Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering merasa tenang saat menunaikan salat. Gerakan yang teratur, bacaan yang khusyuk, dan waktu yang sejenak memisahkan kita dari dunia. Tapi pernahkah kita bertanya: Apakah salat kita benar-benar mengubah cara kita memandang sesama?
Di sudut gang, seorang ibu menahan tangis karena anaknya demam dan tak ada uang untuk membeli obat. Di masjid, kita baru saja mengangkat tangan, memohon rahmat dan ampunan. Namun langkah kita berlalu begitu saja, seolah tak ada yang perlu diperhatikan.
Inilah bentuk pendustaan yang tak terucap. Bukan karena kita mengingkari agama secara terang-terangan, tapi karena kita melupakan esensi dari ibadah itu sendiri—bahwa salat bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi juga panggilan untuk peduli secara horizontal kepada manusia.
Kisah dari sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, mengajarkan bahwa keimanan sejati lahir dari keberanian menyuarakan keadilan dan kepedulian. Ia tidak hanya salat di padang pasir, tapi juga menggugat ketimpangan sosial di tengah umat. Ia hidup miskin, tapi hatinya kaya dengan kasih sayang dan keberanian.
Itulah orang yang menghardik anak yatim. (Al-Ma'un: 2)
Yakni dialah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Al-Ma'un: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Sekali-kali tidak (demikian). sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr: 17-18)
Makna yang dimaksud ialah orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk menutupi kebutuhan dan kecukupannya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. (Al-Ma'un: 4-5)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: bagi orang-orang yang salat. (Al-Ma'un: 4) Yaitu mereka yang sudah berkewajiban mengerjakan salat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari; dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka bangkitlah ia (untuk salat) dan mematuk (salat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.
Ini merupakan gambaran salat Asar di waktu yang terakhirnya, salat Asar sebagaimana yang disebutkan dalam nas hadis lain disebut salat wusta, dan yang digambarkan oleh hadis adalah batas terakhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan. Kemudian seseorang mengerjakan salatnya di waktu itu dan mematuk sebagaimana burung gagak mematuk, maksudnya ia mengerjakan salatnya tanpa tumaninah dan tanpa khusyuk. Karena itulah maka dikecam oleh Nabi Saw. bahwa orang tersebut tidak menyebut Allah dalam salatnya, melainkan hanya sedikit (sebentar). Barangkali hal yang mendorongnya melakukan salat tiada lain pamer kepada orang lain, dan bukan karena mengharap rida Allah. Orang yang seperti itu sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan salat sama sekali. Allah Swt. telah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa: 142)
Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma'un: 6)
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na' im, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah, lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah riya. Maka berkatalah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Yazid, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Arnr mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang pamer kepada orang lain dengan perbuatannya, maka Allah akan memamerkannya di hadapan makhluk-Nya dan menjadikannya terhina dan direndahkan.
- Salat dan ibadah lainnya mesti membawa dampak positif bagi kita terhadap orang sekitar kita, yang melahirkan kepedulian sosial.
- Ada hati yang terpanggil menyuarakan kebenaran adalah bagian dari iman. jangan sampai kita disindir oleh ayat di atas, yaitu orang yang mendustakan agama (hari pembalasan) , kita tahu tapi tidak melaksanakannya, dan bahkan menunjukkan sebaliknya.
- Kesederhanaan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kesederhanaan dalam hidup agar tidak menjadi ketimpangan dalam linkungan kita. Kekayaan bukan untuk ditimbun, tapi untuk dibagikan.
- Pendustaan agama bisa terjadi saat kita meninggalkan nilai-nilai sosial dalam ibadah. Salat yang benar harus membuat kita lebih peduli, lebih lembut, dan lebih dermawan. Kepedulian sosial adalah bagian dari keimanan yang sejati.