Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Jumat, Februari 20, 2026

Strategi Cerdas — Bertahan dengan Nilai atau Pergi dengan Terhormat

Semangat pagi semua, Insya Allah kabarnya baik dan bersemangat. Semangat dapat memberi dorongan kerja yang baik, dimana semangat itu didukung dengan fisik dan jiwa yang sehat. Berharap setiap hari selalu ada kebaikan buat semua. 

Setelah evaluasi rasional, kini saatnya menentukan strategi.

Bukan soal benar atau salah. Tapi soal apa yang paling bijak untuk kondisi hidupmu saat ini.

Jika Memilih Bertahan, 

Bertahanlah, bukan berarti pasrah.
Bertahan harus dengan strategi.

1. Lakukan Negosiasi Terstruktur

  • Siapkan data kontribusi.
  • Siapkan benchmark gaji pasar.
  • Ajukan kenaikan dengan proposal konkret.
  • Minta timeline jelas.

Jika manajemen tidak bisa memberi angka, minimal minta roadmap.

2. Naikkan Nilai Dirimu

Jangan hanya mengandalkan perusahaan.

  • Ambil sertifikasi.
  • Perluas network.
  • Bangun personal branding.
  • Ikut proyek lintas fungsi.

Jadikan perusahaan sekarang sebagai “ladang belajar”, bukan penjara.

3. Siapkan Plan B

Meski memilih bertahan, tetap:

  • Update CV.
  • Bangun koneksi.
  • Lihat peluang pasar.

Ini bukan pengkhianatan. Ini manajemen risiko hidup.

Jika Memilih Pindah,

Keputusan pindah harus matang.

1. Jangan Lompat Tanpa Pegangan

  • Pastikan ada tawaran konkret.
  • Pastikan kenaikan signifikan.
  • Evaluasi budaya perusahaan baru.

Pindah karena emosi sering berakhir penyesalan.

2. Jaga Reputasi

  • Resign secara profesional.
  • Beri waktu transisi.
  • Jangan bakar jembatan.

Dunia profesional itu kecil.

3. Upgrade Diri Sebelum Pergi

Kadang yang perlu dilakukan bukan resign langsung,
tapi upgrade 6–12 bulan, lalu pindah dengan nilai lebih tinggi.

Itu jauh lebih strategis.

Dari 3 tulisan hari ini, Loyalitas Itu Mulia, Tapi Hidupmu Lebih Penting

Loyalitas adalah nilai baik.
Tapi loyalitas tanpa pertumbuhan adalah pengorbanan sepihak.

Kamu bekerja bukan hanya untuk perusahaan.
Kamu bekerja untuk masa depan hidupmu.

Bertahan atau pergi?

Jawabannya bukan di perusahaan.
Jawabannya ada di:

  • Apakah kamu masih berkembang?
  • Apakah kamu dihargai?
  • Apakah masa depanmu membaik?

Karena pada akhirnya,
karier bukan soal berapa lama kamu tinggal.
Tapi seberapa jauh kamu tumbuh.

Insya Allah 3 tulisan dari pagi, siang dan sore ini dapat mencerahkan dan membuka wawasan dalam meniti karir dalam kerja. Tak ada yang peduli dengan kita kecuali kita sendiri. Oleh sebab itu selalu berdayakan diri dengan motivasi yang kuat untuk menjadikan diri memiliki kemampuan tinggi dan berintegritas tinggi, apapun pilihan kita bertahan atau pergi.


Bertahan atau Pergi?

 Semangat pagi semuanya, Insya Allah masih selalu dimampukan berpikir sehat dalam menentukan pilihan hidup. Semanggat kerja itu bukan sekedar gaji, tapi integritas dan kemampuan yang bertumbuh semakin baik. Kali ini tulisan saya jauh ingin mengajak kita memahami kondisi kita dan mengambil keputusan yang bijak. Apapun keputusan itu ... mesti kita hormati dan mempertanggung jawabkannya. Bila perlu koreksi, memang itu yang diperlukan menjadi semakin baik.
 
