Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri
Tampilkan postingan dengan label pemberdayaan islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemberdayaan islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, Februari 24, 2026

Tidak perlu resign tapi luruskan kerjanya

Semangat pagi semuanya. Terkadang beberapa orang pengen resign karena mendapatkan dorongan ingin berubah dari pemahaman baru yang lebih baik. Apa iya perlu begitu ? Itu adalah pilihan, bijak untuk tidak perlu resign ... tapi luruskan niat kerja dan bangun kembali kerja yang produktif sesuai pemahaman baru. Intinya semua yang dilakukan adalah bertumbuh semakin baik, dimanapun kita bekerja.


Kisah: Tidak Resign, Tapi Berubah
Ia tidak jadi resign.
Beberapa bulan lalu ia hampir mengambil keputusan itu.
Bukan karena gaji kurang.
Bukan karena atasan buruk.
Tetapi karena ia merasa kehilangan makna.
Namun setelah melalui malam-malam sunyi bersama ayat-ayat Allah, ia menyadari sesuatu:
Masalahnya bukan di pekerjaannya.
Masalahnya di pusat hatinya.
Ia terlalu lama bekerja untuk dunia,
padahal Allah memberinya pekerjaan itu untuk diuji.
Dan sejak saat itu, ia tidak mengubah perusahaan.
Ia mengubah niat.


Dunia Tidak Salah, Pusatnya yang Harus Lurus
Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia.
Yang diajarkan adalah tidak menjadikan dunia sebagai pusat.
Bekerja bukan lawan dari iman.
Karier bukan musuh dari takwa.
Yang berbahaya adalah ketika:
Target lebih sering disebut daripada Allah.
Kekecewaan dunia lebih besar dari rasa takut kepada-Nya.
Evaluasi manusia lebih ditunggu daripada evaluasi diri di hadapan-Nya.
Hati yang terjaga bukan hati yang meninggalkan kerja.
Tetapi hati yang tahu untuk siapa ia bekerja.


Bekerja sebagai Amanah, Bukan Ambisi Semata
Ia mulai membiasakan satu kalimat sebelum membuka laptop:
“Ya Allah, hari ini aku bekerja sebagai amanah dari-Mu.”
Perubahan kecil itu membuat semuanya berbeda.
Meeting bukan lagi sekadar strategi.
Ia menjadi latihan sabar.
Deadline bukan lagi tekanan semata.
Ia menjadi latihan disiplin dan tawakal.
Konflik tim bukan lagi gangguan.
Ia menjadi latihan menjaga lisan.
Pekerjaan tidak berubah.
Tetapi maknanya berubah.
Dan ketika makna berubah, hati menjadi lebih ringan.

Menemukan Keseimbangan
Ia tidak lagi menunggu waktu luang untuk mendekat kepada Allah.
Ia membawa Allah ke dalam kesibukan.
Di sela menunggu rapat, ia berdzikir.
Di perjalanan pulang, ia mendengar ayat.
Saat berhasil menyelesaikan proyek, ia sujud syukur.
Saat gagal, ia beristighfar.
Ia sadar:
Jika Allah bisa hadir dalam ibadah,
mengapa tidak dalam pekerjaan?
Dan perlahan, yang dulu terasa kosong mulai terisi.


Diam Sejenak
Sekarang, tutup mata sejenak.
Bayangkan pekerjaan Anda.
Apakah ia membuat Anda jauh dari Allah…
atau justru bisa menjadi jalan mendekat?
Siapa yang mengatur rezeki Anda?
Siapa yang memberi kemampuan berpikir?
Siapa yang menjaga kesehatan Anda setiap hari?
Jika jawabannya Allah,
maka pekerjaan bukan sekadar karier.
Ia adalah ujian.
Dan juga kesempatan.

Just Do It Now
Jangan tunggu keadaan ideal.
Just do it now:
Niatkan ulang pekerjaan Anda hari ini.
Perbaiki satu sikap di kantor karena Allah.
Kurangi satu kebiasaan buruk di tempat kerja.
Jadikan satu proyek sebagai ladang pahala, bukan sekadar performa.
Akhiri hari kerja dengan syukur, bukan keluhan.
Langkah kecil.
Namun konsisten.
Karena hati tidak dijaga dengan wacana.
Ia dijaga dengan keputusan harian.

Hati yang Terjaga Tidak Takut Dunia
Orang yang bekerja dengan hati terjaga tidak takut kehilangan jabatan.
Karena ia tahu:
Rezekinya bukan dari perusahaan.
Tetapi dari Allah.
Ia tidak takut tidak dihargai.
Karena ia tahu:
Nilainya bukan di appraisal tahunan.
Tetapi di sisi Allah.
Ia tidak takut gagal.
Karena ia tahu:
Kegagalan dunia tidak mengurangi pahala jika niatnya benar.
Hati yang terjaga membuat dunia menjadi ringan.
Dan dunia yang ringan tidak lagi menguasai.

Kita memulai dari rindu. Kita melewati ketakutan hati terkunci.
Kita mengenali penyakit yang halus. Kita melihat bagaimana ia bertambah. Dan kini kita sampai pada pilihan:
Bekerja dengan hati yang terjaga. Target tetap ada. Tekanan tetap ada. Kompetisi tetap ada.
Namun pusatnya berubah.
Dari dunia… menjadi Allah.
Selama Anda masih rindu membaca ayat setelah menutup laptop, selama Anda masih takut hati mengeras,
selama Anda masih ingin memperbaiki niat, maka hati itu belum terkunci.
Ia sedang ditempa. Dan mungkin, justru melalui pekerjaan itulah
Allah sedang mendidik jiwa Anda.

Anda tidak perlu berhenti bekerja untuk menjadi dekat dengan Allah. Anda hanya perlu berhenti bekerja tanpa-Nya.

Featured post

Kerja kok makin sakit

 Semangat pagi semuanya. Apa yang menjadi hikmah dari Al Baqarah tentang ada penyakit yang bertambah. Sebenarnya sakit itu lebih kepada hati...