Semangat pagi semua. Insya Allah hari-hari yang kita lalui menjadikan kita semakin baik, dalam dunia kerja dan kehidupan. Kali ini saya lanjutkan tulisan sebelumnya.
Mulai dari sesuatu yang datang di hati, lalu meneruskannya ...
Kisah: Tidak Lagi Tersentuh
Beberapa tahun lalu, ia mudah tersentuh oleh ayat.
Mendengar kajian, hatinya hangat.
Membaca Al-Qur’an, dadanya terasa lapang.
Berbuat salah sedikit saja, ia langsung gelisah.
Sekarang? Ia masih bekerja dengan baik.
Kariernya stabil. Jaringannya luas.
Reputasinya terjaga. Namun ada perubahan yang pelan-pelan terjadi. Ia jarang menangis dalam doa.
Nasihat terasa biasa saja. Ayat-ayat yang dulu menggetarkan kini terasa seperti teks biasa. Ia tidak meninggalkan agama.
Ia tidak menolak kebenaran.
Ia tetap shalat, tetap hadir di majelis. Namun ada satu ketakutan yang tidak pernah ia akui : “Bagaimana kalau hatiku mulai mengeras?” Bukan keras karena membenci.
Tetapi keras karena terlalu lama sibuk.
Beberapa tahun lalu, ia mudah tersentuh oleh ayat.
Mendengar kajian, hatinya hangat.
Membaca Al-Qur’an, dadanya terasa lapang.
Berbuat salah sedikit saja, ia langsung gelisah.
Sekarang? Ia masih bekerja dengan baik.
Kariernya stabil. Jaringannya luas.
Reputasinya terjaga. Namun ada perubahan yang pelan-pelan terjadi. Ia jarang menangis dalam doa.
Nasihat terasa biasa saja. Ayat-ayat yang dulu menggetarkan kini terasa seperti teks biasa. Ia tidak meninggalkan agama.
Ia tidak menolak kebenaran.
Ia tetap shalat, tetap hadir di majelis. Namun ada satu ketakutan yang tidak pernah ia akui : “Bagaimana kalau hatiku mulai mengeras?” Bukan keras karena membenci.
Tetapi keras karena terlalu lama sibuk.
Ayat yang Menggugah: Penguncian Itu Proses
Allah berfirman dalam Al-Baqarah 6–7 bahwa ada orang yang sama saja diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Lalu Allah menyebut hati mereka terkunci.
Sering kali kita membayangkan penguncian itu terjadi tiba-tiba.
Padahal dalam kehidupan nyata, penguncian lebih sering berupa proses sunyi.
Tidak dimulai dari penolakan besar. Tetapi dari pembiaran kecil.
Bukan dari kebencian kepada agama. Tetapi dari kelalaian yang diulang. Dalam dunia kerja, proses itu bisa terlihat seperti ini:
• Terlalu sibuk sampai menunda dzikir.
• Terlalu fokus target sampai lupa niat.
• Terlalu mengejar validasi sampai lupa ridha Allah.
• Terlalu sering berkata “nanti saja” untuk urusan akhirat.
Hari demi hari. Tanpa sadar.
Hati tidak langsung menolak kebenaran.
Ia hanya kehilangan sensitivitasnya.
Dan ketika sensitivitas itu melemah, ayat-ayat Allah tidak lagi terasa menggugah.
Allah berfirman dalam Al-Baqarah 6–7 bahwa ada orang yang sama saja diberi peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman. Lalu Allah menyebut hati mereka terkunci.
Sering kali kita membayangkan penguncian itu terjadi tiba-tiba.
Padahal dalam kehidupan nyata, penguncian lebih sering berupa proses sunyi.
Tidak dimulai dari penolakan besar. Tetapi dari pembiaran kecil.
Bukan dari kebencian kepada agama. Tetapi dari kelalaian yang diulang. Dalam dunia kerja, proses itu bisa terlihat seperti ini:
• Terlalu sibuk sampai menunda dzikir.
• Terlalu fokus target sampai lupa niat.
• Terlalu mengejar validasi sampai lupa ridha Allah.
• Terlalu sering berkata “nanti saja” untuk urusan akhirat.
Hari demi hari. Tanpa sadar.
Hati tidak langsung menolak kebenaran.
Ia hanya kehilangan sensitivitasnya.
Dan ketika sensitivitas itu melemah, ayat-ayat Allah tidak lagi terasa menggugah.
Keras Bukan Berarti Jahat
Inilah yang sering salah dipahami.
Hati yang mengeras bukan selalu hati yang jahat.
Kadang ia hati yang terlalu lelah.
Kadang ia hati yang terlalu penuh dunia.
Kadang ia hati yang terlalu lama tidak diajak berbicara dengan Allah.
Seorang karyawan bisa menjadi profesional luar biasa, tetapi ruhani yang minim perawatan. Seperti mesin yang terus dipakai tanpa dilumasi. Ia tetap berjalan.
Tetap produktif. Tetapi gesekan di dalamnya semakin kasar.
Penguncian hati bukan selalu berupa penolakan tegas.
Kadang ia berupa:
• Tidak lagi merasa bersalah saat lalai.
• Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.
• Tidak lagi merasa perlu memperbaiki niat.
Dan itu jauh lebih halus.
Inilah yang sering salah dipahami.
Hati yang mengeras bukan selalu hati yang jahat.
Kadang ia hati yang terlalu lelah.
Kadang ia hati yang terlalu penuh dunia.
Kadang ia hati yang terlalu lama tidak diajak berbicara dengan Allah.
Seorang karyawan bisa menjadi profesional luar biasa, tetapi ruhani yang minim perawatan. Seperti mesin yang terus dipakai tanpa dilumasi. Ia tetap berjalan.
Tetap produktif. Tetapi gesekan di dalamnya semakin kasar.
Penguncian hati bukan selalu berupa penolakan tegas.
Kadang ia berupa:
• Tidak lagi merasa bersalah saat lalai.
• Tidak lagi merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.
• Tidak lagi merasa perlu memperbaiki niat.
Dan itu jauh lebih halus.
Ketakutan Itu Rahmat
Jika Anda mulai takut hati mengeras, itu bukan tanda buruk.
Itu tanda bahwa hati masih hidup.
Hati yang benar-benar terkunci tidak takut terkunci.
Ia merasa baik-baik saja. Ia merasa cukup.
Ia merasa tidak perlu berubah. Tetapi ketika seseorang di tengah kesibukan kariernya tiba-tiba bertanya:
“Kenapa aku tidak lagi tersentuh?”
Itu cahaya. Itu alarm lembut dari Allah.
Bukan untuk membuat Anda panik.
Tetapi untuk membuat Anda kembali.
Jika Anda mulai takut hati mengeras, itu bukan tanda buruk.
Itu tanda bahwa hati masih hidup.
Hati yang benar-benar terkunci tidak takut terkunci.
Ia merasa baik-baik saja. Ia merasa cukup.
Ia merasa tidak perlu berubah. Tetapi ketika seseorang di tengah kesibukan kariernya tiba-tiba bertanya:
“Kenapa aku tidak lagi tersentuh?”
Itu cahaya. Itu alarm lembut dari Allah.
Bukan untuk membuat Anda panik.
Tetapi untuk membuat Anda kembali.
Diam Sejenak
Sekarang berhenti sejenak.
Bayangkan hari kerja Anda.
Berapa kali Anda menyebut nama Allah dengan sadar?
Berapa keputusan yang Anda niatkan sebagai ibadah?
Berapa kali Anda berkata “Alhamdulillah” tanpa terburu-buru?
Apakah hati Anda masih bergetar ketika mendengar ayat?
Jika tidak, jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalkannya.
Diamlah.
Rasakan apakah ada rindu yang tertahan.
