Siang itu evaluasi bulanan selesai. Target tercapai. Tidak istimewa. Tidak buruk. Bujang tersenyum. “Yang penting aman.”
Ia merasa lega. Tidak ditegur. Tidak dipuji. Tidak disorot.
Aman.
Tapi lalu bercabang:
→ “Tidak usah ambil risiko.”
→ “Tidak usah ambil tanggung jawab tambahan.”
→ “Jangan terlalu menonjol.”
→ “Kerjakan sesuai standar saja.”
Dan pelan-pelan, pertumbuhan berhenti.
Satu keinginan: “Ingin aman.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Menghindari tantangan.
→ Menolak belajar hal baru.
→ Tidak upgrade skill.
→ Tidak berani berbeda.
→ Stagnan.
Lalu muncul pikiran lain: “Perusahaan tidak memberi kesempatan.” Padahal kesempatan datang dalam bentuk tantangan kecil yang ditolak.
Bujang mulai membayangkan: “Kerja begini saja sampai pensiun.” “Yang penting stabil.” “Tidak usah ribet.”
Ia merasa tenang. Tapi diam-diam, semangatnya menurun.
Hari-harinya terasa sama. Tidak buruk. Tapi tidak berkembang.
Dan waktu berjalan.
Suatu sore Ahmad berkata: “Jang, aman itu penting. Tapi kalau terlalu lama diam di tempat yang sama, bukan lagi aman.
Itu pelan-pelan mundur.” Bujang tertawa. “Mundur bagaimana? Kan masih kerja.”
Ahmad menjawab: “Kalau kemampuanmu tidak bertambah, sementara dunia bergerak, itu mundur tanpa terasa.”
Bujang terdiam.
Zona nyaman tidak terasa seperti kesalahan. Karena tidak ada konflik. Tidak ada risiko. Tidak ada tekanan. Tapi ada satu hal yang perlahan hilang: Potensi.
Setan tidak selalu menyuruh kita jatuh. Kadang ia membuat kita cukup nyaman untuk tidak naik. Keinginan untuk aman
jika tidak disadari bisa membuat kita berhenti bertumbuh.
Allah berfirman:
Keinginan: “Ingin aman.”
Jika tidak disadari:
→ Menghindari tantangan.
→ Tidak belajar hal baru.
→ Tidak mengambil tanggung jawab.
→ Produktivitas stagnan.
→ Menyalahkan keadaan.
Padahal awalnya hanya ingin tenang.
SENSOR 1
Apakah saya menolak tugas baru karena tidak mau repot?
SENSOR 2
Sudah berapa lama skill saya tidak bertambah?
SENSOR 3
Apakah saya merasa cukup hanya karena tidak ditegur?
SENSOR 4
Apakah saya berkembang, atau hanya bertahan?
Tidak perlu lompat besar.
Cukup:
✔ Ambil satu tanggung jawab baru kecil.
✔ Pelajari satu skill baru bulan ini.
✔ Minta feedback dari atasan.
✔ Evaluasi diri secara jujur.
Pertumbuhan tidak harus dramatis.
Tapi harus konsisten.
Pejamkan mata.
Dalam 6 bulan terakhir:
• Apa yang benar-benar baru yang Anda pelajari?
• Apakah Anda berkembang atau hanya mengulang pola yang sama?
Tidak perlu menyalahkan diri.
Cukup jujur.
Setelah membaca ini:
✔ Pilih satu area kerja yang ingin ditingkatkan.
✔ Jadwalkan belajar 30 menit minggu ini.
✔ Ambil satu tugas yang sedikit menantang.
Kecil.
Tapi bergerak.
Beberapa hari kemudian, ada proyek kecil yang tidak populer.
Bujang hampir berkata: “Bukan bagian saya.”
Tapi kali ini ia berhenti.
Ia sadar. Ia berkata: “Baik, saya coba ambil.”
Ahmad tersenyum. “Zona nyaman itu seperti kursi empuk.
Kalau terlalu lama duduk, sulit berdiri.”
Bujang tertawa kecil. Ia belum berubah drastis.
Tapi ia mulai bergerak. Dan bergerak lebih baik daripada diam aman.
Alhamdulillah kita bisa menyadari hal berikut ini,
Keinginan untuk aman
→ jika tidak disadari
→ menjadi stagnasi
→ menjadi penolakan tantangan
→ menjadi alasan
→ menjadi karakter pasif
Padahal aman sejati adalah bertumbuh dengan sadar. Kalau begitu, mulai hari ini sadar, bertumbuh, menerima tantangan, simpan alasan dan jadi karakter aktif. Inilah upaya memberdayakan diri agar semakin baik.





















