Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Senin, Februari 23, 2026

Ketika Hati Takut Terkunci di Tengah Kesibukan

 Semangat pagi semua. Insya Allah hari-hari yang kita lalui menjadikan kita semakin baik, dalam dunia kerja dan kehidupan. Kali ini saya lanjutkan tulisan sebelumnya. 

Mulai dari sesuatu yang datang di hati, lalu meneruskannya ...


Kisah: Tidak Lagi Tersentuh
Beberapa tahun lalu, ia mudah tersentuh oleh ayat.
Mendengar kajian, hatinya hangat.
Membaca Al-Qur’an, dadanya terasa lapang.
Berbuat salah sedikit saja, ia langsung gelisah.
Sekarang? Ia masih bekerja dengan baik.
Kariernya stabil. Jaringannya luas.
Reputasinya terjaga. Namun ada perubahan yang pelan-pelan terjadi. Ia jarang menangis dalam doa.
Nasihat terasa biasa saja. Ayat-ayat yang dulu menggetarkan kini terasa seperti teks biasa. Ia tidak meninggalkan agama.
Ia tidak menolak kebenaran.
Ia tetap shalat, tetap hadir di majelis. Namun ada satu ketakutan yang tidak pernah ia akui : “Bagaimana kalau hatiku mulai mengeras?” Bukan keras karena membenci.
Tetapi keras karena terlalu lama sibuk.

Ayat yang Menggugah: Penguncian Itu Proses
Allah berfirman dalam Al-Baqarah 6–7 bahwa ada orang yang sama saja diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Lalu Allah menyebut hati mereka terkunci.
Sering kali kita membayangkan penguncian itu terjadi tiba-tiba.
Padahal dalam kehidupan nyata, penguncian lebih sering berupa proses sunyi.
Tidak dimulai dari penolakan besar. Tetapi dari pembiaran kecil.
Bukan dari kebencian kepada agama. Tetapi dari kelalaian yang diulang. Dalam dunia kerja, proses itu bisa terlihat seperti ini:
Terlalu sibuk sampai menunda dzikir.
Terlalu fokus target sampai lupa niat.
Terlalu mengejar validasi sampai lupa ridha Allah.
Terlalu sering berkata “nanti saja” untuk urusan akhirat.
Hari demi hari. Tanpa sadar.
Hati tidak langsung menolak kebenaran.
Ia hanya kehilangan sensitivitasnya.
Dan ketika sensitivitas itu melemah, ayat-ayat Allah tidak lagi terasa menggugah.


Keras Bukan Berarti Jahat
Inilah yang sering salah dipahami.
Hati yang mengeras bukan selalu hati yang jahat.
Kadang ia hati yang terlalu lelah.
Kadang ia hati yang terlalu penuh dunia.
Kadang ia hati yang terlalu lama tidak diajak berbicara dengan Allah.
Seorang karyawan bisa menjadi profesional luar biasa, tetapi ruhani yang minim perawatan. Seperti mesin yang terus dipakai tanpa dilumasi. Ia tetap berjalan.
Tetap produktif. Tetapi gesekan di dalamnya semakin kasar.
Penguncian hati bukan selalu berupa penolakan tegas.
Kadang ia berupa:
Tidak lagi merasa bersalah saat lalai.
Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.
Tidak lagi merasa perlu memperbaiki niat.
Dan itu jauh lebih halus.


Ketakutan Itu Rahmat
Jika Anda mulai takut hati mengeras, itu bukan tanda buruk.
Itu tanda bahwa hati masih hidup.
Hati yang benar-benar terkunci tidak takut terkunci.
Ia merasa baik-baik saja. Ia merasa cukup.
Ia merasa tidak perlu berubah. Tetapi ketika seseorang di tengah kesibukan kariernya tiba-tiba bertanya:
“Kenapa aku tidak lagi tersentuh?”
Itu cahaya. Itu alarm lembut dari Allah.
Bukan untuk membuat Anda panik.
Tetapi untuk membuat Anda kembali.

Diam Sejenak
Sekarang berhenti sejenak.
Bayangkan hari kerja Anda.
Berapa kali Anda menyebut nama Allah dengan sadar?
Berapa keputusan yang Anda niatkan sebagai ibadah?
Berapa kali Anda berkata “Alhamdulillah” tanpa terburu-buru?
Apakah hati Anda masih bergetar ketika mendengar ayat?
Jika tidak, jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalkannya.
Diamlah.
Rasakan apakah ada rindu yang tertahan.


Just Do It Now
Hati tidak kembali lembut dengan teori.
Ia kembali dengan latihan kecil.
Just do it now:
Jadwalkan waktu tetap membaca Al-Qur’an sebelum membuka email.
Ketika lelah bekerja, ucapkan dzikir sebelum mengeluh.
Sebelum meeting penting, niatkan untuk mencari keberkahan, bukan hanya kemenangan argumen.
Sisihkan satu keputusan setiap hari yang jelas-jelas Anda ambil karena takut kepada Allah.
Jangan tunggu hati benar-benar keras.
Rawat sebelum rusak.

Produktif Tanpa Kehilangan Kepekaan
Anda tidak salah karena bekerja keras.
Islam tidak melarang profesionalisme.
Yang perlu dijaga adalah pusatnya.
Jika pusat hidup hanya target, hati akan kering.
Jika pusat hidup adalah Allah, target menjadi alat, bukan tujuan.
Bayangkan bekerja dengan kesadaran:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.”
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku.”
“Ya Allah, jaga hatiku di tengah kesibukan ini.”
Kesadaran itu tidak mengurangi produktivitas.
Justru menambah ketenangan.
Karena Anda tidak lagi bekerja sendirian.

Ternyata ...
Hati tidak terkunci dalam sehari.
Ia mengeras karena terlalu lama tidak disiram.
Kesibukan bukan musuh.
Kelalaianlah yang berbahaya.
Dan jika di tengah spreadsheet, rapat, dan target, Anda masih sempat takut kehilangan kepekaan…
maka hati itu masih hidup.
Rawat ia sekarang.
Sebelum kesibukan menjadi alasan.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan tulisan ini dan saya dapat mengambil hikmah buat kehidupan ini. Pemberdayaan diri dan teruslah memotivasi diri agar menjaga di jalan positif.

Rindu di Tengah Target

Semangat pagi semua. Insya Allah, hari ini bisa menjadikan saya semakin semangat untuk menulis apa yang pernah saya alami, untuk diambil hikmahnya. Dan pengalaman ini bisa saya berbagi agar tidak hilang begitu saja.

Saya mulai dari judul rindu ditengah target, rindu sesuatu yang tak tahu dari mana, tapi ada dan mendorong saya melakukan sesuatu.

Kisah: Malam yang Tidak Biasa

Jam menunjukkan pukul 20.47. Layar laptop masih menyala. Spreadsheet penuh angka. Grafik performa naik-turun. Notifikasi email terus berdatangan.
Target bulan ini hampir tercapai. Produktivitas stabil.
Atasan tidak komplain. Tim berjalan normal.
Secara profesional, semuanya baik-baik saja. Namun ada yang tidak bisa dijelaskan. Ada rasa lelah yang bukan fisik.
Ada kosong yang bukan karena kurang tidur.
Ada pertanyaan yang tidak tercantum dalam KPI:
“Untuk apa semua ini?” Ia bukan orang yang malas.
Ia bukan pembangkang. Ia bukan ingin resign.
Ia hanya merasa… tidak terisi.
Setiap hari bangun, bekerja, menyelesaikan tugas, meeting, laporan, evaluasi.
Ritme yang sama. Prestasi yang sama. Tekanan yang sama.
Namun hati seperti kehilangan arah.
Suatu malam, tanpa rencana panjang, ia membuka Al-Qur’an.
Bukan untuk kajian. Bukan untuk konten. Bukan untuk diskusi.
Hanya untuk membaca.
Ayat-ayat awal Al-Baqarah terbaca perlahan.
Tentang orang bertakwa.Tentang orang yang menolak. Tentang hati yang sakit.
Dan tiba-tiba ia terdiam.
“Bagaimana kalau hatiku yang sedang kosong ini bukan karena kerja… tapi karena aku menjauh dari petunjuk?”
Tidak ada suara petir. Tidak ada air mata dramatis. Hanya rasa rindu yang muncul pelan.
Rindu pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar target.Malam itu tidak ada yang istimewa. Tidak ada kajian besar.
Tidak ada peristiwa yang mengguncang hidup.
Tidak ada masalah besar yang memaksa untuk berubah.
Hanya sebuah mushaf yang terbuka di meja kecil.
Ayat-ayat awal Al-Baqarah terbaca pelan.
Tentang orang bertakwa.Tentang orang kafir. Tentang orang munafik.
Dan tiba-tiba muncul pertanyaan yang tidak nyaman:
“Bagaimana kalau hatiku perlahan mengeras tanpa aku sadari?” Tidak ada yang menuduh.
Tidak ada yang menunjuk. Tetapi ada rasa gelisah yang lembut.
Setiap ayat terasa seperti cermin. Bukan untuk orang lain.Untuk diri sendiri.
Ada rindu untuk membaca lagi.
Dan ada rasa bahwa diri ini belum baik-baik saja. 
Bukan karena putus asa. Tetapi karena sadar.
Dan di situlah semuanya dimulai.


Ketika Rindu dan Kesadaran Bertemu
Produktif, Tapi Tidak Bertumbuh. Dunia kerja modern mengajarkan satu hal:
Produktif = Berhasil.
Semakin banyak output, semakin tinggi nilai. Semakin sibuk, semakin dianggap penting.
Namun jarang ada yang bertanya: Apakah produktivitas itu membuat hati bertumbuh? Atau justru membuatnya kering?
Banyak karyawan yang lelah bukan karena beban kerja.
Tetapi karena kehilangan makna.
Ia bekerja keras, tapi tidak tahu untuk siapa.
Ia mengejar target, tapi tidak tahu ke mana.
Ia naik jabatan, tapi hatinya tetap kosong.
Rindu kepada petunjuk Allah sering muncul justru di tengah kesibukan.
Karena hati manusia tidak bisa hidup dari angka saja.
Ia butuh arah. Ia butuh makna. Ia butuh hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar appraisal tahunan.Ada dua jenis perasaan yang sering disalahpahami: Rasa takut dan rasa rindu.
Takut bisa membuat orang menjauh. Rindu justru membuat orang mendekat.
Ketika seseorang membaca Al-Qur’an lalu ingin membaca lagi, itu bukan sekadar kebiasaan intelektual. Itu tanda hati menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Namun rindu kepada petunjuk sering datang bersama rasa tidak nyaman.
Karena ayat-ayat Allah bukan hanya memberi harapan.
Ia juga membuka luka. Ia menunjukkan:
Di mana kita menunda taat.
Di mana kita membela ego.
Di mana kita sibuk menilai orang lain.
Di mana kita belum sepenuhnya jujur.
Dan rasa “tidak baik-baik saja” itu sebenarnya karunia.
Karena hati yang mati tidak merasa terganggu.
Hati yang terkunci tidak merasa kurang.
Rindu pada petunjuk Allah adalah tanda bahwa hati masih hidup.
Kesadaran diri yang belum sempurna adalah tanda bahwa jiwa masih jujur.


Mengapa Rindu Itu Penting?
Hidayah bukan hanya tentang menemukan jalan. Ia tentang terus ingin berada di jalan itu. Ada orang yang tahu kebenaran, tetapi tidak rindu padanya.
Ada orang yang paham ayat, tetapi tidak ingin kembali membacanya.
Yang berbahaya bukan tidak tahu. Yang berbahaya adalah tidak lagi ingin tahu.
Rindu itu seperti magnet. Ia menarik seseorang kembali kepada:
Mushaf yang sama.
Doa yang sama.
Istighfar yang sama.
Dan setiap kali kembali, ada lapisan baru yang terbuka. Rindu membuat seseorang berkata: “Aku belum cukup. Aku ingin lebih dekat.”
Dan kalimat itu adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur.
Rindu Itu Bukan Tanda Lemah. Ketika membaca ayat-ayat Allah lalu ingin membaca lagi, itu bukan eskapisme.
Itu bukan lari dari kerja. Itu tanda bahwa jiwa sedang mencari keseimbangan.
Yang berbahaya bukan sibuk bekerja.
Yang berbahaya adalah sibuk tanpa kesadaran kepada Allah.
Ayat tentang hati yang dikunci terasa menampar pelan.
Karena mungkin hati tidak menjadi keras karena dosa besar.
Tetapi karena terlalu lama sibuk tanpa mengingat Allah.
Bekerja dari pagi sampai malam.
Meeting tanpa doa. Keputusan tanpa istikharah.
Strategi tanpa dzikir. Dan perlahan, hati menjadi mekanis.
Bekerja, tapi tidak merasa. Berhasil, tapi tidak bersyukur.
Lelah, tapi tidak tahu kenapa. Rindu kepada petunjuk adalah alarm yang lembut. Bukan untuk berhenti bekerja. Tetapi untuk mengembalikan arah.


Diam Sejenak
Sekarang, diamlah sejenak. Letakkan ponsel.
Tutup notifikasi. Tanya dalam hati:
Apakah saya bekerja hanya untuk target?
Apakah saya merasa kosong setelah pencapaian?
Apakah saya masih menikmati membaca ayat Allah tanpa tekanan?
Apakah aku masih merasa ada yang kurang ketika jauh dari ayat-ayat-Nya?
Apakah aku masih rindu membaca Al-Qur’an tanpa disuruh?
Apakah saya masih rindu duduk sendiri bersama-Nya?
Apakah aku masih gelisah ketika sadar melakukan kesalahan?
Jika jawabannya iya, maka hati itu belum mati.
Jika jawabannya tidak, maka jangan panik.
Karena rindu bisa dibangunkan kembali.
Diamlah.
Rasakan napas.
Sadari bahwa Allah masih memberi waktu.
Ketika Diri Terlihat “Tidak Baik-Baik Saja”
Saat membaca ayat, ia melihat dirinya.
Ia sadar:
Kadang bekerja hanya demi pengakuan.
Kadang kecewa berlebihan saat tidak dihargai.
Kadang lupa bersyukur ketika berhasil.
Kadang lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan keberkahan.
Ia tidak kafir.
Ia tidak munafik besar.
Tetapi ada penyakit kecil yang tumbuh pelan:
Ketergantungan pada validasi manusia.
Dan di situlah rindu itu berubah menjadi doa.
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku dari-Mu.”
Kesadaran bahwa diri belum baik-baik saja bukan hukuman.
Itu cahaya. Karena hati yang mati tidak merasa ada yang salah.
Tarik napas dalam.
Sadari bahwa Allah memberi pekerjaan itu. Allah memberi kemampuan berpikir. Allah memberi kesehatan untuk menyelesaikan tugas.
Dan mungkin Allah juga sedang memanggil agar pekerjaan itu tidak sekadar dunia.
Diamlah sebentar.
Biarkan rindu itu berbicara.


Just Do It Now
Rindu tidak boleh hanya menjadi perasaan. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan kecil.
Just do it now:
Mulai rapat dengan doa sungguh-sungguh.
Sisihkan 10 menit sebelum kerja untuk membaca satu halaman.
Niatkan setiap tugas sebagai amanah dari Allah.
Ucapkan “Alhamdulillah” ketika laporan selesai.
Ucapkan “La haula wa la quwwata illa بالله” ketika merasa lelah.
Ambil mushaf dan baca satu halaman, bukan satu juz.
Duduk lima menit dan bicara kepada Allah tanpa skrip.
Istighfar sepuluh kali dengan kesadaran penuh.
Lakukan satu amal kecil yang tidak diketahui siapa pun.
Ubah cara bekerja, bukan pekerjaannya dulu. Karena masalahnya bukan selalu di kantor. Kadang masalahnya di arah hati.
Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu mood. Jangan tunggu waktu luang.
Hati dijaga oleh tindakan kecil yang diulang.
Jangan tunggu resign untuk menjadi dekat dengan Allah.
Jangan tunggu burnout untuk kembali membaca Al-Qur’an.

Jangan Takut dengan Kesadaran Diri, dan Bekerjalah Tanpa Kehilangan Jiwa
Anda tidak harus berhenti menjadi karyawan untuk menjadi hamba yang baik.
Anda bisa: Produktif dan bertakwa.
Berprestasi dan bersyukur. Disiplin dan tawakal.
Justru pekerjaan adalah ladang besar.
Setiap email bisa menjadi amanah. Setiap laporan bisa menjadi ibadah.
Setiap keputusan bisa menjadi jalan pahala.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah pekerjaan adalah tanda istimewa.
Karena tidak semua orang yang sibuk masih punya waktu untuk merasa kosong. Dan tidak semua yang merasa kosong masih ingin kembali.
Jika Anda merindukan petunjuk Allah saat bekerja,
itu bukan karena Anda gagal.
Itu karena Allah tidak ingin Anda tersesat dalam kesibukan.Perasaan “tidak baik-baik saja” bukan tanda kegagalan.
Itu tanda Allah sedang membuka pintu.
Lebih berbahaya merasa baik-baik saja ketika sebenarnya jauh.
Lebih berbahaya merasa aman ketika hati perlahan kering.
Jika Anda membaca ayat dan ingin membaca lagi — itu panggilan.
Jika Anda membaca ayat dan melihat kekurangan diri — itu cahaya.
Allah tidak memanggil hati yang sudah Ia biarkan.
Rindu itu adalah undangan.
Dan selama Anda merasakannya,
Anda sedang dalam perjalanan.

Ternyata ...
Hati tidak tiba-tiba bercahaya.
Ia dinyalakan oleh rindu yang dijaga.
Dan rindu itu tidak boleh dibiarkan menjadi wacana.
Ia harus diikuti dengan langkah kecil.
Target bisa tercapai.
Karier bisa naik.
Gaji bisa bertambah.
Tetapi hati hanya tenang jika tahu untuk siapa ia bekerja.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah tekanan kerja bukan gangguan.
Itu penyelamat.
Dan selama Anda masih ingin membuka mushaf setelah menutup laptop,
hati Anda belum terkunci.
Ia sedang dipanggil.
Sekarang.

Insya Allah tulisan ini mampu memberdayakan diri untuk semakin baik, dan lihatlah dengan hati dan pikiran positif. Ada amanah dari Allah dalam hal ini, maukah kita mengikutinya ? Tak ada ruginya, just do it now. Inilah motivasi diri yang islami untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat

Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji

Semangat pagi semuanya. Insya Allah hari ini dilancarkan rezeki dan disyukuri. Tanpa syukur rezeki itu kurang berkah. Kali ini masih membahas ayat hud 6, ada beberapa point yang dibahas masih menarik.


Berikut ini beberapa pointnya :
Perubahan yang Tidak Terlihat dari Luar Waktu berlalu.
Tidak ada keajaiban instan. Tidak ada cerita mendadak kaya. Tidak ada lompatan dramatis.
Tetapi ada sesuatu yang berubah.
Dan perubahan itu tidak terlihat dari luar.

Bujang masih bekerja di kantor yang sama. Mamat masih membangun kembali proyeknya sedikit demi sedikit.Mira masih merintis langkah hidupnya dengan hati-hati.
Namun jika seseorang mengenal mereka beberapa bulan sebelumnya, ia akan tahu: mereka berbeda.
Bukan pada angka.Pada hati.

Dari Panik Menjadi Pasrah yang Aktif
Dulu Bujang membuka aplikasi perbankan dengan cemas.Sekarang ia membukanya dengan evaluasi, bukan ketakutan.
Dulu Mamat merasa identitasnya tergantung pada stabilitas penghasilan. Sekarang ia tahu bahwa dirinya tidak ditentukan oleh grafik pemasukan.

Dulu Mira menunda banyak keputusan karena merasa “belum cukup mapan.” Sekarang ia sadar bahwa kecukupan bukan dimulai dari saldo, tapi dari keyakinan.
Mereka masih bekerja keras. Tidak ada yang menjadi malas. Tidak ada yang berhenti berikhtiar.
Justru mereka bekerja lebih serius.
Bedanya, hati mereka tidak lagi terikat pada hasil.
Dan di situlah mereka menemukan sesuatu yang sebelumnya tak mereka miliki: Ketenangan.



Ketika Rezeki Tidak Lagi Disempitkan
Suatu malam mereka kembali duduk bersama.
“Kita dulu sibuk mengejar angka,” kata Mira pelan.
“Dan kita mengira kalau angka itu naik, hidup pasti aman,” tambah Mamat.
Bujang tersenyum. “Padahal yang bikin hidup aman itu bukan angka. Tapi siapa yang kita yakini mengatur angka itu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Surah Hud ayat 6 bukan hanya tentang jaminan materi. Ia tentang jaminan Ilahi.
Allah tidak hanya menjamin makan dan minum.
Allah menjamin keberlangsungan hidup sesuai takdir terbaik-Nya.
Dan takdir terbaik tidak selalu berarti yang paling besar nominalnya.

Rezeki yang Tidak Semua Orang Miliki
Mereka mulai menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi tidak pernah merasa cukup.
Ada yang jabatannya tinggi, tetapi selalu cemas kehilangan.
Ada yang penghasilannya stabil, tetapi rumah tangganya rapuh.
Lalu mereka melihat diri mereka sendiri.
Beberapa bulan lalu mereka gelisah. Sekarang mereka lebih tenang.
Beberapa bulan lalu mereka takut masa depan.Sekarang mereka lebih yakin pada Allah.
Beberapa bulan lalu mereka bekerja dengan tekanan batin.Sekarang mereka bekerja dengan niat ibadah.
Bukankah itu rezeki?
Hidayah untuk memahami makna rezeki adalah rezeki.Kemampuan untuk menjaga salat di tengah kesibukan adalah rezeki.Hati yang tidak lagi iri adalah rezeki. Air mata yang jatuh dalam sujud adalah rezeki.
Dan rezeki ini tidak semua orang punya, meskipun hartanya banyak.

Burung, Salat, dan Tunduknya Hati
Mereka kembali pada refleksi awal tentang burung.
Burung terbang karena naluri. Manusia beriman bergerak karena iman.
Burung tidak pernah menjadikan cabang sebagai sumber hidupnya. Manusia sering menjadikan perusahaan, klien, atau jabatan sebagai sandaran hati.
Padahal semuanya hanyalah cabang.
Jika cabang patah, burung tidak berhenti terbang. Ia mencari cabang lain.
Mengapa manusia sering berhenti percaya ketika satu sumber tertutup?
Allah ingin orang beriman itu salat dan bekerja.
Salat menjaga hati agar tidak sombong saat lapang. Salat menjaga hati agar tidak putus asa saat sempit.
Bekerja adalah bentuk pengabdian. Bukan sekadar perburuan angka.
Ketika salat dan kerja menyatu dalam ketundukan, di situlah tawakal menjadi nyata.

Klimaks: Apa Sebenarnya Rezeki Terbesar?
Suatu malam, dalam obrolan yang hening, Mamat berkata:
“Kalau dulu proyekku tidak hilang, mungkin aku tidak akan pernah belajar setenang ini.”
Bujang menambahkan, “Kalau dulu kita tidak gelisah soal gaji, mungkin kita tidak akan pernah benar-benar memahami ayat itu.”
Mira tersenyum. “Berarti kegelisahan kita dulu juga bagian dari rezeki.”
Mereka terdiam.
Kadang Allah memberi dalam bentuk kelapangan. Kadang Allah memberi dalam bentuk ujian.
Keduanya bisa menjadi rezeki.
Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji
Karena rezeki terbesar bukan uang.
Rezeki terbesar adalah hidayah untuk mengenal Allah sebagai Ar-Razzaq. Rezeki terbesar adalah hati yang tenang saat mencari dan saat menerima. Rezeki terbesar adalah iman yang tidak goyah meski nominal berubah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dan ketenangan itu tidak dijual di pasar. Tidak bisa dinegosiasikan dalam kontrak. Tidak bisa dipastikan lewat slip gaji.
Ia adalah karunia.

Insya Allah tulisan dapat menjadi inspirasi dan mampu mendorong kita untuk semakin baik. Inilah pemberdayaan diri dari dalam diri yang kuat. Semangat untuk terus belajar.

Minggu, Februari 22, 2026

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hidup.  Ini bukan langkah sadar berpikir tapi diONkan hati yang luas. Melanjutkan pemahaman surah hud 6 dalam kehidupan sehari-hari.


Kita baca kembali surah Hud ayat 6,

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)

“Uang bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat.”
“Jika Anda masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti.”
“Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa Kita Masih Gelisah?”
“Gelisah Karena Rezeki, Padahal Sudah Dijamin”
Bujang sedang termenung melihat laporan keuangannya.
Mamat sibuk membandingkan dirinya dengan teman-teman yang sudah “sukses”.
Mira merasa takut menikah karena belum mapan.
Mereka bertiga sering berbincang, tapi selalu berujung pada satu kalimat:
“Bagaimana kalau rezeki tidak cukup?”
Suatu hari mereka mendengar kajian tentang QS Hud ayat 6.
Ayat itu seperti menampar mereka:
“Semua makhluk sudah dijamin rezekinya…”
Mereka tersadar — selama ini mereka lebih percaya pada angka daripada pada janji Allah.



Kata “dābbah” berarti semua makhluk melata — termasuk hewan kecil yang tersembunyi. Allah tidak hanya menjamin jumlahnya, tapi juga:
tempat tinggalnya tempat penyimpanannya
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengetahui tempat tinggal dan tempat kembalinya setiap makhluk.
Artinya: bukan hanya rezekinya yang Allah tahu, tapi perjalanan hidupnya.
Rasulullah ﷺ  bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari ia lapar, sore hari ia kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak menunggu rezeki turun ke sarang.
Ia keluar. Ia bergerak. Tapi hatinya tidak gelisah.

Bujang sadar: selama ini ia bekerja dengan ketakutan, bukan dengan tawakal.
Mamat sadar: ia membandingkan takdirnya dengan takdir orang lain.
Mira sadar: ia takut pada masa depan yang bahkan belum terjadi.
Masalahnya bukan kurang rezeki.
Masalahnya adalah kurang yakin.

Kegelisahan yang Diam-Diam Menjadi Kebiasaan
Bujang tidak pernah benar-benar mengeluh. Ia bekerja dengan disiplin, datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, bahkan sering lembur. Namun beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia mulai lebih sering membuka aplikasi perbankan.
Bukan karena ada transfer tambahan. Tapi karena ada rasa takut.
Takut kalau tiba-tiba kurang.
Takut kalau kebutuhan meningkat.
Takut kalau masa depan tidak aman.
Slip gaji yang dulu ia terima dengan rasa syukur, kini ia terima dengan kalkulasi.
“Kalau angka ini naik sedikit saja, hidup pasti lebih tenang,” pikirnya.
Di sisi lain kota, Mamat sedang duduk menatap layar ponselnya. Media sosial dipenuhi kabar pencapaian teman-teman lamanya. Ada yang naik jabatan. Ada yang membeli rumah. Ada yang membuka bisnis baru.
Ia menutup layar itu pelan-pelan.
Tanpa ia sadari, hatinya mulai membandingkan takdir.
Mira pun tak jauh berbeda. Setiap kali pembicaraan tentang masa depan muncul, yang pertama terlintas bukan kesiapan hati, tetapi kesiapan finansial.
“Bagaimana kalau nanti tidak cukup?” katanya suatu malam.
Tiga orang. Tiga kegelisahan. Satu akar masalah yang sama.
Mereka menyempitkan makna rezeki menjadi angka.



Ayat yang Mengguncang Cara Pandang
Suatu sore mereka mengikuti kajian kecil di masjid dekat kantor. Ustaz membuka mushaf dan membacakan satu ayat:
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…” (QS. Hud: 6)
Ayat itu terdengar biasa. Bahkan sering mereka dengar.
Namun sore itu berbeda.
Ustaz melanjutkan, “Allah tidak mengatakan sebagian makhluk. Tidak juga mengatakan yang punya pekerjaan tetap. Semua. Bahkan yang tidak punya jabatan.”
Bujang terdiam.
Namun dalam hatinya muncul pertanyaan yang jujur.
“Memangnya burung diberi makan langsung oleh Allah? Bukankah ia tetap harus terbang? Tetap harus mencari?”
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Tapi ia bawa pulang.

Memahami Burung dengan Cara yang Baru
Malam itu mereka bertiga kembali berdiskusi.
“Burung itu,” kata Bujang perlahan, “tidak bangun lalu makanan jatuh ke paruhnya. Ia tetap keluar. Ia tetap mencari.”
Mamat mengangguk. “Berarti jaminan rezeki bukan berarti tanpa usaha.”
Di situlah pemahaman mereka mulai bergeser.
Allah memang menjamin rezeki burung. Tapi cara Allah memberi bukan dengan menyuapi langsung. Allah memberi dengan memampukan.
Burung diberi sayap.
Diberi naluri.
Diberi insting membaca arah angin.
Diberi kemampuan menemukan biji yang tersembunyi.
Setiap pagi ia keluar dalam keadaan lapar, dan sore pulang dalam keadaan kenyang.
Jaminan Allah bekerja melalui kemampuan yang Allah berikan.
Maka rezeki bukan hanya hasil akhirnya.
Rezeki adalah kemampuan untuk bergerak.
Rezeki adalah petunjuk untuk menemukan.
Rezeki adalah perlindungan selama perjalanan.
Dan tiba-tiba mereka menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Manusia beriman juga begitu.
Allah ingin kita salat dan bekerja.
Salat menjaga hati agar tetap tunduk kepada Pemberi rezeki.
Bekerja adalah media untuk menjemput karunia-Nya.

Kesalahan yang Tak Terasa: Mengganti Pemberi dengan Perantara
Perlahan Bujang mulai jujur pada dirinya sendiri.
Selama ini ia menggantungkan rasa aman pada perusahaan.
Seolah-olah perusahaanlah yang memberi makan.
Padahal perusahaan hanyalah perantara.
Pemberinya tetap Allah.
Mamat pun mulai sadar bahwa ia lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan kekhusyukan salat.
Mira menyadari bahDan di situlah letak kegelisahan itu.
Ketika hati bergantung pada angka, angka menjadi tuhan kecil.
Padahal angka bisa naik dan turun.
Allah tidak.

Menghitung Ulang Apa Itu Rezeki
Suatu malam mereka mencoba melakukan sesuatu yang sederhana.
Alih-alih menghitung pengeluaran, mereka menghitung nikmat.
Bujang menyadari ia masih sehat.
Masih bisa sujud.
Masih bisa bekerja.
Masih punya orang tua yang mendoakan.
Mamat menyadari ia punya pengalaman, jaringan, reputasi baik.
Itu semua modal. Itu semua rezeki.
Mira menyadari ia punya waktu, ide, kreativitas, dan kesempatan belajar.
Lalu mereka bertanya:
Mengapa kita menyimpulkan “kurang rezeki” hanya karena nominal belum sesuai harapan?
Rezeki ternyata jauh lebih luas daripada gaji.
Rezeki adalah kesehatan.
Rezeki adalah iman.
Rezeki adalah waktu.
Rezeki adalah kesempatan taubat.
Rezeki adalah terhindar dari musibah yang tak kita tahu.
Ada orang bergaji besar tetapi tidurnya tidak tenang.
Ada yang hartanya banyak tetapi keluarganya retak.
Jika rezeki hanya uang, mengapa mereka tetap gelisah?

Tawakal yang Aktif, Bukan Pasif
Mereka kembali pada hadis tentang burung.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika kita bertawakal seperti burung, kita akan diberi rezeki.
Tawakal seperti burung bukan berarti diam di sarang.
Tawakal berarti keluar dengan usaha, tapi tanpa rasa putus asa.
Bergerak tanpa kehilangan keyakinan.
Orang beriman tidak pasif.
Ia salat dengan tunduk.
Ia bekerja dengan profesional.
Namun hatinya tidak menggantung pada pekerjaan.
Ia tahu bahwa pekerjaannya hanyalah jalan.
Yang menentukan hasil adalah Allah.

JUST DO IT NOW 
Bukan Sekadar Amalan, Tapi Perubahan Paradigma
Hari ini, sebelum membaca seri berikutnya, lakukan ini:
1️⃣ Perbaiki Niat Kerja
Besok pagi sebelum berangkat, ucapkan dalam hati:
“Ya Allah, aku bekerja hari ini sebagai ibadah kepada-Mu.”
Ubah orientasi.
Bukan sekadar gaji.
Tapi pengabdian.
2️⃣ Jaga Salat Tepat Waktu
Jika selama ini salat sering diakhirkan karena pekerjaan, ubah hari ini.
Biarkan pekerjaan menunggu salat.
Karena salatlah yang menjaga rezeki, bukan sebaliknya.
3️⃣ Tulis 15 Rezeki Non-Uang yang Anda Miliki
Jangan berhenti di angka kecil. Paksa diri Anda melihat luasnya karunia Allah.
4️⃣ Hentikan Kalimat “Rezekiku Kecil”
Ganti dengan:
“Allah sedang mengatur rezekiku dengan cara terbaik.”
5️⃣ Sedekah Hari Ini
Walau kecil.
Karena sedekah adalah deklarasi bahwa Anda percaya rezeki datang dari Allah, bukan dari saldo.






Saat apa yang dimiliki merasa kurang

Semangat pagi semuanya, hari libur tidak juga membuat libur aktivitas. Istirahat perlu, tapi secukupnya. Bangkit untuk beraktivitas sekarang. Insya Allah selalu ada semangat untuk terus beraktivitas yang bermakna bagi kehidupan ini. Berikut ini adalah pendalaman seri 1 dari petunjuk Allah yang ada di Surah Hud ayat 6.

Saya mulai dari ilustrasi berikut ini : 


Mamat kehilangan proyek besar yang selama ini menopang penghasilannya. Bukan karena ia malas. Bukan karena ia tidak kompeten. Hanya saja kontrak itu tidak diperpanjang. Ada rasa khawatir atas rezekinya. 

Hari itu ia duduk lama di dalam mobilnya sebelum pulang ke rumah. “Berarti rezekiku berkurang,” bisiknya. Kalimat itu terdengar logis. Tapi hatinya tidak tenang.
Malamnya ia bertemu Bujang dan Mira. Wajahnya berbeda dari biasanya.
“Kalau rezeki sudah dijamin,” kata Mamat pelan, “kenapa tetap terasa sesak begini ketika penghasilan turun?” Tidak ada yang langsung menjawab.
Bujang mengingat kembali pertanyaan tentang burung.
“Burung itu,” katanya perlahan, “pagi keluar lapar, sore pulang kenyang. Tapi tidak pernah dijanjikan menemukan makanan di cabang pertama yang ia Mira menambahkan, “Mungkin kita selama ini mengira rezeki itu tetap bentuknya. Padahal Allah menjamin rezeki, bukan menjamin bentuknya selalu sama.”
Mamat terdiam.
Selama ini ia menyamakan rezeki dengan nominal. Ketika nominal turun, ia menyimpulkan rezekinya menyusut. Padahal bisa jadi yang berubah hanya jalurnya.
Bukankah ketika proyek itu hilang, ia jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarganya? 
Bukankah ia mulai mengevaluasi keuangannya dengan lebih bijak?
Bukankah ia mulai lebih sering bangun malam karena merasa butuh pertolongan Allah?
Lalu muncul kesadaran yang pelan tapi dalam:
Bagaimana jika hilangnya satu sumber penghasilan adalah cara Allah menumbuhkan tawakal?

Surah Hud ayat 6 tidak mengatakan bahwa rezeki selalu terasa nyaman. Ayat itu mengatakan bahwa rezeki dijamin.
datangi.”Dijamin tidak selalu berarti dilapangkan sesuai keinginan.
Kadang dijamin berarti dijaga dari yang lebih buruk.
Kadang dijamin berarti diarahkan ke sesuatu yang lebih baik.
Mamat mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Rezeki bukan hanya tambahan.
Rezeki juga bisa berupa perlindungan.
Jika Allah menahan kenaikan gaji, mungkin Allah sedang menjaga hatinya dari kesombongan.
Jika Allah menutup satu pintu proyek, mungkin Allah sedang membuka pintu kedewasaan.
Burung tidak tahu di mana makanan itu berada. Tapi ia tetap terbang.
Orang beriman tidak tahu bagaimana masa depannya. Tapi ia tetap salat dan bekerja.
Dan di situlah tawakal diuji.

Ujian yang Tidak Direncanakan
Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan.
Suatu pagi, Mamat menerima email yang singkat, formal, dan dingin. Proyek besar yang selama ini menjadi penopang utama penghasilannya tidak diperpanjang. Bukan karena performanya buruk. Bukan karena ia lalai. Hanya karena kebijakan perusahaan berubah.
Ia membaca email itu tiga kali.
Tangannya terasa dingin.
Ia langsung membuka aplikasi perbankan. Menghitung ulang. Mengurangi proyeksi. Mengubah rencana.
Dan tanpa sadar satu kalimat muncul di benaknya:
“Rezekiku berkurang.”
Kalimat itu terdengar logis. Rasional. Masuk akal.
Tapi ada yang mengganjal.
Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?
Bukankah beberapa bulan lalu ia dan sahabat-sahabatnya baru saja berdiskusi tentang Surah Hud ayat 6?
Bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk?
Mengapa sekarang ayat itu terasa jauh?


Ketika Ayat Diuji oleh Kenyataan
Malam itu Mamat tidak langsung pulang. Ia duduk lama di dalam mobilnya. Lampu-lampu kota menyala, tetapi pikirannya redup.
Ia berusaha kuat. Tapi jujur saja, ia takut.
Takut tidak cukup.
Takut dianggap gagal.
Takut masa depan menjadi sempit.
Ia teringat kembali hadis tentang burung.
Burung keluar pagi dalam keadaan lapar. Pulang sore dalam keadaan kenyang.
“Tapi bagaimana kalau burung itu terbang dan tidak menemukan apa-apa?” pikirnya.
Di situlah pertarungan batin dimulai.
Apakah jaminan Allah berarti tidak ada hari sulit? Ataukah jaminan Allah tetap ada meski hari terasa sulit?



Diskusi yang Mengubah Arah
Ketika Mamat menceritakan semuanya kepada Bujang dan Mira, suasana hening cukup lama.
Bujang berkata pelan, “Kalau penghasilan turun, itu fakta. Tapi apakah itu berarti rezeki turun?”
Mamat menghela napas. “Bukankah rezeki itu penghasilan?”
Mira menatapnya serius. “Atau selama ini kita yang menyamakan keduanya?”
Kalimat itu menembus.
Mereka kembali pada ayat itu.
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…”
Ayat itu tidak mengatakan bahwa rezeki selalu datang lewat jalur yang sama.
Ayat itu tidak mengatakan bahwa nominalnya selalu naik.
Ayat itu hanya mengatakan: dijamin.
Dan jaminan Allah tidak pernah gagal.

Rezeki yang Tidak Terlihat
Beberapa minggu setelah proyek itu hilang, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Mamat jadi lebih sering makan malam bersama keluarganya. Ia tidak lagi pulang larut karena tekanan pekerjaan.
Ia mulai membaca lebih banyak. Ia mulai merenung lebih dalam.
Ia mulai bangun malam karena merasa benar-benar butuh pertolongan Allah.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia menangis dalam sujudnya.
Ia sadar sesuatu.
Selama ini ia merasa mandiri karena proyeknya stabil. Ia merasa aman karena penghasilannya terukur. Tanpa sadar, hatinya mulai bergantung pada stabilitas itu.
Mungkin Allah sedang membersihkan ketergantungannya.
Rezeki bukan hanya yang ditambahkan.
Rezeki juga bisa berupa yang diambil untuk menyelamatkan.
Bagaimana jika proyek yang hilang itu justru menyelamatkannya dari kesombongan? Bagaimana jika kehilangan itu adalah cara Allah menariknya kembali mendekat?

Burung Tidak Diberi Peta
Mamat kembali merenungi burung.
Burung tidak pernah diberi peta lokasi makanan. Ia tidak tahu apakah cabang pertama yang ia hinggapi akan memberi hasil.
Tapi ia tetap terbang.
Dan yang lebih penting: ia tidak membawa kecemasan berlebihan.
Manusia sering ingin tahu seluruh peta masa depan sebelum melangkah. Padahal Allah hanya meminta kita melangkah dengan iman.
Burung diberi naluri. Manusia diberi wahyu.
Burung bergerak dengan fitrah. Manusia bergerak dengan iman.
Jika burung saja tidak berhenti terbang hanya karena satu cabang kosong, mengapa manusia berhenti percaya hanya karena satu proyek hilang?

