Semangat pagi semua, semakin hari semakin "menua" kita bekerja. Ada kata semakin berpengalaman tapi keadaan tidak seiring. Insya Allah dengan meluruskan semua yang kita lakukan ini dapat memberi makna yang lebih baik.
Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.
Ada hal mesti kita Fokuskan :
- Meluruskan persepsi populer:
nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
- Tafsir: nafsu yang dirahmati
adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
- Yusuf AS tetap manusia yang punya
keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
- Rahmat Allah menjaga arah,
bukan menghilangkan dorongan
Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi.or
Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan
menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.
Menjadi semakin baik jika Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.
Insya Allah, kita memiliki kemampuan dan dimampukan Allah dalam merawat nafsu dan keinginan. Ini adalah memberi motivasi dan semangat agar menjadi semakin baik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar