Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Selasa, Februari 24, 2026

Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas

Semangat pagi semuanya. Insya Allah apa yang tulis sebelumnya menginspirasi untuk melakukan banyak hal yang baik. Saya masih meneruskan ulasan untuk mengamalkan ayat Al Baqarah 6 sampai 10

Kisah: “Saya Siapa Tanpa Jabatan Ini?” 

Ia tidak pernah berniat menjadi sombong. Semua bermula dari kerja keras. Datang paling pagi. Pulang paling akhir.
Belajar terus-menerus. Naik jabatan perlahan tapi pasti.
Nama mulai dikenal. Pendapat mulai dihargai.
Keputusan mulai berpengaruh.
Ia senang. Wajar. Namun suatu hari, saat organisasi melakukan restrukturisasi, namanya tidak masuk dalam posisi strategis yang ia harapkan.
Tidak ada yang salah secara sistem. Tidak ada yang tidak adil secara terbuka. Tetapi ia gelisah. Bukan karena gaji.
Bukan karena beban kerja.
Melainkan karena satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul:
“Kalau bukan jabatan ini, lalu saya siapa?”
Malam itu ia membaca ayat:
“Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang beriman.”
Ia terdiam. Bukan karena merasa munafik besar. Tetapi karena ia bertanya dalam hati: “Apakah selama ini aku bekerja untuk Allah… atau untuk identitasku?”

Ayat tentang Wajah dan Batin
Ayat 8–9 menggambarkan orang yang secara lisan mengaku beriman, tetapi hatinya tidak tunduk. Mereka ingin menipu Allah dan orang beriman.
Dalam konteks modern, kemunafikan tidak selalu berarti berpura-pura masuk Islam.
Kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih halus : Mengaku bekerja sebagai amanah, tetapi sebenarnya mengejar pengakuan.
Mengaku ingin kontribusi, tetapi sebenarnya ingin dihormati.
Mengaku ingin berkembang, tetapi sebenarnya takut kehilangan status. Tidak ada yang salah dengan ambisi.
Tidak ada yang salah dengan karier.
Yang berbahaya adalah ketika pekerjaan menjadi pusat identitas.
Ketika harga diri bergantung pada jabatan.
Ketika ketenangan bergantung pada evaluasi atasan.
Ketika rasa aman bergantung pada posisi.
Itulah penyakit yang sangat halus.


Penyakit Halus di Dunia Profesional
Dalam ayat 9, Allah menyebut bahwa mereka ingin menipu, tetapi sebenarnya menipu diri sendiri. Bagaimana seseorang bisa menipu diri sendiri dalam dunia kerja?
Dengan membungkus ambisi sebagai ibadah.
Dengan membungkus ego sebagai kontribusi.
Dengan membungkus gengsi sebagai profesionalisme.
Contohnya:
  • Marah ketika ide ditolak, lalu membenarkannya sebagai “demi kualitas”.
  • Kecewa berlebihan saat tidak dipromosikan, lalu menyebutnya “tidak dihargai”.
  • Bekerja lembur demi pujian, bukan demi amanah.
Semua terlihat profesional. Semua terlihat rasional. Namun hati tahu motif terdalamnya. Dan di situlah rindu kepada petunjuk Allah menjadi penting. Karena hanya cahaya ayat yang bisa membedakan antara ambisi sehat dan ego tersembunyi.


Ketika Iman Menjadi Label
Ada kalanya seseorang tetap shalat, tetap membaca Al-Qur’an, tetap menghadiri kajian. Namun pekerjaannya menjadi identitas utama. Ia dikenal sebagai:
“Manager sukses.”
“Ahli strategi.”
“Orang penting di perusahaan.”
Dan pelan-pelan, identitas sebagai hamba menjadi nomor dua.
Ini bukan kekafiran terang-terangan.
Ini penyakit hati yang sangat halus. Karena iman masih ada di lisan, tetapi hati terlalu bergantung pada dunia.
Dan ketika dunia terguncang, hati ikut runtuh.

Diam Sejenak
Tutup mata sejenak.
Jika hari ini jabatan Anda hilang, apakah Anda masih merasa berharga?
Jika besok nama Anda tidak lagi disebut dalam rapat penting, apakah Anda tetap tenang?
Jika tidak ada yang memuji hasil kerja Anda, apakah Anda masih bersyukur?
Siapakah Anda tanpa kartu nama?
Tarik napas dalam.
Ingat bahwa sebelum menjadi karyawan, Anda adalah hamba.
Dan setelah pensiun, Anda tetap hamba.



Just Do It Now
Jangan tunggu kehilangan jabatan untuk memperbaiki niat.
Just do it now:
  • Setiap pagi sebelum bekerja, ucapkan: “Ya Allah, aku bekerja untuk-Mu.”
  • Ketika berhasil, ucapkan: “Ini dari-Mu, bukan karena aku.”
  • Ketika gagal, ucapkan: “Mungkin Engkau ingin membersihkan hatiku.”
  • Lakukan satu pekerjaan besar tanpa mengumumkannya ke siapa pun.
Latih hati untuk tidak bergantung pada pujian.
Latih hati untuk merasa cukup dengan pengawasan Allah.

Identitas yang Tidak Bisa Dicabut
Jabatan bisa berubah. Struktur organisasi bisa berganti.
Perusahaan bisa tutup. Tetapi identitas sebagai hamba tidak pernah dicabut. Jika pekerjaan dijadikan ladang ibadah,
maka promosi bukan tujuan, melainkan bonus.
Jika pekerjaan dijadikan alat mencari ridha Allah,
maka kegagalan bukan kehancuran,
melainkan pelajaran.
Rindu kepada petunjuk Allah di tengah dunia profesional adalah penjaga identitas. Karena ia mengingatkan:
Anda bukan sekadar posisi.
Anda bukan sekadar performa.
Anda bukan sekadar angka.
Anda adalah hamba yang sedang diuji melalui pekerjaan.

Insya Allah ini adalah upaya untuk memberdayakan diri untuk semakin baik hari ini. Tanpa ini pastilah kita saat ini sama dengan kemarin. Terus motivasi diri dan mesti mampu melakukannya.
Kemunafikan modern bukan selalu tentang agama yang ditinggalkan.
Kadang ia tentang agama yang tetap diucapkan,
tetapi dunia yang menjadi pusat.
Selama Anda masih berani bertanya:
“Apakah aku bekerja untuk Allah atau untuk diriku?”
maka hati Anda belum mati.
Rawat pertanyaan itu.
Karena ia adalah penjaga kejujuran batin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Kerja kok makin sakit

 Semangat pagi semuanya. Apa yang menjadi hikmah dari Al Baqarah tentang ada penyakit yang bertambah. Sebenarnya sakit itu lebih kepada hati...