Ketika Rezeki Berubah Bentuk
Suatu hari Bujang berkata kepada Mamat, “Mungkin rezekimu tidak berkurang. Mungkin hanya berganti bentuk.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.
Selama proyek itu ada, Mamat mendapat rezeki berupa uang.
Ketika proyek itu hilang, ia mendapat rezeki berupa waktu, kedekatan keluarga, kekhusyukan doa, dan kesadaran spiritual.
Mana yang lebih mahal?
Ada orang yang gajinya naik, tapi salatnya turun. Ada yang hartanya bertambah, tapi hatinya kering.
Jika uang bertambah tetapi iman berkurang, apakah itu benar-benar kenaikan rezeki?
Mamat mulai melihat hidupnya dengan sudut pandang baru.
Penghasilan bisa fluktuatif.
Tetapi jaminan Allah tidak pernah fluktuatif.

Tawakal yang Diuji, Bukan Diucapkan
Tawakal mudah diucapkan ketika keadaan stabil.
Tawakal diuji ketika keadaan berubah.
Di situlah Mamat belajar satu hal penting:
Tawakal bukan berarti tidak merasa takut.
Tawakal berarti tetap melangkah meski ada rasa takut.
Ia tetap mencari peluang baru. Ia tetap mengirim proposal. Ia tetap bekerja profesional.
Namun kali ini hatinya berbeda.
Ia tidak lagi bekerja untuk mengamankan masa depan. Ia bekerja sebagai bentuk ketaatan.
Ia tidak lagi menjadikan proyek sebagai sumber ketenangan. Ia menjadikan Allah sebagai sumber ketenangan.
Dan perlahan, rasa sesak itu berkurang.
Bukan karena penghasilannya langsung naik. Tetapi karena keyakinannya yang naik.

JUST DO IT NOW 
Ketika Penghasilan Turun, Jangan Biarkan Iman Turun
Hari ini lakukan ini, bukan sekadar sebagai latihan, tapi sebagai deklarasi hati:
Hentikan Mengukur Nilai Diri dari Penghasilan
Nilai Anda bukan ditentukan oleh angka.
Nilai Anda ditentukan oleh ketakwaan dan usaha.
Tambah Sujud Saat Ujian Datang
Jika biasanya Anda salat sekadar kewajiban, tambahkan dua rakaat khusus untuk meminta ketenangan.
Jangan hanya mencari solusi finansial.Cari ketenangan spiritual.
Lanjutkan Ikhtiar Tanpa Panik
Kirim lamaran. Cari peluang. Bangun relasi.
Tapi lakukan dengan hati yang yakin, bukan hati yang panik.
Syukuri Rezeki yang Tidak Terlihat
Tuliskan apa yang Allah beri di balik ujian ini.
Waktu? Pelajaran? Kedekatan keluarga? Kesadaran spiritual?
Ucapkan Ini Setiap Pagi
“Ya Allah, Engkau menjamin rezekiku. Maka tenangkan hatiku saat mencarinya.”

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi untuk memahami diri sendiri. Pemberdayaan diri adalah cara untuk berubah semakin baik. Temukan motivasi diri dari motivasi islam ... ada pencerahan, ada iman yang tumbuh semakin baik.





Sabtu, Februari 21, 2026

Catatan Allah menjamin semua rezeki makhluknya

Semangat pagi dan salam bahagia. Kebahagian dapat diperoleh dengan hati yang tenang. Insya Allah hati ini banyak berzikir hanya kepadaNya dan saya mendapatkan ketenangan dari sisi Allah. Aamiin

Hari ini, saya tergugah untuk menulis pemahaman dari Surah Hud ayat 6 dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi beberapa orang dan saya yang dulu bilang begini,"Iya saya tahu". Ternyata tidak cukup tahu, karena petunjuk Allah itu terhubung dengan hati, "Tahu dan paham tidak cukup, yuk buka hati dicerahkan Allah dengan bisikan lembutNya".


Saya menuliskan dalam 3 seri, Berikut serinya

SERI 1, Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah
Seri ini bukan tentang optimisme kosong.
Ini tentang menggeser pusat ketergantungan.
Dari slip gaji…
ke janji Allah.
Dan perjalanan ini baru dimulai.

SERI 2, Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?

Seri ini bukan tentang bagaimana mendapatkan kembali proyek.
Ini tentang menemukan kembali Allah dalam proses kehilangan.
Dan perjalanan kita belum selesai.
Di Seri 3 nanti, kita akan sampai pada puncaknya:
Kesadaran bahwa rezeki terbesar bukan uang, bukan proyek, bukan karier…
Tetapi hidayah dan hati yang tenang.
Siap kita lanjut ke klimaksnya? 

 SERI 3, Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji

Surah Hud ayat 6 bukan hanya ayat penghibur.
Ia adalah ayat pembebas.
Membebaskan kita dari ketergantungan pada angka.
Membebaskan kita dari ketakutan berlebihan.
Membebaskan kita dari ilusi bahwa pekerjaanlah yang memberi hidup.
Burung terbang setiap pagi tanpa jaminan tertulis.
Orang beriman bekerja dan salat dengan jaminan dari Allah.
Dan pada akhirnya mereka memahami:
Gaji adalah angka.
Rezeki adalah karunia.
Dan karunia paling mahal adalah hati yang tenang bersama-Nya.

Sebelum saya memasuki seri 1nya, saya ingin mengungkapkan banyak hal yang berhubungan dengan surah Hud ayat 6.


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)


Ada banyak pertanyaan di benak saya tentang ayat di atas bukan sekedar teksnya saya. Saya tahu dan paham, so what ?? Inilah yang ada dalam pikiran saya. 



1. “Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa saya masih Gelisah ?”
Gelisah itu tanda bahwa saya mempertanyakannya. Gelisah itu tentang masa depan, besok makan apa ? Pertanyaan ini karena saya punya pikiran, pikiran itu adalah rezeki Allah juga sih. Karena ada beberapa tidak diberikan kemampuan itu karena sakit atau karena takdir Allah.  Saya tenangkan dulu pikiran saya dan hadir self talk lanjutan. Yang pertama, saya mulai kritis dalam pikiran sendiri, kalau saya punya pikiran tentang kegelisahan rezeki di hari berikutnya ... boleh dong pikiran itu dialihkan untuk fokus kepada rezeki dan jaminan Allah. Dengan demikian kegelisahan itu tidak hadir, dan sekarang belajar tentang rezeki dan jaminan Allah.
Alhamdulillahirabbilalamin, saya bisa berpikir seperti itu karena Engkau dan saya pun membuka hati.
2. Ternyata wawasan saya tentang rezeki itu sempit, hanya kepada pendapatan saja. Rezeki banyak, kalau saya sebut pikiran, ternyata itu rezeki, saya mau bilang "kemampuan" itu juga rezeki dan "kesehatan" pun rezeki. Saya berhenti untuk mau bilang sesuatu," tak pernah abis rezeki itu".
Saya jadi sadar, ternyata semua itu saya dapatkan karena saya berada pada mode sadar Allah, hati yang berfungsi yang diikuti dengan pikiran sehat saya. Mode ini tidak dengan "panik" dan ketakutan. Jadi bersyukurlah hati ini dibuka Allah dan matanya dicerahkan dengan memahami ayat di atas.
3. Oke, saya mesti memberi porsi yang adil terhadap Pendapatan adalah angka. Pendapatan itu salah satu dari rezeki Allah. Pendapatan berupa Uang itu bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat dan tidak pernah habis.
Jika saya masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti dan dijamin Allah.
4. Apakah pendapatan saya tidak cukup ? Bukankah rezeki bukan sekedar pendapatan saja, bisa berupa Kesehatan, kemampuan, Ada kerja, berpikir …
Emang Sanggup menghitung rezeki itu sangat banyak dari Allah ? 
 ? Begitulah saya baru merasakan dan menikmati pendapatan (merasakan uang dari pendapatan), yang lain tidak terlihat dengan hat. Jangan-jangan saya memang hanya ngelihat pendapatan saja, maka tak melihat rezeki yang lain. Biasanya hatinya kembali tertutup (tidak tersambung kepada Allah). Disinilah hati dikuasai "setan" yang membuat buaian dan angan-angan tak pernah berujung dan terlihat indah untuk diraih.
5. Untuk itulah saya mesti sering nyadar sama Allah (hati yang teruju Allah). dengan izinNya, saya mampu melihat rezeki Allah. 
Tenangkan diri ... Tarik napas. Saya merasakan lebih nyaman ... he ... he...  kayak hidpnotis aja ya. 
Iya ya, saya semakin mampu menyadari rezeki itu luas
Mau disebut banyak banget. Sya mesti berhenti menyebutkannya. 
Ternyata Pekerjaan saya saat inipun rezeki, dari sini saya mau mendalami rezeki Allah ini sebagai nikmat Allah yang mesti disyukuri. 
Dibalik pekerjaan itu  Allah memberi Amanah dan meminta tanggung jawab pada saya ??? Yang ada saya mengeluh mengelisahkan pendapatan saya.
Tarik napas lagi ... lebih tenang lagi
Ternyata tanggung jawab atas amanah Allah itu mesti saya wujudkan dalam kerja yang produktif. Bagaimana caranya ? Mesti ada ilmu, saya mesti belajar dan Allah telah berikan "otak" untuk berpikir dan belajar. Iya ya, saya mesti bersyukur dengan otak saya sehingga saya mendapatkan ilmu dan dengan ilmu itu saya bisa bekerja lebih produktif.
Dan temen kerja yang baik itu adalah rezeki, rezeki ini sebaai nikmat yang mesti disyukuri. Dengan temen yang baik ini, saya juga bisa bekerja produktif dalam bekerja sama atau saling membantu.
Ternyata ... selama ini saya belum mampu melihat rezeki Allah karena hati yang tertutup. Saya hanya melihat fisiknya saja, tanpa memahami makna dan kemanfaatannya apalagi amanahnya Allah.



Pujilah Allah yang telah memberi rezeki yang banyak itu … 
Mengapa saya belum memanfaatkan rezeki itu agar ditambah nikmat oleh Allah ?
Ya Allah, Engkau Ya Razzaq, Alhamdulillah ... sentuhlah hati ini agar mampumerasakannya dan tahu manfaat pemberianMu. Saya memohon kepadaMu ampunan atas apapun yang tidak mengantarkan hati ini semakin bersih. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahiim

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi dan berharap mampu menggetarkan hati untuk menyadari "sadar Allah". Inilah potensi yang besar dalam memberdayakan diri agar tidak membuat gelisah, khawatir lagi dan berubah menjadi semakin baik.





Jumat, Februari 20, 2026

Strategi Cerdas — Bertahan dengan Nilai atau Pergi dengan Terhormat

Semangat pagi semua, Insya Allah kabarnya baik dan bersemangat. Semangat dapat memberi dorongan kerja yang baik, dimana semangat itu didukung dengan fisik dan jiwa yang sehat. Berharap setiap hari selalu ada kebaikan buat semua. 

Setelah evaluasi rasional, kini saatnya menentukan strategi.

Bukan soal benar atau salah. Tapi soal apa yang paling bijak untuk kondisi hidupmu saat ini.

Jika Memilih Bertahan, 

Bertahanlah, bukan berarti pasrah.
Bertahan harus dengan strategi.

1. Lakukan Negosiasi Terstruktur

  • Siapkan data kontribusi.
  • Siapkan benchmark gaji pasar.
  • Ajukan kenaikan dengan proposal konkret.
  • Minta timeline jelas.

Jika manajemen tidak bisa memberi angka, minimal minta roadmap.

2. Naikkan Nilai Dirimu

Jangan hanya mengandalkan perusahaan.

  • Ambil sertifikasi.
  • Perluas network.
  • Bangun personal branding.
  • Ikut proyek lintas fungsi.

Jadikan perusahaan sekarang sebagai “ladang belajar”, bukan penjara.

3. Siapkan Plan B

Meski memilih bertahan, tetap:

  • Update CV.
  • Bangun koneksi.
  • Lihat peluang pasar.

Ini bukan pengkhianatan. Ini manajemen risiko hidup.

Jika Memilih Pindah,

Keputusan pindah harus matang.

1. Jangan Lompat Tanpa Pegangan

  • Pastikan ada tawaran konkret.
  • Pastikan kenaikan signifikan.
  • Evaluasi budaya perusahaan baru.

Pindah karena emosi sering berakhir penyesalan.

2. Jaga Reputasi

  • Resign secara profesional.
  • Beri waktu transisi.
  • Jangan bakar jembatan.

Dunia profesional itu kecil.

3. Upgrade Diri Sebelum Pergi

Kadang yang perlu dilakukan bukan resign langsung,
tapi upgrade 6–12 bulan, lalu pindah dengan nilai lebih tinggi.

Itu jauh lebih strategis.

Dari 3 tulisan hari ini, Loyalitas Itu Mulia, Tapi Hidupmu Lebih Penting

Loyalitas adalah nilai baik.
Tapi loyalitas tanpa pertumbuhan adalah pengorbanan sepihak.

Kamu bekerja bukan hanya untuk perusahaan.
Kamu bekerja untuk masa depan hidupmu.

Bertahan atau pergi?

Jawabannya bukan di perusahaan.
Jawabannya ada di:

  • Apakah kamu masih berkembang?
  • Apakah kamu dihargai?
  • Apakah masa depanmu membaik?

Karena pada akhirnya,
karier bukan soal berapa lama kamu tinggal.
Tapi seberapa jauh kamu tumbuh.

Insya Allah 3 tulisan dari pagi, siang dan sore ini dapat mencerahkan dan membuka wawasan dalam meniti karir dalam kerja. Tak ada yang peduli dengan kita kecuali kita sendiri. Oleh sebab itu selalu berdayakan diri dengan motivasi yang kuat untuk menjadikan diri memiliki kemampuan tinggi dan berintegritas tinggi, apapun pilihan kita bertahan atau pergi.


Featured post

Ketika Hati Takut Terkunci di Tengah Kesibukan

 Semangat pagi semua. Insya Allah hari-hari yang kita lalui menjadikan kita semakin baik, dalam dunia kerja dan kehidupan. Kali ini saya lan...