Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Selasa, Februari 24, 2026

Kerja kok makin sakit

 Semangat pagi semuanya. Apa yang menjadi hikmah dari Al Baqarah tentang ada penyakit yang bertambah. Sebenarnya sakit itu lebih kepada hati yang sakit seperti benci. Ternyata dalam kerja hal ini juga terjadi, iri, bangga cenderung sombong dan sejenisnya. Keadaan ini disadari atau tidak, terjadi dan bertambah besar. Dampaknya yang tidak dirasakan adalah terus terjadi dan memalingkan seseorang kepada Allah ... hatinya semakin "hitam" dan cinta dunia. 

Berikut tulisan yang menggambarkan hal ini. Jangan pernah merasa diri baik-baik saja, mengisihkan waktu untuk mengevaluasi itu penting. 


Kisah : “Dulu Saya Tidak Seperti Ini”
Ia tidak sadar kapan perubahan itu terjadi. Dulu, ketika pertama kali bekerja, ia penuh semangat.
Setiap tugas dianggap amanah.
Setiap gaji pertama membuatnya sujud syukur.
Setiap keberhasilan kecil terasa seperti hadiah dari Allah.
Sekarang?
Ia tetap bekerja. Tetap profesional. Tetap disiplin.
Namun ada yang hilang. Ia lebih mudah marah.
Lebih mudah kecewa. Lebih mudah sinis.
Ia mulai berkata dalam hati: 
“Beginilah dunia kerja.”
“Semua orang juga begitu.”
“Realistis saja.”
Kalimat-kalimat itu terasa wajar.
Namun suatu malam, ketika membaca ayat Al Qur'an :
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakitnya…”
Ia terdiam lama.
“Bagaimana kalau penyakit itu bukan hanya milik mereka… tapi sedang tumbuh dalam diriku?”



Penyakit Itu Tidak Diam
Ayat 10 Al Baqarah menjelaskan sesuatu yang sangat serius:
Ada penyakit dalam hati. Lalu penyakit itu bertambah.
Bertambah. Bukan stagnan.Bukan netral.
Hati tidak pernah netral. Ia membaik atau memburuk.
Dalam dunia kerja, penyakit itu sering bertambah bukan karena dosa besar, tetapi karena:
  • Pembenaran kecil yang diulang.
  • Kompromi kecil yang dianggap normal.
  • Keletihan yang dibiarkan tanpa disiram iman.
Contohnya:
Awalnya tidak nyaman melihat manipulasi data. Lama-lama berkata, “Semua perusahaan juga begitu.”
Awalnya tidak suka gosip kantor. Lama-lama ikut tertawa.
Awalnya kecewa ketika shalat tertunda. Lama-lama berkata, “Nanti saja.”
Dan setiap pembiaran kecil itu seperti tetesan air di batu.
Tidak langsung menghancurkan. Tetapi perlahan membentuk retakan.


Ketika Hati Menjadi Kebal
Penyakit yang paling berbahaya bukan yang menyakitkan.
Tetapi yang membuat kebal. 
Ketika dosa tidak lagi terasa berat.
Ketika lalai tidak lagi terasa hilang.
Ketika dunia terasa biasa dan akhirat terasa jauh.
Seorang karyawan bisa sangat sukses, tetapi hatinya kebal terhadap nasihat. Ia tetap datang ke kajian, tetapi pikirannya sibuk dengan notifikasi.
Ia tetap membaca ayat, tetapi tidak lagi bertanya pada diri.
Ia tetap shalat, tetapi tanpa rasa butuh.
Itulah penyakit yang bertambah.
Bukan meninggalkan agama. Tetapi kehilangan rasa.
Dan kehilangan rasa adalah awal dari kehilangan arah.


Penyakit Modern: Terlalu Rasional, Terlalu Praktis
Dunia kerja melatih kita untuk rasional, efisien, praktis.
Itu baik. Namun jika hati hanya dilatih logika dan tidak dilatih rasa takut kepada Allah, ia menjadi keras.
Kita mulai berpikir:
“Yang penting hasil.”
“Yang penting untung.”
“Yang penting tidak ketahuan.”
Padahal iman tidak diukur dengan hasil. Ia diukur dengan kejujuran batin. Dan penyakit hati sering bertambah ketika kita terlalu lama hidup dalam budaya pragmatis tanpa menyeimbangkannya dengan dzikir.

Diam Sejenak
Sekarang berhenti.
Ingat diri Anda lima tahun lalu.
Apakah Anda lebih lembut saat itu?
Apakah Anda lebih mudah tersentuh?
Apakah Anda lebih cepat merasa bersalah?
Apa yang berubah?
Apakah perubahan itu karena kedewasaan…
atau karena pembiaran?
Tarik napas.
Jangan menyalahkan diri berlebihan.
Tetapi jangan juga menormalisasi kekerasan hati.

Just Do It Now
Penyakit hati tidak berhenti sendiri. Ia harus dihentikan.
Just do it now:
  • Tinggalkan satu kebiasaan kecil yang Anda tahu salah.
  • Kembalikan satu amalan yang dulu Anda lakukan tapi kini ditinggalkan.
  • Ambil waktu khusus setiap pekan untuk evaluasi diri tanpa distraksi.
  • Minta maaf pada seseorang jika hati mulai kasar.
  • Kurangi satu aktivitas dunia yang berlebihan dan ganti dengan dzikir.
Tidak perlu revolusi besar.
Cukup satu keputusan nyata hari ini.
Karena penyakit bertambah dari kebiasaan kecil,
maka kesembuhan pun dimulai dari kebiasaan kecil.

Motivasi diri : Jangan Tunggu Terlalu Jauh
Ayat 10 tidak berhenti pada penyakit.
Ia memperingatkan akibatnya. Namun selama Anda masih merasa gelisah membaca ayat itu,
itu berarti penyakit belum menguasai.
Selama Anda masih bertanya,
“Apakah aku berubah menjadi lebih keras?”
itu berarti hati masih hidup.
Jangan tunggu sampai tidak lagi peduli.
Jangan tunggu sampai dosa terasa biasa.
Jangan tunggu sampai rindu itu hilang.
Kesibukan boleh tinggi.
Karier boleh naik.
Tetapi hati harus tetap disiram.
Karena ketika hati mati,
tidak ada jabatan yang bisa menghidupkannya.

Catatan :
Penyakit hati tidak datang dengan suara keras.
Ia datang seperti debu.
Pelan.
Tipis.
Nyaris tak terlihat.
Namun jika dibiarkan, ia menutup cermin.
Dan kita tidak lagi mengenali diri sendiri.
Jika hari ini Anda masih ingin membersihkan cermin itu,
maka Allah sedang memberi kesempatan.
Bersihkan sekarang.
Sebelum debu itu menjadi lapisan.


Insya Allah tulisan bisa memberi inspirasi dan memberdayakan diri kita untuk semakin baik. Ada kalanya kita butuhkan membaca atau melihat sisi lain dalm hidup ini, itulah yang membuat kita menjadi berubah semakin baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Kerja kok makin sakit

 Semangat pagi semuanya. Apa yang menjadi hikmah dari Al Baqarah tentang ada penyakit yang bertambah. Sebenarnya sakit itu lebih kepada hati...