Semangat pagi semua. Insya Allah, hari ini bisa menjadikan saya semakin semangat untuk menulis apa yang pernah saya alami, untuk diambil hikmahnya. Dan pengalaman ini bisa saya berbagi agar tidak hilang begitu saja.
Saya mulai dari judul rindu ditengah target, rindu sesuatu yang tak tahu dari mana, tapi ada dan mendorong saya melakukan sesuatu.
Kisah: Malam yang Tidak Biasa
Jam menunjukkan pukul 20.47. Layar laptop masih menyala. Spreadsheet penuh angka. Grafik performa naik-turun. Notifikasi email terus berdatangan.
Target bulan ini hampir tercapai. Produktivitas stabil.
Atasan tidak komplain. Tim berjalan normal.
Secara profesional, semuanya baik-baik saja. Namun ada yang tidak bisa dijelaskan. Ada rasa lelah yang bukan fisik.
Ada kosong yang bukan karena kurang tidur.
Ada pertanyaan yang tidak tercantum dalam KPI:
“Untuk apa semua ini?” Ia bukan orang yang malas.
Ia bukan pembangkang. Ia bukan ingin resign.
Ia hanya merasa… tidak terisi.
Setiap hari bangun, bekerja, menyelesaikan tugas, meeting, laporan, evaluasi.
Ritme yang sama. Prestasi yang sama. Tekanan yang sama.
Namun hati seperti kehilangan arah.
Suatu malam, tanpa rencana panjang, ia membuka Al-Qur’an.
Bukan untuk kajian. Bukan untuk konten. Bukan untuk diskusi.
Hanya untuk membaca.
Ayat-ayat awal Al-Baqarah terbaca perlahan.
Tentang orang bertakwa.Tentang orang yang menolak. Tentang hati yang sakit.
Dan tiba-tiba ia terdiam.
“Bagaimana kalau hatiku yang sedang kosong ini bukan karena kerja… tapi karena aku menjauh dari petunjuk?”
Tidak ada suara petir. Tidak ada air mata dramatis. Hanya rasa rindu yang muncul pelan.
Rindu pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar target.Malam itu tidak ada yang istimewa. Tidak ada kajian besar.
Tidak ada peristiwa yang mengguncang hidup.
Tidak ada masalah besar yang memaksa untuk berubah.
Hanya sebuah mushaf yang terbuka di meja kecil.
Ayat-ayat awal Al-Baqarah terbaca pelan.
Tentang orang bertakwa.Tentang orang kafir. Tentang orang munafik.
Dan tiba-tiba muncul pertanyaan yang tidak nyaman:
“Bagaimana kalau hatiku perlahan mengeras tanpa aku sadari?” Tidak ada yang menuduh.Tidak ada yang menunjuk. Tetapi ada rasa gelisah yang lembut.
Setiap ayat terasa seperti cermin. Bukan untuk orang lain.Untuk diri sendiri.
Ada rindu untuk membaca lagi.
Dan ada rasa bahwa diri ini belum baik-baik saja.
Bukan karena putus asa. Tetapi karena sadar.
Dan di situlah semuanya dimulai.

Ketika Rindu dan Kesadaran Bertemu
Produktif, Tapi Tidak Bertumbuh. Dunia kerja modern mengajarkan satu hal:
Produktif = Berhasil.
Semakin banyak output, semakin tinggi nilai. Semakin sibuk, semakin dianggap penting.
Namun jarang ada yang bertanya: Apakah produktivitas itu membuat hati bertumbuh? Atau justru membuatnya kering?
Banyak karyawan yang lelah bukan karena beban kerja.
Tetapi karena kehilangan makna.
Ia bekerja keras, tapi tidak tahu untuk siapa.
Ia mengejar target, tapi tidak tahu ke mana.
Ia naik jabatan, tapi hatinya tetap kosong.
Rindu kepada petunjuk Allah sering muncul justru di tengah kesibukan.
Karena hati manusia tidak bisa hidup dari angka saja.
Ia butuh arah. Ia butuh makna. Ia butuh hubungan dengan sesuatu yang lebih tinggi dari sekadar appraisal tahunan.Ada dua jenis perasaan yang sering disalahpahami: Rasa takut dan rasa rindu.
Takut bisa membuat orang menjauh. Rindu justru membuat orang mendekat.
Ketika seseorang membaca Al-Qur’an lalu ingin membaca lagi, itu bukan sekadar kebiasaan intelektual. Itu tanda hati menemukan sesuatu yang selama ini ia cari. Namun rindu kepada petunjuk sering datang bersama rasa tidak nyaman.
Karena ayat-ayat Allah bukan hanya memberi harapan.
Ia juga membuka luka. Ia menunjukkan:
•
Di mana kita menunda taat.
•
Di mana kita membela ego.
•
Di mana kita sibuk menilai orang lain.
•
Di mana kita belum sepenuhnya jujur.
Dan rasa “tidak baik-baik saja” itu sebenarnya karunia.
Karena hati yang mati tidak merasa terganggu.
Hati yang terkunci tidak merasa kurang.
Rindu pada petunjuk Allah adalah tanda bahwa hati masih hidup.
Kesadaran diri yang belum sempurna adalah tanda bahwa jiwa masih jujur.
Mengapa Rindu Itu Penting?
Hidayah bukan hanya tentang menemukan jalan. Ia tentang terus ingin berada di jalan itu. Ada orang yang tahu kebenaran, tetapi tidak rindu padanya.
Ada orang yang paham ayat, tetapi tidak ingin kembali membacanya.
Yang berbahaya bukan tidak tahu. Yang berbahaya adalah tidak lagi ingin tahu.
Rindu itu seperti magnet. Ia menarik seseorang kembali kepada:
•
Mushaf yang sama.
•
Doa yang sama.
•
Istighfar yang sama.
Dan setiap kali kembali, ada lapisan baru yang terbuka. Rindu membuat seseorang berkata: “Aku belum cukup. Aku ingin lebih dekat.”
Dan kalimat itu adalah bentuk kerendahan hati yang paling jujur.
Rindu Itu Bukan Tanda Lemah. Ketika membaca ayat-ayat Allah lalu ingin membaca lagi, itu bukan eskapisme.
Itu bukan lari dari kerja. Itu tanda bahwa jiwa sedang mencari keseimbangan.
Yang berbahaya bukan sibuk bekerja.
Yang berbahaya adalah sibuk tanpa kesadaran kepada Allah.
Ayat tentang hati yang dikunci terasa menampar pelan.
Karena mungkin hati tidak menjadi keras karena dosa besar.
Tetapi karena terlalu lama sibuk tanpa mengingat Allah.
Bekerja dari pagi sampai malam.
Meeting tanpa doa. Keputusan tanpa istikharah.
Strategi tanpa dzikir. Dan perlahan, hati menjadi mekanis.
Bekerja, tapi tidak merasa. Berhasil, tapi tidak bersyukur.
Lelah, tapi tidak tahu kenapa. Rindu kepada petunjuk adalah alarm yang lembut. Bukan untuk berhenti bekerja. Tetapi untuk mengembalikan arah.
Diam Sejenak
Sekarang, diamlah sejenak. Letakkan ponsel.
Tutup notifikasi. Tanya dalam hati:
Apakah saya bekerja hanya untuk target?
Apakah saya merasa kosong setelah pencapaian?
Apakah saya masih menikmati membaca ayat Allah tanpa tekanan?
Apakah aku masih merasa ada yang kurang ketika jauh dari ayat-ayat-Nya?
Apakah aku masih rindu membaca Al-Qur’an tanpa disuruh?
Apakah saya masih rindu duduk sendiri bersama-Nya?
Apakah aku masih gelisah ketika sadar melakukan kesalahan?
Jika jawabannya iya, maka hati itu belum mati.
Jika jawabannya tidak, maka jangan panik.
Karena rindu bisa dibangunkan kembali.
Diamlah.
Rasakan napas.
Sadari bahwa Allah masih memberi waktu.
Ketika Diri Terlihat “Tidak Baik-Baik Saja”
Saat membaca ayat, ia melihat dirinya.
Ia sadar:
• Kadang bekerja hanya demi pengakuan.
• Kadang kecewa berlebihan saat tidak dihargai.
• Kadang lupa bersyukur ketika berhasil.
• Kadang lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan keberkahan.
Ia tidak kafir.
Ia tidak munafik besar.
Tetapi ada penyakit kecil yang tumbuh pelan:
Ketergantungan pada validasi manusia.
Dan di situlah rindu itu berubah menjadi doa.
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku dari-Mu.”
Kesadaran bahwa diri belum baik-baik saja bukan hukuman.
Itu cahaya. Karena hati yang mati tidak merasa ada yang salah.
Tarik napas dalam.
Sadari bahwa Allah memberi pekerjaan itu. Allah memberi kemampuan berpikir. Allah memberi kesehatan untuk menyelesaikan tugas.
Dan mungkin Allah juga sedang memanggil agar pekerjaan itu tidak sekadar dunia.
Diamlah sebentar.
Biarkan rindu itu berbicara.
Just Do It Now
Rindu tidak boleh hanya menjadi perasaan. Ia harus diterjemahkan menjadi tindakan kecil.
Just do it now:
• Mulai rapat dengan doa sungguh-sungguh.
• Sisihkan 10 menit sebelum kerja untuk membaca satu halaman.
• Niatkan setiap tugas sebagai amanah dari Allah.
• Ucapkan “Alhamdulillah” ketika laporan selesai.
• Ucapkan “La haula wa la quwwata illa بالله” ketika merasa lelah.
•
Ambil mushaf dan baca satu halaman, bukan satu juz.
•
Duduk lima menit dan bicara kepada Allah tanpa skrip.
•
Istighfar sepuluh kali dengan kesadaran penuh.
•
Lakukan satu amal kecil yang tidak diketahui siapa pun.
Ubah cara bekerja, bukan pekerjaannya dulu. Karena masalahnya bukan selalu di kantor. Kadang masalahnya di arah hati.
Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu mood. Jangan tunggu waktu luang.
Hati dijaga oleh tindakan kecil yang diulang.
Jangan tunggu resign untuk menjadi dekat dengan Allah.
Jangan tunggu burnout untuk kembali membaca Al-Qur’an.
Jangan Takut dengan Kesadaran Diri, dan Bekerjalah Tanpa Kehilangan Jiwa
Anda tidak harus berhenti menjadi karyawan untuk menjadi hamba yang baik.
Anda bisa: Produktif dan bertakwa.
Berprestasi dan bersyukur. Disiplin dan tawakal.
Justru pekerjaan adalah ladang besar.
Setiap email bisa menjadi amanah. Setiap laporan bisa menjadi ibadah.
Setiap keputusan bisa menjadi jalan pahala.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah pekerjaan adalah tanda istimewa.
Karena tidak semua orang yang sibuk masih punya waktu untuk merasa kosong. Dan tidak semua yang merasa kosong masih ingin kembali.
Jika Anda merindukan petunjuk Allah saat bekerja,
itu bukan karena Anda gagal.
Itu karena Allah tidak ingin Anda tersesat dalam kesibukan.Perasaan “tidak baik-baik saja” bukan tanda kegagalan.
Itu tanda Allah sedang membuka pintu.
Lebih berbahaya merasa baik-baik saja ketika sebenarnya jauh.
Lebih berbahaya merasa aman ketika hati perlahan kering.
Jika Anda membaca ayat dan ingin membaca lagi — itu panggilan.
Jika Anda membaca ayat dan melihat kekurangan diri — itu cahaya.
Allah tidak memanggil hati yang sudah Ia biarkan.
Rindu itu adalah undangan.
Dan selama Anda merasakannya,
Anda sedang dalam perjalanan.
Ternyata ...Hati tidak tiba-tiba bercahaya.
Ia dinyalakan oleh rindu yang dijaga.
Dan rindu itu tidak boleh dibiarkan menjadi wacana.
Ia harus diikuti dengan langkah kecil.
Target bisa tercapai.
Karier bisa naik.
Gaji bisa bertambah.
Tetapi hati hanya tenang jika tahu untuk siapa ia bekerja.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah tekanan kerja bukan gangguan.
Itu penyelamat.
Dan selama Anda masih ingin membuka mushaf setelah menutup laptop,
hati Anda belum terkunci.
Ia sedang dipanggil.
Sekarang.
Insya Allah tulisan ini mampu memberdayakan diri untuk semakin baik, dan lihatlah dengan hati dan pikiran positif. Ada amanah dari Allah dalam hal ini, maukah kita mengikutinya ? Tak ada ruginya, just do it now. Inilah motivasi diri yang islami untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat