Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Minggu, Februari 22, 2026

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hidup.  Ini bukan langkah sadar berpikir tapi diONkan hati yang luas. Melanjutkan pemahaman surah hud 6 dalam kehidupan sehari-hari.


Kita baca kembali surah Hud ayat 6,

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. [11] Hud : 6)

“Uang bisa habis. Rezeki Allah tidak pernah salah alamat.”
“Jika Anda masih bernapas, berarti rezeki belum berhenti.”
“Allah Menjamin Rezeki, Tapi Mengapa Kita Masih Gelisah?”
“Gelisah Karena Rezeki, Padahal Sudah Dijamin”
Bujang sedang termenung melihat laporan keuangannya.
Mamat sibuk membandingkan dirinya dengan teman-teman yang sudah “sukses”.
Mira merasa takut menikah karena belum mapan.
Mereka bertiga sering berbincang, tapi selalu berujung pada satu kalimat:
“Bagaimana kalau rezeki tidak cukup?”
Suatu hari mereka mendengar kajian tentang QS Hud ayat 6.
Ayat itu seperti menampar mereka:
“Semua makhluk sudah dijamin rezekinya…”
Mereka tersadar — selama ini mereka lebih percaya pada angka daripada pada janji Allah.



Kata “dābbah” berarti semua makhluk melata — termasuk hewan kecil yang tersembunyi. Allah tidak hanya menjamin jumlahnya, tapi juga:
tempat tinggalnya tempat penyimpanannya
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mengetahui tempat tinggal dan tempat kembalinya setiap makhluk.
Artinya: bukan hanya rezekinya yang Allah tahu, tapi perjalanan hidupnya.
Rasulullah ﷺ  bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; pagi hari ia lapar, sore hari ia kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Burung tidak menunggu rezeki turun ke sarang.
Ia keluar. Ia bergerak. Tapi hatinya tidak gelisah.

Bujang sadar: selama ini ia bekerja dengan ketakutan, bukan dengan tawakal.
Mamat sadar: ia membandingkan takdirnya dengan takdir orang lain.
Mira sadar: ia takut pada masa depan yang bahkan belum terjadi.
Masalahnya bukan kurang rezeki.
Masalahnya adalah kurang yakin.

Kegelisahan yang Diam-Diam Menjadi Kebiasaan
Bujang tidak pernah benar-benar mengeluh. Ia bekerja dengan disiplin, datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, bahkan sering lembur. Namun beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang berubah dalam dirinya.
Ia mulai lebih sering membuka aplikasi perbankan.
Bukan karena ada transfer tambahan. Tapi karena ada rasa takut.
Takut kalau tiba-tiba kurang.
Takut kalau kebutuhan meningkat.
Takut kalau masa depan tidak aman.
Slip gaji yang dulu ia terima dengan rasa syukur, kini ia terima dengan kalkulasi.
“Kalau angka ini naik sedikit saja, hidup pasti lebih tenang,” pikirnya.
Di sisi lain kota, Mamat sedang duduk menatap layar ponselnya. Media sosial dipenuhi kabar pencapaian teman-teman lamanya. Ada yang naik jabatan. Ada yang membeli rumah. Ada yang membuka bisnis baru.
Ia menutup layar itu pelan-pelan.
Tanpa ia sadari, hatinya mulai membandingkan takdir.
Mira pun tak jauh berbeda. Setiap kali pembicaraan tentang masa depan muncul, yang pertama terlintas bukan kesiapan hati, tetapi kesiapan finansial.
“Bagaimana kalau nanti tidak cukup?” katanya suatu malam.
Tiga orang. Tiga kegelisahan. Satu akar masalah yang sama.
Mereka menyempitkan makna rezeki menjadi angka.



Ayat yang Mengguncang Cara Pandang
Suatu sore mereka mengikuti kajian kecil di masjid dekat kantor. Ustaz membuka mushaf dan membacakan satu ayat:
“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya…” (QS. Hud: 6)
Ayat itu terdengar biasa. Bahkan sering mereka dengar.
Namun sore itu berbeda.
Ustaz melanjutkan, “Allah tidak mengatakan sebagian makhluk. Tidak juga mengatakan yang punya pekerjaan tetap. Semua. Bahkan yang tidak punya jabatan.”
Bujang terdiam.
Namun dalam hatinya muncul pertanyaan yang jujur.
“Memangnya burung diberi makan langsung oleh Allah? Bukankah ia tetap harus terbang? Tetap harus mencari?”
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan. Tapi ia bawa pulang.