Sekarang berhenti sejenak.
Bayangkan hari kerja Anda.
Berapa kali Anda menyebut nama Allah dengan sadar?
Berapa keputusan yang Anda niatkan sebagai ibadah?
Berapa kali Anda berkata “Alhamdulillah” tanpa terburu-buru?
Apakah hati Anda masih bergetar ketika mendengar ayat?
Jika tidak, jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalkannya.
Diamlah.
Rasakan apakah ada rindu yang tertahan.
Just Do It Now
Hati tidak kembali lembut dengan teori.
Ia kembali dengan latihan kecil.
Just do it now:
• Jadwalkan waktu tetap membaca Al-Qur’an sebelum membuka email.
• Ketika lelah bekerja, ucapkan dzikir sebelum mengeluh.
• Sebelum meeting penting, niatkan untuk mencari keberkahan, bukan hanya kemenangan argumen.
• Sisihkan satu keputusan setiap hari yang jelas-jelas Anda ambil karena takut kepada Allah.
Jangan tunggu hati benar-benar keras.
Rawat sebelum rusak.
Hati tidak kembali lembut dengan teori.
Ia kembali dengan latihan kecil.
Just do it now:
• Jadwalkan waktu tetap membaca Al-Qur’an sebelum membuka email.
• Ketika lelah bekerja, ucapkan dzikir sebelum mengeluh.
• Sebelum meeting penting, niatkan untuk mencari keberkahan, bukan hanya kemenangan argumen.
• Sisihkan satu keputusan setiap hari yang jelas-jelas Anda ambil karena takut kepada Allah.
Jangan tunggu hati benar-benar keras.
Rawat sebelum rusak.
Produktif Tanpa Kehilangan Kepekaan
Anda tidak salah karena bekerja keras.
Islam tidak melarang profesionalisme.
Yang perlu dijaga adalah pusatnya.
Jika pusat hidup hanya target, hati akan kering.
Jika pusat hidup adalah Allah, target menjadi alat, bukan tujuan.
Bayangkan bekerja dengan kesadaran:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.”
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku.”
“Ya Allah, jaga hatiku di tengah kesibukan ini.”
Kesadaran itu tidak mengurangi produktivitas.
Justru menambah ketenangan.
Karena Anda tidak lagi bekerja sendirian.
Anda tidak salah karena bekerja keras.
Islam tidak melarang profesionalisme.
Yang perlu dijaga adalah pusatnya.
Jika pusat hidup hanya target, hati akan kering.
Jika pusat hidup adalah Allah, target menjadi alat, bukan tujuan.
Bayangkan bekerja dengan kesadaran:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.”
“Ya Allah, jangan biarkan pekerjaanku menjauhkan aku.”
“Ya Allah, jaga hatiku di tengah kesibukan ini.”
Kesadaran itu tidak mengurangi produktivitas.
Justru menambah ketenangan.
Karena Anda tidak lagi bekerja sendirian.
Ternyata ...
Hati tidak terkunci dalam sehari.
Ia mengeras karena terlalu lama tidak disiram.
Kesibukan bukan musuh.
Kelalaianlah yang berbahaya.
Dan jika di tengah spreadsheet, rapat, dan target, Anda masih sempat takut kehilangan kepekaan…
maka hati itu masih hidup.
Rawat ia sekarang.
Sebelum kesibukan menjadi alasan.
Ia mengeras karena terlalu lama tidak disiram.
Kesibukan bukan musuh.
Kelalaianlah yang berbahaya.
Dan jika di tengah spreadsheet, rapat, dan target, Anda masih sempat takut kehilangan kepekaan…
maka hati itu masih hidup.
Rawat ia sekarang.
Sebelum kesibukan menjadi alasan.
Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan tulisan ini dan saya dapat mengambil hikmah buat kehidupan ini. Pemberdayaan diri dan teruslah memotivasi diri agar menjaga di jalan positif.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar