Semangat pagi semuanya. Insya Allah semua dalam keadaan sehat dan mampu mengerjakan pekerjaan hari dengan baik. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang loyalitas kerja atau ada yang bilang loyalitas kepada atasan dan perusahaan.
Sepertinya memang kata loyalitas ini sangat diperlukan dalam dunia kerja. Atasan sangat berharap memiliki team yang loyal sehinggan mampu membangun kinerja yang produktif dan berkesinambungan. Bagus sih, tapi dari sisi karyawannya bisa jadi nggak bagus. Loyal sering ditafsirkan sebagai "nurut", nggak salah tapi jangan sampai nurut tanpa ilmu. Disinilah yang menjadi konflik atau bahkan konflik batin seorang karyawan. Karyawan sih mau aman saja dan yang penting kerja sehingga kadang memang bener-bener nurut maunya atasan atau perusahaan. Kalau nggak nurut, tahu sendiri resikonya. Tapi karyawan kan butuh untuk bertumbuh menjadi karyawan yang berilmu dan memiliki integritas. Kejadian seperti ini pernah dialami semua orang, termasuk atasan. Bagaimana dengan Anda ??
Sikap apa yang diambil ? Sangat bergantung integritas seseorang bisa jadi nurut terus agar kerjaan aman, yang berarti karyawannya sangat bergantung kepada atasan atau perusahaan. Lalu apakah aman seterusnya ? Tidak juga. Semua relatif dan bisa berubah kapan saja, baik atasan atau karyawannya. Berikut ini ini sisi lain dari loyalitas.
Banyak karyawan generasi lama dibesarkan dengan nilai:
- Kerja keras.
- Tahan banting.
- Loyal pada satu perusahaan.
- Tidak mudah pindah.
Dulu, pola ini masuk akal. Masa kerja panjang biasanya berarti:
- Kenaikan gaji bertahap.
- Jabatan meningkat.
- Stabilitas finansial.
- Penghargaan atas loyalitas.
Namun realitas dunia kerja sekarang berbeda.
Banyak perusahaan:
- Tidak punya sistem penyesuaian gaji yang sehat.
- Tidak melakukan benchmarking pasar secara rutin.
- Lebih mudah menaikkan gaji karyawan baru daripada menyesuaikan
karyawan lama.
Akibatnya?
Karyawan lama justru tertinggal dari karyawan baru. Sampai sini banyak terjadi di banyak perusahaan, apalagi perusahaannya adalah perusahaan keluarga.
Dampak lain adalah produktivitas dan konflik terjadi yang berujung kepada kinerja yang tidak sehat, hanya terlihat sehat saja.
Kontribusi Besar, Tapi Perusahaan tidak berkembang
Ada kondisi yang lebih kompleks lagi.
Seorang karyawan bisa saja:
- Sudah bekerja 8–15 tahun.
- Menjadi tulang punggung operasional.
- Menyelesaikan banyak masalah.
- Mengorbankan waktu dan energi.
Namun perusahaan tetap:
- Tidak berkembang signifikan.
- Tidak naik kelas.
- Tidak mampu memberi peningkatan kesejahteraan.
Di titik ini, muncul kelelahan yang bukan hanya fisik, tapi juga mental.
Muncul pertanyaan internal:
“Saya sudah kasih
banyak untuk perusahaan ini. Tapi hidup saya kok begini-begini saja?”
Dan itu pertanyaan yang valid.
Tanda-Tanda Kamu Sedang Tidak Proporsional
Beberapa indikator yang perlu direnungkan:
- Gaji naik sangat lambat dibanding inflasi.
- Karyawan baru dengan tanggung jawab sama dibayar lebih tinggi.
- Tidak ada jenjang karier jelas.
- Perusahaan tidak transparan soal kinerja finansial.
- Kamu merasa sulit berkembang secara skill maupun exposure.
- Kamu mulai kehilangan semangat, bukan karena malas, tapi karena
merasa stagnan.
Kalau lebih dari 3 poin ini kamu alami, mungkin ini bukan sekadar “fase
jenuh”.
Ini bisa jadi sinyal struktural.
Jangan Langsung Emosional
Kesalahan paling umum adalah langsung mengambil keputusan ekstrem:
- Resign mendadak.
- Atau sebaliknya, pasrah total dan bertahan tanpa strategi.
Padahal, keputusan pindah atau bertahan harus berbasis pada evaluasi
rasional, bukan kekecewaan sesaat.
Di seri berikutnya, kita akan membahas:
- Apa saja yang perlu dievaluasi sebelum memutuskan?
- Bagaimana menilai apakah perusahaan masih layak diperjuangkan?
- Dan kapan tanda bahwa kamu harus mulai menyiapkan exit strategy?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar