Tugas yang Tidak Kunjung Dimulai
Jam 09.15. Bujang membuka file presentasi baru.
Ia menatap layar kosong. “Harus bagus.”
Ia membuka template lain. “Belum cocok.”
Ia melihat referensi di internet.
“Masih kurang.” Jam 10.40.
Slide pertama belum selesai.
Ia bukan malas. Ia ingin sempurna.
Itu baik. Tapi lalu bercabang:
→ “Kalau tidak sempurna, jangan kirim dulu.”
→ “Kalau ada salah sedikit, bisa dinilai buruk.”
→ “Lebih baik tunggu inspirasi.”
→ “Masih ada waktu.”
Dan waktu berjalan.
Satu keinginan: “Ingin sempurna.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Takut salah.
→ Takut dinilai.
→ Takut dibandingkan.
→ Menunda memulai.
→ Menunda menyelesaikan.
Dan akhirnya: Target tidak tercapai. Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena tidak berani mulai.
Bujang mulai membayangkan:
“Kalau semua orang kagum…”
“Kalau tidak ada celah kritik…”
Ia menghabiskan waktu merancang dalam pikiran. Tapi tidak bergerak. Lamunan tentang kesempurnaan
menggantikan tindakan kecil hari ini.
Allah berfirman:
Jam 16.30. Deadline besok pagi. Slide masih 40%.
Bujang mulai panik. “Kenapa aku selalu begini…”
Ia menyalahkan waktu. Padahal waktu tadi ada.
Yang hilang adalah keberanian untuk mulai.
Ahmad berkata pelan: “Jang, sempurna itu tujuan. Tapi selesai itu kewajiban.” Bujang menoleh.
Ahmad melanjutkan: “Kalau kau menunggu sempurna untuk mulai, kau akan menunggu selamanya.”
Bujang terdiam. Kalimat itu sederhana.
Tapi membuka sesuatu.
Perfeksionisme yang Menipu
Perfeksionisme sering terlihat seperti disiplin.
Padahal kadang itu hanya ketakutan yang disamarkan.
Takut gagal.
Takut dinilai.
Takut tidak cukup baik.
Setan tidak selalu menyuruh berhenti.
Kadang ia menyuruh: “Pastikan benar-benar sempurna dulu.”
Dan tanpa sadar, itu membuat kita tidak bergerak.
Allah tidak menuntut sempurna.
Allah menuntut usaha.
Keinginan: “Ingin sempurna.”
Jika tidak disadari:
→ Takut memulai.
→ Menunda.
→ Deadline mendekat.
→ Kerja terburu-buru.
→ Hasil justru tidak maksimal.
→ Menyalahkan diri.
Padahal awalnya hanya satu lintasan.
SENSOR 1
Apakah saya menunda karena ingin lebih baik, atau karena takut salah?
SENSOR 2
Apakah saya sudah mulai, atau hanya merancang di kepala?
SENSOR 3
Apakah standar saya realistis untuk waktu yang ada?
SENSOR 4
Apakah saya lebih takut kritik daripada gagal total?
Ubah kalimat: “Harus sempurna.”
Menjadi: “Mulai sekarang, perbaiki sambil jalan.”
Satu slide dulu. Satu paragraf dulu. Satu langkah dulu.
Gerak kecil mengalahkan rencana besar yang tidak dijalankan.
Pejamkan mata.
Dalam satu bulan terakhir:
• Tugas apa yang Anda tunda karena ingin sempurna?
• Berapa waktu yang hilang karena terlalu lama berpikir?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup sadar.
Setelah membaca ini:
✔ Ambil satu tugas yang tertunda.
✔ Kerjakan 20 menit tanpa menilai hasilnya dulu.
✔ Izinkan hasil pertama tidak sempurna.
✔ Perbaiki setelah selesai.
Lebih baik selesai dan diperbaiki
daripada sempurna di kepala.
Malam itu, Bujang duduk kembali di depan laptop.
Ia tidak mencari template lagi.
Ia langsung menulis slide pertama.
Tidak sempurna. Tapi selesai.
Ia tersenyum kecil. “Mad… ternyata yang aku takutkan tidak sebesar itu.”
Ahmad menjawab pelan: “Takut sering lebih besar di pikiran daripada di kenyataan.”
Bujang mengangguk. Hari itu ia tidak menjadi sempurna.
Tapi ia berhenti menunda.
jika tidak disadari
→ menjadi ketakutan
→ menjadi penundaan
→ menjadi panik
→ menjadi hasil yang justru tidak maksimal
Padahal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mulai.























