Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang nafsu dalam kerja. Kali ini ngebahas ambisi, karir dan keterkaitannya dengan amanah.
Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas. Setiap orang ingin berkembang. Naik jabatan. Diakui. Dihargai. Ambisi ini sering dianggap bertentangan dengan kesalehan. Namun tanpa ambisi, manusia berhenti bertumbuh.
Ada orang yang mengejar jabatan demi gengsi. Ada pula yang menerimanya dengan rasa takut, karena tahu semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban. Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.
Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi. Islam tidak memusuhi ambisi. Yang diuji adalah niat dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Ia membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih rakus.
Dalam dunia kerja, karier adalah medan ujian:
- apakah kita adil saat punya kuasa
- apakah kita tetap rendah hati saat dipuji
- apakah kita melindungi yang lemah
Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. Ambisi yang diserahkan kepada Allah tidak mengecilkan jiwa, justru mendewasakannya
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar