Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Kamis, Maret 12, 2026

Saat hati masih bertanya

Semangat pagi semuanya, Alhamdulillah selama bulan puasa ini banyak hal yang mulai pahami dengan benar. Belajar itu bertumbuh semakin banyak tahu dan diwujudkan dalam amal saleh.  Nah bisa jadi Anda paham tentang ridha dan ikhlas. Tulisan berikut ini untuk menambah wawasan dan merenungkan tentang ridha dan ikhlas.
 
Ini BUKAN Kemunafikan atau Kepura‑puraan. Sering orang takut, “Kalau aku bersyukur tapi belum ridha, apakah aku munafik ?” Tidak. Justru itulah iman yang jujur. Yang Munafik itu, lisan bersyukur hati membenci Allah menjauh dari ibadah
Tapi saat tetap menghadap Allah untuk  tetap bersyukur
sambil mengakui: “Hatiku masih berproses”. Itu kejujuran spiritual, bukan cacat iman.

Kisah berikut ini adalah fiktif, kita dapat mengambil hikmah untuk bercermin kepada diri kita sendiri.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa kebingungan terbesar dalam hidupnya bukan datang dari kegagalan besar, melainkan dari hari‑hari yang terlihat biasa saja. Tidak ada tragedi yang bisa ia ceritakan kepada orang lain. Tidak ada kehilangan yang dramatis. Hidupnya, jika dilihat dari luar, bahkan bisa disebut “cukup baik”.
Namun justru di situlah masalahnya.
Ia bangun setiap pagi dengan rutinitas yang sama. Bekerja, berbincang, tertawa secukupnya. Ia tetap menjalankan ibadah. Tetap mengucapkan alhamdulillah ketika sesuatu berjalan sesuai rencana. Tetap bersyukur ketika tidak kekurangan.
Tetapi di dalam dirinya, ada satu ruang kecil yang tidak pernah benar‑benar terisi.


Ia tidak marah kepada Tuhan. Ia tidak membenci takdir. Ia hanya merasa… ada yang belum selesai. Ada bagian hidup yang ia jalani dengan patuh, tetapi belum dengan lapang.
Dan itu membuatnya merasa bersalah.
Ia sering mendengar orang berkata bahwa orang beriman seharusnya ridha. Bahwa menerima takdir adalah tanda kedewasaan spiritual. Bahwa hati yang lapang adalah buah iman yang baik.
Setiap kali mendengar itu, dadanya terasa sedikit sesak.
“Kalau begitu, apa yang salah denganku?”
“Kenapa aku masih berat, padahal aku ingin menerima?”
Ia tidak berani mengungkapkan pertanyaan itu kepada siapa pun. Ia takut disalahpahami. Takut dianggap kurang iman. Takut dinilai tidak tahu bersyukur.
Padahal ia bersyukur. Ia sungguh bersyukur.
Hanya saja, syukurnya sering terasa seperti usaha sadar, bukan limpahan rasa.


Pada suatu malam, setelah salat yang ia jalani tanpa khusyuk yang istimewa, ia duduk lebih lama dari biasanya. Tidak ada doa panjang. Tidak ada tangisan besar. Hanya satu kalimat yang muncul dari dalam hatinya:
“Ya Allah, aku ingin menerima… tapi aku belum bisa sepenuhnya.”
Kalimat itu membuatnya diam lama.
Ia menunggu perasaan bersalah datang. Menunggu ketakutan. Menunggu rasa takut akan murka Tuhan.
Namun yang datang justru keheningan.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menutupinya dengan bacaan atau nasihat.

Ikhlas itu pilihan sadar, dan ridha itu hadian pemberian Allah. Yuk kita terus berlatih untuk ikhlas dalam setiap langkah hidup kita, untuk Allah. Dalam doa Iftitah kita ... "Salatku, ibadahku,hidupku dan matiku untuk Allah". Insya Allah kita diberikan kelimpahan petunjuk dalam menjalani hidup ini dengan ikhlas dan ridha. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Ikhlas yang dipilih bukan dirasa

 Semangat pagi semuanya. Saya ingin melanjutkan tema ikhlas dan ridha. Ridha itu menerima takdir Allah dengan hati lapang, tapi kadang tak l...