Semangat pagi dan salam bahagia. Kebahagian dapat diperoleh dengan hati yang tenang. Insya Allah hati ini banyak berzikir hanya kepadaNya dan saya mendapatkan ketenangan dari sisi Allah. Aamiin
Hari ini, saya tergugah untuk menulis pemahaman dari Surah Hud ayat 6 dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi beberapa orang dan saya yang dulu bilang begini,"Iya saya tahu". Ternyata tidak cukup tahu, karena petunjuk Allah itu terhubung dengan hati, "Tahu dan paham tidak cukup, yuk buka hati dicerahkan Allah dengan bisikan lembutNya".
Saya menuliskan dalam 3 seri, Berikut serinya
SERI 1, Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah
Seri ini bukan tentang optimisme kosong.
Ini tentang menggeser pusat ketergantungan.
Dari slip gaji…
ke janji Allah.
Dan perjalanan ini baru dimulai.
SERI 2, Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?
Seri ini bukan tentang bagaimana mendapatkan kembali proyek.
Ini tentang menemukan kembali Allah dalam proses kehilangan.
Dan perjalanan kita belum selesai.
Di Seri 3 nanti, kita akan sampai pada puncaknya:
Kesadaran bahwa rezeki terbesar bukan uang, bukan proyek, bukan karier…
Tetapi hidayah dan hati yang tenang.
Siap kita lanjut ke klimaksnya?
SERI 3, Rezeki Terbesar Itu Tidak Tercetak di Slip Gaji
Surah Hud ayat 6 bukan hanya ayat penghibur.
Ia adalah ayat pembebas.
Membebaskan kita dari ketergantungan pada angka.
Membebaskan kita dari ketakutan berlebihan.
Membebaskan kita dari ilusi bahwa pekerjaanlah yang memberi hidup.
Burung terbang setiap pagi tanpa jaminan tertulis.
Orang beriman bekerja dan salat dengan jaminan dari Allah.
Dan pada akhirnya mereka memahami:
Gaji adalah angka.
Rezeki adalah karunia.
Dan karunia paling mahal adalah hati yang tenang bersama-Nya.
Sebelum saya memasuki seri 1nya, saya ingin mengungkapkan banyak hal yang berhubungan dengan surah Hud ayat 6.

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)
Ada banyak pertanyaan di benak saya tentang ayat di atas bukan sekedar teksnya saya. Saya tahu dan paham, so what ?? Inilah yang ada dalam pikiran saya.


1. “Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa saya masih Gelisah ?”
Gelisah itu tanda bahwa saya mempertanyakannya. Gelisah itu tentang masa depan, besok makan apa ? Pertanyaan ini karena saya punya pikiran, pikiran itu adalah rezeki Allah juga sih. Karena ada beberapa tidak diberikan kemampuan itu karena sakit atau karena takdir Allah. Saya tenangkan dulu pikiran saya dan hadir self talk lanjutan. Yang pertama, saya mulai kritis dalam pikiran sendiri, kalau saya punya pikiran tentang kegelisahan rezeki di hari berikutnya ... boleh dong pikiran itu dialihkan untuk fokus kepada rezeki dan jaminan Allah. Dengan demikian kegelisahan itu tidak hadir, dan sekarang belajar tentang rezeki dan jaminan Allah.
Alhamdulillahirabbilalamin, saya bisa berpikir seperti itu karena Engkau dan saya pun membuka hati.
2. Ternyata wawasan saya tentang rezeki itu sempit, hanya kepada pendapatan saja. Rezeki banyak, kalau saya sebut pikiran, ternyata itu rezeki, saya mau bilang "kemampuan" itu juga rezeki dan "kesehatan" pun rezeki. Saya berhenti untuk mau bilang sesuatu," tak pernah abis rezeki itu".
Saya jadi sadar, ternyata semua itu saya dapatkan karena saya berada pada mode sadar Allah, hati yang berfungsi yang diikuti dengan pikiran sehat saya. Mode ini tidak dengan "panik" dan ketakutan. Jadi bersyukurlah hati ini dibuka Allah dan matanya dicerahkan dengan memahami ayat di atas.
3. Oke, saya mesti memberi porsi yang adil terhadap Pendapatan adalah angka. Pendapatan itu salah satu dari rezeki Allah. Pendapatan berupa Uang itu bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat dan tidak pernah habis.
Jika saya masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti dan dijamin Allah.
4. Apakah pendapatan saya tidak cukup ? Bukankah rezeki bukan sekedar pendapatan saja, bisa berupa Kesehatan, kemampuan, Ada kerja, berpikir …
Emang Sanggup menghitung rezeki itu sangat banyak dari Allah ?
? Begitulah saya baru merasakan dan menikmati pendapatan (merasakan uang dari pendapatan), yang lain tidak terlihat dengan hat. Jangan-jangan saya memang hanya ngelihat pendapatan saja, maka tak melihat rezeki yang lain. Biasanya hatinya kembali tertutup (tidak tersambung kepada Allah). Disinilah hati dikuasai "setan" yang membuat buaian dan angan-angan tak pernah berujung dan terlihat indah untuk diraih.
5. Untuk itulah saya mesti sering nyadar sama Allah (hati yang teruju Allah). dengan izinNya, saya mampu melihat rezeki Allah.
Tenangkan diri ... Tarik napas. Saya merasakan lebih nyaman ... he ... he... kayak hidpnotis aja ya.
Iya ya, saya semakin mampu menyadari rezeki itu luas
Mau disebut banyak banget. Sya mesti berhenti menyebutkannya.
Ternyata Pekerjaan saya saat inipun rezeki, dari sini saya mau mendalami rezeki Allah ini sebagai nikmat Allah yang mesti disyukuri.
Dibalik pekerjaan itu Allah memberi Amanah dan meminta tanggung jawab pada saya ??? Yang ada saya mengeluh mengelisahkan pendapatan saya.
Tarik napas lagi ... lebih tenang lagi
Ternyata tanggung jawab atas amanah Allah itu mesti saya wujudkan dalam kerja yang produktif. Bagaimana caranya ? Mesti ada ilmu, saya mesti belajar dan Allah telah berikan "otak" untuk berpikir dan belajar. Iya ya, saya mesti bersyukur dengan otak saya sehingga saya mendapatkan ilmu dan dengan ilmu itu saya bisa bekerja lebih produktif.
Dan temen kerja yang baik itu adalah rezeki, rezeki ini sebaai nikmat yang mesti disyukuri. Dengan temen yang baik ini, saya juga bisa bekerja produktif dalam bekerja sama atau saling membantu.
Ternyata ... selama ini saya belum mampu melihat rezeki Allah karena hati yang tertutup. Saya hanya melihat fisiknya saja, tanpa memahami makna dan kemanfaatannya apalagi amanahnya Allah.
Pujilah Allah yang telah memberi rezeki yang banyak itu …
Mengapa saya belum memanfaatkan rezeki itu agar ditambah nikmat oleh Allah ?
Ya Allah, Engkau Ya Razzaq, Alhamdulillah ... sentuhlah hati ini agar mampumerasakannya dan tahu manfaat pemberianMu. Saya memohon kepadaMu ampunan atas apapun yang tidak mengantarkan hati ini semakin bersih. Aamiin
Bismillahirrahmanirrahiim
Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi dan berharap mampu menggetarkan hati untuk menyadari "sadar Allah". Inilah potensi yang besar dalam memberdayakan diri agar tidak membuat gelisah, khawatir lagi dan berubah menjadi semakin baik.