Ambil sertifikasi.
  • Perluas network.
  • Bangun personal branding.
  • Ikut proyek lintas fungsi.

Jadikan perusahaan sekarang sebagai “ladang belajar”, bukan penjara.

3. Siapkan Plan B

Meski memilih bertahan, tetap:

  • Update CV.
  • Bangun koneksi.
  • Lihat peluang pasar.

Ini bukan pengkhianatan. Ini manajemen risiko hidup.

Jika Memilih Pindah,

Keputusan pindah harus matang.

1. Jangan Lompat Tanpa Pegangan

  • Pastikan ada tawaran konkret.
  • Pastikan kenaikan signifikan.
  • Evaluasi budaya perusahaan baru.

Pindah karena emosi sering berakhir penyesalan.

2. Jaga Reputasi

  • Resign secara profesional.
  • Beri waktu transisi.
  • Jangan bakar jembatan.

Dunia profesional itu kecil.

3. Upgrade Diri Sebelum Pergi

Kadang yang perlu dilakukan bukan resign langsung,
tapi upgrade 6–12 bulan, lalu pindah dengan nilai lebih tinggi.

Itu jauh lebih strategis.

Dari 3 tulisan hari ini, Loyalitas Itu Mulia, Tapi Hidupmu Lebih Penting

Loyalitas adalah nilai baik.
Tapi loyalitas tanpa pertumbuhan adalah pengorbanan sepihak.

Kamu bekerja bukan hanya untuk perusahaan.
Kamu bekerja untuk masa depan hidupmu.

Bertahan atau pergi?

Jawabannya bukan di perusahaan.
Jawabannya ada di:

  • Apakah kamu masih berkembang?
  • Apakah kamu dihargai?
  • Apakah masa depanmu membaik?

Karena pada akhirnya,
karier bukan soal berapa lama kamu tinggal.
Tapi seberapa jauh kamu tumbuh.

Insya Allah 3 tulisan dari pagi, siang dan sore ini dapat mencerahkan dan membuka wawasan dalam meniti karir dalam kerja. Tak ada yang peduli dengan kita kecuali kita sendiri. Oleh sebab itu selalu berdayakan diri dengan motivasi yang kuat untuk menjadikan diri memiliki kemampuan tinggi dan berintegritas tinggi, apapun pilihan kita bertahan atau pergi.


Bertahan atau Pergi?

 Semangat pagi semuanya, Insya Allah masih selalu dimampukan berpikir sehat dalam menentukan pilihan hidup. Semanggat kerja itu bukan sekedar gaji, tapi integritas dan kemampuan yang bertumbuh semakin baik. Kali ini tulisan saya jauh ingin mengajak kita memahami kondisi kita dan mengambil keputusan yang bijak. Apapun keputusan itu ... mesti kita hormati dan mempertanggung jawabkannya. Bila perlu koreksi, memang itu yang diperlukan menjadi semakin baik.
 
Cara Mengevaluasi dengan Rasional
Pada tulisan sebelumnya, saya membahas realitas pahit tentang loyalitas yang tak selalu sebanding dengan kesejahteraan.
Sekarang pertanyaannya:


Bagaimana cara memutuskan dengan kepala dingin?
Karena ini bukan hanya soal gaji. Ini soal masa depan hidup.
1. Evaluasi 3 Hal Penting: Finansial, Karier, dan Mental
    A. Aspek Finansial
    Tanyakan dengan jujur:

    • Apakah gaji saya jauh di bawah standar pasar?
    • Apakah perusahaan punya kemampuan realistis untuk menaikkan kompensasi?
    • Apakah saya punya ruang negosiasi?
    Jika perusahaan memang sehat secara finansial tapi tidak                melakukan penyesuaian, itu masalah kebijakan.
    Jika perusahaan memang stagnan dan margin tipis, maka                kemungkinan besar ruang kenaikan sangat kecil.
    B. Aspek Karier
         Renungkan:
    • Apakah saya masih belajar?
    • Apakah skill saya berkembang?
    • Apakah saya punya exposure baru?
    • Apakah posisi saya stuck tanpa arah?
        Jika 5 tahun terakhir tidak ada perkembangan berarti, itu                sinyal serius.
        Karena yang paling berbahaya bukan gaji rendah.
        Tapi skill yang tidak naik level.
    C. Aspek Mental dan Energi Hidup
         Ini sering diabaikan.
        Apakah kamu:
    • Datang kerja tanpa motivasi?
    • Merasa undervalued?
    • Mulai sinis terhadap perusahaan?
    • Merasa “terjebak”?
        Energi mental yang terkuras bertahun-tahun bisa     
        berdampak besar pada kesehatan dan keluarga.


2. Jangan Lupa: Faktor Usia dan Market Value
     Semakin lama bekerja di satu tempat tanpa exposure                        berbeda, semakin sulit berpindah.
     Pasar kerja menilai:

    • Skill aktual.
    • Adaptabilitas.
    • Relevansi pengalaman.
      Bukan lama kerja semata.
      Kalau kamu sudah 10–15 tahun di satu perusahaan tapi skill              stagnan, pindah justru akan semakin sulit jika ditunda.


3. Tes Sederhana: Jika Perusahaan Tutup Besok
    Coba jawab dengan jujur:
    Jika perusahaan ini tutup besok,

    • Apakah saya siap di pasar kerja?
    • Apakah CV saya kompetitif?
    • Apakah saya punya jaringan?
    Jika jawabannya tidak, maka yang perlu dilakukan bukan                    langsung resign — tapi mulai membangun kembali nilai diri.

4. Kapan Bertahan Masih Masuk Akal?
     Bertahan masih rasional jika:

    • Perusahaan punya roadmap pertumbuhan jelas.
    • Ada pembicaraan konkret tentang kenaikan kompensasi.
    • Kamu masih belajar dan berkembang.
    • Lingkungan kerja sehat.
    • Kamu punya strategi internal (misalnya promosi, rotasi, atau proyek baru).
    Jika tidak ada satu pun dari itu, maka bertahan tanpa                        strategi hanyalah memperpanjang stagnasi.
  
Pada tulisan selanjutnya, saya membahas:
  • Jika memilih bertahan, bagaimana caranya agar tetap untung?
  • Jika memilih pindah, bagaimana strategi aman dan elegan?
  • Dan bagaimana menjaga reputasi profesional.
Insya Allah tulisan ini dapat memberi gambaran dalam mengambil keputusan. Tapi singkatnya, kadang ada orang yang sensitif hatinya. Maka saat sudah tidak nyaman dan mengganggu hati, apalagi soal iman ... pilihan terbaik adalah curhat kepada Allah dan cenderung resign. Bagi siapapun jangan kita "mengemis" untuk gaji kita dengan mengorbankan hati, apalgi soal iman. Mampukan diri dan selalu berdayakan diri dengan update wawasan agar mampu memotivasi diri dengan benar.

Loyalitas Tidak Selalu Dibayar dengan Keadilan

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah semua dalam keadaan sehat dan mampu mengerjakan pekerjaan hari dengan baik. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang loyalitas kerja atau ada yang bilang loyalitas kepada atasan dan perusahaan.



Sepertinya memang kata loyalitas ini sangat diperlukan dalam dunia kerja. Atasan sangat berharap memiliki team yang loyal sehinggan mampu membangun kinerja yang produktif dan berkesinambungan. Bagus sih, tapi dari sisi karyawannya bisa jadi nggak bagus. Loyal sering ditafsirkan sebagai "nurut", nggak salah tapi jangan sampai nurut tanpa ilmu. Disinilah yang menjadi konflik atau bahkan konflik batin seorang karyawan. Karyawan sih mau aman saja dan yang penting kerja sehingga kadang memang bener-bener nurut maunya atasan atau perusahaan. Kalau nggak nurut, tahu sendiri resikonya. Tapi karyawan kan butuh untuk bertumbuh menjadi karyawan yang berilmu dan memiliki integritas. Kejadian seperti ini pernah dialami semua orang, termasuk atasan.  Bagaimana dengan Anda ?? 

Sikap apa yang diambil ? Sangat bergantung integritas seseorang bisa jadi nurut terus agar kerjaan aman, yang berarti karyawannya sangat bergantung kepada atasan atau perusahaan. Lalu apakah aman seterusnya ? Tidak juga. Semua relatif dan bisa berubah kapan saja, baik atasan atau karyawannya. Berikut ini ini sisi lain dari loyalitas. 

Banyak karyawan generasi lama dibesarkan dengan nilai:

  • Kerja keras.
  • Tahan banting.
  • Loyal pada satu perusahaan.
  • Tidak mudah pindah.

Dulu, pola ini masuk akal. Masa kerja panjang biasanya berarti:

  • Kenaikan gaji bertahap.
  • Jabatan meningkat.
  • Stabilitas finansial.
  • Penghargaan atas loyalitas.

Namun realitas dunia kerja sekarang berbeda.

Banyak perusahaan:

  • Tidak punya sistem penyesuaian gaji yang sehat.
  • Tidak melakukan benchmarking pasar secara rutin.
  • Lebih mudah menaikkan gaji karyawan baru daripada menyesuaikan karyawan lama.

Akibatnya?
Karyawan lama justru tertinggal dari karyawan baru. Sampai sini banyak terjadi di banyak perusahaan, apalagi perusahaannya adalah perusahaan keluarga. 

Dampak lain adalah produktivitas dan konflik terjadi yang berujung kepada kinerja yang tidak sehat, hanya terlihat sehat saja. 

Kontribusi Besar, Tapi Perusahaan tidak berkembang

Ada kondisi yang lebih kompleks lagi.

Seorang karyawan bisa saja:

  • Sudah bekerja 8–15 tahun.
  • Menjadi tulang punggung operasional.
  • Menyelesaikan banyak masalah.
  • Mengorbankan waktu dan energi.

Namun perusahaan tetap:

  • Tidak berkembang signifikan.
  • Tidak naik kelas.
  • Tidak mampu memberi peningkatan kesejahteraan.

Di titik ini, muncul kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga mental.

Muncul pertanyaan internal:

“Saya sudah kasih banyak untuk perusahaan ini. Tapi hidup saya kok begini-begini saja?”

Dan itu pertanyaan yang valid.

Tanda-Tanda Kamu Sedang Tidak Proporsional

Beberapa indikator yang perlu direnungkan:

  • Gaji naik sangat lambat dibanding inflasi.
  • Karyawan baru dengan tanggung jawab sama dibayar lebih tinggi.
  • Tidak ada jenjang karier jelas.
  • Perusahaan tidak transparan soal kinerja finansial.
  • Kamu merasa sulit berkembang secara skill maupun exposure.
  • Kamu mulai kehilangan semangat, bukan karena malas, tapi karena merasa stagnan.

Kalau lebih dari 3 poin ini kamu alami, mungkin ini bukan sekadar “fase jenuh”.

Ini bisa jadi sinyal struktural.

Jangan Langsung Emosional

Kesalahan paling umum adalah langsung mengambil keputusan ekstrem:

  • Resign mendadak.
  • Atau sebaliknya, pasrah total dan bertahan tanpa strategi.

Padahal, keputusan pindah atau bertahan harus berbasis pada evaluasi rasional, bukan kekecewaan sesaat.

Di seri berikutnya, kita akan membahas:

  • Apa saja yang perlu dievaluasi sebelum memutuskan?
  • Bagaimana menilai apakah perusahaan masih layak diperjuangkan?
  • Dan kapan tanda bahwa kamu harus mulai menyiapkan exit strategy?
Apapun pilihannya, pastikan setiap karyawan mampu berkembang dengan baik, secara ilmu dan integritas. Jika hal ini dapat dijalankan, maka karyawan mesti banyak menahan "emosional" yang sering mengganggu kinerjanya.

Insya Allah paling tidak tulisan menyadarkan kondisi yang terjadi dan membuka wawasan untuk bisa menentukan pilihan bagi karir kerja yang semakin baik. Kalau tidak memberdayakan diri sendiri, siapa lagi ? Teruslah memotivasi diri dengan motivasi yang kuat ... motivasi bersandarkan iman agar kokoh dan solutif.

Kamis, Februari 19, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semuanya. Berterima kasihlah kita masih kerja, karena itu adalah kebaikan dari Allah. Oleh sebab itu menjadi pantas kita mempertunjukkan kerja yang produktif. Insya Allah.

Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas.


Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.


Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah 
cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi.

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Kita Fokuskan hal berikut :

  • Ambisi karier, jabatan, dan penghasilan
  • Batas antara ambisi yang halal dan nafsu yang merusak
  • Pergeseran mindset: dari “memiliki” ke “dipercaya”

Contoh konkret dunia kerja:

  • Target, bonus, promosi
  • Etika, kejujuran, dan keberkahan

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. 

Menjadi pantas kita menyiapkan iman dan ilmu agar ambisi, karir dan amanah itu menjadi teman yang bersahabat.


Insya Allah dengan pemahaman di atas, kita menjadi semakin bertumbuh lebih baik. Pemberdayaan diri menjadi kunci yang mesti kita lakukan agar iman dan kerja itu berbarengan.

Nafsu yang Dirahmati Allah Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi semua, semakin hari semakin "menua" kita bekerja. Ada kata semakin berpengalaman tapi keadaan tidak seiring. Insya Allah dengan meluruskan semua yang kita lakukan ini dapat memberi makna yang lebih baik.

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.

Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.


Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan 
kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Ada hal mesti kita Fokuskan :

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi.or

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Menjadi semakin baik jika Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah, kita memiliki kemampuan dan dimampukan Allah dalam merawat nafsu dan keinginan. Ini adalah memberi motivasi dan semangat agar menjadi semakin baik

Nafsu dalam Dunia Kerja : Masalah atau Potensi ?

Semangat pagi semuanya, kerja adalah bagian dari hidup kita. Kalau ada harapan dari kerja kita, maka sudah semestinya kita mewujudkannya menjadi kerja nyata. Kali ini bicara nafsu kerja, kurang lebih nafsu ditafsirkan keinginan. Mengapa saya tulis nafsu ? Karena memang kadang kata nafsu cenderung tidak baik dan menjadi netral saat kita bilang keinginan.

Banyak dari kita bekerja bukan karena ingin masuk surga, tetapi karena ingin hidup layak. Kita ingin gaji, keamanan, dan masa depan. Keinginan itu sering dicurigai sebagai nafsu dunia yang harus ditekan. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mematikan nafsunya—yang Allah kecam adalah nafsu yang dibiarkan tanpa arah. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah justru membuka ruang bahwa ada nafsu yang dirahmati-Nya. Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah bekerja demi uang itu salah?”, melainkan “ke mana arah nafsu itu kita bawa?”

Tidak banyak dari kita yang bangun pagi dengan niat mulia ingin mengabdi kepada semesta. Kebanyakan bangun karena alarm, tanggung jawab, dan tagihan yang menunggu dibayar. Kita bekerja karena perlu. Karena ingin hidup lebih baik. Karena takut kekurangan. Dalam kejujuran sunyi itu, ada satu dorongan yang sering kita sembunyikan: keinginan akan uang dan materi. Dan sering kali, keinginan itu kita curigai sebagai sesuatu yang kotor.


Seorang karyawan pernah berkata lirih, “Saya ingin kerja yang berkah, tapi jujur saja, saya kerja karena gaji.” Kalimat itu terdengar bersalah, seolah niat mencari nafkah harus disamarkan dengan bahasa yang lebih suci. Padahal, justru di sanalah letak kejujuran manusia. Islam tidak dibangun di atas kepura-puraan niat, melainkan pengakuan atas kondisi jiwa. Apakah ini juga menjadi sebagian dari kisah Anda ??

Berikut ini kita bahas, Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap realitas ini. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia memang cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini tidak sedang mengutuk keberadaan nafsu, tetapi menjelaskan sifat alaminya jika dibiarkan tanpa arah.

Masalahnya bukan pada bekerja demi uang. Masalahnya adalah ketika uang menjadi tuhan, bukan alat. Ketika nafsu bekerja tidak lagi berada dalam kendali nilai, maka ia menyeret manusia kepada kecurangan, keserakahan, dan kezaliman. Namun ketika nafsu itu disadari, dijaga, dan diarahkan, ia justru menjadi energi yang besar.

Pertanyaan awalnya bukan “bolehkah bekerja karena uang?”, tetapi “ke mana nafsu itu kita bawa?”. Dari sinilah perjalanan memahami nafsu dimulai.

Fokus kita dalam kerja diantaranya :

  • Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
  • Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
  • Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”

Berpegang kepada Ayat kunci ini :

  • QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk, tapi ada nafsu yang 

“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Jadi alangkah bijaknya kita meluruskan nafsu dan keinginan menuju jalan Allah.

Insya Allah ... nafsu dan keinginan itu mesti diback up dengan iman yang cukup dan dilatih untuk mampu menyikapinya dengan benar.

Featured post

Catatan Allah menjamin semua rezeki makhluknya

Semangat pagi dan salam bahagia. Kebahagian dapat diperoleh dengan hati yang tenang. Insya Allah hati ini banyak berzikir hanya kepadaNya da...