Cara Mengevaluasi dengan Rasional
Pada tulisan sebelumnya, saya membahas realitas pahit tentang loyalitas yang tak selalu sebanding dengan kesejahteraan.
Sekarang pertanyaannya:


Bagaimana cara memutuskan dengan kepala dingin?
Karena ini bukan hanya soal gaji. Ini soal masa depan hidup.
1. Evaluasi 3 Hal Penting: Finansial, Karier, dan Mental
    A. Aspek Finansial
    Tanyakan dengan jujur:

    • Apakah gaji saya jauh di bawah standar pasar?
    • Apakah perusahaan punya kemampuan realistis untuk menaikkan kompensasi?
    • Apakah saya punya ruang negosiasi?
    Jika perusahaan memang sehat secara finansial tapi tidak                melakukan penyesuaian, itu masalah kebijakan.
    Jika perusahaan memang stagnan dan margin tipis, maka                kemungkinan besar ruang kenaikan sangat kecil.
    B. Aspek Karier
         Renungkan:
    • Apakah saya masih belajar?
    • Apakah skill saya berkembang?
    • Apakah saya punya exposure baru?
    • Apakah posisi saya stuck tanpa arah?
        Jika 5 tahun terakhir tidak ada perkembangan berarti, itu                sinyal serius.
        Karena yang paling berbahaya bukan gaji rendah.
        Tapi skill yang tidak naik level.
    C. Aspek Mental dan Energi Hidup
         Ini sering diabaikan.
        Apakah kamu:
    • Datang kerja tanpa motivasi?
    • Merasa undervalued?
    • Mulai sinis terhadap perusahaan?
    • Merasa “terjebak”?
        Energi mental yang terkuras bertahun-tahun bisa     
        berdampak besar pada kesehatan dan keluarga.


2. Jangan Lupa: Faktor Usia dan Market Value
     Semakin lama bekerja di satu tempat tanpa exposure                        berbeda, semakin sulit berpindah.
     Pasar kerja menilai:

    • Skill aktual.
    • Adaptabilitas.
    • Relevansi pengalaman.
      Bukan lama kerja semata.
      Kalau kamu sudah 10–15 tahun di satu perusahaan tapi skill              stagnan, pindah justru akan semakin sulit jika ditunda.


3. Tes Sederhana: Jika Perusahaan Tutup Besok
    Coba jawab dengan jujur:
    Jika perusahaan ini tutup besok,

    • Apakah saya siap di pasar kerja?
    • Apakah CV saya kompetitif?
    • Apakah saya punya jaringan?
    Jika jawabannya tidak, maka yang perlu dilakukan bukan                    langsung resign — tapi mulai membangun kembali nilai diri.

4. Kapan Bertahan Masih Masuk Akal?
     Bertahan masih rasional jika:

    • Perusahaan punya roadmap pertumbuhan jelas.
    • Ada pembicaraan konkret tentang kenaikan kompensasi.
    • Kamu masih belajar dan berkembang.
    • Lingkungan kerja sehat.
    • Kamu punya strategi internal (misalnya promosi, rotasi, atau proyek baru).
    Jika tidak ada satu pun dari itu, maka bertahan tanpa                        strategi hanyalah memperpanjang stagnasi.
  
Pada tulisan selanjutnya, saya membahas:
  • Jika memilih bertahan, bagaimana caranya agar tetap untung?
  • Jika memilih pindah, bagaimana strategi aman dan elegan?
  • Dan bagaimana menjaga reputasi profesional.
Insya Allah tulisan ini dapat memberi gambaran dalam mengambil keputusan. Tapi singkatnya, kadang ada orang yang sensitif hatinya. Maka saat sudah tidak nyaman dan mengganggu hati, apalagi soal iman ... pilihan terbaik adalah curhat kepada Allah dan cenderung resign. Bagi siapapun jangan kita "mengemis" untuk gaji kita dengan mengorbankan hati, apalgi soal iman. Mampukan diri dan selalu berdayakan diri dengan update wawasan agar mampu memotivasi diri dengan benar.

Loyalitas Tidak Selalu Dibayar dengan Keadilan

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah semua dalam keadaan sehat dan mampu mengerjakan pekerjaan hari dengan baik. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang loyalitas kerja atau ada yang bilang loyalitas kepada atasan dan perusahaan.



Sepertinya memang kata loyalitas ini sangat diperlukan dalam dunia kerja. Atasan sangat berharap memiliki team yang loyal sehinggan mampu membangun kinerja yang produktif dan berkesinambungan. Bagus sih, tapi dari sisi karyawannya bisa jadi nggak bagus. Loyal sering ditafsirkan sebagai "nurut", nggak salah tapi jangan sampai nurut tanpa ilmu. Disinilah yang menjadi konflik atau bahkan konflik batin seorang karyawan. Karyawan sih mau aman saja dan yang penting kerja sehingga kadang memang bener-bener nurut maunya atasan atau perusahaan. Kalau nggak nurut, tahu sendiri resikonya. Tapi karyawan kan butuh untuk bertumbuh menjadi karyawan yang berilmu dan memiliki integritas. Kejadian seperti ini pernah dialami semua orang, termasuk atasan.  Bagaimana dengan Anda ?? 

Sikap apa yang diambil ? Sangat bergantung integritas seseorang bisa jadi nurut terus agar kerjaan aman, yang berarti karyawannya sangat bergantung kepada atasan atau perusahaan. Lalu apakah aman seterusnya ? Tidak juga. Semua relatif dan bisa berubah kapan saja, baik atasan atau karyawannya. Berikut ini ini sisi lain dari loyalitas. 

Banyak karyawan generasi lama dibesarkan dengan nilai:

  • Kerja keras.
  • Tahan banting.
  • Loyal pada satu perusahaan.
  • Tidak mudah pindah.

Dulu, pola ini masuk akal. Masa kerja panjang biasanya berarti:

  • Kenaikan gaji bertahap.
  • Jabatan meningkat.
  • Stabilitas finansial.
  • Penghargaan atas loyalitas.

Namun realitas dunia kerja sekarang berbeda.

Banyak perusahaan:

  • Tidak punya sistem penyesuaian gaji yang sehat.
  • Tidak melakukan benchmarking pasar secara rutin.
  • Lebih mudah menaikkan gaji karyawan baru daripada menyesuaikan karyawan lama.

Akibatnya?
Karyawan lama justru tertinggal dari karyawan baru. Sampai sini banyak terjadi di banyak perusahaan, apalagi perusahaannya adalah perusahaan keluarga. 

Dampak lain adalah produktivitas dan konflik terjadi yang berujung kepada kinerja yang tidak sehat, hanya terlihat sehat saja. 

Kontribusi Besar, Tapi Perusahaan tidak berkembang

Ada kondisi yang lebih kompleks lagi.

Seorang karyawan bisa saja:

  • Sudah bekerja 8–15 tahun.
  • Menjadi tulang punggung operasional.
  • Menyelesaikan banyak masalah.
  • Mengorbankan waktu dan energi.

Namun perusahaan tetap:

  • Tidak berkembang signifikan.
  • Tidak naik kelas.
  • Tidak mampu memberi peningkatan kesejahteraan.

Di titik ini, muncul kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga mental.

Muncul pertanyaan internal:

“Saya sudah kasih banyak untuk perusahaan ini. Tapi hidup saya kok begini-begini saja?”

Dan itu pertanyaan yang valid.

Tanda-Tanda Kamu Sedang Tidak Proporsional

Beberapa indikator yang perlu direnungkan:

  • Gaji naik sangat lambat dibanding inflasi.
  • Karyawan baru dengan tanggung jawab sama dibayar lebih tinggi.
  • Tidak ada jenjang karier jelas.
  • Perusahaan tidak transparan soal kinerja finansial.
  • Kamu merasa sulit berkembang secara skill maupun exposure.
  • Kamu mulai kehilangan semangat, bukan karena malas, tapi karena merasa stagnan.

Kalau lebih dari 3 poin ini kamu alami, mungkin ini bukan sekadar “fase jenuh”.

Ini bisa jadi sinyal struktural.

Jangan Langsung Emosional

Kesalahan paling umum adalah langsung mengambil keputusan ekstrem:

  • Resign mendadak.
  • Atau sebaliknya, pasrah total dan bertahan tanpa strategi.

Padahal, keputusan pindah atau bertahan harus berbasis pada evaluasi rasional, bukan kekecewaan sesaat.

Di seri berikutnya, kita akan membahas:

  • Apa saja yang perlu dievaluasi sebelum memutuskan?
  • Bagaimana menilai apakah perusahaan masih layak diperjuangkan?
  • Dan kapan tanda bahwa kamu harus mulai menyiapkan exit strategy?
Apapun pilihannya, pastikan setiap karyawan mampu berkembang dengan baik, secara ilmu dan integritas. Jika hal ini dapat dijalankan, maka karyawan mesti banyak menahan "emosional" yang sering mengganggu kinerjanya.

Insya Allah paling tidak tulisan menyadarkan kondisi yang terjadi dan membuka wawasan untuk bisa menentukan pilihan bagi karir kerja yang semakin baik. Kalau tidak memberdayakan diri sendiri, siapa lagi ? Teruslah memotivasi diri dengan motivasi yang kuat ... motivasi bersandarkan iman agar kokoh dan solutif.

Kamis, Februari 19, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semuanya. Berterima kasihlah kita masih kerja, karena itu adalah kebaikan dari Allah. Oleh sebab itu menjadi pantas kita mempertunjukkan kerja yang produktif. Insya Allah.

Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas.


Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.


Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah 
cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi.

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Kita Fokuskan hal berikut :

  • Ambisi karier, jabatan, dan penghasilan
  • Batas antara ambisi yang halal dan nafsu yang merusak
  • Pergeseran mindset: dari “memiliki” ke “dipercaya”

Contoh konkret dunia kerja:

  • Target, bonus, promosi
  • Etika, kejujuran, dan keberkahan

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. 

Menjadi pantas kita menyiapkan iman dan ilmu agar ambisi, karir dan amanah itu menjadi teman yang bersahabat.


Insya Allah dengan pemahaman di atas, kita menjadi semakin bertumbuh lebih baik. Pemberdayaan diri menjadi kunci yang mesti kita lakukan agar iman dan kerja itu berbarengan.

Nafsu yang Dirahmati Allah Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi semua, semakin hari semakin "menua" kita bekerja. Ada kata semakin berpengalaman tapi keadaan tidak seiring. Insya Allah dengan meluruskan semua yang kita lakukan ini dapat memberi makna yang lebih baik.

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.

Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.


Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan 
kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Ada hal mesti kita Fokuskan :

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi.or

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Menjadi semakin baik jika Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah, kita memiliki kemampuan dan dimampukan Allah dalam merawat nafsu dan keinginan. Ini adalah memberi motivasi dan semangat agar menjadi semakin baik

Nafsu dalam Dunia Kerja : Masalah atau Potensi ?

Semangat pagi semuanya, kerja adalah bagian dari hidup kita. Kalau ada harapan dari kerja kita, maka sudah semestinya kita mewujudkannya menjadi kerja nyata. Kali ini bicara nafsu kerja, kurang lebih nafsu ditafsirkan keinginan. Mengapa saya tulis nafsu ? Karena memang kadang kata nafsu cenderung tidak baik dan menjadi netral saat kita bilang keinginan.

Banyak dari kita bekerja bukan karena ingin masuk surga, tetapi karena ingin hidup layak. Kita ingin gaji, keamanan, dan masa depan. Keinginan itu sering dicurigai sebagai nafsu dunia yang harus ditekan. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mematikan nafsunya—yang Allah kecam adalah nafsu yang dibiarkan tanpa arah. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah justru membuka ruang bahwa ada nafsu yang dirahmati-Nya. Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah bekerja demi uang itu salah?”, melainkan “ke mana arah nafsu itu kita bawa?”

Tidak banyak dari kita yang bangun pagi dengan niat mulia ingin mengabdi kepada semesta. Kebanyakan bangun karena alarm, tanggung jawab, dan tagihan yang menunggu dibayar. Kita bekerja karena perlu. Karena ingin hidup lebih baik. Karena takut kekurangan. Dalam kejujuran sunyi itu, ada satu dorongan yang sering kita sembunyikan: keinginan akan uang dan materi. Dan sering kali, keinginan itu kita curigai sebagai sesuatu yang kotor.


Seorang karyawan pernah berkata lirih, “Saya ingin kerja yang berkah, tapi jujur saja, saya kerja karena gaji.” Kalimat itu terdengar bersalah, seolah niat mencari nafkah harus disamarkan dengan bahasa yang lebih suci. Padahal, justru di sanalah letak kejujuran manusia. Islam tidak dibangun di atas kepura-puraan niat, melainkan pengakuan atas kondisi jiwa. Apakah ini juga menjadi sebagian dari kisah Anda ??

Berikut ini kita bahas, Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap realitas ini. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia memang cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini tidak sedang mengutuk keberadaan nafsu, tetapi menjelaskan sifat alaminya jika dibiarkan tanpa arah.

Masalahnya bukan pada bekerja demi uang. Masalahnya adalah ketika uang menjadi tuhan, bukan alat. Ketika nafsu bekerja tidak lagi berada dalam kendali nilai, maka ia menyeret manusia kepada kecurangan, keserakahan, dan kezaliman. Namun ketika nafsu itu disadari, dijaga, dan diarahkan, ia justru menjadi energi yang besar.

Pertanyaan awalnya bukan “bolehkah bekerja karena uang?”, tetapi “ke mana nafsu itu kita bawa?”. Dari sinilah perjalanan memahami nafsu dimulai.

Fokus kita dalam kerja diantaranya :

  • Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
  • Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
  • Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”

Berpegang kepada Ayat kunci ini :

  • QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk, tapi ada nafsu yang 

“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Jadi alangkah bijaknya kita meluruskan nafsu dan keinginan menuju jalan Allah.

Insya Allah ... nafsu dan keinginan itu mesti diback up dengan iman yang cukup dan dilatih untuk mampu menyikapinya dengan benar.

Rabu, Februari 18, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang nafsu dalam kerja. Kali ini ngebahas ambisi, karir dan keterkaitannya dengan amanah.



Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas. Setiap orang ingin berkembang. Naik jabatan. Diakui. Dihargai. Ambisi ini sering dianggap bertentangan dengan kesalehan. Namun tanpa ambisi, manusia berhenti bertumbuh.

Ada orang yang mengejar jabatan demi gengsi. Ada pula yang menerimanya dengan rasa takut, karena tahu semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban. Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.

Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi. Islam tidak memusuhi ambisi. Yang diuji adalah niat dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Ia membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih rakus.

Dalam dunia kerja, karier adalah medan ujian:

  • apakah kita adil saat punya kuasa
  • apakah kita tetap rendah hati saat dipuji
  • apakah kita melindungi yang lemah

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. Ambisi yang diserahkan kepada Allah tidak mengecilkan jiwa, justru mendewasakannya


Insya Allah kita diberikan cahaya dari sisi Allah dalam memahami ambisi dan karir sebagai amanah dari Allah. Hati-hati dengan keinginan sesaat, maka perlu sadar kepada Allah. 

Featured post

Strategi Cerdas — Bertahan dengan Nilai atau Pergi dengan Terhormat

Semangat pagi semua, Insya Allah kabarnya baik dan bersemangat. Semangat dapat memberi dorongan kerja yang baik, dimana semangat itu didukun...