Semangat pagi semuanya. Setelah berlatih napas, berikut ini melangkah proses berikutnya yaitu bertanya kepada diri sendiri. Ikuti panduannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebenarnya hampir tidak pernah berhenti bertanya. Bahkan ketika kita sedang diam, pikiran kita tetap aktif. Di dalam kepala kita, berbagai pertanyaan muncul silih berganti. Kadang pertanyaan itu muncul ketika kita melihat sesuatu, mendengar cerita orang lain, atau mengalami suatu peristiwa dalam hidup.
Tanpa disadari, kehidupan batin manusia sering dipenuhi oleh percakapan dengan dirinya sendiri. Kita bertanya dalam hati: mengapa ini terjadi? Mengapa orang lain seperti itu? Mengapa hidup saya tidak seperti yang saya inginkan? Apa yang akan terjadi nanti? Bagaimana jika semuanya tidak berjalan dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul begitu saja. Namun ada sesuatu yang sangat penting yang jarang kita sadari: tidak semua pertanyaan membawa pikiran kita ke arah yang sehat.
Ada pertanyaan yang membuka jalan menuju pemahaman yang lebih luas. Namun ada juga pertanyaan yang justru membuat hati menjadi gelisah, pikiran menjadi sempit, dan emosi menjadi tidak stabil. Karena itu, setelah seseorang belajar untuk diam sejenak dan melatih napas yang tenang, langkah berikutnya yang sangat penting adalah melatih cara bertanya kepada diri sendiri dengan baik.
Cara kita bertanya sangat menentukan arah pikiran kita. Jika pertanyaannya keliru, pikiran bisa terjebak dalam perbandingan, kecemasan, atau ketidakpuasan. Namun jika pertanyaannya baik, pikiran justru akan bergerak menuju solusi, hikmah, dan kebaikan. Inilah kekuatan dari sebuah pertanyaan.
“Maka apakah mereka tidak berpikir?”
(QS. Al-A’raf: 184)
Pertanyaan dalam ayat ini bukan sekadar kalimat biasa. Ia adalah ajakan untuk merenung. Ia menggerakkan pikiran manusia agar tidak berhenti pada permukaan, tetapi melihat sesuatu dengan lebih dalam.
Ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang baik dapat membuka jalan menuju kebijaksanaan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, sering kali manusia justru terjebak pada pertanyaan yang kurang sehat.
Mungkin muncul pertanyaan seperti:
“Kenapa dia bisa kaya?”
“Atau… kenapa saya tidak seperti dia?”
“Atau… apakah saya bisa menjadi seperti itu?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini terlihat wajar. Namun sering kali ia membawa pikiran menuju arah yang tidak sehat. Ia bisa memicu rasa iri. Ia bisa membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Ia bahkan bisa menimbulkan rasa tidak puas terhadap keadaan kita sendiri.
Padahal ada cara lain yang jauh lebih sehat untuk merespons keadaan seperti itu. Kita bisa melatih diri menggunakan pola pertanyaan yang lebih baik.
Salah satu pola sederhana adalah dengan menyusun pertanyaan yang terdiri dari empat unsur: kata “saya”, kata “bagaimana”, kata kerja, dan kata “sekarang”. Misalnya ketika melihat seseorang yang kaya, kita bisa bertanya:
“Bagaimana saya bisa mengambil hikmah dari orang tersebut sekarang?”
Perhatikan bagaimana pertanyaan ini mengubah arah pikiran.
Kita tidak lagi sibuk membandingkan diri. Kita tidak lagi memikirkan hal-hal yang membuat hati menjadi sempit. Sebaliknya, pikiran kita justru diarahkan untuk mencari pelajaran yang baik. Mungkin kita mulai berpikir tentang kerja keras orang tersebut. Mungkin kita mulai berpikir tentang disiplin yang ia miliki. Mungkin kita melihat sikap positif yang bisa kita tiru. Dengan satu perubahan kecil dalam cara bertanya, arah pikiran kita berubah.
Pertanyaan yang baik membantu pikiran bergerak menuju hikmah dan inspirasi. Inilah sebabnya mengapa cara bertanya sangat penting dalam kehidupan seseorang.
Beliau bersabda:
“Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR. Tirmidzi)
Pertanyaan yang tidak sehat sering kali termasuk dalam hal yang tidak bermanfaat. Ia hanya membuat pikiran sibuk tanpa menghasilkan sesuatu yang baik.
Sebaliknya, pertanyaan yang baik membantu seseorang fokus pada hal yang benar-benar membawa manfaat. Dalam refleksi psikologi emosi, cara seseorang bertanya kepada dirinya sendiri sangat memengaruhi keadaan mentalnya.
Jika seseorang terus-menerus bertanya dengan cara yang negatif, pikirannya akan terbiasa mencari hal-hal yang buruk. Namun jika seseorang membiasakan diri bertanya dengan cara yang positif, pikirannya akan terlatih untuk mencari solusi. Otak manusia sebenarnya memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia selalu berusaha menjawab pertanyaan yang kita berikan kepadanya.
Jika kita bertanya, “Kenapa hidup saya sulit?” pikiran akan mulai mencari berbagai alasan yang memperkuat perasaan itu. Namun jika kita bertanya, “Apa yang bisa saya pelajari dari keadaan ini sekarang?” pikiran akan mencari pelajaran yang bisa diambil.
Perubahan kecil dalam cara bertanya dapat menghasilkan perubahan besar dalam cara kita memandang kehidupan. Kita bisa melihat contoh kebijaksanaan ini dalam kisah Nabi Yusuf. Ketika Nabi Yusuf menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya—dikhianati oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, bahkan dipenjara—beliau tidak tenggelam dalam pertanyaan yang membuat hati semakin sempit.
Beliau tidak bertanya, “Mengapa hidupku seperti ini?” Sebaliknya, ia tetap menjaga hubungannya dengan Allah dan menjalani setiap keadaan dengan kesabaran. Pada akhirnya, dari perjalanan yang penuh ujian itu, Allah mengangkatnya menjadi pemimpin yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
Allah berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua keadaan dapat kita pahami dengan cepat. Kadang kebaikan tersembunyi di balik peristiwa yang tampak tidak menyenangkan.
Namun untuk menemukan kebaikan itu, kita perlu memiliki cara berpikir yang sehat. Dan salah satu langkah kecil yang dapat membantu kita mencapainya adalah melatih pertanyaan yang baik kepada diri sendiri. Setelah belajar diam, lalu melatih napas yang tenang, kita bisa melanjutkan dengan latihan kecil ini. Setiap kali pikiran dipenuhi oleh pertanyaan, cobalah berhenti sejenak.
“Bagaimana saya bisa melakukan sesuatu yang baik sekarang?”
Pertanyaan seperti ini hampir selalu membawa pikiran menuju arah yang positif.
Ia membuat kita fokus pada tindakan yang bisa dilakukan saat ini. Ia membuat kita melihat kemungkinan kebaikan di sekitar kita. Dan perlahan-lahan, cara berpikir kita menjadi lebih sehat. Pada akhirnya, perjalanan menuju kebijaksanaan sering dimulai dari hal-hal kecil seperti ini.
Dari diam yang memberi ruang bagi kesadaran.Dari napas yang menenangkan hati. Dan dari pertanyaan yang mengarahkan pikiran menuju kebaikan. Jika latihan-latihan kecil ini dilakukan secara konsisten, sedikit demi sedikit kita akan merasakan perubahan dalam diri kita.
Hati menjadi lebih tenang. Pikiran menjadi lebih jernih. Dan kita menjadi lebih bijak dalam memandang kehidupan. Karena sering kali, hidup tidak berubah hanya karena keadaan luar. Hidup berubah karena cara kita memandang dan merespons setiap keadaan.
Dan semuanya bisa dimulai dari satu langkah sederhana: belajar bertanya dengan baik kepada diri sendiri.
Demikian apa yag mesti kita lakukan, bertanya itu mudah dan bisa jadi tidak mudah untuk bertanya yang mengundang kita berpikir jernih. Berlatih saja, kemudahan itu selalu menyertai. Sekali lagi in upaya agar kita mudah menjadi sadar. Terus lakukan latihan untuk memberdayakan diri agar bertumbuh hari ini.









