Semangat pagi semuanya. Semakin menarik saya mengikuti Al Baqarah ayat 6 sampai 33. Alhamdulillah masih bisa membuat catatan yang memberi pelajaran penting untuk kehidupan di kantor maupun dirumah
Merasa Paling Baik, atau sok jadi pahlawan, ini perilaku yang merusak diri sendiri maupun orang lain. Saya mulai dari
Allah berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’”
(QS. Al-Baqarah: 11)
Mamat tepuk jidat,
“Ini nih yang bahaya. Merasa jadi pahlawan, padahal dalangnya.”
Allah tegaskan:
“Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Baqarah: 12)
Kerusakan itu bukan cuma bakar hutan.
Bisa juga:
• Memecah ukhuwah
• Menebar fitnah
• Menghalalkan cara demi tujuan
• Mengatasnamakan agama untuk ego
Dan lucunya…
Mereka alergi kritik.
Kalau dinasihati, jawabannya:
“Jangan sok suci.”
Dimulai awalnya ingin menipu, tapi ternyata menipu diri sendiri. Ini adalah bagian dari akibat dari sekian banyak perilaku dari penyakit hati. Sok Pahlawan ? Iya. Ini dapat ditemukan di kantor. Ada orang yang salah melakukan kerja, tapi merasa dirinyalah yang benar, karena hanya dia yang melakukan yang pertama. Salahnya tertutupi oleh inisiatifnya. Ingin dipuji dan mendapatkan pengakuan atasannya.
Obrolan pagi itu berakhir sunyi. Mamat menatap cangkir kopinya. Bujang menghela napas. Mira berkata pelan, “Yang paling bahaya itu bukan orang yang salah. Tapi orang yang salah dan merasa dirinya pasti benar.”
Mungkin ayat-ayat ini bukan hanya sedang berbicara tentang “mereka”.
Tapi… sedang berbicara tentang kita semua. Bagaimana ?
Tapi… sedang berbicara tentang kita semua. Bagaimana ?
Perilaku yang masih dibilang sok jadi pahlawan ini juga upaya membela diri dari kelemahan atau kekurangan yang ada. Hanya mengandalkan pandai bicara, yang membuat orang lain terbius. Misalkan seorang pengusaha dengan dalih membuka peluang kerja bagi banyak orang, tapi dibalik itu pengusaha ingin mendapatkan keuntungan yang luar biasa dengan memanfaatkan peraturan yang ada. Pengusaha ini dikenal baik karena membuka usaha untuk karyawan. Ternyata banyak pengusaha yang membayar mengandalkan UMR sesuai aturan untuk kepentingan keuntungan pengusaha yang berlipat ganda. Tidak ada keseimbangan antara karyawan dan pengusaha.
Sok bener juga bisa terjadi saat kita sudah salah, malah nyolot hanya untuk membela kesalahan kita itu dengan menyalahkan orang lain. Pengusaha selalu memakai alasan karyawan belum produktif dan keuntungan sedikit sehingga tak mampu membayar karyawan selayaknya. Dalam hati karyawan juga nggak kerja maksimal karena di gaji UMR, dan begitulah siklus ini tidak pernah menjadi baik.
Insya Allah, kita dapat mengambil hikmah dari petunjuk Allah. Bercermin agar kita bisa tahu siapa diri kita dan bisa mengambil sikap mengantisipasi atau memberi solusi menghadapi orang yang seperti diungkap Al Qur'an. Yuk berdayakan diri kita sendiri untuk bertumbuh menjadi semakin baik agar tidak menjadi sifat buruk dan mampu menghadapi orang yang memiliki sikap buruk.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar