Semangat pagi semuanya. Alahamdulillah kita meneruskan tema bisikan setan dalam setiap keinginan kita di kantor. Temanya tentang ikut arus atau tidak, kadang kita kalah dan mengikuti arus lingkungan agar aman aja. Tapi semakin diikuti semakin banyak yang tidak baiknya. Pernahkan ??
Saya mulai dari kisah ini, Candaan yang Terlihat Ringan
Jam 12.45 di pantry. Beberapa rekan sedang bercanda.
Topiknya mulai bergeser. Mengeluh tentang atasan.
Menyindir manajemen. Menertawakan rekan lain yang tidak hadir.
Bujang ikut tertawa kecil. Awalnya hanya ingin akrab.
Awalnya sederhana: “Aku ingin diterima.” Itu fitrah.
Manusia tidak suka dikucilkan. Tapi lalu bercabang:
→ “Kalau aku diam, nanti dianggap sok suci.”
→ “Kalau aku tidak ikut, nanti dijauhi.”
→ “Sedikit saja tidak apa.”
→ “Yang penting aku tidak mulai.”
Dan pelan-pelan, batas bergeser.
Manusia tidak suka dikucilkan. Tapi lalu bercabang:
→ “Kalau aku diam, nanti dianggap sok suci.”
→ “Kalau aku tidak ikut, nanti dijauhi.”
→ “Sedikit saja tidak apa.”
→ “Yang penting aku tidak mulai.”
Dan pelan-pelan, batas bergeser.
Rantai Ikut Arus
Satu keinginan: “Ingin diterima.”
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Ikut mengeluh.
→ Ikut menyindir.
→ Ikut membuka aib kecil.
→ Ikut budaya malas.
→ Ikut pulang lebih awal tanpa izin.
Awalnya hanya candaan. Lalu jadi kebiasaan.
Lalu jadi karakter kelompok.
Allah berfirman:
Jika tidak disadari → berubah menjadi:
→ Ikut mengeluh.
→ Ikut menyindir.
→ Ikut membuka aib kecil.
→ Ikut budaya malas.
→ Ikut pulang lebih awal tanpa izin.
Awalnya hanya candaan. Lalu jadi kebiasaan.
Lalu jadi karakter kelompok.
Allah berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا
Jangan condong kepada orang-orang yang berbuat salah.
Bukan berarti membenci. Tapi jangan larut.Lamunan tentang Penerimaan
Siang itu Bujang berpikir: “Kalau aku terlalu lurus, nanti dibilang nggak asik.” “Kalau aku berbeda, nanti sendirian.”
Ia membayangkan skenario sosial. Padahal belum tentu terjadi.
Ketakutan sosial sering lebih besar di pikiran daripada di kenyataan. Dan waktu kerja habis untuk obrolan yang tidak perlu.
Siang itu Bujang berpikir: “Kalau aku terlalu lurus, nanti dibilang nggak asik.” “Kalau aku berbeda, nanti sendirian.”
Ia membayangkan skenario sosial. Padahal belum tentu terjadi.
Ketakutan sosial sering lebih besar di pikiran daripada di kenyataan. Dan waktu kerja habis untuk obrolan yang tidak perlu.
Produktivitas Turun Tanpa Terasa
Setelah 30 menit di pantry: Energi turun. Fokus hilang. Semangat kerja melemah. Keluhan menular. Sikap negatif menular.
Lingkungan bisa menaikkan standar.
Lingkungan juga bisa menurunkannya.
Tanpa sadar.
Setelah 30 menit di pantry: Energi turun. Fokus hilang. Semangat kerja melemah. Keluhan menular. Sikap negatif menular.
Lingkungan bisa menaikkan standar.
Lingkungan juga bisa menurunkannya.
Tanpa sadar.
Ahmad yang Tenang
Suatu hari Ahmad hanya berkata: “Jang, kau mau diterima karena nilai, atau diterima karena ikut arus?”
Bujang terdiam.
Ahmad melanjutkan: “Kalau kita diterima karena ikut salah,
itu bukan penerimaan. Itu ketergantungan.”
Suatu hari Ahmad hanya berkata: “Jang, kau mau diterima karena nilai, atau diterima karena ikut arus?”
Bujang terdiam.
Ahmad melanjutkan: “Kalau kita diterima karena ikut salah,
itu bukan penerimaan. Itu ketergantungan.”
Renungin ya
Tekanan Sosial di Kantor
Banyak karyawan tidak jatuh karena niat buruk.
Mereka jatuh karena:
• Tidak ingin berbeda.
• Tidak ingin dianggap aneh.
• Tidak ingin sendirian.
Setan tidak selalu datang lewat bisikan pribadi. Kadang ia datang lewat budaya kelompok. Kalimat seperti:
“Semua juga begitu.” “Di sini memang begini.” “Sudah budaya.”
Bisa menjadi pembenaran kolektif.
Tekanan Sosial di Kantor
Banyak karyawan tidak jatuh karena niat buruk.
Mereka jatuh karena:
• Tidak ingin berbeda.
• Tidak ingin dianggap aneh.
• Tidak ingin sendirian.
Setan tidak selalu datang lewat bisikan pribadi. Kadang ia datang lewat budaya kelompok. Kalimat seperti:
“Semua juga begitu.” “Di sini memang begini.” “Sudah budaya.”
Bisa menjadi pembenaran kolektif.
Pola Bahaya yang Sama
Keinginan:“Ingin diterima.”
Jika tidak disadari:
→ Ikut bercanda berlebihan.
→ Ikut mengeluh terus-menerus.
→ Ikut malas berjamaah.
→ Ikut pulang lebih awal.
→ Ikut budaya menurunkan standar.
Padahal awalnya hanya ingin nyaman.
Keinginan:“Ingin diterima.”
Jika tidak disadari:
→ Ikut bercanda berlebihan.
→ Ikut mengeluh terus-menerus.
→ Ikut malas berjamaah.
→ Ikut pulang lebih awal.
→ Ikut budaya menurunkan standar.
Padahal awalnya hanya ingin nyaman.
Sensor Lingkungan
SENSOR 1
Apakah saya berubah nilai saat bersama kelompok tertentu?
SENSOR 2
Apakah obrolan ini membuat saya lebih positif atau lebih negatif?
SENSOR 3
Apakah saya takut berbeda karena takut sendirian?
SENSOR 4
Jika keluarga saya melihat saya di sini, apakah saya tetap nyaman?
SENSOR 1
Apakah saya berubah nilai saat bersama kelompok tertentu?
SENSOR 2
Apakah obrolan ini membuat saya lebih positif atau lebih negatif?
SENSOR 3
Apakah saya takut berbeda karena takut sendirian?
SENSOR 4
Jika keluarga saya melihat saya di sini, apakah saya tetap nyaman?
Menguatkan Diri Tanpa Mengasingkan
Menjaga nilai bukan berarti menjauh. Tetap ramah. Tetap sopan.
Tapi tidak ikut menyimpang.
Kadang cukup dengan:
• Tidak ikut menambah komentar.
• Mengalihkan topik.
• Permisi lebih awal.
Sederhana. Tapi tegas.
Menjaga nilai bukan berarti menjauh. Tetap ramah. Tetap sopan.
Tapi tidak ikut menyimpang.
Kadang cukup dengan:
• Tidak ikut menambah komentar.
• Mengalihkan topik.
• Permisi lebih awal.
Sederhana. Tapi tegas.
Diam Sejenak
Pejamkan mata. Di lingkungan kerja Anda:
• Budaya apa yang paling mudah menyeret?
• Apakah Anda ikut karena setuju, atau karena takut berbeda?
Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Cukup sadar.
Pejamkan mata. Di lingkungan kerja Anda:
• Budaya apa yang paling mudah menyeret?
• Apakah Anda ikut karena setuju, atau karena takut berbeda?
Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Cukup sadar.
Just Do It Now
Hari ini saat obrolan mulai negatif:
✔ Tahan untuk tidak ikut menyulut.
✔ Alihkan pembicaraan jika bisa.
✔ Kembali ke meja kerja lebih cepat.
✔ Pilih satu rekan yang positif untuk lebih dekat.
Lingkungan mempengaruhi.
Tapi kita tetap punya pilihan.
Hari ini saat obrolan mulai negatif:
✔ Tahan untuk tidak ikut menyulut.
✔ Alihkan pembicaraan jika bisa.
✔ Kembali ke meja kerja lebih cepat.
✔ Pilih satu rekan yang positif untuk lebih dekat.
Lingkungan mempengaruhi.
Tapi kita tetap punya pilihan.
Transformasi Kecil
Suatu hari, obrolan kembali memanas. Topik tentang atasan.
Bujang hampir ikut menambahkan cerita.
Tapi kali ini ia sadar. Ia tersenyum dan berkata:
“Sudah lah, kita fokus target saja. Nanti makin panjang.”
Beberapa tertawa. Beberapa diam.
Tapi Bujang merasa lebih ringan.
Ahmad menatapnya dan berkata pelan: “Kadang satu orang yang sadar, cukup untuk mengubah arah.”
Bujang belum sempurna. Tapi ia mulai berani berbeda.
Ternyata hanya berawal dari ngumpul dan dengerin jadi ikutan.
Keinginan untuk diterima
→ jika tidak disadari
→ menjadi ikut arus
→ menjadi pembenaran kelompok
→ menjadi budaya
→ menjadi karakter
Padahal integritas lahir dari keberanian kecil untuk tetap sadar.
Suatu hari, obrolan kembali memanas. Topik tentang atasan.
Bujang hampir ikut menambahkan cerita.
Tapi kali ini ia sadar. Ia tersenyum dan berkata:
“Sudah lah, kita fokus target saja. Nanti makin panjang.”
Beberapa tertawa. Beberapa diam.
Tapi Bujang merasa lebih ringan.
Ahmad menatapnya dan berkata pelan: “Kadang satu orang yang sadar, cukup untuk mengubah arah.”
Bujang belum sempurna. Tapi ia mulai berani berbeda.
Ternyata hanya berawal dari ngumpul dan dengerin jadi ikutan.
Keinginan untuk diterima
→ jika tidak disadari
→ menjadi ikut arus
→ menjadi pembenaran kelompok
→ menjadi budaya
→ menjadi karakter
Padahal integritas lahir dari keberanian kecil untuk tetap sadar.
Boleh dong kita memilih untuk tidak ikut arus dengan bahasa yang sopan bukan menolak terang-terangan. Tapi mau tegas juga nggak masalah, yang bisa menunjukkan kita siapa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar