Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Minggu, Februari 22, 2026

Saat apa yang dimiliki merasa kurang

Semangat pagi semuanya, hari libur tidak juga membuat libur aktivitas. Istirahat perlu, tapi secukupnya. Bangkit untuk beraktivitas sekarang. Insya Allah selalu ada semangat untuk terus beraktivitas yang bermakna bagi kehidupan ini. Berikut ini adalah pendalaman seri 1 dari petunjuk Allah yang ada di Surah Hud ayat 6.

Saya mulai dari ilustrasi berikut ini : 


Mamat kehilangan proyek besar yang selama ini menopang penghasilannya. Bukan karena ia malas. Bukan karena ia tidak kompeten. Hanya saja kontrak itu tidak diperpanjang. Ada rasa khawatir atas rezekinya. 

Hari itu ia duduk lama di dalam mobilnya sebelum pulang ke rumah. “Berarti rezekiku berkurang,” bisiknya. Kalimat itu terdengar logis. Tapi hatinya tidak tenang.
Malamnya ia bertemu Bujang dan Mira. Wajahnya berbeda dari biasanya.
“Kalau rezeki sudah dijamin,” kata Mamat pelan, “kenapa tetap terasa sesak begini ketika penghasilan turun?” Tidak ada yang langsung menjawab.
Bujang mengingat kembali pertanyaan tentang burung.
“Burung itu,” katanya perlahan, “pagi keluar lapar, sore pulang kenyang. Tapi tidak pernah dijanjikan menemukan makanan di cabang pertama yang ia Mira menambahkan, “Mungkin kita selama ini mengira rezeki itu tetap bentuknya. Padahal Allah menjamin rezeki, bukan menjamin bentuknya selalu sama.”
Mamat terdiam.
Selama ini ia menyamakan rezeki dengan nominal. Ketika nominal turun, ia menyimpulkan rezekinya menyusut. Padahal bisa jadi yang berubah hanya jalurnya.
Bukankah ketika proyek itu hilang, ia jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarganya? 
Bukankah ia mulai mengevaluasi keuangannya dengan lebih bijak?
Bukankah ia mulai lebih sering bangun malam karena merasa butuh pertolongan Allah?
Lalu muncul kesadaran yang pelan tapi dalam:
Bagaimana jika hilangnya satu sumber penghasilan adalah cara Allah menumbuhkan tawakal?

Surah Hud ayat 6 tidak mengatakan bahwa rezeki selalu terasa nyaman. Ayat itu mengatakan bahwa rezeki dijamin.
datangi.”Dijamin tidak selalu berarti dilapangkan sesuai keinginan.
Kadang dijamin berarti dijaga dari yang lebih buruk.
Kadang dijamin berarti diarahkan ke sesuatu yang lebih baik.
Mamat mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak terlihat.
Rezeki bukan hanya tambahan.
Rezeki juga bisa berupa perlindungan.
Jika Allah menahan kenaikan gaji, mungkin Allah sedang menjaga hatinya dari kesombongan.
Jika Allah menutup satu pintu proyek, mungkin Allah sedang membuka pintu kedewasaan.
Burung tidak tahu di mana makanan itu berada. Tapi ia tetap terbang.
Orang beriman tidak tahu bagaimana masa depannya. Tapi ia tetap salat dan bekerja.
Dan di situlah tawakal diuji.

Ujian yang Tidak Direncanakan
Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan.
Suatu pagi, Mamat menerima email yang singkat, formal, dan dingin. Proyek besar yang selama ini menjadi penopang utama penghasilannya tidak diperpanjang. Bukan karena performanya buruk. Bukan karena ia lalai. Hanya karena kebijakan perusahaan berubah.
Ia membaca email itu tiga kali.
Tangannya terasa dingin.
Ia langsung membuka aplikasi perbankan. Menghitung ulang. Mengurangi proyeksi. Mengubah rencana.
Dan tanpa sadar satu kalimat muncul di benaknya:
“Rezekiku berkurang.”
Kalimat itu terdengar logis. Rasional. Masuk akal.
Tapi ada yang mengganjal.
Ketika Penghasilan Turun, Apakah Rezeki Ikut Berkurang?
Bukankah beberapa bulan lalu ia dan sahabat-sahabatnya baru saja berdiskusi tentang Surah Hud ayat 6?
Bukankah Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk?
Mengapa sekarang ayat itu terasa jauh?


Ketika Ayat Diuji oleh Kenyataan
Malam itu Mamat tidak langsung pulang. Ia duduk lama di dalam mobilnya. Lampu-lampu kota menyala, tetapi pikirannya redup.
Ia berusaha kuat. Tapi jujur saja, ia takut.
Takut tidak cukup.
Takut dianggap gagal.
Takut masa depan menjadi sempit.
Ia teringat kembali hadis tentang burung.
Burung keluar pagi dalam keadaan lapar. Pulang sore dalam keadaan kenyang.
“Tapi bagaimana kalau burung itu terbang dan tidak menemukan apa-apa?” pikirnya.
Di situlah pertarungan batin dimulai.
Apakah jaminan Allah berarti tidak ada hari sulit? Ataukah jaminan Allah tetap ada meski hari terasa sulit?



Diskusi yang Mengubah Arah
Ketika Mamat menceritakan semuanya kepada Bujang dan Mira, suasana hening cukup lama.
Bujang berkata pelan, “Kalau penghasilan turun, itu fakta. Tapi apakah itu berarti rezeki turun?”
Mamat menghela napas. “Bukankah rezeki itu penghasilan?”
Mira menatapnya serius. “Atau selama ini kita yang menyamakan keduanya?”
Kalimat itu menembus.
Mereka kembali pada ayat itu.
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…”
Ayat itu tidak mengatakan bahwa rezeki selalu datang lewat jalur yang sama.
Ayat itu tidak mengatakan bahwa nominalnya selalu naik.
Ayat itu hanya mengatakan: dijamin.
Dan jaminan Allah tidak pernah gagal.

Rezeki yang Tidak Terlihat
Beberapa minggu setelah proyek itu hilang, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Mamat jadi lebih sering makan malam bersama keluarganya. Ia tidak lagi pulang larut karena tekanan pekerjaan.
Ia mulai membaca lebih banyak. Ia mulai merenung lebih dalam.
Ia mulai bangun malam karena merasa benar-benar butuh pertolongan Allah.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia menangis dalam sujudnya.
Ia sadar sesuatu.
Selama ini ia merasa mandiri karena proyeknya stabil. Ia merasa aman karena penghasilannya terukur. Tanpa sadar, hatinya mulai bergantung pada stabilitas itu.
Mungkin Allah sedang membersihkan ketergantungannya.
Rezeki bukan hanya yang ditambahkan.
Rezeki juga bisa berupa yang diambil untuk menyelamatkan.
Bagaimana jika proyek yang hilang itu justru menyelamatkannya dari kesombongan? Bagaimana jika kehilangan itu adalah cara Allah menariknya kembali mendekat?

Burung Tidak Diberi Peta
Mamat kembali merenungi burung.
Burung tidak pernah diberi peta lokasi makanan. Ia tidak tahu apakah cabang pertama yang ia hinggapi akan memberi hasil.
Tapi ia tetap terbang.
Dan yang lebih penting: ia tidak membawa kecemasan berlebihan.
Manusia sering ingin tahu seluruh peta masa depan sebelum melangkah. Padahal Allah hanya meminta kita melangkah dengan iman.
Burung diberi naluri. Manusia diberi wahyu.
Burung bergerak dengan fitrah. Manusia bergerak dengan iman.
Jika burung saja tidak berhenti terbang hanya karena satu cabang kosong, mengapa manusia berhenti percaya hanya karena satu proyek hilang?

Ketika Rezeki Berubah Bentuk
Suatu hari Bujang berkata kepada Mamat, “Mungkin rezekimu tidak berkurang. Mungkin hanya berganti bentuk.”
Kalimat itu sederhana. Tapi dalam.
Selama proyek itu ada, Mamat mendapat rezeki berupa uang.
Ketika proyek itu hilang, ia mendapat rezeki berupa waktu, kedekatan keluarga, kekhusyukan doa, dan kesadaran spiritual.
Mana yang lebih mahal?
Ada orang yang gajinya naik, tapi salatnya turun. Ada yang hartanya bertambah, tapi hatinya kering.
Jika uang bertambah tetapi iman berkurang, apakah itu benar-benar kenaikan rezeki?
Mamat mulai melihat hidupnya dengan sudut pandang baru.
Penghasilan bisa fluktuatif.
Tetapi jaminan Allah tidak pernah fluktuatif.

Tawakal yang Diuji, Bukan Diucapkan
Tawakal mudah diucapkan ketika keadaan stabil.
Tawakal diuji ketika keadaan berubah.
Di situlah Mamat belajar satu hal penting:
Tawakal bukan berarti tidak merasa takut.
Tawakal berarti tetap melangkah meski ada rasa takut.
Ia tetap mencari peluang baru. Ia tetap mengirim proposal. Ia tetap bekerja profesional.
Namun kali ini hatinya berbeda.
Ia tidak lagi bekerja untuk mengamankan masa depan. Ia bekerja sebagai bentuk ketaatan.
Ia tidak lagi menjadikan proyek sebagai sumber ketenangan. Ia menjadikan Allah sebagai sumber ketenangan.
Dan perlahan, rasa sesak itu berkurang.
Bukan karena penghasilannya langsung naik. Tetapi karena keyakinannya yang naik.

JUST DO IT NOW 
Ketika Penghasilan Turun, Jangan Biarkan Iman Turun
Hari ini lakukan ini, bukan sekadar sebagai latihan, tapi sebagai deklarasi hati:
Hentikan Mengukur Nilai Diri dari Penghasilan
Nilai Anda bukan ditentukan oleh angka.
Nilai Anda ditentukan oleh ketakwaan dan usaha.
Tambah Sujud Saat Ujian Datang
Jika biasanya Anda salat sekadar kewajiban, tambahkan dua rakaat khusus untuk meminta ketenangan.
Jangan hanya mencari solusi finansial.Cari ketenangan spiritual.
Lanjutkan Ikhtiar Tanpa Panik
Kirim lamaran. Cari peluang. Bangun relasi.
Tapi lakukan dengan hati yang yakin, bukan hati yang panik.
Syukuri Rezeki yang Tidak Terlihat
Tuliskan apa yang Allah beri di balik ujian ini.
Waktu? Pelajaran? Kedekatan keluarga? Kesadaran spiritual?
Ucapkan Ini Setiap Pagi
“Ya Allah, Engkau menjamin rezekiku. Maka tenangkan hatiku saat mencarinya.”

Insya Allah tulisan ini dapat memberi inspirasi untuk memahami diri sendiri. Pemberdayaan diri adalah cara untuk berubah semakin baik. Temukan motivasi diri dari motivasi islam ... ada pencerahan, ada iman yang tumbuh semakin baik.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hid...