Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Sabtu, Agustus 23, 2025

Bos hebat karena ada bawahan yang hebat

Alhamdulillahirabbilalamin. Kehidupan dunia ini tidak selalu baik, kadang menyenangkan dan ada kalanya bikin kita tidak baik-baik saja. Tak perlu disesali, terima aja adanya. Dan teruslah berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan sekarang. Ingat agar kita bisa mengerjakan satu hal saja sekarang ... lihat mau jadi apa kita di hari berikutnya. Ingat mati, maka pasti pengen beramal saleh. Ingat kaya, maka pasti pengen kerja luar biasa, dan seterusnya. Jangan sampai kita tidak ingat apa-apa.


Bagi kita yang bawahan, salah gunjingan seru adalah bos yang sok tahu dan efeknya suka emosional. Yang ada adalah selalu perintah tugas. Seolah bos ini tidak ada kerjanya, kerjanya hanya "nyuruh bawahannya aja". Lingkungan ini selalu ada di sebuah kantor, dan hidup lagi. Bawahan ya diam aja, karena merasa tak punya kuasa dan nurut saja. Dan bosnya semakin jadi. 

Bawahan yang sudah bertahun-tahun cukup kesel dan tidak berubah juga sikap bos mereka. Yang waras mengalah, maka diantara bawahan ini berinisiatif "mengoreksi" atasan mereka dengan santun. Apa yang bisa dilakukan :
Pertama, bawahan dengan kompak untuk menjadi pintar. Pintar bukan untuk mengakali bosnya. Tapi membuat kondisi Bos dan team mereka menjadi luar biasa dan dipercaya perusahaan. Apa yang terjadi ? Bawahan bos banyak belajar kompetensi dan kerjasama antar mereka, agar apa yang diperintahkan bos dikerjakan sempurna. Dan yang lebih hebat lagi adalah terlihat Bos sangat pintar dan jenius dengan apa yang dilakukan team. Bos merasa "dibantu" team, bos tak perlu pintar dan tak perlu kerja keras, semua dilakukan bawahannya.
Disini Bos belajar banyak hal tentang kompetensi dari bawahannya, terutama menangani proyek/progran satu demi satu. Cara belajar ini sangat menguntungkan Bos dan Bawahan, tidak ada rasa ketersinggungan dan tidak ada yang menggurui satu sama lain. Yang terpenting adalah tingkat performance tertinggi dari team. Bawahan sangat memberdayakan dirinya menjadi semakin hebat. Disini diperlukan peran "seorang" yang memimpin team, bisa seorang senior atau seorang yang memiliki kepemimpinan tinggi.  
Setelah dipercaya perusahaan karena hasil kerja yang produktif, Bos diberi kepercayaan lebih tinggi dalam karirnya. Apakah Bos merasa senang ? Pasti senang, tapi ada sedikit ganjalan. Apa itu ? Bos merasa "berhutang" budi dengan team yang mengangkat dirinya menjadi dipercaya. Saat Bos di atas, Bos ingin mengangkat bawahan untuk mendampinginya. Alhasil Bos dan Bawahan sama-sama menguntungkan. Inilah salah satu caranya yaitu "Memintarkan Bos", membuat team mensupport Bos untuk sukses.
Cara di atas tidak mudah dilakukan, hambatannya begitu besar. Hambatan teknisnya tidak lebih besar dari faktor emosional, gengsi dan sejenisnya. Semua itu fokus kepada pikiran negatif. Tapi ada pertanyaan yang bisa memacu menjadi sikap dan perilaku team yang baik. Masak sih anggota team tidak mau maju ?? Bukankah dengan mengangkat Bos semakin hebat itu amal soleh dan amal jariah anggota team ?? Tidakkah anggota team tidak mau untuk berkemampuan dan berkarir tinggi di kantor yang bisa dikerjakan bersama (team)  ... mudah dan ringan ??

Bayangkan kinerja perusahaan tersebut menjadi sangat tinggi. Dan semua itu bisa diciptakan dengan membuatnya terjadi, dikelola oleh HRD dan team Training secara profesional. Satu team bisa dibentuk dan dikelola manajemen karir atas semua karyawan. HRD dan team training menjadi "konsultasn" bagi Bos dan bawahannya. Tapi kebanyakan yang terjadi adalah banyak perusahaan "membiarkan" bos dan bawahan berjalan masing-masing, bahkan menutup mata dengan "saling tidak support" antara Bos dan Bawahan. Yang terjadi adalah team dibentuk karena Bos yang dominan dan Bawahan yang lemah.



Berikut obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif)  tentang "memintarkan bos".
Myra: “Gue udah kerja bertahun-tahun, tapi Bos kita tuh nggak berubah-ubah. Sok tahu, nyuruh mulu, tapi nggak pernah kasih solusi. Capek banget.”
Mamat:“Iya, kayak kerjaannya cuma nyuruh. Kita yang mikir, kita yang ngerjain, dia tinggal bilang ‘cepet ya’. Kadang gue mikir, ini Bos kerja nggak sih?”
Bujang: “Gue dulu kesel banget, tapi sekarang gue mikir: daripada ngeluh terus, mending kita bikin Bos kita jadi kelihatan jenius. Kita yang kerja, dia yang dapat pujian. Tapi kita juga naik bareng.”
Myra: “Maksudnya gimana tuh?”
Bujang:“Kita kompak, belajar bareng, kerjain tugas dengan sempurna. Biar Bos nggak perlu mikir detail, tinggal approve. Lama-lama dia sadar, tim ini yang bikin dia sukses.”
Mamat: “Wah, itu sih keren. Jadi kita nggak ngelawan, tapi kita bantu dia jadi lebih baik. Bos merasa dibantu, kita juga jadi makin pintar.”
Myra: “Tapi susah loh, gengsi, emosi, kadang bikin kita males. Apalagi kalau Bos nggak sadar-sadar.”
Bujang: “Makanya kita butuh satu orang yang bisa mimpin tim. Entah senior, atau yang punya jiwa kepemimpinan. Yang bisa jaga semangat dan arah.”
Mamat: “Kalau tim kita solid, kerjaan lancar, Bos naik jabatan, kita juga ikut naik. Bos jadi punya utang budi, dan bisa angkat kita.”
Myra: “Iya ya, kalau dipikir-pikir, bantu Bos sukses itu bisa jadi amal jariah juga. Kita kerja bukan cuma buat gaji, tapi buat kebaikan tim.”
Bujang: “Betul. Yang penting jangan lupa: jangan nunggu Bos berubah, kita yang mulai duluan. Bikin tim hebat, bikin Bos hebat.”

Ide dan implementasi ini dapat diambil inisiatif seorang karyawan dan beberapa karyawan atau oleh pemilik perusahaan dengan HRD dan team training sebagai pelaksana. Atau karena organisasi yang lemah dalam perusahaan, siapa saja bisa memulai untuk dirinya dan kebaikan team dan Bos. Insya Allah langkah yang diambil menjadi perhatian sesama karyawan lainnya. Tidak ada yang sia-sia, butuh ilmu dan komitmen untuk membuktikan kinerja hebat dari waktu ke waktu.

Insya Allah tulisan ini mampu menginspirasi siapa saja yang mau memberdayakan diri semakin berkembang, kemampuan teknis, manajemen dan kepemimpinan. Tulisan ini sangat ingin memotivasi diri dengan sikap dan perilaku baik. Tidak ada sikap dan perilaku emosional yang mengantarkan seseorang menjadi lebih baik.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri


Jumat, Agustus 22, 2025

Senyum itu bukan untuk orang lain saja

Alhamdulillahirabbilalamin. Di hari Jum'at yang dimaknai sebagai bentuk hari baik, dan Insya Allah kita selalu dimampukan berbuat baik hari ini. Kata berbuat baik itu menjadi berharga saat kita yang melakukannya dapat merasakannya dengan hati. Ada hikmah, dan mendorong untuk berbuat baik lagi. Seiring itu kita pun merasa berbuat baik itu untuk dinikmati orang lain, sehingga fokus ini suka melalaikan kita untuk memberi yang terbaik bagi diri.


Obrolan 3 sahabat kita, enaknya dipanggil 3 Sahabat Hati (hangat inspiratif). Angin pagi berhembus lembut, matahari hangat tapi belum terik. Di sekitar mereka, orang-orang berolahraga, anak-anak bermain, dan suara burung terdengar samar.
Myra: (sambil menyeruput teh hangat). “Pagi ini adem banget ya… rasanya damai. Kadang aku mikir, kalau semua orang bisa mulai hari dengan niat berbuat baik, dunia pasti lebih tenang.”
Mamat: (nyengir sambil stretching). “Setuju. Tapi kadang orang mikir, ‘berbuat baik itu harus besar’. Padahal senyum aja bisa jadi kebaikan.”
Bujang: (berdiri sambil melihat orang tua yang sedang jalan pagi)
“Benar. Aku pernah baca, ‘Berbuat baik bukan soal siapa yang melihat, tapi siapa yang merasakan.’ Kebaikan kecil bisa jadi cahaya buat orang lain.”
Myra: “Kadang kita nggak tahu, satu kata ramah atau satu bantuan kecil bisa jadi penyelamat buat orang yang lagi hancur.”
Mamat: “Makanya aku suka ungkapan ini: ‘Jadilah alasan seseorang tersenyum hari ini.’ Ringan, tapi dalam.”
Bujang: “Dan yang paling keren, kebaikan itu menular. Satu tindakan bisa nyebar ke banyak orang. Kayak domino, tapi versi positif.”
Myra: (tersenyum). “Yuk, kita mulai dari diri sendiri. Nggak perlu nunggu momen besar. Mulai dari hal kecil, tapi konsisten.”
Mamat: “Siap. Hari ini aku mulai dengan bantu ibu bersih-bersih rumah. Kecil, tapi semoga bermanfaat.”
Bujang: “Aku mau kirim pesan ke teman lama. Sekadar nanya kabar. Siapa tahu dia butuh teman bicara.”
Myra: “Lihat tuh, anak kecil bantu ambil botol minum buat neneknya. Kebaikan itu nggak kenal usia.”
Mamat: “Dan nggak kenal waktu. Pagi, siang, malam… selalu ada ruang untuk berbuat baik.”



Nah, saya mengambil kata kunci dari obrolan 3 sahabat Hati di atas ada kata berbuat baik, dari hal kecil, konsisten, memberi kebaikan kepada orang lain. Terus ? bagi saya untuk memudahkan saya untuk memahami dan menjelaskannya.

Apa sih yang dimaksud berbuat baik itu ? Ada yang bilang,"semua orang juga tahu". Tapi kan berbeda referensinya, tergantung lingkungan dan latar belakangnya. Misalkan berbuat baik di pulau Sumatera dan pulau Jawa ada perbedaan. Misalkan mendahalui orang di depan kita, mungkin di Sumatera lewat aja, tapi di Jawa mesti bilang permisi dulu, atau bahkan ada juga di adab Melayu lebih mendahulukan yang tua. Dan ada banyak lagi. Berbuat baik ? Iya semua itu berbuat baik. 
Berbuat baik adalah tindakan yang membawa manfaat, kenyamanan, atau kebahagiaan bagi orang lain, diri sendiri, atau lingkungan — dilakukan dengan niat tulus tanpa mengharapkan imbalan.
  1. Secara Sederhana: Berbuat baik adalah melakukan sesuatu yang benar, bermanfaat, dan penuh niat baik.
  2. Secara Emosional: Berbuat baik adalah memberi kelegaan, harapan, atau senyum kepada orang lain — bahkan jika itu hanya lewat kata-kata atau perhatian kecil.
  3. Secara Spiritual: Berbuat baik adalah bentuk ibadah, pengabdian, atau jalan menuju kedamaian batin dan keberkahan hidup.
Contoh Berbuat Baik yang Sederhana Tapi Bermakna
  • Menyapa orang dengan ramah
  • Mendengarkan tanpa menghakimi
  • Membantu rekan kerja menyelesaikan tugas
  • Memberi jalan kepada orang lain
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Menyemangati teman yang sedang lelah
Dampak Berbuat Baik
Bagi orang lain: Merasa dihargai, didukung, dan tidak sendirian.
Bagi diri sendiri: Meningkatkan rasa bahagia, percaya diri, dan makna hidup.
Bagi lingkungan: Menciptakan suasana yang harmonis dan saling peduli.
Kesimpulannya adalah Berbuat baik tidak harus besar, tidak harus terlihat, dan tidak harus dibalas. Yang penting: niatnya tulus, dampaknya nyata. Kalau dalam agama bernilai pahala dan memenuhi ketentuan syariat. Salah syaratnya adalah ikhlas.

Berbuat baik itu bisa seperti contoh di atas, tapi bisa juga hal yang lebih dari itu. Misalkan membantu seseorang yang kesusahan, mulai memberi solusi, dukungan sampai seseorang itu lepas dari kesusahan.
Pertanyaan apakah kita yang berbuat baik itu merasa "terpaksa" melakukannya karena lingkungan dan orang yang dihadapi ? Kok gitu, karena bisa jadi kita tersenyum saat bertemu dengan atasan kerja kita atau kita berada di lingkungan yang baik semua. Bisa jadi kita berbuat baik (senyuman) itu tidak hadir dari dalam diri, Apakah hal ini berdampak ? Saya rasa tidak. Karena buat diri sendiri aja tidak, senyumnya bukan dari dalam. Apalagi berdampak buat orang lain. Dari sini saat kita berbuat baik, maka mesti memenuhi ketentuan yang pertama yaitu dilakukan untuk diri sendiri dulu. Saya tersenyum karena saya ingin tersenyum atau lebih dalamnya saya tersenyum karena Allah. ketentuan ini pasti memberi kebaikan bagi diri saya sendiri. Bisa ikhlas dimana senyuman terpancar dari hati. Vibrasi senyum ini direspon positif oleh alam semesta dan menyentuh orang yang dihadapan kita. Dampaknya pasti ada kepada semua orang yang menangkap vibrasi berbuat baik, termasuk alam semesta. Kalau saya ingin mengatakannya sebagai berikut "Saya berbuat baik karena Allah atau saya berbuat baik seperti Allah telah berbuat baik kepada saya"

Dampak yang luar biasa adalah berbuat baiknya tidak meremehkan hal kecil dan tidak mau hanya sekali tapi terus-menerus (konsisten). Berbuat baik yang kecil itu jika dilakukan terus-menerus adalah berbuat baik yang besar, sebagai melatih jalan menuju berbuat baik yang lebih besar lagi. 

Apa yang menjadi ukuran bagi kita sendiri dalam berbuat baik ? karena berbuat baik itu dimulai dari diri sendiri, maka kitalah yang mengukurnya dan tidak perlu divalidasi kepada orang lain. Misalkan kita bertanya apa dampaknya kepada orang lain ? Kalau jawabannya tidak berdampak, apakah lalu kita belum berbuat baik ? Maka dari itu berbuat baiklah untuk diri sendiri saja dulu dan Insya Allah dapat dirasakan orang lain. Jadi ukuran berbuat baik itu adalah diri kita sendiri.
Sebagai contoh dimana berbuat baik yang sederhana itu berdampak kepada diri kita sendiri. Diantaranya kita mampu beraktivitas semakin produktif.
Misalkan kita tersenyum dalam kerja dan menyapa orang disekitar kita yang juga menampakkan semangat kerja di tempat kerja.
Sebenarnya Senyum dan semangat yang kita berikan adalah untuk diri kita sendiri, dan terhadap Allah yang kita hadapi dalam kerja, yang memberi amanahNya. Senyum dan semangat kerja yang kita pertunjukkan adalah untuk Allah, pastilah yang terbaik. Pancaran atau vibrasi atau aura senyum dan semangat itu terpancar kesemua arah, termasuk orang di sekitar kita. Yang bisa jadi saat kita menyapa mereka atau mereka yang melihat kita yang tersenyum dan bersemangat dalam kerja.
Yang menjadi perhatian kita adalah apakah kita mewujudkan senyum dan semangat sebagai energi untuk menggerakkan aktivitas atau kerja kita ? Jawabannya pasti iya, masak sih kita hanya tersenyum dan semangat aja kepada Allah tanpa menunjukkannya dalam kerja.  Inilah dampaknya yang kita mesti rasakan, ada hati yang bahagia (senang) yang mendorong kita ikhlas senyum, semangat dan beraktivitas.
Apakah kerja kita produktif ? Mestinya iya, karena kita dalam kesadaran kepada Allah. Produktivitas yang seperti apa ? Apa yang kita kerjakan pasti menuju satu tujuan utama dalam hidup kita, apa itu ? Semakin meningkatkan iman dan taqwa. Hati-hati jika kita kerja tapi tidak menuju kepada tujuan hidup, maka kerja ini bisa hanya menyenangkan saja dan tidak memiliki tujuan atau arahnya. Terus ada yang tanya ? Kalau kita bekerja menuju iman dan taqwa, bagaimana dengan target kerja secara profesional ? Tenangkan dan renungkan ... kerja yang profesional itu bagian dari kerja produktif menuju iman dan taqwa. Apa iya kerja produktif menuju iman dan taqwa itu hanya ibadah salat dan doa saja ? Saya jawab tidak seperti itu. Memang itu adalah bagian dari kerja produktif menuju iman dan taqwa. Ibadah itu dibagi 2 bagian yaitu ibadah khusus (salat dan sejenisnya) dan ada ibadah umum seperti halnya kerja profesional. Kerja profesional itu adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, Allah izinkan dan menjadikan kita sebagai khalifah (mewakili Allah) dengan apa yang kita pilih dalam bekerja. Apa begitu aja ? Tidak, kerja profesional yang amanah itu mesti dipertanggungjawabkan kepada Allah. Sama halnya dengan ibadah khusus. Kedua ibadah (umum dan khusus) saling menguatkan menuju kerja produktif menuju iman dan taqwa. 
Apa iya, kita dominan dalam ibadah khusus tapi meninggalkan amanah ibadah umum ... lalu disebut beriman. Misalkan ibadah khusus itu salat, bukankah salat itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. Salatnya baik, maka perilaku dan kerjanya juga bagus yang terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Begitulah seharusnya iman dan taqwa itu membawa kita kepada ibadah khusus yang berkualitas dan membawa kita mempertanggungjawabkan ibadah umumnya secara berkualtias juga.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ukuran dari berbuat baik itu adalah tidak hanya sekedar ikhlas tapi memberi dorongan kita berakhlak (perilaku dan kerja) yang baik, yang Allah ridhai.

Apakah berbuat baik itu mesti perlu biaya ? Apa Itu Kebaikan Kecil dan Mudah? Ternyata Kebaikan kecil adalah tindakan positif yang:
  • Tidak membutuhkan biaya besar
  • Tidak memakan waktu lama
  • Bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja
Contoh di lingkungan kantor:
  • Menyapa rekan kerja dengan senyum
  • Membantu rekan yang kesulitan tanpa diminta
  • Memberi pujian tulus atas hasil kerja
  • Menawarkan bantuan saat ada deadline
  • Membagikan informasi atau tips kerja yang bermanfaat
Bagaimana Kebaikan Kecil Meningkatkan Produktivitas di Kantor? Seperti yang telah dijelaskan di atas, lakukan saja untuk diri kita sendiri (kebaikan untuk diri sendiri).
1. Meningkatkan Suasana Kerja
  • Kebaikan menciptakan lingkungan kerja yang hangat dan suportif. Ketika orang merasa dihargai dan didukung, mereka:
  • Lebih semangat bekerja
  • Lebih terbuka untuk berkolaborasi
  • Lebih tahan terhadap stres
Produktivitas meningkat karena suasana kerja yang sehat.

2. Memperkuat Hubungan Antar Tim
Tindakan kecil seperti membantu atau mendengarkan bisa membangun kepercayaan dan rasa saling menghargai.
Tim yang solid bekerja lebih efisien dan minim konflik.

3. Meningkatkan Motivasi Pribadi
Berbuat baik memberi rasa puas dan makna. Ini memicu hormon positif seperti dopamin dan oksitosin.
Karyawan yang merasa bahagia cenderung lebih fokus dan produktif.

4. Mengurangi Ketegangan dan Stres
Kebaikan kecil bisa meredakan suasana tegang, misalnya:
  • Menenangkan rekan yang panik
  • Memberi kata-kata penyemangat saat rapat
  • Stres berkurang, kerja jadi lebih lancar.
5. Menciptakan Budaya Positif
Jika kebaikan kecil dilakukan secara konsisten, itu akan menjadi budaya kerja.
Budaya positif = karyawan betah, turnover rendah, dan produktivitas tinggi.

Contoh Nyata di Kantor
Kebaikan kecil     : menawarkan dan membawa kopi buat temen
Dampak langsung : Meningkatkan keakraban dan saling suport
Kebaikan kecil : memberi semangat dan pujian di chat 
Dampak langsung : meningkatkan kepercayaan diri
Kebaikan kecil : Membantu menyusun laporan
Dampak langsung : Mempercepat pekerjaan tim dan meningkatkan kepercayaan atasan

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca dan memahami tulisan di atas ? Anda bisa melakukannya dan membuat diri Anda sendiri merasa bahagia dan menyenangkan. Semua itu semakin bermakna saat Anda juga mampu memberdayakan diri di rumah, di kantor dan di masyarakat yang memampukan produktivitas menuju iman dan taqwa. Inilah motivasi Islam membangun diri seseorang yang menjadi semakin baik. 

Buatlah catatan kecil apa yang ingin Anda evaluasi dan Anda ingin wujudkan untuk mencapai keberhasilan dalam kerja dan iman ! Just do ti Now or You die.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri


Kamis, Agustus 21, 2025

Udah bisa bangun paginya

Alhamdulillahirabbilalamin masih diberi kesempatan hari ini, dibangunkan dan diberi pikiran fresh untuk memperbaiki keadaan sendiri. Hari sepertinya sama pagi hingga malam, tapi setiap hari berbeda. Setiap hari yang dilewati adalah mengurangi jatah waktu hidup di dunia ini. Dengan berkurangnya jatah waktu hidup di dunia ini, mesti diimbangi dengan berapa banyak hari telah mengubah diri kita menjadi semakin baik. Beruntunglah orang yang timbangan kebaikannya banyak.


Apa yang saya tulis tentang keinginan bangun pagi ... sudah lewat. Tapi bangunnya belum setiap hari pagi sekali. Praktek demi praktek telah dilakukan ... dan hasilnya adalah belum maksimal. Ada hal yang menarik tentang alarm, biasanya alarm diletakkan di dekat kita tidur. Waktu itu ada strategi bangun pagi itu meletakkan alarm jauh dari saya. Dan ada hari dimana saya meletakkannya disamping tempat tidur. Apa yang terjadi ? Saya bangun oleh alarm di dekat saya, saya pun mematikan alarmnya karena bunyinya menganggu ... lalu saya tidur lagi. Tapi apa yang lakukanketika bangun pagi dengan alarm jauh dari saya. Saya bangun, lalu saya berdiri dan mematikan alarm. Ternyata berdiri dan bangunnya itu membuat saya telah melepaskan ikatan setan yang pertama, berikutnya ? Apakah saya tidur lagi atau ke kamar mandi untuk wudhu ? Dominasi penguatan dalam pikiran mesti diarahkan kepada yang baik, ingin bertemu Allah dalam Tahajud. Maka Penguatan ini cenderung mengarahkan saya melepaskan ikatan setan yang kedua dan seterusnya. Bangun deh pagi itu. Jadi saya memiliki pengalaman tentang alarm dan dorongan untuk  melepaskan ikatan setan dalam tidur saya. Apakah hanya pengalaman saja ??  Ternyata memberi dampak positif, apa itu ?
  1. Saya sangat kuat untuk membuat kebiasaan baru meletakkan alarm jauh dari saya. Selalu ada khawatir "susah" matiin alarmnya, dan dibalik kesusahan itu ada kebaikan yang mendorong saya berdiri dan bangun.
  2. Saya sangat ingin membuat afirmasi (penguatan) yang lebih kuat tentang salat Tahajud yang mendorong saya melepaskan semua ikatan tidur oleh setan. Tidak ada cara lain saya mesti mempelajari segala hal tentang salat Tahajud.
  3. Pengalaman saya bisa bangun pagi telah menjadi memori dalam pikiran bawah sadar. Dan saya ingin ini terjadi lagi dan lagi, menciptakan kebiasaan yang bisa mentrigger saya bangun pagi. Setelah bangun pagi, saya mesti sadarkan diri untuk melakukan kebaikan bersama Allah.
itulah hikmahnya.



Saya jadi ingin menulis tentang keinginan saya bangun pagi ini dalam bentuk yang lebih terstuktur agar mudah dipahami. Saya mulai dari keinginan saya bangun pagi.
Pikiran sadar saya :
Keinginan : Bangun pagi 02:30 
Apakah keinginan saya ini baik ? Karena saya beriman kepada Allah, maka saya mesti memiliki tujuan atau keinginan yang baik yang dirahmati Allah. Untuk apa ? Agar Allah merahmati keinginan saya dan mensupport saya. 
Agar keinginan itu menjadi baik, maka saya membuat bangun pagi saya diisi dengan banyak kebaikan. Perlu membuat list kebaikan yang bisa dilakukan agar "membuat" pikiran saya berimanjinasi.
Pertama apapun kebaikan yang saya lakukan adalah bentuk ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintahNya. BUkankah ini adalah jalan ketaqwaan ?? Insya Allah.
Kedua adalah bangun pagi saya untuk menghadap Allah dalam Tahajud saya. Dimana Allah telah menunggu saya di atas langit bumi untuk melihat dan mendengar curhatan saya, dan tentu mengabulkan doa saya. Ini adalah kesempatan yang ditawarkan Allah dan sangat sedikit yang bisa melakukannya. Ketaatan ini bisa menjadi kecintaan saya kepada Rasulullah, karena saya meneladani tidur dan bangunnya rasulullah.
ketiga adalah saya bisa banyak berzikir atau beristighfar, mengaji dan belajar apa saja atau saya bisa berolah raga.
Tujuan atau keinginan yang baik itu tentu baik di mata Allah dan berharap dirahmati Allah. 
Tujuan dari yang baik ini bisa membuat saya berniat yang baik pula. Niat untuk beribadah dan bertaqwa kepada Allah.
Apa dampak dari tujuan baik dan niat saya ?
Pikiran saya berimajinasi kepada Allah yang memberi (mengizinkan) saya mendapatkannya. Disini saya merasa yakin dan tanpa ragu, Allahlah yang merespon dengan benar dan sesuai janjiNya. Maka hadir semangat di hati, semangat yang diiringi oleh La haula wala quwata ilabillah. Allah mencukupkan dan menyempurnakan dengan daya dan kekuatanNya. Ada enegi untuk menggerakkan semuanya.

Apa latar belakang : 
Pertama dorongan untuk hidup semakin baik terutama meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.  
Kedua karena saya selama ini bangunnya tidak pagi, tidak seperti orang-orang beriman. Bisa jadi ada korelasi antara bangun pagi dengan kehidupan saya yang tidak baik-baik saja.

Pikiran bawah sadar saya :
Afirmasi : Semua yang positif saya pikirkan untuk bangun pagi adalah kekuatan yang saling menguatkan. Termasuk self talk saya mengarahkan saya untuk bangun,"bangun pagi baik buat saya, lakukan saja". Tidak hanya itu ada afirmasi baru berupa ilmu dan pengetahuan baru. Misalkan 
  1. "Saya batu tahu tentang tidur saya dininabobokan setan dengan 3 ikatan, selama saya bisa melepaskannya maka saya bisa bangun sempurna. Bayangkan saya hanya bangun tapi tidak wudhu dan salat ... rasa ngantuknya masih ada atau setan masih berada dalam diri saya sepanjang hari" 
  2. "Turunnya Allah di langit pada 1/3 malam dan menunggu hambanya berdoa dan Dia mengabulkannya. Apa nggak pengen ? Pastilah saya pengen dilihat, dipantau, didengar dan dikabulkan doanya" dan banyak afirmasi lainnya.
Tidak sekedar afirmasi yang saya kuatkan, saya pun mulai berpikir positif tentang bangun pagi, tidak lain untuk menghalangi kekhawatiran dan ketakutan saya, diantaranya  
Kekhawatiran dan ketakutan saya :
  1. tidak bisa bangun pagi, karena sebelumnya tidak lagi bangun pagi. Apalagi cuaca saat ini sangat dingin.
  2. iya apa iya, hanya sebuah keinginan saja ???
  3. Semua yang dirumah ini juga tidak ada yang bangun pagi.
  4. Biasanya juga udah pengen bangun pagi, karena dingin tidur lagi
  5. Iya sih saya bisa bangun pagi, tapi nantinya tidak ngantuk di awal hari menjelang bekerja/aktivitas.
  6. kalau saya bangun pagi nanti tidak cukup waktu tidur saya.
  7. Pernah bangun pagi tapi juga gagal untuk konsisten.
  8. Tidur yang baik itu mesti tenang dan nyenyak.

Kenapa kekhawatiran dan Ketakutan Ini Muncul?
Karena pikiran bawah sadar menyimpan pengalaman negatif atau asumsi yang belum diuji. Karena tubuh dan otak terbiasa dengan rutinitas lama yang nyaman.
Karena belum ada penguatan positif dari pengalaman bangun pagi yang menyenangkan.

Apa akibatnya ? Vibrasi dari pikiran bawah sadar yang negatif ini direspon oleh alam semesta sebagai bagian dari hukum tarik-menarik (LOA). Responnya bisa menguatkan saya untuk dihalangi untuk bangun tidur.
Misalkan saat saya bangun saat alarm bunyi, lalu pikiran bawah sadarnya merasakan udara dingin banget. bila dibiarkan saja, otomatis pikiran bawah sadar menarik selimut dan tidur lagi. Disinilah pikiran sadarnya untuk bangun pagi tidak kuat dan akhirnya jadi tidur lagi.
Sama halnya di siang hari, paginya sudah bangun. Ada lintasan pikiran dari bawah sadar mengatakan "nanti ngantuk" dan memang kejadian. Mengapa ? Pada saat pikiran bawah sadar itu hadir "ngantuk", maka direspon oleh tubuh secara otomatis jadi lemes dan capek serta matapun layu. Jadi dengan kejadian ini pikiran menyimpulkan bangun pagi itu ngantuk dan disimpan lagi sebagai memori lagi yang semakin kuat.
Bagaimana melawan hal di atas ?
Kita mesti mengambil alih pikiran bawah sadar itu dengan pikiran sadar. Saat sadar dijaga kesadarannya dengan memori yang baik yang juga berada dalam pikiran bawah sadar. Saat bangun dan merasakan dingin, maka alihkan kesadaran saya "memang dingin tapi saya ingin bertemu dengan Allah" maka keputusan menarik selimut dan tidur lagi TIDAK JADI. Akhirnya bangun. Atau kita ingat afirmasi positif yang telah kita buat. "Saya mau berdoa dan berharap Allah kabulkan". Maka pikiran bawah sadar yang negatif dan LOAnya segera berganti dengan pikiran sadar yang positif.  Dalam contoh bangun pagi itu bikin ngantuk, saat siang hari kita mesti sadar bahwa "ngantuk"nya itu dihadapi dengan "cuci muka" atau mengalihkan dengan sadar masak sih saya mau tidur di siang bolong atau fokus kerja aja. Seiring waktu "pikiran bawah sadar yang bilang ngantuk" hilang atau berganti.

Bagaimana sudah paham dengan penjelasan di atas ? Bangun pagi tidak saja hanya sebuah keinginan, tapi mesti diupayakan terjadi. 

Untuk dapat memahami makna pikiran bawah sadar, pikiran sadar dan LOA, yuk baca ya ...


Setiap manusia memiliki keinginan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Namun, perubahan bukan hanya soal tindakan fisik, melainkan juga melibatkan pikiran sadar, emosi, dan alam bawah sadar. Dalam perspektif Law of Attraction (LOA), perubahan diri dimulai dari frekuensi energi yang kita pancarkan melalui pikiran dan perasaan. LOA menyatakan bahwa apa yang kita pikirkan dan rasakan secara dominan akan menarik pengalaman serupa ke dalam hidup kita.
Memahami Dasar LOA dalam Perubahan Diri
LOA bekerja berdasarkan prinsip bahwa energi menarik energi yang serupa. Jika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, ia harus terlebih dahulu mengubah frekuensi energinya—yaitu pikiran, keyakinan, dan emosi yang ia pancarkan.
Tiga Pilar LOA dalam Transformasi Diri:
  • Pikiran dan Logika (Mindset dan Keyakinan)
  • Semangat dan Emosi (Energi dan Motivasi)
  • Alam Bawah Sadar (Program Internal dan Kebiasaan)
1. TINDAKAN (ACTION)
Mulai dari langkah nyata yang bisa dilakukan setiap hari.
Tentukan tujuan perubahan (misalnya: lebih percaya diri, lebih produktif).
Buat rutinitas harian: afirmasi pagi, jurnal malam, visualisasi.
Ambil langkah kecil yang konsisten (misalnya: berbicara di rapat, menyelesaikan tugas tepat waktu).
Tips: Jangan tunggu motivasi datang, mulai dulu dari tindakan kecil.

2. Pikiran dan Logika: Menyusun Mindset Positif
Perubahan dimulai dari kesadaran. Pikiran sadar adalah alat utama untuk mengarahkan hidup. Dalam LOA, pikiran adalah emancar sinyal ke alam semesta. Gunakan akal sehat untuk mendukung perubahan.
Langkah-langkah Praktis:
  • Identifikasi Pola Pikir Lama: Tuliskan keyakinan negatif yang selama ini menghambat, seperti “saya tidak cukup baik” atau “saya tidak bisa sukses.”
  • Ganti dengan Afirmasi Positif: Ubah pola pikir tersebut dengan afirmasi seperti “Saya layak untuk sukses” atau “Saya mampu berubah.”
  • Evaluasi keyakinan lama: “Apakah ini benar atau hanya asumsi?”
  • Ganti dengan logika baru: “Saya pernah berhasil, berarti saya bisa.”
  • Gunakan bukti nyata untuk memperkuat keyakinan positif.
  • Contoh: “Saya pernah menyelesaikan proyek besar, berarti saya mampu.”
2. Visualisasi: Bayangkan diri Anda yang sudah berubah. Rasakan emosi positif dari versi diri yang lebih baik itu.
Logika sebagai Pendukung: Gunakan logika untuk memperkuat afirmasi. Misalnya, jika Anda berkata “Saya bisa sukses,” dukung dengan bukti nyata dari pengalaman atau kemampuan Anda.
Contoh Afirmasi LOA :
“Saya menarik perubahan positif ke dalam hidup saya setiap hari. Saya terbuka untuk pertumbuhan dan kesuksesan.”

3. Semangat dan Emosi: Mengatur Frekuensi Energi
Emosi adalah bahan bakar dari LOA. Pikiran tanpa emosi tidak cukup kuat untuk menarik realitas baru. Semangat dan motivasi adalah bentuk energi yang mempercepat manifestasi.
Cara Meningkatkan Energi Positif:
Syukuri Hal-Hal Kecil: Rasa syukur meningkatkan frekuensi energi secara instan.

4. PERASAAN (EMOSI)
Perasaan adalah bahan bakar manifestasi.
Rasakan emosi positif saat membayangkan perubahan.
Latih rasa syukur setiap hari.
Hindari tenggelam dalam emosi negatif terlalu lama.
Latihan: Tulis 3 hal yang kamu syukuri setiap hari.

5. HATI (INTUISI & NIAT)
Hati adalah kompas perubahan.
Dengarkan intuisi: apa yang benar-benar kamu inginkan?
Tetapkan niat yang jelas: “Saya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya.”
Jaga niat tetap murni dan tidak dipenuhi ego atau pembuktian.
Refleksi: “Apakah perubahan ini untuk kebaikan saya atau hanya untuk menyenangkan orang lain?”

6. Lakukan Aktivitas yang Membuat Bahagia: Musik, olahraga, meditasi, atau berkarya.
Kelilingi Diri dengan Energi Positif: Hindari lingkungan atau orang yang toksik.
Jaga Konsistensi Emosi: Jangan biarkan emosi negatif mendominasi terlalu lama. Sadari, terima, lalu lepaskan.
Teknik LOA: Emotional Guidance Scale
Gunakan skala emosi untuk mengetahui di mana posisi Anda. Dari rasa takut ke rasa syukur, setiap emosi memiliki frekuensi. Tujuannya adalah naik ke emosi yang lebih tinggi.

5. Alam Bawah Sadar: Mengubah Program Internal
Alam bawah sadar menyimpan program otomatis yang mengendalikan 95% perilaku kita. Jika ingin berubah, kita harus memprogram ulang alam bawah sadar.
Cara Kerja Alam Bawah Sadar dalam LOA:
Ia menerima sugesti berulang.
Ia tidak membedakan antara realita dan imajinasi.
Ia bekerja berdasarkan kebiasaan dan emosi dominan.
Teknik Reprogramming:
  • Afirmasi Berulang: Ulangi afirmasi setiap pagi dan malam.
  • Meditasi dan Visualisasi: Dalam kondisi relaks, bayangkan perubahan yang diinginkan.
  • Hypnosis Ringan: Dengarkan audio afirmasi saat menjelang tidur.
Di sinilah perubahan jangka panjang terjadi.
Contoh Afirmasi: “Saya layak untuk sukses dan bahagia.”
Tulis perasaan, afirmasi, dan visualisasi setiap hari.
Hari ini saya merasa: bahagia
Afirmasi saya: “Saya berkembang semakin bahagia setiap hari.”
Visualisasi saya: imajinasi kebahagiaan yang dirasakan

6. Proses Perubahan: Dari Niat ke Manifestasi
Perubahan bukanlah proses instan. LOA mengajarkan bahwa niat yang jelas, keyakinan yang kuat, dan tindakan yang selaras akan membawa hasil.
Tahapan Manifestasi LOA:
  • Niat (Intention): Tentukan dengan jelas apa yang ingin Anda ubah.
  • Keyakinan (Belief): Percaya bahwa perubahan itu mungkin dan layak untuk Anda.
  • Emosi (Feeling): Rasakan seolah-olah perubahan itu sudah terjadi.
  • Tindakan (Action): Ambil langkah nyata yang mendukung niat Anda.
  • Penerimaan (Receiving): Terima perubahan dengan terbuka dan syukur.
7. Hambatan Umum dan Cara Mengatasinya
Keraguan dan Ketakutan:
Solusi: Hadapi dengan logika dan afirmasi. Tanyakan, “Apakah ketakutan ini benar-benar nyata?”
Lingkungan Negatif:
Solusi: Batasi interaksi atau ubah cara Anda merespons.
Kurangnya Konsistensi:
Solusi: Buat rutinitas harian LOA seperti afirmasi pagi, jurnal malam, dan meditasi.

8. PRASANGKA BURUK (NEGATIVE ASSUMPTIONS)
Ini adalah penghalang energi positif.
Sadari prasangka seperti: “Pasti gagal lagi,” “Orang lain lebih hebat.”
Tantang prasangka itu dengan pertanyaan logis: “Apa buktinya?”
Ganti dengan prasangka baik: “Saya sedang belajar dan berkembang.”
Latihan: Tulis prasangka buruk → ubah jadi prasangka baik.

9. SELF-TALK NEGATIF (SUARA DALAM DIRI)
Ini sering tidak disadari tapi sangat berpengaruh.
Perhatikan kalimat yang kamu ucapkan ke diri sendiri.
Ganti “Saya bodoh” → “Saya sedang belajar.”
Ganti “Saya tidak bisa” → “Saya belum bisa, tapi saya akan belajar.”
Tips: Perlakukan diri sendiri seperti sahabat terbaikmu.

8. Studi Kasus: Perubahan Diri dengan LOA

Bujang, seorang profesional yang ingin menjadi lebih produktif dan percaya diri, mulai menerapkan LOA:

  • Ia menulis afirmasi setiap pagi: “Saya produktif dan percaya diri.”
  • Ia memvisualisasikan dirinya berbicara dengan percaya diri di depan tim.
  • Ia mulai merasa lebih semangat dan mulai mengambil tindakan kecil seperti berbicara lebih aktif di rapat.

Dalam 3 bulan, ia merasa lebih percaya diri dan mulai mendapatkan tanggung jawab baru.

Menjadi Magnet Perubahan Positif
Perubahan diri bukan hanya soal disiplin, tapi juga soal energi yang kita pancarkan. Dengan LOA, kita belajar bahwa pikiran, emosi, dan alam bawah sadar adalah alat utama untuk menciptakan versi terbaik dari diri kita.
Pesan Akhir:
“Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk berubah. Kamu hanya perlu menjadi sadar, konsisten, dan terbuka untuk menerima versi terbaik dari dirimu.”

KESIMPULAN: KUNCI PERUBAHAN DIRI
Aspek                      :Tindakan
Fokus Utama      : Konsistensi Langkah Kecil
Latihan Praktis    : Rutinitas harian LOA
Aspek                      : Logika
Fokus Utama      : Rasakan emosi positif
Latihan Praktis    : Latihan bersyukur
Aspek                      : Hati
Fokus Utama      : Dengarkan intuisi dan niat
Latihan Praktis    : Refleksi tujuan
Aspek                            : Alam Bawah Sadar
Fokus Utama      : Reprogram dengan afirmasi & visualisasi
Latihan Praktis    : Meditasi dan audio afirmasi
Aspek                            : Alam Bawah Sadar
Fokus Utama      : Reprogram dengan afirmasi & visualisasi
Latihan Praktis    : Meditasi dan audio afirmasi
Aspek                      : Prasangka buruk
Fokus Utama      : Sadari dan ubah
Latihan Praktis    : Tulis dan ganti prasangka
Aspek                      : Self talk negatif
Fokus Utama      : Ubah cara bicara ke diri sendiri
Latihan Praktis    : Afirmasi positif harian

Berikut ini adalah langkah-langkah yang tepat untuk merubah diri menjadi semakin baik.
Buatlah aktivitas harian dengan mempertanyakan hal beriktu :
  • Tanggal
  • Afirmasi hari ini
  • Visualisasi saya hari ini
  • Hal-hal yang saya syukuri
  • Perasaan dominan saya hari ini
  • Tindakan kecil yang saya ambil hari ini
  • Prasangka buruk yang muncul dan cara saya mengubahnya
  • Self-talk positif yang saya ucapkan hari ini
1. 🧠 Niat Sadar Hari Ini
Tuliskan niatmu secara jelas:
Contoh: "Saya ingin bangun pukul 05:30 pagi dengan penuh semangat."
...........................................................................
...........................................................................
2. 💬 Self-Talk yang Muncul
Tuliskan pikiran otomatis atau keraguan yang muncul:
Contoh: "Apa iya saya bisa bangun pagi?" atau "Saya takut bangun pagi bikin ngantuk."
...........................................................................
...........................................................................

3. 💓 Emosi Dominan Saat Ini
Identifikasi emosi yang kamu rasakan terkait niat bangun pagi:
Contoh: Semangat, ragu, takut, optimis, malas, dll.
...........................................................................
...........................................................................
4. 🔁 Afirmasi Positif Hari Ini
Tuliskan afirmasi yang ingin kamu ulangi hari ini:
Contoh: "Saya mudah bangun pagi dan merasa segar."
...........................................................................
...........................................................................
5. 🌅 Visualisasi Pagi Ideal
Bayangkan dan tuliskan seperti apa pagi yang kamu inginkan:
Contoh: "Saya bangun dengan senyum, membuka jendela, dan menikmati udara segar."
...........................................................................
...........................................................................
6. 📝 Refleksi Harian (Ditulis Setelah Bangun)
Tuliskan pengalamanmu setelah bangun pagi:
- Apakah kamu berhasil bangun sesuai niat?
- Apa yang kamu rasakan?
- Apa yang bisa ditingkatkan?
...........................................................................
...........................................................................

🌙 LATIHAN MALAM HARI: MENYIAPKAN VIBRASI POSITIF UNTUK BANGUN PAGI
🧘‍♂️ 1. Afirmasi Sebelum Tidur
Ulangi afirmasi berikut dengan tenang dan penuh keyakinan:
- "Saya bangun pagi dengan mudah dan penuh semangat."
- "Tidur saya nyenyak dan menyegarkan tubuh saya."
- "Saya siap menyambut pagi dengan energi positif."
🌅 2. Visualisasi Singkat
Luangkan waktu 2–3 menit untuk membayangkan:
- Kamu bangun pagi dengan senyum.
- Kamu membuka jendela dan merasakan udara segar.
- Kamu melakukan aktivitas pagi yang menyenangkan (minum teh, olahraga ringan, meditasi).
📓 3. Refleksi Harian
Tuliskan jawaban dari pertanyaan berikut:
- Apa hal terbaik yang terjadi hari ini?
- Apa yang saya syukuri malam ini?
- Apa pelajaran yang saya dapatkan hari ini?
🎯 4. Penetapan Niat untuk Bangun Pagi
Tuliskan niatmu secara jelas:
- Jam berapa saya ingin bangun besok?
- Apa alasan saya ingin bangun pagi?
- Apa yang akan saya lakukan setelah bangun?
Contoh:
"Saya berniat bangun pukul 05:30 untuk memulai hari dengan meditasi dan membaca buku. Saya ingin merasa segar dan produktif."

Tips Tambahan:
- Matikan perangkat elektronik 30 menit sebelum tidur.
- Siapkan alarm dengan suara yang lembut.
- Tidur dengan perasaan damai dan penuh syukur.


Selamat tidur dan sampai jumpa di pagi yang cerah! 🌞

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi dan memberdayakan diri untuk selalu semakin baik. Inilah motivasi Islam yang memotivasikan diri untuk melakukan yang terbaik. Teruslah berbuat baik karena Allah telah berbuat baik kepada kita sepanjang hidup ... yang merupakan perjalanan kita menuju tempat kembali.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri 

Selasa, Agustus 19, 2025

Dari Mata turun ke pikiran

 Salam bahagia selalu, merasa bahagia itu penting dan membuat diri kita menjadi semakin bahagia. Insya Allah imajinasi dan apa yang kita lihat menjadi bagian apa yang kita cari selama ini. 


Dari mana datangnya cinta ? Dari mata turun ke hati. Begitu kata banyak orang. Itulah yang terjadi, dan indera mata sebagai fungsi melihat baik itu fisik maupun yang tidak nampak. Sebenarnya hal yang tidak nampak ditafsirkan oleh kita menjadi bagian dari kesimpulan kita. Misalkan ... seorang wanita yang mengedipkan di depan kita saat bicara, keadaan ini tidak sekedar kedipan mata yang terlihat. Tapi pikiran kita menangkap sinyal lain berupa kebaikan atau mengiyakan atau hal lain, dan sangat tergantung latar belakang seseroang yang menerimanya. 

Saya menuliskan dari mata turun ke pikiran, dan selanjutnya menjadi memori tanpa kita dapat menyaringnya.Maksud saya adalah banyak informasi yang bertebaran di mana-mana yang telah mengubah pikiran dalam bertindak. mata yang melihat pastilah melihat banyak hal baik berupa kata atau kata-kata. Kadang mulut diperintah setelah mata melihat untuk membaca tulisan dilihat. Misalkan kita melihat warung, didepan warungnya ditulis "Warung enak dan hangat ... Soto Bening yang menghangatkan". Apakah saya hanya melihat saja ? Tentunya tidak melihat saja, tapi membaca tulisannya dan menyimpannya di dalam memori kita. Bahkan terjadi self talk saya,"Ini warung yang saya cari. Apa enak sotonya ? Kayaknya enak. Mahal nggak ya ? dan seterusnya". Self talk ini semakin menguatkan apa yang lihat dan baca, tersimpan kata kuncinya "warung enak", atau "soto bening" atau lokasinya dan lainnya. Jika jalan yang saya lalui setiap hari, maka hal tersebut berulang dan menjadi memori yang kuat dan mudah hadir saat saya lapar sebagai pilihan makan. Apa yang terjadi beberapa hari kemudian, saya jadi penasaran untuk makan di warung tersebut. Pertama ditahan-tahan dan akhirnya pada suatu hari saya makan di warung tersebut. Bayangkan sekali jalan saja dalam sehari, saya melihat banyak hal. Entah itu warung makan lagi, toko HP, optik, pasar dan sebagainya. Semua itu sama seperti warung soto bening tadi mengajak saya membaca, mengimajinasikan, mikir dan akhir tersimpan di memori pikiran. Saya simpulkan agar mudah dipahami ;

Pikiran sadar saya bekerja saat saya melihat dan membaca Warung yang saya lewati. Dan juga saat saya memutuskan untuk makan di warung setelah mendapat sinyal dari pikiran bawah sadar saya (ingat warung tersebut)

Pikiran bawah sadar saya bekerja setelah tersimpan sebagai memori dan saat tanpa diketahui saya jadi pengen makan di warung

Lalu ? Saya tak pernah memikirkan bagaimana besarnya pikiran bawah sadar saya mempengaruho saya bertindak atau melakukan sesuatu. Dan ini terjadi. Begitu banyak memori yang saya imajinasikan sebagai kamus berjalan yang menuntun kehidupan saya. Saat pikiran sadar saya mau makan saja, maka pikiran bawah sadarnya bekerja otomatis mencari dalam kamu tentang makan. Maka hadir warung A,B dan seterusnya. Setelah itu pikiran sadar saya memutuskan makan di warung Z. Normalkan ? Iya normal, tapi apa yang membuat saya bertanya, jika warung Z tidak baik buat saya, maka tindakan saya menjadi salah dan merugikan. Sekarang siapa yang bisa menjamin apa yang saya simpan dalam memori itu semuanya baik buat saya ??? Tidak ada. Sangat tergantung apa yang saya lihat dan baca, kalau lingkungan yang saya lewati itu mengandung unsur baik maka bersyukurlah saya. Tapi sebaliknya yang terjadi, maka saya bisa terjerumus ke dalam keburukan. Bila ini terjadi, maka pikiran sadar saya mesti menetralisirnya dengan sadar untuk melihat dan membaca yang baik-baik dan berguna bagi saya.

Misalkan saya yang setiap hari menonton film silat, bisa jadi saya terbentuk menjadi pemberani dan juga menjadi gampang menyelesaikan masalah dengan "perkelahian" (main fisik). Semua yang saya tonton itu menjadi memori dan masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Dua hal berani dan main fisik, selalu memberi pilihan saat saya menghadapi masalah. Yang sederhana saja, Juru Parkir minta uang lebih dari biasanya. Maka saya berani menghadapi Juru parkir dengan berdebat sampai merasa menang. Atau bisa jadi saya bisa mengancam. Semua itu terjadi karena pikiran bawah sadar saya. Tapi halnya jika saya sadar, dan bertanya dengan sopan karena keinginan untuk tidak terjadi masalah. Lalu pikiran sadar mengatakan buat apa juga ribut, "ngga ada yang menang atau kalah, kalau bayar lebih juga tu anggap sedekah saja". Maka pikiran sadar saya menuntun untuk berbuat baik. Maka dalam hal ini dominasi pikiran sadar atau pikiran bawah sadar menjadi penting saat itu, bisa dipengaruhi temen atau suasananya adem atau lagi ada masalah tertentu. Bukankah kita pernah membaca berita hanya gara-gara parkir dan uang Rp. 2000 saja bisa terjadi saling emosi yang berakhir kepada pembunuhan.

Berhati-hati ... dalam menghadapi apapun mesti dipikirkan dengan pikiran sadar yang baik. Tentunya pikiran sadar yang baik itu mesti juga diisi dengan bacaan-bacaan baik, ilmu baik, temen baik, lingkungan baik dan sebagainya. Karena tanpa ada semua itu, tidak mungkin saya bisa berpikir sadar yang baik. Ini juga menjadi perhatian saya, seseringlah membuat suasana hati yang tenang. Suasana hati bisa mempengaruhi saya kepada sikap dan tindakan emosional. Mendekatkan diri kepada Allah dan mengendalikan diri mampu membuat diri semakin tenang. Ketrampilan kerja dan hidup juga dapat memberi ruang saya untuk berpikir sadar yang baik, misalkan mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup dan kerja. Masalah yang tidak selesai menjadi beban pikiran dan mempengaruhi untuk bertindak yang baik. Misalkan saja, orang yang stress dalam kerja dan suka marah karena performance kerjanya tidak baik-baik saja, apa iya orang seperti ini bisa berpikir sadar yang baik ? Cenderungnya tidak. Oleh sebab itu berhati-hati dengan apa yang kita lihat, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, apa yang kita rasakan dan seterusnya ... semua terjadi tanpa kita bisa edit atau filter masuk ke dalam memori, pikiran bawah sadar. Yang perlu kita lakukan adalah dominannya untuk berpikir kritis (dengan sadar) terhadap apa yang terjadi agar kita secara logika dapat mengalahkan memori "negatif" dari pikiran bawah sadar.

Saya tutup dengan obrolan pagi  3 Sahabat: Myra, Mamat, dan Bujang

Udara pagi sejuk, matahari baru naik, aroma rumput basah dan kopi hangat terasa. Di sekitar mereka, orang-orang jogging, bersepeda, dan senam. Myra membawa termos teh, Mamat duduk bersila sambil mengunyah pisang, dan Bujang baru selesai stretching.

Myra: (tersenyum sambil menuang teh). “Pagi ini enak banget ya… sejuk, tenang. Tapi jujur, tadi aku hampir nggak bangun. Alarm bunyi, tapi rasanya kasur tuh kayak magnet.”

Mamat: (tertawa). “Wah, itu sih pertempuran klasik antara niat dan kenyamanan. Aku juga gitu. Padahal semalam udah niat bangun jam 5, eh jam 6 baru melek.”

Bujang: (nyengir sambil duduk). “Tau nggak, itu bukan cuma soal malas. Itu pikiran bawah sadar kita yang masih nyimpen program lama. Kayak, ‘Tidur itu enak, bangun pagi itu berat.’ Jadi walau kita niat, tubuh kita nurut ke yang udah terbiasa.”

Myra: “Jadi kayak ada ‘konflik batin’ gitu ya? Niat sadar pengen bangun pagi, tapi bawah sadar bilang ‘tidur aja dulu’.”

Mamat: “Betul. Dan kalau kita terus-terusan nurut ke bawah sadar yang negatif, LOA juga bakal nangkep vibrasi itu. Akhirnya ya… kita tetap bangun siang.”

Bujang: “Makanya penting banget sebelum tidur tuh kita ‘set’ ulang pikiran. Aku sekarang tiap malam afirmasi: ‘Saya bangun pagi dengan semangat.’ Terus aku bayangin suasana pagi yang damai. Lumayan bantu loh.”

Myra: “Wah, aku mau coba deh. Mungkin aku juga harus tulis jurnal malam. Biar pikiran bawah sadar aku nggak sabotase niat aku.”

Mamat: “Setuju. Kita harus jadi ‘sutradara’ buat pikiran kita sendiri. Kalau nggak, kita cuma jadi penonton dari kebiasaan lama.”

Bujang: “Dan pagi kayak gini tuh bukti kalau kita bisa menang. Kita di sini, bangun pagi, nikmatin udara segar. Itu udah satu langkah maju.”

Myra: (tersenyum sambil menyeruput teh). “Setuju. Yuk, kita terus jaga vibrasi positif. Biar LOA bantu kita wujudkan pagi-pagi yang penuh makna.”

Obrolan di atas, juga memberi masukan bahwa pikiran bawah sadar itu, menimbulkan vibrasi yang direspon negatif oleh alam semesta. Apa yang terjadi penolakan atau hambatan untuk berpikir sadarnya semakin berat. Seperti contoh dengan Juru Parkir di atas, alam semesta merespon dengan menguatkan pikiran bawah sadar seperti "kalau saya tidak lawan (tidak berani), maka semakin ditindas" dan sebagainya.

So penting dong untuk selalu berpikir sadar yang positif dan baik, dan berpikir kritis agar kita dapat mengimbangi pikiran bawah sadar yang negatif. Hal ini harus terus dilakukan (update) sehingga memori dan pikiran bawah sadar pun bisa berganti dengan hal yang semakin positif/benar.

Insya Allah tulisan ini dapat membuka pikiran kita bahwa apa yang kita lakukan selama ini dapat menjadi renungan. Apa iya begitu ? Kok saya begitu sih ? Akhirnya kita sadar dengan keadaan kita sendiri dan mampu memberdayakan diri untuk menjadi semakin baik. Jadikan tulisan ini sebagai motivasi diri menuju produktivitas diri. 

Sahabatmu

Munir Hasan Basri








Buat versi audio obrolan ini


Buat naskah drama pendeknya



Enaknya bangun pagi

 Salam bahagia selalu dan Insya Allah kita selalu diberikan keluasan pikiran positif untuk meningkatkan hidup yang lebih baik. Aamiin


Setelah 3 tulisan tentang bangun pagi, yang pertama senangnya bangun pagi, kedua bahagianya bangun pagi, ketiga yakinnya bangun pagi. Saya menulis masih tentang bangun pagi ...enaknya bangun pagi. Sebuah pengalaman yang banyak tantangan dan ketakutan yang berakhir dengan kebaikan Allah. Ada bangun pagi, ada telat bangunnya dan ada juga nggak enaknya bangun pagi. Saya bahas dulu enaknya bangun pagi ... bisa jadi saya hanya ingin sekali bangun pagi dengan niat bertemu Allah, menghadap dalam salat Tahajud. Keinginan itu diizinkan Allah, bukan semata karena saya. Saya terbangun bukan karena alarm yang saya siapkan. Sebelumnya waktunya sudah bangun, Subhanallah. Alarm saya pukul 02:15 dan alarm kedua 02:30. Adakalnya saya tidur sempurna dengan wudhu, doa dan zikir, tapi tidur jam 23:00 ... dalam hati ada iya saya bisa bangun. Dan ternyata saya sadar saya dibangunkan Allah tepat pukul 02;10. Saya berpendapat karena Allahlah saya dibangunkan dan Allah menguji saya untuk bersyukur atau tidak. Langsung bangun dan sadar dengan berdoa bangun tidur. Ini saya bayangkan melepas ikatan setan yang pertama. Saya berpikir, jika saya tidak ke kamar mandi dan wudhu. Maka kembali tidur lagi, Saya sudah punya tekad dan semangat untuk berwudhu (bahkan saya mandi pagi). Minum air putih sedikit dan langsung salat. Perjalanan salat ini pun saya bayangkan (seolah) Allah melihat saya salat dan begitu juga dengan doa. Saya berharap dan memohon agar Allah melihat dan mengabulkan doa saya. Saya lanjutkan zikir hingga subuh. Dan Alhamdulillah subuhpun berjamaah di Masjid. Begitu baiknya Allah kepada saya untuk bangun pagi dan "bertemu denganNya", tapi saya mesti mempersiapkan diri dengan baik. Begitulah enaknya bangun pagi. Dan Alhamdulillah ya lagi, semua ketakutan dan kekhawatiran tidak terjadi. Misalkan takut ngantuk, capek dan sebagainya.

Disisi lain, ada hari dimana saya telat bangunnya, tapi bersyukur masih sebelum subuh. Padahal tidurnya sudah dibuat pukul 08:00 malam. Bangunnya jam 04:00 pagi. Dari hal ini saya mengmbil hikmahnya, apa yang saya siapkan belum tentu sesuai apa yang saya harapkan. Allah berkehendak lain (telat bangun pagi) bukannya tidak sayang kepada saya. Tapi saya melihat Allah ingin menunjukkan bahwa keikhlasan dalam berkeinginan. Keinginan yang telah dirahmati Allah dan sangat perlu pasrah dan ikhlas menjalaninya. Allahlah yang berkehendak. Ada hari saya dibangunkan Allah pukul 01:00 pagi, disini saya berlogika mau tidur lagi untuk bangun jam 02:30 pagi. Saya berpikir kalau saya tidur lagi, apa iya bisa bangun lagi. Lalu kalau saya beraktivitas pagi mulai 01:00 pagi, apa nggak ngantuk banget ? Ternyata Allah menguji saya mau tidur lagi atau lanjut ? Dengan bismillah dan pasrah kepada Allah, saya tidak tidur lagi dan terus sampai pagi dan siang. "Nggak ngantuk tuh", Begitulah jika saya percaya kepada Allah dan berserah diri dengan petunjukNya maka semua berjalan dengan daya dan kekuatan dari Allah.




Berikut ini saya berbagi memanjemenkan bangun pagi jam

1. Yang pertama adalah buatlah diri saya senang, yaitu perasaan saya. Kita sih bilang "mood" atau sejenisnya. Bayangkan kalau perasaan saya tidak mood, maka semua berantakan alias gagal.

2. Mood atau perasaan yang menyenangkan hanya bisa diciptakan dengan keinginan yang sesuai apa yang saya cita-citakan. Misalkan bangun pagi itu bisa memulai lebih awal dan awalnya bersama Allah. Kondisi ini bisa berpengaruh pada aktivitas saya di siang hari. Seperti tulisan pertama, alangkah senangnya saya bisa mengikuti kebiasaan bangun pagi para CEO dunia. Tak hanya itu saja Perasaan saya juga dipengaruhi oleh kesehatan, maka dari itu saya buat diri saya sehat dengan mencukupkan vitamin dan makanan sehat. Terakhir saya menciptakan suasana hati yang menyenangkan saat tidur.

3. Saya membuat catatan kecil tentang hambatan atau pikiran yang berlawanan dengan keinginan saya. Memori yang tersimpan yang mengkhawatirkan saya tidak bisa bangun pagi. Disini saya membaca dan membuat afirmasi tentang hal positif dengan bangun pagi. Pada tulisan kedua dan ketiga, saya menjawab kekhawatiran itu dengan kebaikan dari bangun pagi dan dalil Al Qur'an dan hadist. Dibaca berulang pun sudah menjadi afirmasi dan semakin mendalami maksud Al Qur'an dan hadist semakin menambah yakin saya bisa bangun pagi bersama Allah.

4. Setelah pemahaman semua itu saya mesti menjadi orang yang paling kuat untuk mewujudkannya. Mulai menciptakan suasana menjelang tidur yang relax (nyaman), berdoa dan zikir, dan memohon kepada Allah untuk membangunkan saya di pagi hari. Yang menentukan adalah Bangunnya. Jam berapa pun bangunnya, patut saya syukuri :

a. Saya diberi kesempatan bertemu Allah di sepertiga malam dan menyampaikan doa kepada Allah serta mempersembahkan salat yang terbaik. Ada banyak orang dibangunkan di pagi hari, tapi diteruskan dengan tidur lagi, dan ada juga orang yang tak diberi kesempatan Allah dengan tidur yang lelap.

b. Kekuatan dari petunjuk Allah yang memberi janji dengan melakukan aktivitas pagi yang baik (salat, ngaji dan zikir, belajar dan sebagainya). Saya ingin pula membuktikan saya bisa mengalahkan musuh saya, yaitu setan yang mengikatnya. Saya bangun lepaskan ikatan pertama, saya wudhu lepas pula ikatan yang kedua dan akhirnya saya salat untuk melepaskan ikatan setan yang ketiga. Hanya karena Allah lah saya mampu melepaskan ikatan setan tersebut dan saya pun beraktivitas yang baik sepanjang pagi.

5. Yang terakhir ini saya mesti terus berterima kasih dan bersyukur atas bangun pagi. Tidak sombong sekalipun ada di hati, untuk itu saya terus ikuti hati saya dengan beristighfar. Saya bersyukur untuk terus memperbaiki kualitas bangun pagi saya dari hari ke hari, maka saya pun mesti banyak membaca petunjuk Allah (Al Qur'an) dan ilmu pengetahuan lainnya. 

Ayat berikut ini patut menjadi renungan :

 Surah Al-Ma'idah (5): Ayat 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan mengganggu hewan kurban dan kalung-kalungnya, dan jangan pula mengganggu orang-orang yang menuju Baitullah untuk mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."

Tafsir dan Kandungan Makna:

  • Menjaga Syi’ar Allah
  • Larangan untuk meremehkan atau melanggar hal-hal yang dimuliakan Allah, seperti ibadah haji, bulan haram, dan hewan kurban.
  • Menghormati Bulan Haram, Bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) adalah waktu yang dimuliakan, di mana peperangan dan kekerasan dilarang.
  • Larangan Melampaui Batas karena Kebencian, Meskipun kaum musyrik pernah menghalangi kaum Muslimin dari Masjidil Haram, Allah melarang membalas dengan kezaliman. Islam mengajarkan keadilan bahkan terhadap musuh.
  • Prinsip Tolong-Menolong. “Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa”: ajakan untuk bekerja sama dalam hal yang membawa manfaat dan mendekatkan diri kepada Allah. “Jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”: larangan keras untuk bersekongkol dalam kejahatan atau permusuhan.
  • Takwa dan Ancaman Allah. Ayat ditutup dengan peringatan agar bertakwa, karena Allah sangat keras siksa-Nya bagi yang melanggar.


Ini adalah Rutinitas Harian Ulama Seperti Abu Bakar As-Syajari untuk menjadi panutan selain Nabi Muhammad saw.
🌅Pagi Hari (Setelah Subuh)
Shalat Subuh berjamaah
Dzikir dan membaca Al-Qur’an
Menghadiri majelis ilmu bersama gurunya (seperti Ibn Jarir al-Tabari)
Menulis dan mencatat pelajaran dari kitab tafsir, hadis, atau fikih
🕰️ Siang Hari
Shalat Dhuha (jika dilakukan)
Mengajar murid atau berdiskusi ilmiah
Mengkaji kitab-kitab klasik atau menyalin manuskrip
Shalat Zuhur dan istirahat ringan
🌇 Sore Hari
Shalat Ashar
Melanjutkan kajian atau menulis
Bersosialisasi dengan ulama lain atau masyarakat
Membaca atau menyusun karya ilmiah
🌃 Malam Hari
Shalat Maghrib dan Isya
Tahajud atau ibadah malam
Merevisi tulisan atau hafalan
Tidur lebih awal untuk bangun pagi

 

Rasulullah bersabda :

ما من يومٍ يُصبحُ العبادُ فيه إلا ملكانِ ينزلانِ، فيقولُ أحدُهما: اللهم أعطِ منفقًا خلفًا، ويقولُ الآخرُ: اللهم أعطِ ممسكًا تلفًا

"Tidaklah seorang hamba memasuki pagi hari kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu dari mereka berkata: 'Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah.' Dan yang lainnya berkata: 'Ya Allah, berikanlah kerusakan kepada orang yang menahan hartanya (tidak bersedekah).'"
Diriwayatkan oleh: Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, no. 1442 Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1010

Hadis ini menunjukkan bahwa setiap pagi adalah waktu yang penuh berkah, dan malaikat mendoakan manusia sesuai dengan amalnya. Sedekah di pagi hari mendapat doa khusus dari malaikat agar diberi balasan dan keberkahan. Sebaliknya, orang yang kikir atau menahan hartanya mendapat doa agar hartanya rusak atau hilang.

Bangun pagi adalah waktu penuh berkah, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak. Rasulullah ﷺ mendoakan umatnya agar diberkahi di waktu pagi.Membangunkan anak dengan cara yang lembut dan penuh cinta adalah bagian dari sunnah dalam mendidik mereka.

Saya membuat parameter dari bangun pagi. Bangun pagi menjadi acuan aktivitas kita yang semakin baik.

  1. Apakah kita benar-benar menyenangkan untuk istirahat tidur  di malam hari ?
  2. Apakah kita meneladani kebiasaan nabi Muhammad saw sebagai bentuk ketaatan dan bukan keterpaksaan atau bahkan berniat untuk meraih kehidupan dunia yang kita harapkan ?
  3. Apakah kita berpasrah dan ikhlas kepada Allah dalam tidur kita ?
  4. Apakah saat bangun kita menjadi lebih nyaman dan sehat ?
  5. Apakah kita juga taat meneladani kebiasaan Nabi Muhammad saw bangun bagi ??
  6. Apakah kita merasakan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas bangun pagi kita, seperti bangun, wudhu, salat, zikir dan berdoa ?? Yang menyebabkan kita dapat melakukan semuanya dengan "khusyuk" ??? Apakah kita merasakan salat Tahajud dilihat oleh yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui dan Maha Mengabulkan ??? Begitu juga saat berdoa "memanggil dengan zikir" kita dapat merasakan Allah Mendengar dan Mengabulkan doa kita ??
  7. Apakah kita ikut salat berjamaah Subuh di Masjid ??
  8. Apakah dengan bangun pagi kita selalu terdorong melakukan aktivitas lainnya setelah menjadi semakin baik (beramal saleh) ?? Kalau tidak, maka kita mesti memperbaiki kualitas bangun paginya !!
  9. Apakah kita terus fokus dan memperbaiki kualitas bangun pagi kita ?? Semakin rutinitas (cenderung bosan) atau semakin banyak hal baru 

Insya Allah 9 hal di atas mampu mengukur kualitas dan dampak bangun pagi kita. 

Saya tutup dengan obrolan 3 sahabat berikut ini, Myra, Mamat dan Bujang, tentang enaknya bangun pagi.
[Suasana malam yang tenang, bintang bertaburan di langit. Tiga sahabat duduk di tikar halaman rumah, ditemani teh hangat dan suara jangkrik.]
Myra: Kalian pernah nggak sih ngerasa bangun pagi itu kayak hadiah dari Allah? Bukan cuma soal waktu, tapi rasanya kayak... disapa langsung sama Allah
Mamat: Wah, gue relate banget, Myra. Apalagi kalau bangunnya sebelum alarm bunyi. Rasanya kayak Allah bilang, “Ayo, Aku tunggu kamu.” Dan pas bisa langsung wudhu, salat, zikir... itu damai banget.
Bujang: Iya, iya... gue juga pernah tuh. Bangun jam 2 pagi, padahal tidur cuma bentar. Mau tidur lagi, tapi hati bilang, “Coba deh salat dulu.” Eh, malah kuat sampai Subuh. Nggak ngantuk sama sekali. Kayak dikasih energi dari langit.
Myra: Itu dia... kadang kita takut capek, takut ngantuk, tapi ternyata semua itu cuma bisikan. Kalau niatnya karena Allah, Allah yang bantuin kita kuat.
Mamat: Dan yang paling gue syukuri, bangun pagi bikin gue lebih tenang seharian. Nggak gampang marah, lebih fokus kerja, dan kayak ada cahaya yang nemenin terus.
Bujang: Gue jadi mikir, jangan-jangan bangun pagi itu bukan cuma soal waktu, tapi soal siapa yang kita temui pertama kali. Kalau Allah yang pertama, ya hari kita pasti berkah.
Myra:Masya Allah, Bujang... itu dalam banget. Makanya gue sekarang belajar untuk tidur dengan niat. Bukan cuma istirahat, tapi pasrah. Biar Allah yang bangunin.
Mamat: Dan kalau pun telat bangun, jangan nyalahin diri. Mungkin Allah lagi ngajarin kita ikhlas. Yang penting tetap syukur dan terus perbaiki niat.
Bujang: Setuju. Yuk, kita saling ingetin terus. Biar bangun pagi kita bukan cuma rutinitas, tapi jadi jalan ketemu Allah setiap hari.
Myra & Mamat: Aamiin...

Featured post

Bos Sok tahu, ngga ada yang salah ...

Alhamdulillahirabbilalamin, Allah telah memberi ilmu yang banyak, tapi kadang kita tidak merasakannya. Seringkali kita menganggap kecil ilmu...