Semangat pagi semuanya. Alhamdulillahirabbilalamin, hari demi hari saya lewati, ada kemudahan dan ada juga kesulitan. Perjalanan hidup saya semakin dekat kepada akhir. Dan menjadi baik untuk bertumbuh menjadi semakin baik. Hari ini saya menulis sebagai catatan belajar saya dari petunjuk Allah swt. Insya Allah segera saya amalkan.
Petunjuk Al Qur'an tidak dibuat bukan hanya untuk waktu diturunkannya, tapi untuk waktu yang terbatas sampai akhir zaman. Oleh sebab itu, saya belajar untuk menerapkan Al Qur'an dalam kehidupan saya saat ini.
Ketika ayat-ayat Al Qur'an berbicara tentang kita saat ini
Ketika Al-Qur’an diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu, ia berbicara kepada manusia yang hidup di padang pasir. Namun anehnya, ketika saya membaca ayat-ayat itu hari ini, sering terasa seperti sedang membaca komentar tentang kehidupan modern.
Seolah-olah Al-Qur’an memahami manusia lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri.
Ayat tentang orang yang merasa memperbaiki padahal merusak, misalnya, sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sekarang.
Di zaman saya saat ini, orang jarang mengaku berbuat salah. Hampir semua orang merasa sedang melakukan sesuatu yang baik. Bahkan ketika seseorang menyebarkan kebencian, ia bisa berkata bahwa ia sedang membela kebenaran. Ketika seseorang memfitnah orang lain, ia bisa berkata bahwa ia sedang memperingatkan masyarakat.
Kerusakan hari ini sering datang dengan wajah moral.Inilah yang dimaksud Al-Qur’an ketika menggambarkan orang yang berkata, “Kami justru orang-orang yang memperbaiki.”
Begitu juga saat saya merasa diri ini sudah banyak berbuat yang baik, tapi fakta hidup saat ini tidak menunjukkan tidak baik-baik saja. Kok bisa begitu ? Misalkan banyak orang mengaku sudah salat dan rutin, artinya tidak ada yang ditinggalkan. Sebagian orang masih berpersepsi bahwa salat itu membuat hidup berkecukupan (uang). Padahal tidak ada ayat menjelaskan langsung tentang hal itu. Yang ada, salat itu ibadah yang utama untuk mengingat Allah dan mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ini menjadi catatan saya untuk mendalami Al Qur'an.
Dalam surah Al Baqarah ada tema tentang orang kafir itu ingin menipu Allah dan orang beriman. Saya memikirkan lebih dalam tentang kata menipu, dulu saya membaca menipu hanya sampai batas menipu saja. Karena memang sudah begitu bagian dari sifat orang kafir. Ternyata setelah saya baca lagi beberapa ayat, saya menemukan hikmah buat adalah menipu bukan saja menipu orang lain (orang beriman), tapi menipu dirinya sendiri tanpa disadari. Mengapa begitu ? Apa yang terjadi saat orang menipu ? Orang itu berucap dan dia tahu secara sadar logika. Tapi tidak sadar secara hati. Disinilah orang yang menipu itu tidak sadar kepada Allah dan menipu dirinya sendiri.
Ternyata menipu itu adalah penyakit hati dan memang sumbernya di hati. Mengapa menipu diri sendiri ? Karena sesungguhnya diri itu adalah apa isi hati kita sendiri. Sedangkan sadar secara logika hanya memiliki kriteria yang cenderung menguntungkan diri sendiri. Dari sini saya mendapatkan catatan belajar tentang ayat ini :
- Allah mengajak saya untuk melihat isi hati saya, mengapa hati itu tidak berfungsi ???
- Dengan adanya tipu-menipu ini membuat saya semakin sadar mawas diri, bisa jadi ada celah untuk orang menipu. Mawas diri dan waspada itu perlu untuk memperbaiki diri saya sendiri.
- Hindari untuk menipu atau berbohong karena itu bukan sifat orang yang beriman dengan hati yang bersih.
- Allah menginginkan kita mensucikan hati bukan menjerumuskan hati kepada penyakit hati.
- Allah ingin mengajak untuk meningkatkan iman dengan hati yang lebih baik. Tak perlu langsung sempurna, tapi bertumbuh terus. Dengan bertumbuhnya iman dan hati yang semakin bersih, mampu membentengi diri dari orang yang suka menipu dengan sikap dan perilaku baik (tanpa perlu emosi, karena emosilah yang terpancing).
Insya Allah belajar saya ini mengarahkan perjalanan hati saya kepada Allah. Sekali lagi, dalam perjalanan ini tidak mudah karena selalu ada hambatan dan persoalan. Yang terpenting ada kesadaran diri untuk memahami apa yang terjadi dan segera memperbaikinya. Ini saya sebut langkah memberdayakan diri agar semakin bertumbuh dalam hidup ini yang semakin bermakna.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar