Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Rabu, Februari 18, 2026

Nafsu tidak mesti dilawan, disadari dan diarahkan

Semangat pagi, saya masih tetap fokus menulis kerja dan ibadah yang selaras. Sebelumnya tentang niat, maka kali ini nafsu atau keinginan yang mendompleng kerja kita. Ada apa ? Bisa jadi setelah niat kita tetapkan, sering ada lintasan pikiran dari luar atau keinginan dari dalam dari hasil kerja. Apa itu ? Pengen uang banyak, pengen jabatan, pengen cari karir dan sebagainya.

Saya ingin menulis artikel ini agar bisa disadari lalu menselaraskan dengan Al Qur'an dan menerapkan ilmu yang bener. Saya mulai dari sebuah keinginan atau nafsu dalam kerja yang berorientasi kepada uang dan materi. Ada ayat Al Qur'an yang menjelaskan bahwa nafsu itu cenderung kepada keburukan, tapi yang dikuatkan adalah nafsu yang dirahmat Allah dalam surah yusuf ayat 53. Tentang hal ini banyak yang berpersepsi bahwa nafsu yang dirahmati Allah itu tentang ibadah dan amal saleh. 

Baik, gagasan ide ini sangat kuat dan relevan untuk dunia kerja modern, terutama bagi pembaca Muslim yang ingin berdamai antara dorongan materi dan ketaatan kepada Allah. 

QS Yusuf ayat 53 menyatakan dengan jelas:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Ayat ini tidak membatasi konteks nafsu hanya pada ibadah, melainkan berbicara tentang jiwa manusia secara utuh, termasuk keinginan duniawi seperti kekuasaan, harta, dan pekerjaan—yang jika dirahmati Allah, arah dan dampaknya berubah.

Nafsu bekerja dan mencari uang bukan musuh iman, tetapi energi. Ia menjadi keburukan jika liar, dan menjadi rahmat jika diselaraskan dengan Allah.


Islam tidak mematikan keinginan materi, Islam mengarahkan, membersihkan, dan menundukkannya

Kerja → Uang → Manfaat → Nafkah di jalan Allah
Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi?
Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”
QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk 
“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Karena nafsu itu fitrah manusia.

Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi yang Disalahpahami

Beri ruang hati 
Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan hati yang berbeda-beda. Ada yang berangkat dengan semangat, ada yang dengan keterpaksaan, ada pula yang dengan kegelisahan. Namun di balik semua itu, ada satu dorongan yang hampir selalu sama: keinginan untuk hidup layak. Kita ingin makan dengan tenang, membiayai keluarga, dan merasa aman menghadapi masa depan. Keinginan itu sering disebut nafsu—dan sering pula dicurigai.


Seorang ayah pulang larut malam, lelah setelah seharian bekerja. Di rumah, anaknya sudah tertidur. Ia duduk sebentar, menatap tagihan di meja, lalu bergumam, “Kalau bukan karena ini semua, mungkin aku sudah menyerah.” Tidak ada kata ibadah, tidak ada kalimat suci. Tapi di sanalah realitas manusia bekerja: antara tanggung jawab dan dorongan bertahan hidup.
Pembahasan Mendalam
Islam tidak lahir di ruang hampa yang steril dari kebutuhan dunia. Al Qur’an berbicara kepada manusia apa adanya. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini bukan vonis, melainkan diagnosis.
Nafsu bukan kesalahan. Ia adalah energi dasar manusia. Tanpa nafsu, tidak ada usaha. Tidak ada kerja. Tidak ada peradaban. Yang bermasalah adalah ketika nafsu berjalan tanpa kendali, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran akan Allah.
Bekerja demi uang sering diposisikan sebagai niat yang “rendah”. Padahal, mencari nafkah adalah bagian dari menjaga kehidupan. Yang membuat kerja menjadi gelap bukan tujuannya, tetapi ketika tujuan itu menghalalkan segala cara.

Nafsu tidak selalu harus dilawan. Kadang ia perlu dipahami. Karena dari situlah perjalanan menata kerja dan iman dimulai.

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi untuk menjadi semakin baik untuk memotivasi diri. Sesuatu yang kita hadapi itu normal atau netral, semua tergantung kita menyikapinya. Bangun diri untuk mampu bersikap yang baik, dan referensikan dengan Al Qur'an menjadi sikap dalam beriman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang n...