Memahami Burung dengan Cara yang Baru
Malam itu mereka bertiga kembali berdiskusi.
“Burung itu,” kata Bujang perlahan, “tidak bangun lalu makanan jatuh ke paruhnya. Ia tetap keluar. Ia tetap mencari.”
Mamat mengangguk. “Berarti jaminan rezeki bukan berarti tanpa usaha.”
Di situlah pemahaman mereka mulai bergeser.
Allah memang menjamin rezeki burung. Tapi cara Allah memberi bukan dengan menyuapi langsung. Allah memberi dengan memampukan.
Burung diberi sayap.
Diberi naluri.
Diberi insting membaca arah angin.
Diberi kemampuan menemukan biji yang tersembunyi.
Setiap pagi ia keluar dalam keadaan lapar, dan sore pulang dalam keadaan kenyang.
Jaminan Allah bekerja melalui kemampuan yang Allah berikan.
Maka rezeki bukan hanya hasil akhirnya.
Rezeki adalah kemampuan untuk bergerak.
Rezeki adalah petunjuk untuk menemukan.
Rezeki adalah perlindungan selama perjalanan.
Dan tiba-tiba mereka menyadari sesuatu yang lebih dalam.
Manusia beriman juga begitu.
Allah ingin kita salat dan bekerja.
Salat menjaga hati agar tetap tunduk kepada Pemberi rezeki.
Bekerja adalah media untuk menjemput karunia-Nya.

Kesalahan yang Tak Terasa: Mengganti Pemberi dengan Perantara
Perlahan Bujang mulai jujur pada dirinya sendiri.
Selama ini ia menggantungkan rasa aman pada perusahaan.
Seolah-olah perusahaanlah yang memberi makan.
Padahal perusahaan hanyalah perantara.
Pemberinya tetap Allah.
Mamat pun mulai sadar bahwa ia lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan kekhusyukan salat.
Mira menyadari bahDan di situlah letak kegelisahan itu.
Ketika hati bergantung pada angka, angka menjadi tuhan kecil.
Padahal angka bisa naik dan turun.
Allah tidak.

Menghitung Ulang Apa Itu Rezeki
Suatu malam mereka mencoba melakukan sesuatu yang sederhana.
Alih-alih menghitung pengeluaran, mereka menghitung nikmat.
Bujang menyadari ia masih sehat.
Masih bisa sujud.
Masih bisa bekerja.
Masih punya orang tua yang mendoakan.
Mamat menyadari ia punya pengalaman, jaringan, reputasi baik.
Itu semua modal. Itu semua rezeki.
Mira menyadari ia punya waktu, ide, kreativitas, dan kesempatan belajar.
Lalu mereka bertanya:
Mengapa kita menyimpulkan “kurang rezeki” hanya karena nominal belum sesuai harapan?
Rezeki ternyata jauh lebih luas daripada gaji.
Rezeki adalah kesehatan.
Rezeki adalah iman.
Rezeki adalah waktu.
Rezeki adalah kesempatan taubat.
Rezeki adalah terhindar dari musibah yang tak kita tahu.
Ada orang bergaji besar tetapi tidurnya tidak tenang.
Ada yang hartanya banyak tetapi keluarganya retak.
Jika rezeki hanya uang, mengapa mereka tetap gelisah?

Tawakal yang Aktif, Bukan Pasif
Mereka kembali pada hadis tentang burung.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa jika kita bertawakal seperti burung, kita akan diberi rezeki.
Tawakal seperti burung bukan berarti diam di sarang.
Tawakal berarti keluar dengan usaha, tapi tanpa rasa putus asa.
Bergerak tanpa kehilangan keyakinan.
Orang beriman tidak pasif.
Ia salat dengan tunduk.
Ia bekerja dengan profesional.
Namun hatinya tidak menggantung pada pekerjaan.
Ia tahu bahwa pekerjaannya hanyalah jalan.
Yang menentukan hasil adalah Allah.

JUST DO IT NOW 
Bukan Sekadar Amalan, Tapi Perubahan Paradigma
Hari ini, sebelum membaca seri berikutnya, lakukan ini:
1️⃣ Perbaiki Niat Kerja
Besok pagi sebelum berangkat, ucapkan dalam hati:
“Ya Allah, aku bekerja hari ini sebagai ibadah kepada-Mu.”
Ubah orientasi.
Bukan sekadar gaji.
Tapi pengabdian.
2️⃣ Jaga Salat Tepat Waktu
Jika selama ini salat sering diakhirkan karena pekerjaan, ubah hari ini.
Biarkan pekerjaan menunggu salat.
Karena salatlah yang menjaga rezeki, bukan sebaliknya.
3️⃣ Tulis 15 Rezeki Non-Uang yang Anda Miliki
Jangan berhenti di angka kecil. Paksa diri Anda melihat luasnya karunia Allah.
4️⃣ Hentikan Kalimat “Rezekiku Kecil”
Ganti dengan:
“Allah sedang mengatur rezekiku dengan cara terbaik.”
5️⃣ Sedekah Hari Ini
Walau kecil.
Karena sedekah adalah deklarasi bahwa Anda percaya rezeki datang dari Allah, bukan dari saldo.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hid...