Semangat pagi semuanya, Alhamdulillah saya bisa menulis lagi dan kali ini bertemakan perjalanan hati manusia dari merupakan perenungan dari surah Al Baqarah ayat 6 sampai 33. Ini catatan belajar saya yang saya sebut dengan TAJUK (caTAtan petunJUK) dari Allah yang ada dalam Al Qur'an. Seperti catatan itu, yang pasti adalah tentang kita di masa sekarang.
Saya kutip ya surah Al Baqarah ayat 6 :
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (QS. [2] Al-Baqarah : 6)
Mohon maaf bahwa saya bukan ustad atau sejenisnya. Saya ingin memahami ayat ini sebagaimana ilmu saya, tetap berpegang kepada tafsir yang ada sebagai referensi. Maka saya menyebutnya sebagai catatan belajar saya tentang petunjuk Allah.
Saya mulai darikata sesunguhnya yang berarti janji Allah, bahwa orang kafir itu sama saja diperingatkan atau tidak, dia tidak beriman. Tentunya orang kafir itu adalah orang yang ingkar kepada Allah, tidak percaya dan tidak beriman kepada Allah. Dan bahkan memiliki aktivitas untuk melawan dan melarang orang beriman menjadi bener-bener beriman. Sepertinya "temennya setan". Tidak ikhlas orang menjadi beriman kepada Allah.
Tapi dibalik itu, ada pertanyaan. Apakah kita sekarang tidak memiliki sifat itu ? Sifat yang tidak mau mendengar nasehat, mendengar peringatan agar tidak terjerumus kepada lebih dalam dari orang terdekat, temen dan siapa pun yang ditemui. Seperti orang biasa, orang kantoran punya sifat ini. Mengapa memilikinya ? Karena egonya tinggi atau agak "sombong". Kalau di kantor sih, ada bos atau pemilik perusahaan yang dianggap bener. Kalau bos bilang A, maunya dikerjakan oleh bawahan. Tapi sebaliknya ada komentar atau saran bahkan penolakan cenderung tidak mau menerima. Bukan sifat ini banyak tercermin di banyak perusahaan ? Keadaan ini seringkali berdampak dalam kehidupan di kantor berupa bawahan menjadi orang yang "yes men" atau seringkali "takut ketemu bos". Jadi kalau saya dulu kerja di kantor, anak buah itu kepikiran kalau ketemu bos. Kepikiran salahnya apa dan kayak mau negor saya yang salah. Dampak lebih lanjutnya adalah bos semakin merasa dirinya bener dan anak buah semakin nurut alias takut. Buahnya adalah tidak tercipta lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh. Menjadi lamban dalam bertumbuh dan disitulah banyak terjadi manipulasi oleh anak buah agar terlihat kerjanya bagus, terjadi bisik-bisik karyawan yang berisi keluhan dan komentar tentang perusahaan "mentang-mentang bos, sok bener dan sebagainya". Apa ini yang bos inginkan ? Dalam hati kecilnya maunya sih nggak. Tapi hatinya sudah tertutup sehingga kalau mendengar masukan, bantahan, kritik dan sejenisnya bawaan maunya "saya bosnya".
Tidak hanya bos aja, tapi ada juga karyawan atau managerlah yang seperti itu. Mengapa itu terjadi ? Karena merasa ilmunya tinggi dan berpengalaman. Misalkan seorang manager Marketing, kalau diberikan masukan tentang strategi marketing cenderung membuatnya menolak halus, "saya paham dan menerima masukan itu, tapi dalam hati kecilnya bilang ilmu saya lebih hebat". Apalgi masukannya dari karyawan baru atau baru lulus. Biasanya team ini tidak bisa bertumbuh lebih baik. Bertumbuh tapi sangat lambat. Mengapa ? Strategi bagus, tapi actionnya tidak sempurna karena dilakukan oleh karyawan "yes men", tidak dengan hati dan akal sehat.
Ini bukan dominasi orang kantoran, tapi di rumah juga begitu. Misalkan seorang isteri, apa iya banyak isteri yang taat suaminya ? Hanya sedikit. Isteri lebih suka egonya tinggi dan pastilah tidak mau mendengar anak dan suaminya. Isteri merasa menang dan disisi lain kalah. Padahal ini bukan soal menang dan kalah tapi kepada bertumbuh semakin baik. tahulah kalau yang kalah cenderung tidak ikhlas menerima keputusan dari pasangannya.
Semua itu adalah masalah hati, bukannya tidak pintar. Tapi tidak dapat menerima dengan lapang dada. Pola berpikir hanya kepada ego saja, tidak memberi ruang pikiran untuk berlogika sehat. Apalagi hati. Jauh banget. Saya membuat levelnya seperti ini
level terendah adalah berpikir atau mengambil tindakan berdasarkan ego atau nafsu atau keinginan tanpa ilmu, maka yang menjadi indikatornya adalah kenyanaman personal. Semakin nyaman bagi seseorang, itulah yang diputuskan. Kalau tidak nyaman, maka tidak mau terjadi. Level berikutnya adalah level berpikir logika atau hanya berdasarkan ilmu saja. Bagus nggak ? Baguslah. berpikir sehat dan jangka panjang. Indikatornya ini yang masih belum mampu menyentuh hati, apa itu ? Manfaat dan kepentingan (keuntungan) untuk dirinya dan temannya. Kalau tidak untung tidak dikerjakan. kalau manfaat, pasti dikerjakan, tapi untuk siapa dulu ? kalau manfaat untuk orang lain ? Stop dulu. Tapi bisa jadi manfaatnya buat orang lain, tapi adakah keuntungannya buat saya ? Itulah yang menjadi landasan bertindaknya. Level terakhir adalah hati, yang bisa menembus ilmu dengan memahami makna dari apa yang dihadapi. Dibalik itu ada amanah dari Allah, dan mesti dipertanggungjawabkan kepada Allah. Jadi tindakannya tidak lagi melihat orang, yang pasti kepada Allah dan pasti pula memberi kebaikan dan keuntungan bagi manusia.
Jadi ayat ini saya bercermin bahwa adakah hati kita tertutup dan dominan ego ? Jawaban iya. Hati kecil setiap orang bilang,"Iya sih saya jarang mau dengar nasehat atau peringatan dari orang lain, merasa dirinya lebih hebat. Saya tidak mau kalah". Yuk belajar dari orang yang mudah berpikir sehat seperti pemikir, orang yang terbuka menerima kritik, ilmuwan, dan orang yang kita zalimi (kalahkan dengan ego) yang sabar menjadi pendengar yang baik. Saya paham jika statusnya dibalik, saya adalah mendengar ego orang lain. Pastilah saya banyak curhatannya.
Selanjutnya saya membuat catatan perjalanan yang dimulai dari hati yang beku yang tertutup dan sejenisnya.
Ada seorang manager HRD yang sok berkuasa, semua karyawan nurut karena takut "dipecat". Seorang trainer yang merasa dirinya paling bener, hampir semua bos yang ingin anak buahnya nurut tanpa protes, dan pasangan yang sok hebat di keluarga dan sebagainya.
Insya Allah diberikan petunjuk yang baik dalam diskusi pagi ini, saya ingn mendalami al Baqarah 6 sampai 33, Sebagai sebuah perjalanan orang yang kafir kepada Allah yang pasti tidak bisa mendengar nasehat. Hal ini karena hati dan inderanya telah dikunci oleh Allah. Mungkin bisa jadi awalnya mereka bilang beriman tapi sebenarnya mereka tidak beriman, mereka percaya kepada Allah dan hari akhir, tapi sebenarnya itu hanya bohongan. Semua kebohongan itu untuk mengelabui orang beriman. Sok berbuat baik dan perbaikan tapi kenyataannya merekalah yang telah melakukan pengerusakan. Tanpa sadar mereka lakukan karena mereka itu adalah tidak jujur kepada dirinya sendiri, lisan dan perbuatan tidak sejalan dengan hati. Mereka itu diajak menjadi sadar, tapi mereka tidak mau karena komunitasnya bukan orang jujur (orang beriman). Mereka selalu memperolek-olokan orang beriman seperti tidak memiliki akal. Tapi sebenarnya mereka sendirilah yang tidak menggunakan akalnya, hatinya telah tertutup walaupun memahami dengan akal. Keadaan ini membuat Allah mengizinkan keadaan ini terus berlanjut dan membuat mereka tersesat. Ini bukan kehendak Allah tapi mereka sendiri yang menjerumuskan ke dalam kekafiran. Disini hati-hati terhadap orang beriman yang melakukan kesalahan-kesalahan yang terus-menerus karena bisa jadi telah membawa mereka kepada Allah yang membiarkan mereka tersesat (salah lagi dan salah lagi). Ini sebagai bentuk mereka telah membeli petunjuk Allah dengan kesesatan, dan ini pasti merugi. Allah menggambarkan seperti orang yang menyalakan api yang menerangi sekelilingnya, dan Allah melenyapkan cahaya sehingga mereka tidak melihat. Orang yang senang yang jauh dari Allah juga seperti itu, keadaannya seperti hebat dan diakui orang banyak, tapi saat mereka dipadamkan apinya (kehebatannya dicabut Allah), mereka pun terdiam. mereka Tuli, bisu dan buta serta tidak bisa kembali kepada Allah. Hal ini dicontohkan sebaliknya oleh Nabi Ayub yang selalu zikir dan taat kepada Allah, yang mengembalikan kejayaan dan apa yang dimiliki yang dulu, Bukan membeli petunjuk Allah dengan ketidaktaatan. Atau seperti orang yang kehujanan dengan petir dan kegelapan langit tanpa matahari. Orang itu ketakutan untuk menghindari semua itu karena takut mati. tetapi Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu, Allah bisa menghilangkan itu semua. Maka Allah memerintahkan orang untuk mengabdi kepada Allah agar menjadi taqwa, seperti hal orang sebelum kamu dulu mengabdi kepada Allah. Allah menciptakan seluruh alam semesta ini, dan janganlah manusia menyekutukannya. Jika kamu ragu dengan Al Qur'an yang menjelaskan semua itu, buatlah Al Qur'an tandingan. Tapi Allah memastikan bahwa itu tidak terjadi. Jadi buat apa kita tidak beriman dan mengabdi kepada Allah. Dan akhirnya Allah memberikan balasan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh dengan surga dengan segala kenikmatannya. Yang memberi perumpamaan seekor nyamuk, ada yang beriman dan ada yang kafir (disesatkan), orang yang melanggar perjanjian dengan Allah setelah diteguhkan, dan memutuskan apa yang Allah perintahkan (malah memutuskan dan berbuat kerusakan). Pastilah ini seperti ini adalah rugi. Allah bertanya begaimana kamu tidak percaya (ingkar), padahal tadinya kita ini mati lalu dihidupkan Allah, kemudian mati dan dibangkitkan lagi. Semua kembali kepada Allah lewat kematian. Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah Maha mengetahui segalanya. Allah buktikan sewaktu menciptakan manusia yang ditanyakan oleh malaikat, bahwa nanti makhluk yang namanya manusia itu pasti membuat kerusakan. Tapi Allah buktikan ternyata Adam as, memiliki kemampuan berpikir dan memahami setelah Allah ajarkan. Yang tidak ada di malaikat dan makhluk lainnya. Adam as berkata, Maha suci Allah dan Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha bijaksana. Manusia tidah tahu apa-apa selain apa yang diajarkan Allah. Bantu Tulisan ini bisa dibuat ulang secara mudah untuk dipahami dengan bahasa humor dan reflektif dengan kehidupan saat ini. Misalkan ppoitn penting diantaranya "mereka tidak sadar" yang bisa ditafsir mereka tidak jujur (hatinya mati), membeli petunjuk (Al Qur'an) dengan pengrusakan di muka bumi tapi mereka mengaku berbuat baik (tidak jujur lagi kepada diri sendiri), mereka suka tidak mau menerima kritik, dan saat ini terjadi Allah membiarkan mereka terjerumus. Tapi Allah masih baik menunggu mereka kembali. Bahwa juga hadil beriman dan berbuat baik itu bikin tenang dan hasilnya nanti dinikmati di akhirat. Kayaknya bisa dibuat berseri agar bisa hidup ... melalui tokoh bujang, mamat dan mira. Sertai dengan ayat dan hadisnya
Apa yang sebaiknya dilakukan ? Yang pertama adalah memang harus menyadari dengan mengenal gejalanya. Perhatikan hari in atau kemarin dan kemarinnya lagi, apakah saya pernah menolak nasehat orang lain (sekalipun itu baik dan dengan cara halus disampaikannya) ? Kalau pernah walaupun sekali, pertanda saya mesti menyadarinya, lalu berpikir lebih dalam dan mengambil hikmahnya. Setelah itu belajarlah untuk menahan diri, caranya jujur kepada diri sendiri, artinya berkatalah dengan hati, mendengarlah dengan hati dan bertindaklah dengan hati. Jangan bila A tapi tindakan B, ini tidak sejalan, ya bisa dibilang tidak jujur. Dengan hati yang mulai aktif, maka mendengar itu pun (nasehat dan peringatan) menjadi baik.
Insya Allah tulisan ini menjadi inspirasi dan upaya sadar diri untuk mengembangkan diri semakin baik dan banyak temen. Saya berharap hati ini tidak tertutup, sekalipun ada noda hitamnya, semakin hari semakin baik. Indikatornya jarang untuk marah, emosian, suka malas, mau gampangnya aja, suka kecewa dan mengeluh, spontan dan sebagainya. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar