Semangat pagi semuanya. Tak terasa tema keinginan yang disusupi setan itu menjadi nampak dalam kinerja di kantor. Beberapa orang belum siap menghadapi dengan ilmu dan referensi yang bener. Tidak saja itu, mengendalikan diri untuk tenang bisa mengantarkan kita kepada ilmu dan referensi yang benar. kalau tidak bisa kendali, maka ilmu pun tak bisa diakses.
Kali ini temanya adalah ada upaya untuk termotivasi dari orang yang sukses. Melihat temen agar lebih realistis. Tapi nggak tahu bisa berkembang kepada iri. Perlu mendapat wawasan tema ini.
Dimulai dari kisah berikut :
Pujian yang Mengganggu. Rapat pagi itu singkat.
Atasan berkata: “Presentasi Ahmad kemarin sangat rapi. Terima kasih.” Semua menoleh ke Ahmad.
Ahmad tersenyum biasa. Bujang ikut tersenyum.
Tapi di dalam hatinya muncul sesuatu yang kecil.
“Kenapa bukan aku?” Itu hanya satu kalimat.
Tapi kalimat kecil itu tidak berhenti di sana.
Atasan berkata: “Presentasi Ahmad kemarin sangat rapi. Terima kasih.” Semua menoleh ke Ahmad.
Ahmad tersenyum biasa. Bujang ikut tersenyum.
Tapi di dalam hatinya muncul sesuatu yang kecil.
“Kenapa bukan aku?” Itu hanya satu kalimat.
Tapi kalimat kecil itu tidak berhenti di sana.
Awalnya: “Aku juga ingin diapresiasi.” Itu wajar.
Tapi lalu bercabang:
→ “Presentasiku juga bagus.”
→ “Mungkin dia cuma beruntung.”
→ “Atasan memang lebih dekat dengannya.”
→ “Dia nggak sehebat itu sebenarnya.”
Perhatikan.
Tidak ada kebencian besar. Hanya perbandingan kecil yang tidak disadari.
Tapi lalu bercabang:
→ “Presentasiku juga bagus.”
→ “Mungkin dia cuma beruntung.”
→ “Atasan memang lebih dekat dengannya.”
→ “Dia nggak sehebat itu sebenarnya.”
Perhatikan.
Tidak ada kebencian besar. Hanya perbandingan kecil yang tidak disadari.
Satu keinginan: “Ingin seperti dia.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi: “Ingin lebih dari dia.”
Lalu menjadi: “Kenapa dia, bukan aku?”
Lalu menjadi: “Mungkin dia tidak sepantas itu.”
Dan hati mulai tidak tenang.
Allah berfirman:
Ada takdir di dalamnya.
Jika tidak disadari → berubah menjadi: “Ingin lebih dari dia.”
Lalu menjadi: “Kenapa dia, bukan aku?”
Lalu menjadi: “Mungkin dia tidak sepantas itu.”
Dan hati mulai tidak tenang.
Allah berfirman:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Apakah mereka iri terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain?”
(QS. An-Nisa: 54)
Karunia. Bukan semata hasil kerja.Ada takdir di dalamnya.
Lamunan yang Menguras Energi
Siang itu, Bujang tidak fokus.
Siang itu, Bujang tidak fokus.
Ia membayangkan bagaimana cara agar ia lebih terlihat.
Ia membayangkan cara mengoreksi presentasi Ahmad.
Ia membayangkan bagaimana jika Ahmad gagal.
Waktu berjalan. Tugasnya sendiri tertunda.
Iri tidak hanya merusak hati. Ia menguras energi produktif.
Ia membayangkan bagaimana jika Ahmad gagal.
Waktu berjalan. Tugasnya sendiri tertunda.
Iri tidak hanya merusak hati. Ia menguras energi produktif.
Ahmad yang Tidak Tahu, Ahmad tetap bekerja seperti biasa.
Tidak berubah. Tidak merasa lebih tinggi.
Bujang sadar, iri itu terjadi di dalam dirinya sendiri.
Bukan karena Ahmad berubah.
Ahmad berkata sore itu: “Jang, aku lihat kau agak diam hari ini.”
Bujang tersenyum. “Lagi mikir.”
Ahmad berkata pelan: “Kalau energi kita habis untuk membandingkan, kapan kita bertumbuh?”
Tidak berubah. Tidak merasa lebih tinggi.
Bujang sadar, iri itu terjadi di dalam dirinya sendiri.
Bukan karena Ahmad berubah.
Ahmad berkata sore itu: “Jang, aku lihat kau agak diam hari ini.”
Bujang tersenyum. “Lagi mikir.”
Ahmad berkata pelan: “Kalau energi kita habis untuk membandingkan, kapan kita bertumbuh?”
Merenung dulu ...
Ketika Perbandingan Mengambil Fokus
Bandingkan secukupnya untuk belajar. Tapi jika membandingkan untuk merasa kurang, atau merasa lebih, itu sudah berbahaya.
Iri memiliki dua wajah:
Merasa kalah → minder.
Merasa lebih pantas → sombong halus.
Keduanya sama-sama menggerogoti.
Dan yang paling berbahaya:
Iri membuat kita berhenti memperbaiki diri karena sibuk memikirkan orang lain.
Ketika Perbandingan Mengambil Fokus
Bandingkan secukupnya untuk belajar. Tapi jika membandingkan untuk merasa kurang, atau merasa lebih, itu sudah berbahaya.
Iri memiliki dua wajah:
Merasa kalah → minder.
Merasa lebih pantas → sombong halus.
Keduanya sama-sama menggerogoti.
Dan yang paling berbahaya:
Iri membuat kita berhenti memperbaiki diri karena sibuk memikirkan orang lain.
Pola Bahaya yang Sama
Keinginan kecil:
“Ingin seperti dia.”
Jika tidak disadari:
→ Membandingkan terus-menerus.
→ Mencari kekurangan orang lain.
→ Menurunkan semangat kerja.
→ Produktivitas turun.
→ Menyalahkan sistem.
Padahal awalnya hanya satu lintasan saja
Keinginan kecil:
“Ingin seperti dia.”
Jika tidak disadari:
→ Membandingkan terus-menerus.
→ Mencari kekurangan orang lain.
→ Menurunkan semangat kerja.
→ Produktivitas turun.
→ Menyalahkan sistem.
Padahal awalnya hanya satu lintasan saja
Sensor Iri
SENSOR 1
Apakah saya merasa tidak nyaman saat orang lain dipuji?
SENSOR 2
Apakah saya mulai mencari kekurangan orang tersebut?
SENSOR 3
Apakah fokus kerja saya terganggu karena memikirkan orang lain?
SENSOR 4
Apakah saya lupa bahwa rezeki dan karunia berbeda-beda?
Apakah saya merasa tidak nyaman saat orang lain dipuji?
SENSOR 2
Apakah saya mulai mencari kekurangan orang tersebut?
SENSOR 3
Apakah fokus kerja saya terganggu karena memikirkan orang lain?
SENSOR 4
Apakah saya lupa bahwa rezeki dan karunia berbeda-beda?
Mengubah Iri Menjadi Energi
Iri yang disadari bisa berubah menjadi:
✔ Inspirasi
✔ Motivasi belajar
✔ Evaluasi diri
✔ Perbaikan skill
Tanya pada diri:
“Apa yang bisa saya pelajari dari dia?”
Bukan: “Kenapa bukan saya?”
Iri yang disadari bisa berubah menjadi:
✔ Inspirasi
✔ Motivasi belajar
✔ Evaluasi diri
✔ Perbaikan skill
Tanya pada diri:
“Apa yang bisa saya pelajari dari dia?”
Bukan: “Kenapa bukan saya?”
Diam Sejenak
Pejamkan mata.
Dalam 3 bulan terakhir:
• Siapa yang paling sering Anda bandingkan?
• Apakah itu membuat Anda bertumbuh atau justru lelah?
Jujur pada diri sendiri. Tanpa menyalahkan.
Pejamkan mata.
Dalam 3 bulan terakhir:
• Siapa yang paling sering Anda bandingkan?
• Apakah itu membuat Anda bertumbuh atau justru lelah?
Jujur pada diri sendiri. Tanpa menyalahkan.
Just Do It Now
Besok saat melihat rekan dipuji:
✔ Ucapkan selamat dengan tulus.
✔ Ambil satu hal untuk dipelajari.
✔ Fokus pada tugas Anda sendiri.
Ingat:
Rezeki orang lain tidak mengurangi rezeki Anda.
Besok saat melihat rekan dipuji:
✔ Ucapkan selamat dengan tulus.
✔ Ambil satu hal untuk dipelajari.
✔ Fokus pada tugas Anda sendiri.
Ingat:
Rezeki orang lain tidak mengurangi rezeki Anda.
Transformasi Kecil
Hari berikutnya, atasan kembali memuji Ahmad.
Bujang merasakan lintasan kecil di hatinya.
Tapi kali ini ia sadar.
Ia berkata dalam hati: “Kalau dia bisa, berarti mungkin.
Kalau aku mau belajar, aku juga bisa.”
Ia membuka catatan.
Ia mulai memperbaiki presentasinya sendiri.
Ahmad menoleh dan tersenyum.
Tidak ada drama. Tidak ada konflik.
Hanya kesadaran kecil.
Dan kesadaran kecil itulah yang menumbuhkan karakter.
Hari berikutnya, atasan kembali memuji Ahmad.
Bujang merasakan lintasan kecil di hatinya.
Tapi kali ini ia sadar.
Ia berkata dalam hati: “Kalau dia bisa, berarti mungkin.
Kalau aku mau belajar, aku juga bisa.”
Ia membuka catatan.
Ia mulai memperbaiki presentasinya sendiri.
Ahmad menoleh dan tersenyum.
Tidak ada drama. Tidak ada konflik.
Hanya kesadaran kecil.
Dan kesadaran kecil itulah yang menumbuhkan karakter.
Alhamdulillah, niat awal jangan buru-buru diwujudkan. perlu tenang dan melihat apa dibalik Keinginan untuk dihargai
→ jika tidak disadari
→ menjadi perbandingan
→ menjadi iri
→ menjadi pembenaran
→ menjadi penurunan produktivitas
Padahal fokus terbaik adalah memperbaiki diri.
→ jika tidak disadari
→ menjadi perbandingan
→ menjadi iri
→ menjadi pembenaran
→ menjadi penurunan produktivitas
Padahal fokus terbaik adalah memperbaiki diri.
Jadikan semua ini pembelajaran untuk memberdayakan diri. Langkah terbaik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar