Semangat pagi semuanya. Tak hasil kalau tidak dikerjakan, Penting mengevaluasi dan memperbaiki kerja agar hasilnya bagus. Jangan sampai mengupayakan hasil bagus tanpa kerja yang bagus.
Ngaku Beriman, Tapi Cuma Branding
Allah berfirman :
“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 8)
Allah berfirman :
“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 8)
Bujang ketawa kecil, “Zaman sekarang kayak update status: ‘Alhamdulillah’, tapi habis itu nipu orang.”
Allah bilang: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Baqarah: 9)
Lisan: “Saya peduli umat.”
Hati: “Yang penting saya dapat untung.”
Tidak jujur pada diri sendiri itu bahaya.
Karena kalau sudah biasa bohong ke diri sendiri, nanti dosa terasa seperti prestasi.
Hati: “Yang penting saya dapat untung.”
Tidak jujur pada diri sendiri itu bahaya.
Karena kalau sudah biasa bohong ke diri sendiri, nanti dosa terasa seperti prestasi.
Dari penjelasan di atas, ayat di atas sangat dan sangat relevan dengan kehidupan di kantor atau di rumah. Begitu banyak janji yang diumbar tapi pada kenyataannya tidak seperti yang dijanjikan. Tapi ada karyawan atau manager yang menjanjikan tercapainya target, faktanya targetnya tercapai tapi caranya tidak bener. Misalkan dalam sales sering ada titipan SO, dimana sebenarnya tidak ada penjualan tapi dibuatkan penjualan (nanti diretur), atau tercapai target tapi pembelian itu hanya untuk bulan ini saja dan tidak berlanjut (seperti dipaksakan, dan tidak sesuai kenyataan). Ada banyak trik dalam manajemen sales. Ada juga agar tercapai, tanggal closing sales diperpanjang. Semua itu adalah untuk membuat branding bahwa berhasil atau pencitraan positif, tapi dibangun dengan cara yang tidak pantas. Inilah yang disindir oleh ayat di atas.
Kata menipu itu sering menjadi biasa, karena semua orang melakukannya. Kalau berlanjut terus ini bisa bikin hati menghitam (mati). Menipu itu bukan hanya menutupi kebenaran kepada orang lain, tapi orang itu sendiri menjadi tidak sadar. Kok tidak sadar ? Kan menipunya dilakukan sadar. Betul sadar, tapi hatinya ditipu juga. Jadi nggak sadar dong, khususnya tidak sadar kepada hati, yang berati tidak sadar juga kepada Allah. Kalau sudah begini rugi 2 kali, dosa kepada Allah dan dosa kepada orang lain. Bagaimana ? Yang pernah jadi karyawan ?
Ada pura-pura kerja, tapi sebenarnya juga tidak ngapa-ngapain. Di depan komputer kayak serius, tapi nyata hanya akting aja. Hebatnya brandingnya.
Sebenarnya tidak hanya karyawan yang melakukan branding atau pencitraan, tapi dilakukan juga oleh pengusaha atau pemilik usaha. Apakah mau direktur bilang perusahaan tidak baik-baik saja ? Nggak ada lah. Yang ditampilkan adalah perusahaan baik dan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik agar nanti bisa naik gaji. Pencitraan ?? Malah pemilik usaha lebih banyak menipunya. Menipu soal pajak agar untung lebih banyak, kan banyak karyawan yang tidak menerima slip gaji resmi. Disuruh diam dan menerima aja. Tipunya luar biasa. Tapi semua tetap berjalan tahu sama tahu. Padahal jika terjadi sebaliknya, posisi pengusaha jadi karyawan, pastilah tidak mau ditipu.
Dalam islam, ada iman dan ada amal saleh. Ada pernyataan beriman dan mesti dibuktikan dengan tindakan yaitu amal saleh. Boleh-boleh saja branding atau pencitraan, tapi buktikan dong hasilnya dan tentu caranya juga. Ini bisa terjadi jika kita berpikir dengan hati, BUKAN melihat tapi tidak melihat, mendengar tapi tidak mendengar. Hati bisa melihat yang tersirat dari yang tersurat. Hati-hati dengan pola branding atau pencitraan, ini adalah langkah yang tidak mengaktifkan hati sama sekali. Kalau begini terus menipu dan akhirnya diri selalu khawatir, gelisah dan takut. Ini penyakit yang sangat berat disembuhkan, bisa berdampak kepada penyakit fisik. Sembuh fisiknya, tapi hatinya tidak sembuh dan bikin kambuh lagi sakit fisiknya.
Kata orang menipu sekali, maka pasti menipu lagi berikutnya dan seterusnya. Pola ini membentuk diri yang tidak baik, karakter yang tidak baik. Jalan menuju hati yang tertutup. Yuk sadari ini dengan bener agar kita mampu memperbaikinya. Memang tidak ada yang sempurna, adakalanya kita menipu tapi bersegeralah memperbaikinya. Itulah cara terbaik mengambil hikmah dari ayat di atas.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar