Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Sabtu, Februari 28, 2026

Tidak buruk dan tidak baik juga

 Semangat pagi semuanya, Ketemu lagi dalam bahasan keinginan yang disusupi oleh setan. "iya tuh saya pernah", kata seorang yang baca. Kali ni ngebahas tema zona nyaman, apa iya ketika yang penting aman kita jadi nyaman dan stagnan ?

Begini kisahnya, "Kalimat yang Terdengar Bijak"
Siang itu evaluasi bulanan selesai. Target tercapai. Tidak istimewa. Tidak buruk. Bujang tersenyum. “Yang penting aman.”
Ia merasa lega. Tidak ditegur. Tidak dipuji. Tidak disorot.
Aman.


Keinginan Awal yang Sangat Masuk Akal
Awalnya sederhana: “Aku tidak mau bermasalah.” Itu wajar.
Tapi lalu bercabang:
→ “Tidak usah ambil risiko.”
→ “Tidak usah ambil tanggung jawab tambahan.”
→ “Jangan terlalu menonjol.”
→ “Kerjakan sesuai standar saja.”
Dan pelan-pelan, pertumbuhan berhenti.



Rantai Zona Nyaman
Satu keinginan: “Ingin aman.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Menghindari tantangan.
→ Menolak belajar hal baru.
→ Tidak upgrade skill.
→ Tidak berani berbeda.
→ Stagnan.
Lalu muncul pikiran lain: “Perusahaan tidak memberi kesempatan.” Padahal kesempatan datang dalam bentuk tantangan kecil yang ditolak.

Lamunan yang Menenangkan
Bujang mulai membayangkan: “Kerja begini saja sampai pensiun.” “Yang penting stabil.” “Tidak usah ribet.”
Ia merasa tenang. Tapi diam-diam, semangatnya menurun.
Hari-harinya terasa sama. Tidak buruk. Tapi tidak berkembang.
Dan waktu berjalan.

Ahmad yang Mengingatkan
Suatu sore Ahmad berkata: “Jang, aman itu penting. Tapi kalau terlalu lama diam di tempat yang sama, bukan lagi aman.
Itu pelan-pelan mundur.” Bujang tertawa. “Mundur bagaimana? Kan masih kerja.”
Ahmad menjawab: “Kalau kemampuanmu tidak bertambah, sementara dunia bergerak, itu mundur tanpa terasa.”
Bujang terdiam.

Renungkan aja 
Zona Nyaman yang Menipu
Zona nyaman tidak terasa seperti kesalahan. Karena tidak ada konflik. Tidak ada risiko. Tidak ada tekanan. Tapi ada satu hal yang perlahan hilang: Potensi.
Setan tidak selalu menyuruh kita jatuh. Kadang ia membuat kita cukup nyaman untuk tidak naik. Keinginan untuk aman
jika tidak disadari bisa membuat kita berhenti bertumbuh.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Perubahan dimulai dari dalam.

Pola Bahaya yang Sama
Keinginan: “Ingin aman.”
Jika tidak disadari:
→ Menghindari tantangan.
→ Tidak belajar hal baru.
→ Tidak mengambil tanggung jawab.
→ Produktivitas stagnan.
→ Menyalahkan keadaan.
Padahal awalnya hanya ingin tenang.

Sensor Zona Nyaman
SENSOR 1
Apakah saya menolak tugas baru karena tidak mau repot?
SENSOR 2
Sudah berapa lama skill saya tidak bertambah?
SENSOR 3
Apakah saya merasa cukup hanya karena tidak ditegur?
SENSOR 4
Apakah saya berkembang, atau hanya bertahan?

Menggeser Zona Nyaman Secara Sehat
Tidak perlu lompat besar.
Cukup:
✔ Ambil satu tanggung jawab baru kecil.
✔ Pelajari satu skill baru bulan ini.
✔ Minta feedback dari atasan.
✔ Evaluasi diri secara jujur.
Pertumbuhan tidak harus dramatis.
Tapi harus konsisten.

Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Dalam 6 bulan terakhir:
Apa yang benar-benar baru yang Anda pelajari?
Apakah Anda berkembang atau hanya mengulang pola yang sama?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup jujur.

Just Do It Now
Setelah membaca ini:
✔ Pilih satu area kerja yang ingin ditingkatkan.
✔ Jadwalkan belajar 30 menit minggu ini.
✔ Ambil satu tugas yang sedikit menantang.
Kecil.
Tapi bergerak.

Transformasi Kecil
Beberapa hari kemudian, ada proyek kecil yang tidak populer.
Bujang hampir berkata: “Bukan bagian saya.”
Tapi kali ini ia berhenti.
Ia sadar. Ia berkata: “Baik, saya coba ambil.”
Ahmad tersenyum. “Zona nyaman itu seperti kursi empuk.
Kalau terlalu lama duduk, sulit berdiri.”
Bujang tertawa kecil. Ia belum berubah drastis.
Tapi ia mulai bergerak. Dan bergerak lebih baik daripada diam aman.

Alhamdulillah kita bisa menyadari hal berikut ini, 
Keinginan untuk aman
→ jika tidak disadari
→ menjadi stagnasi
→ menjadi penolakan tantangan
→ menjadi alasan
→ menjadi karakter pasif
Padahal aman sejati adalah bertumbuh dengan sadar. Kalau begitu, mulai hari ini sadar, bertumbuh, menerima tantangan, simpan alasan dan jadi karakter aktif. Inilah upaya memberdayakan diri agar semakin baik.

Ikut lingkungan biar aman

Semangat pagi semuanya. Alahamdulillah kita meneruskan tema bisikan setan dalam setiap keinginan kita di kantor. Temanya tentang ikut arus atau tidak, kadang kita kalah dan mengikuti arus lingkungan agar aman aja. Tapi semakin diikuti semakin banyak yang tidak baiknya. Pernahkan ?? 

Saya mulai dari kisah ini, Candaan yang Terlihat Ringan
Jam 12.45 di pantry. Beberapa rekan sedang bercanda.
Topiknya mulai bergeser. Mengeluh tentang atasan.
Menyindir manajemen. Menertawakan rekan lain yang tidak hadir.
Bujang ikut tertawa kecil. Awalnya hanya ingin akrab.


Keinginan Awal yang Sangat Manusiawi
Awalnya sederhana: “Aku ingin diterima.” Itu fitrah.
Manusia tidak suka dikucilkan. Tapi lalu bercabang:
→ “Kalau aku diam, nanti dianggap sok suci.”
→ “Kalau aku tidak ikut, nanti dijauhi.”
→ “Sedikit saja tidak apa.”
→ “Yang penting aku tidak mulai.”
Dan pelan-pelan, batas bergeser.


Rantai Ikut Arus
Satu keinginan: “Ingin diterima.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Ikut mengeluh.
→ Ikut menyindir.
→ Ikut membuka aib kecil.
→ Ikut budaya malas.
→ Ikut pulang lebih awal tanpa izin.
Awalnya hanya candaan. Lalu jadi kebiasaan.
Lalu jadi karakter kelompok.
Allah berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
Jangan condong kepada orang-orang yang berbuat salah.
Bukan berarti membenci. Tapi jangan larut.

Lamunan tentang Penerimaan
Siang itu Bujang berpikir: “Kalau aku terlalu lurus, nanti dibilang nggak asik.” “Kalau aku berbeda, nanti sendirian.”
Ia membayangkan skenario sosial. Padahal belum tentu terjadi.
Ketakutan sosial sering lebih besar di pikiran daripada di kenyataan. Dan waktu kerja habis untuk obrolan yang tidak perlu.

Produktivitas Turun Tanpa Terasa
Setelah 30 menit di pantry: Energi turun. Fokus hilang. Semangat kerja melemah. Keluhan menular. Sikap negatif menular.
Lingkungan bisa menaikkan standar.
Lingkungan juga bisa menurunkannya.
Tanpa sadar.

Ahmad yang Tenang
Suatu hari Ahmad hanya berkata: “Jang, kau mau diterima karena nilai, atau diterima karena ikut arus?”
Bujang terdiam.
Ahmad melanjutkan: “Kalau kita diterima karena ikut salah,
itu bukan penerimaan. Itu ketergantungan.”

Renungin ya
Tekanan Sosial di Kantor
Banyak karyawan tidak jatuh karena niat buruk.
Mereka jatuh karena:
Tidak ingin berbeda.
Tidak ingin dianggap aneh.
Tidak ingin sendirian.
Setan tidak selalu datang lewat bisikan pribadi. Kadang ia datang lewat budaya kelompok. Kalimat seperti:
“Semua juga begitu.” “Di sini memang begini.” “Sudah budaya.”
Bisa menjadi pembenaran kolektif.

Pola Bahaya yang Sama
Keinginan:“Ingin diterima.”
Jika tidak disadari:
→ Ikut bercanda berlebihan.
→ Ikut mengeluh terus-menerus.
→ Ikut malas berjamaah.
→ Ikut pulang lebih awal.
→ Ikut budaya menurunkan standar.
Padahal awalnya hanya ingin nyaman.

Sensor Lingkungan
SENSOR 1
Apakah saya berubah nilai saat bersama kelompok tertentu?
SENSOR 2
Apakah obrolan ini membuat saya lebih positif atau lebih negatif?
SENSOR 3
Apakah saya takut berbeda karena takut sendirian?
SENSOR 4
Jika keluarga saya melihat saya di sini, apakah saya tetap nyaman?

Menguatkan Diri Tanpa Mengasingkan
Menjaga nilai bukan berarti menjauh. Tetap ramah. Tetap sopan.
Tapi tidak ikut menyimpang.
Kadang cukup dengan:
Tidak ikut menambah komentar.
Mengalihkan topik.
Permisi lebih awal.
Sederhana. Tapi tegas.

Diam Sejenak
Pejamkan mata. Di lingkungan kerja Anda:
Budaya apa yang paling mudah menyeret?
Apakah Anda ikut karena setuju, atau karena takut berbeda?
Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Cukup sadar.

Just Do It Now
Hari ini saat obrolan mulai negatif:
✔ Tahan untuk tidak ikut menyulut.
✔ Alihkan pembicaraan jika bisa.
✔ Kembali ke meja kerja lebih cepat.
✔ Pilih satu rekan yang positif untuk lebih dekat.
Lingkungan mempengaruhi.
Tapi kita tetap punya pilihan.

Transformasi Kecil
Suatu hari, obrolan kembali memanas. Topik tentang atasan.
Bujang hampir ikut menambahkan cerita.
Tapi kali ini ia sadar. Ia tersenyum dan berkata:
“Sudah lah, kita fokus target saja. Nanti makin panjang.”
Beberapa tertawa. Beberapa diam.
Tapi Bujang merasa lebih ringan.
Ahmad menatapnya dan berkata pelan: “Kadang satu orang yang sadar, cukup untuk mengubah arah.”
Bujang belum sempurna. Tapi ia mulai berani berbeda.

Ternyata hanya berawal dari ngumpul dan dengerin jadi ikutan.
Keinginan untuk diterima
→ jika tidak disadari
→ menjadi ikut arus
→ menjadi pembenaran kelompok
→ menjadi budaya
→ menjadi karakter
Padahal integritas lahir dari keberanian kecil untuk tetap sadar.
Boleh dong kita memilih untuk tidak ikut arus dengan bahasa yang sopan bukan menolak terang-terangan. Tapi mau tegas juga nggak masalah, yang bisa menunjukkan kita siapa.

Jumat, Februari 27, 2026

Takut salah yang menghentikan langkah untuk sempurna

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah untuk terus menggali diri sendiri dalam kerja, perlu waktu hening agar dapat melihat diri. kalau tidak kita terus bekerja tanpa henti. Boleh dong baca lagi



Mengawali kisah ini dengan ..
Tugas yang Tidak Kunjung Dimulai
Jam 09.15. Bujang membuka file presentasi baru.
Ia menatap layar kosong. “Harus bagus.”
Ia membuka template lain. “Belum cocok.”
Ia melihat referensi di internet.
“Masih kurang.” Jam 10.40.
Slide pertama belum selesai.
Ia bukan malas. Ia ingin sempurna.


Keinginan Awal yang Terlihat Mulia
Awalnya: “Aku ingin hasil terbaik.”
Itu baik. Tapi lalu bercabang:
→ “Kalau tidak sempurna, jangan kirim dulu.”
→ “Kalau ada salah sedikit, bisa dinilai buruk.”
→ “Lebih baik tunggu inspirasi.”
→ “Masih ada waktu.”
Dan waktu berjalan.

Rantai Perfeksionisme
Satu keinginan: “Ingin sempurna.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Takut salah.
→ Takut dinilai.
→ Takut dibandingkan.
→ Menunda memulai.
→ Menunda menyelesaikan.
Dan akhirnya: Target tidak tercapai. Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena tidak berani mulai.


Lamunan yang Tampak Produktif
Bujang mulai membayangkan: 
“Kalau presentasiku nanti sempurna…”
“Kalau semua orang kagum…”
“Kalau tidak ada celah kritik…”
Ia menghabiskan waktu merancang dalam pikiran. Tapi tidak bergerak. Lamunan tentang kesempurnaan
menggantikan tindakan kecil hari ini.
Allah berfirman:
وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ
Dilalakan oleh angan-angan.
Termasuk angan-angan tentang kesempurnaan.


Deadline Datang, Panik Datang
Jam 16.30. Deadline besok pagi. Slide masih 40%.
Bujang mulai panik. “Kenapa aku selalu begini…”
Ia menyalahkan waktu. Padahal waktu tadi ada.
Yang hilang adalah keberanian untuk mulai.

Ahmad yang Menyadarkan
Ahmad berkata pelan: “Jang, sempurna itu tujuan. Tapi selesai itu kewajiban.” Bujang menoleh.
Ahmad melanjutkan: “Kalau kau menunggu sempurna untuk mulai, kau akan menunggu selamanya.”
Bujang terdiam. Kalimat itu sederhana.
Tapi membuka sesuatu.

Renungkan sebentar :
Perfeksionisme yang Menipu
Perfeksionisme sering terlihat seperti disiplin.
Padahal kadang itu hanya ketakutan yang disamarkan.
Takut gagal.
Takut dinilai.
Takut tidak cukup baik.
Setan tidak selalu menyuruh berhenti.
Kadang ia menyuruh: “Pastikan benar-benar sempurna dulu.”
Dan tanpa sadar, itu membuat kita tidak bergerak.
Allah tidak menuntut sempurna.
Allah menuntut usaha.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.

Pola Bahaya yang Sama
Keinginan: “Ingin sempurna.”
Jika tidak disadari:
→ Takut memulai.
→ Menunda.
→ Deadline mendekat.
→ Kerja terburu-buru.
→ Hasil justru tidak maksimal.
→ Menyalahkan diri.
Padahal awalnya hanya satu lintasan.

Sensor Perfeksionisme
SENSOR 1
Apakah saya menunda karena ingin lebih baik, atau karena takut salah?
SENSOR 2
Apakah saya sudah mulai, atau hanya merancang di kepala?
SENSOR 3
Apakah standar saya realistis untuk waktu yang ada?
SENSOR 4
Apakah saya lebih takut kritik daripada gagal total?

Mengubah Pola
Ubah kalimat: “Harus sempurna.”
Menjadi: “Mulai sekarang, perbaiki sambil jalan.”
Satu slide dulu. Satu paragraf dulu. Satu langkah dulu.
Gerak kecil mengalahkan rencana besar yang tidak dijalankan.

Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Dalam satu bulan terakhir:
Tugas apa yang Anda tunda karena ingin sempurna?
Berapa waktu yang hilang karena terlalu lama berpikir?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup sadar.

Just Do It Now
Setelah membaca ini:
✔ Ambil satu tugas yang tertunda.
✔ Kerjakan 20 menit tanpa menilai hasilnya dulu.
✔ Izinkan hasil pertama tidak sempurna.
✔ Perbaiki setelah selesai.
Lebih baik selesai dan diperbaiki
daripada sempurna di kepala.

Transformasi Kecil
Malam itu, Bujang duduk kembali di depan laptop.
Ia tidak mencari template lagi.
Ia langsung menulis slide pertama.
Tidak sempurna. Tapi selesai.
Ia tersenyum kecil. “Mad… ternyata yang aku takutkan tidak sebesar itu.”
Ahmad menjawab pelan: “Takut sering lebih besar di pikiran daripada di kenyataan.”
Bujang mengangguk. Hari itu ia tidak menjadi sempurna.
Tapi ia berhenti menunda.

Tak salah sebuah Keinginan untuk sempurna, tapi semua berproses menjadi lebih baik.
jika tidak disadari
→ menjadi ketakutan
→ menjadi penundaan
→ menjadi panik
→ menjadi hasil yang justru tidak maksimal
Padahal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mulai.

Target, ambisi dan keinginan karir cepat naik

 Semangat pagi semuanya. Bertemu lagi di blog ini, saya masih menulis keinginan yang disusupi setan dalam aktivitas kerja di kantor. Bisa jadi dari beberapa tulisan sebelumnya merupakan cermind dari kita sendiri. Tidak perlu malu, yang penting menyadari dan memperbaikinya. Tidak ada yang salah. Itulah fakta.


Saya mulai dari kisah ini, 
Kalimat yang Terlihat Mulia
Suatu sore setelah rapat evaluasi, Bujang berkata:
“Aku nggak mau begini-begini saja. Tahun depan harus naik.”
Ambisi itu tidak salah. Justru terdengar bagus.
Ahmad tersenyum. “Naik itu bagus.
Tapi jangan sampai yang naik cuma jabatan, bukan kualitas.”
Bujang tertawa kecil. Ia belum mengerti maksudnya.


Keinginan Awal yang Positif
Awalnya sederhana: “Aku ingin berkembang.”
Itu sehat.Tapi lalu bercabang:
→ “Aku harus lebih cepat dari yang lain.”
→ “Kalau perlu ambil semua peluang.”
→ “Kalau perlu kerja sampai lupa diri.”
→ “Kalau perlu tutupi kesalahan kecil.”
→ “Yang penting hasil.”
Di sinilah garis tipis mulai kabur.

Rantai Ambisi yang Tidak Disadari
Satu keinginan: “Ingin naik.”
Jika tidak disadari berubah menjadi: 
→ Takut tertinggal.
→ Membandingkan progres. 
→ Gelisah melihat promosi orang lain.
→ Menekan diri berlebihan.
→ Mengorbankan nilai kecil.
Dan akhirnya: Produktivitas bukan lagi ibadah. Tapi perlombaan ego.


Lamunan tentang Masa Depan
Bujang mulai sering membayangkan:
Duduk di kursi manajer.
Dipanggil lebih hormat.
Punya ruangan sendiri.
Gaji lebih tinggi.
Ia membayangkan itu saat jam kerja.
Ia membayangkan itu saat rapat.
Ia membayangkan itu saat tugas belum selesai.
Waktu hari ini habis untuk masa depan yang belum tentu.
Allah berfirman:
وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ
Dilalakan oleh angan-angan.
Bukan hanya angan-angan kaya.
Tapi juga angan-angan jabatan.

Tekanan yang Diciptakan Sendiri
Karena ingin cepat naik, Bujang mulai:
Mengambil terlalu banyak tugas.
Sulit berkata tidak.
Lembur tanpa perhitungan.
Pulang dengan kepala penuh tekanan.
Di rumah, ia mudah lelah.
Di kantor, ia mudah sensitif.
Ia mulai berpikir: “Kalau gagal tahun ini, aku kalah.”
Padahal tidak ada yang sedang melombakan.
Hanya pikirannya sendiri.


Ahmad yang Mengingatkan
Suatu malam lembur, Ahmad berkata pelan:
“Jang, kalau target membuatmu kehilangan ketenangan,
mungkin yang salah bukan targetnya.
Tapi cara memaknainya.”
Bujang terdiam. Ahmad melanjutkan:
“Naik jabatan itu hasil. Bertumbuh itu proses.
Kalau prosesnya benar, hasil akan mengikuti.”

Merenung yuk 
Ambisi: Antara Energi dan Jebakan
Ambisi itu seperti api.
Jika terkontrol, ia menghangatkan.
Jika tidak, ia membakar.
Ambisi yang sehat:
✔ Meningkatkan skill
✔ Menambah disiplin
✔ Membuat fokus
Ambisi yang tidak sadar:
✘ Mengorbankan nilai
✘ Menghalalkan cara kecil
✘ Mengabaikan keluarga
✘ Mengurangi ibadah
Dan yang paling halus:
Ambisi bisa membuat kita merasa selalu kurang.
Padahal Allah sudah mengatur takaran rezeki dan waktu.

Pola Bahaya yang Sama
Keinginan:
“Ingin naik.”
Jika tidak disadari:
→ Gelisah melihat orang lain.
→ Terlalu menekan diri.
→ Mengorbankan prinsip kecil.
→ Menjadi lelah secara batin.
→ Menyalahkan sistem jika tidak tercapai.
Padahal awalnya niatnya baik.

 Sensor Ambisi
 SENSOR 1
Apakah saya ingin berkembang atau ingin terlihat lebih tinggi?
SENSOR 2
Apakah ambisi saya membuat saya lebih disiplin atau lebih gelisah?
SENSOR 3
Apakah saya masih menjaga nilai kecil saat mengejar target besar?
SENSOR 4
Jika promosi tertunda, apakah saya tetap bekerja maksimal?

Menata Ulang Ambisi
Ambisi bukan dihapus.
Ambisi diarahkan.
Ubah kalimat: “Aku harus naik.”
Menjadi:“Aku harus bertumbuh.”
Karena bertumbuh adalah kendali kita.
Naik jabatan adalah takdir Allah.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَرْفَعُ مَن يَشَاءُ
Allah meninggikan siapa yang Dia kehendaki.
Bukan semata siapa yang paling ingin.

Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Tanya pada diri:
Apakah saya sedang menikmati proses,
atau hanya mengejar hasil?
Apakah saya bertumbuh,
atau hanya membayangkan posisi?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup jujur.

Just Do It Now
Mulai hari ini :
✔ Fokus pada peningkatan skill, bukan jabatan.
✔ Ambil tugas secukupnya dengan kualitas maksimal.
✔ Jangan korbankan nilai kecil demi target besar.
✔ Niatkan setiap pekerjaan sebagai ibadah.
Jika jabatan datang, syukur.
Jika belum, tetap bertumbuh.

Transformasi Kecil
Beberapa minggu kemudian, promosi diumumkan.
Nama Bujang belum disebut.
Dulu ia mungkin kecewa besar. Sekarang ia hanya menarik napas. Ia berkata dalam hati: “Aku belum naik jabatan.
Tapi aku sudah naik kesadaran.” 
Ahmad menepuk bahunya.
“Kalau pondasi kuat, bangunan tinggal menunggu waktu.”
Bujang tersenyum. Ambisinya tidak hilang. Tapi kini lebih tenang.

Alhamdulillah semakin banyak keinginan di kantor diantaranya Keinginan untuk naik
→ jika tidak disadari
→ menjadi ambisi berlebihan
→ menjadi tekanan
→ menjadi pembenaran kecil
→ menjadi kelelahan batin
Padahal yang dibutuhkan adalah pertumbuhan sadar. Bayangkan ingin karir naik, bisa jadi posisinya masih diisi orang lain. Menjadi indah dengan menjadi "pembantu" karir yang diinginkan membuat orang yang memilikinya naik juga.



Tadi hanya ingin menyemangati diri dari orang lain

Semangat pagi semuanya. Tak terasa tema keinginan yang disusupi setan itu menjadi nampak dalam kinerja di kantor. Beberapa orang belum siap menghadapi dengan ilmu dan referensi yang bener. Tidak saja itu, mengendalikan diri untuk tenang bisa mengantarkan kita kepada ilmu dan referensi yang benar. kalau tidak bisa kendali, maka ilmu pun tak bisa diakses.

Kali ini temanya adalah ada upaya untuk termotivasi dari orang yang sukses. Melihat temen agar lebih realistis. Tapi nggak tahu bisa berkembang kepada iri. Perlu mendapat wawasan tema ini.


Dimulai dari kisah berikut :
Pujian yang Mengganggu. Rapat pagi itu singkat.
Atasan berkata: “Presentasi Ahmad kemarin sangat rapi. Terima kasih.” Semua menoleh ke Ahmad.
Ahmad tersenyum biasa. Bujang ikut tersenyum.
Tapi di dalam hatinya muncul sesuatu yang kecil.
“Kenapa bukan aku?” Itu hanya satu kalimat.
Tapi kalimat kecil itu tidak berhenti di sana. 


Keinginan Awal yang Netral
Awalnya: “Aku juga ingin diapresiasi.” Itu wajar.
Tapi lalu bercabang:
→ “Presentasiku juga bagus.”
→ “Mungkin dia cuma beruntung.”
→ “Atasan memang lebih dekat dengannya.”
→ “Dia nggak sehebat itu sebenarnya.”
Perhatikan.
Tidak ada kebencian besar. Hanya perbandingan kecil yang tidak disadari.


Rantai yang Diam-Diam Tumbuh
Satu keinginan: “Ingin seperti dia.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi: “Ingin lebih dari dia.”
Lalu menjadi: “Kenapa dia, bukan aku?”
Lalu menjadi: “Mungkin dia tidak sepantas itu.”
Dan hati mulai tidak tenang.
Allah berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Apakah mereka iri terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain?”
(QS. An-Nisa: 54)
Karunia. Bukan semata hasil kerja.
Ada takdir di dalamnya.


Lamunan yang Menguras Energi
Siang itu, Bujang tidak fokus. 
Ia membayangkan bagaimana cara agar ia lebih terlihat. 
Ia membayangkan cara mengoreksi presentasi Ahmad.
Ia membayangkan bagaimana jika Ahmad gagal.
Waktu berjalan. Tugasnya sendiri tertunda.
Iri tidak hanya merusak hati. Ia menguras energi produktif.

Ahmad yang Tidak Tahu, Ahmad tetap bekerja seperti biasa.
Tidak berubah. Tidak merasa lebih tinggi.
Bujang sadar, iri itu terjadi di dalam dirinya sendiri.
Bukan karena Ahmad berubah.
Ahmad berkata sore itu: “Jang, aku lihat kau agak diam hari ini.”
Bujang tersenyum. “Lagi mikir.”
Ahmad berkata pelan: “Kalau energi kita habis untuk membandingkan, kapan kita bertumbuh?”

Merenung dulu ...
Ketika Perbandingan Mengambil Fokus
Bandingkan secukupnya untuk belajar. Tapi jika membandingkan untuk merasa kurang, atau merasa lebih, itu sudah berbahaya.
Iri memiliki dua wajah:
Merasa kalah → minder.
Merasa lebih pantas → sombong halus.
Keduanya sama-sama menggerogoti.
Dan yang paling berbahaya:
Iri membuat kita berhenti memperbaiki diri karena sibuk memikirkan orang lain.

Pola Bahaya yang Sama
Keinginan kecil:
“Ingin seperti dia.”
Jika tidak disadari:
→ Membandingkan terus-menerus.
→ Mencari kekurangan orang lain.
→ Menurunkan semangat kerja.
→ Produktivitas turun.
→ Menyalahkan sistem.
Padahal awalnya hanya satu lintasan saja

Sensor Iri
SENSOR 1
Apakah saya merasa tidak nyaman saat orang lain dipuji?
SENSOR 2
Apakah saya mulai mencari kekurangan orang tersebut?
SENSOR 3
Apakah fokus kerja saya terganggu karena memikirkan orang lain?
SENSOR 4
Apakah saya lupa bahwa rezeki dan karunia berbeda-beda?

Mengubah Iri Menjadi Energi
Iri yang disadari bisa berubah menjadi:
✔ Inspirasi
✔ Motivasi belajar
✔ Evaluasi diri
✔ Perbaikan skill
Tanya pada diri:
“Apa yang bisa saya pelajari dari dia?”
Bukan: “Kenapa bukan saya?”

Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Dalam 3 bulan terakhir:
Siapa yang paling sering Anda bandingkan?
Apakah itu membuat Anda bertumbuh atau justru lelah?
Jujur pada diri sendiri. Tanpa menyalahkan.

Just Do It Now
Besok saat melihat rekan dipuji:
✔ Ucapkan selamat dengan tulus.
✔ Ambil satu hal untuk dipelajari.
✔ Fokus pada tugas Anda sendiri.
Ingat:
Rezeki orang lain tidak mengurangi rezeki Anda.

Transformasi Kecil
Hari berikutnya, atasan kembali memuji Ahmad.
Bujang merasakan lintasan kecil di hatinya.
Tapi kali ini ia sadar.
Ia berkata dalam hati: “Kalau dia bisa, berarti mungkin.
Kalau aku mau belajar, aku juga bisa.”
Ia membuka catatan.
Ia mulai memperbaiki presentasinya sendiri.
Ahmad menoleh dan tersenyum.
Tidak ada drama. Tidak ada konflik.
Hanya kesadaran kecil.
Dan kesadaran kecil itulah yang menumbuhkan karakter.

Alhamdulillah, niat awal jangan buru-buru diwujudkan. perlu tenang dan melihat apa dibalik Keinginan untuk dihargai
→ jika tidak disadari
→ menjadi perbandingan
→ menjadi iri
→ menjadi pembenaran
→ menjadi penurunan produktivitas
Padahal fokus terbaik adalah memperbaiki diri.
Jadikan semua ini pembelajaran untuk memberdayakan diri. Langkah terbaik.

D'Profile and D'Delight

 Semangat bagi semuanya. Pagi yang baik ini, saya mengenalkan produk digital yang sangat bermanfaat. Insya Allah, produk atau layanan yang saya berikan memberi kebaikan dan manfaat.

Apa itu D'Profile dan D'Delight ? Produk ini terlahir untuk memberikan solusi bagi siapa saja yang ingin mengenalkan atau menjelaskan perusahaan, diri, usaha, dalam bentuk digital dan khusus D'Delight adalah undangan apa saja secara digital.

Masalah yang hadir adalah pertama, soal jarak. Tak bisa bertemu sehingga menutup peluang untuk mengkomunikasikan banyak tentang profilr diri atau kalaupun bersapa lewat komunikasi. Jika itu terjadi maka ada masalah kedua, yaitu waktu. Tidak cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Lagi pula adalah masalah ketiga, soal momen yang tidak bisa memberikan penjelasan dan komunikasi dengan baik. Dari ketiga masalah utama ini, D'Profile dan D'Delight memberi solusi layanan digital untuk mengakomodir semuanya jadi lebih mudah dan ringkas.















Segera hubungi WA : 081310737352

Kamis, Februari 26, 2026

Terlihat baik di hadapan Atasan

 Semangat pagi semuanya. Menarik sekali saya bisa berbagi keinginan disusupi bisikan setan. Tampil dihadapan bos itu baik karena memang memiliki kemampuan, tapi kayaknya banyak orang mengikuti bisikan setan untuk terlihat baik. Tak berlama lagi ikuti kisahnya

Begini awal kisahnya 
Senyum yang Terlatih
Jam 09.00. Atasan masuk ruangan.
Bujang langsung duduk tegak. Layar diganti ke dashboard utama.
Postur diperbaiki.
Nada bicara jadi lebih sopan. “Pagi, Pak.”
Senyumnya rapi. Sepuluh menit kemudian, saat atasan pergi,
ia kembali ke ritme biasa. Scroll pelan.
Kerja santai.Bukan jahat.
Hanya ingin terlihat baik.


Keinginan Awal yang Tampak Wajar
Awalnya sederhana: “Aku ingin diapresiasi.” Itu fitrah.
Semua manusia ingin dihargai.Tapi lalu muncul:
→ “Yang penting atasan lihat.”
→ “Yang lain nggak penting.”
→ “Kalau atasan senang, aman.”
→ “Kalau perlu, lapor dulu sebelum orang lain.”
Pelan-pelan, fokus berpindah. Dari kualitas kerja
ke kualitas citra.


Rantai yang Tidak Disadari
Satu keinginan: “Ingin dihargai.”
Bercabang:
→ Ingin terlihat sibuk.
→ Ingin disebut kontribusinya.
→ Ingin lebih menonjol dari rekan.
→ Mulai membandingkan.
→ Mulai menutupi kekurangan.
Tanpa sadar, energi habis untuk mengatur tampilan.
Bukan meningkatkan substansi.
Allah berfirman:
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Allah mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada.”
(QS. Ghafir: 19)
Yang tersembunyi pun terlihat oleh-Nya.

Lamunan yang Menggerogoti
Siang itu, Bujang membayangkan: “Kalau aku dipromosikan…”
“Kalau atasan melihatku paling loyal…”
“Kalau namaku disebut di rapat…”
Ia membangun skenario di kepala. Padahal laporan belum selesai. Jam berlalu.
Ia tidak sadar bahwa:
Keinginan untuk terlihat baik menghabiskan fokus kerja yang seharusnya nyata.


Ahmad yang Tidak Banyak Bicara
Suatu sore Ahmad berkata pelan: “Jang, kalau atasan tidak ada di ruangan, apakah kualitas kerjamu tetap sama?”
Bujang tersenyum kaku. Ahmad melanjutkan:
“Kalau jawabannya tidak, berarti yang kau kejar bukan kualitas.
Tapi penglihatan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.

Sekali ini direnungkan jadi baik :
Pencitraan yang Halus. Ingin dihargai bukan dosa.
Tapi ketika:
Kerja keras hanya saat dilihat
Rajin hanya saat dinilai
Peduli hanya saat ada keuntungan
Maka yang dibangun bukan integritas.
Tapi citra. Dan citra butuh panggung.
Integritas butuh kesadaran.
Allah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidakkah ia tahu Allah melihat?

Jika Allah sudah melihat, mengapa kita terlalu sibuk mengatur pandangan manusia ?

Sensor Pencitraan
SENSOR 1
Apakah saya bekerja keras hanya saat dilihat?
SENSOR 2
Apakah saya melaporkan lebih banyak dari yang saya lakukan?
SENSOR 3
Apakah saya merasa terganggu saat rekan dipuji?
SENSOR 4
Jika tidak ada promosi, apakah saya tetap bekerja maksimal?

Bahaya yang Pelan
Keinginan ingin dihargai jika tidak disadari
→ melahirkan persaingan tak sehat
→ melahirkan iri
→ melahirkan manipulasi kecil
→ melahirkan karakter tidak tulus
Dan karakter terbentuk bukan oleh tindakan besar.
Tapi oleh tindakan kecil yang diulang.

Diam Sejenak
Pejamkan mata. Dalam satu bulan terakhir:
Apakah Anda pernah bekerja lebih keras karena ada yang melihat?
Apakah semangat turun saat tidak diperhatikan?
Apakah hati tidak nyaman saat orang lain mendapat pujian?
Tidak perlu merasa bersalah.
Cukup jujur aja.

Just Do It Now
Mulai hari ini:
✔ Kerjakan satu tugas dengan kualitas terbaik
meski tidak ada yang tahu.
✔ Jangan umumkan setiap kontribusi kecil.
✔ Fokus pada hasil, bukan pujian.
✔ Ucapkan dalam hati:
“Allah melihat, itu cukup.”

Transformasi Kecil
Suatu hari, atasan memuji rekan lain. Bujang sempat merasa tidak nyaman. Tapi kali ini ia sadar.
Ia berkata dalam hati: “Rezeki pujian bukan bagianku hari ini.Tapi rezeki amanah masih milikku.”
Ia kembali bekerja. Tanpa drama. Tanpa membandingkan.
Ahmad melihatnya dan berkata : “Kalau kita bekerja untuk dilihat Allah,manusia melihat atau tidak, tidak lagi menentukan.”
Bujang tersenyum pelan.Ia belum sempurna.
Tapi ia mulai punya sensor.


Insya Allah tulisan ini jadi pencerahan, kita perlu merasa salah, tapi yang lebih penting adalah sadar dan berubah. Ingat :
Keinginan untuk dihargai
jika tidak disadari
→ melahirkan pencitraan
→ melahirkan pembandingan
→ melahirkan iri
→ melahirkan manipulasi halus
Padahal kerja sejati adalah amanah
Yuk pahami ulang dengan pikiran jernih dan hati yang terbuka. Inilah langkah untuk memberdayakan diri semakin baik dan semakin dihargai bukan saja oleh atasan tapi Allah.

Featured post

Tidak buruk dan tidak baik juga

 Semangat pagi semuanya, Ketemu lagi dalam bahasan keinginan yang disusupi oleh setan. "iya tuh saya pernah", kata seorang yang ba...