Semangat pagi semuanya. Insya Allah pagi mencerahkan kita semua dalam beraktivitas. Saya melanjutkan petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Menyadari dan mengantisipasinya dengan lebih baik.
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. (QS. [2] Al-Baqarah : 7)
Saya awali dengan obrolan berikut :
Mamat nyeletuk: “Kalau hati udah di-lock kayak HP lupa password, mau dikasih tausiyah 100 episode YouTube juga nggak masuk.”
Mira tersenyum, “Masalahnya bukan nggak dengar… tapi nggak mau jujur sama diri sendiri.”
Hikmahnya adalah
Kadang bukan kita tidak tahu yang benar.
Kita tahu. Tapi kita tidak mau mengakuinya.
Itulah yang disebut: “mereka tidak sadar.”
Padahal sadar. Tapi pura-pura tidak sadar. Itu awal hati mulai mati.
Ada kisah menarik seorang karyawan yang sudah lama bekerja, tapi kalau diberitahu suka ngeyel dan tidak paham-paham. Mengapa ini terjadi ? Ini bukan salah orang yang memberitahu, tapi orang yang dengernya. Nyata sih ini, bisa jadi kalau lihat seseorang bawaan sudah emosional aja. Kondisi ini membuat tidak mau berpikir apalagi pakai hati. Jadi apa yang didengar udah tidak masuk. Apakah kita seperti ini ? Ini terjadi karena memang Allah sudah mengunci hati, berpikir logis tak masalah tapi untuk mengambil maknanya tidak bisa. Misalkan membantu orang itu baik, semua orang tahu. Tapi ada orang yang bawaannya tidak mau bantu, apa untungnya buat saya ? Saya rugi dan dia untung. Di kantor pasti ada orang seperti ini. Apakah ia disenangi banyak rekan kerjanya ? Tidak pastinya. Lalu apakah dia paham ? Sangat paham, tapi itulah yang terjadi. Mau bilang apa ? Dicuekin aja karena dia masih karyawan. Alhasil team tidak bekerja maksimal. Ada seorang karyawan bilang,"banyak-banyak berdoa aja".
Sebenarnya yang terjadi itu dapat diambil hikmahnya. Apa hikmahNya ? Karena Allah Maha berkuasa dan berkehendak, maka kita mesti hati-hati dalam bertindak. semakin awal merenungkan apa yang kita kerjakan, apakah baik atau lebih baik ? Ini penting agar kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan dan kerjakan lagi itu bisa menjadi kebiasaan kita dan lama-lama menjadi karakter. Disinilah kalau sudah karakter tidak mudah diubah. Kata orang menunggu hidayah aja. Disinilah peran kita untuk selalu ada evaluasi kerja, bisa harian, bisa mingguan atau bulanan. Tanpa ada evaluasi kita menjerumuskan diri ke dalam karakter yang cenderung tidak baik. Kalaulah evaluasi itu belum mampu dilakukan, maka kita perlu berteman untuk dimintain masukannya. Atau sering-seringlah kita mendengar komentar dari orang lain atas apa kita kerjakan.
Kalau dari teladan nabi, setiap malam Nabi Muhammad saw selalu bermuhasabah dengan perbanyak istighfar sampai 100 kali. Istighfar ? Iya berarti nabi Muhammad saw tahu apa yang salah dan ingin memperbaikinya di hari berikutnya. Boleh dong kita meneladani Nabi, sebagai bentuk ketaatan.Jadi kita berharap ayat di atas sebagai peringatan, jangan sampai terjadi. hati yang telah dikunci Allah itu artinya sudah mati dan secara logis tidak bisa kembali kepada Allah. Dalam ilmu orang Jepang dengan manajemen PDCA, Cnya adalah cek. Cek sama dengan evaluasi, yaitu evaluasi cara kerjanya (Do) dan hasilnya. Dengan demikian kita dapat merencanakan perbaikan dengan Plan baru. Tak dengan banyak cara, cara inipun sudah paling mudah untuk selalu mengevaluasi kerja.
Sudah punya plan untuk bekerja hari ini ? kalau belum teruskan aja kerjanya, lalu hari berikutnya mulai dengan plan atau niat. Oke dong. pastilah Donya adalah kerja yang sesuai plan, sama halnya dengan kerja atau amal yang mesti sesual dengan niat. Cek berarti muhasabah cara kerja dan hasilnya, lalu Action lagi untuk perubahan. Semakin bener siklus PDCA ini dilakukan semakin tidak terbentuk kebiasaan yang tidak baik, apalagi karakter yang tidak menguntungkan kita.
Insya Allah selalu ada hikmah dari ayat ini, semakin hati seseorang terbuka, yang dibukakan Allah lewat pertolongannya, semakin banyak pula hikmah yang didapat. Jangan pernah bilang, ayat Al Qur'an itu begitu-begitu aja, baca aja tafsirnya. Yang terpenting ayat itu mesti relevan dengan keadaan sekarang, menyadarinya, mengevaluasi dan melakukan perbaikan. Dinamis sebagai orang beriman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar