Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Minggu, Agustus 24, 2025

Udah salat, apa iya masih riya ??

Alhamdulillahirabbilalamin, keadaan kita sekarang sehat dan selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Apapun yang sudah dilakukan, Insya Allah menjadi kebaikan yang berarti untuk menemuiNya. Aamiin. 


Ketika salat tidak membuka hati bagi sesama
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering merasa tenang saat menunaikan salat. Gerakan yang teratur, bacaan yang khusyuk, dan waktu yang sejenak memisahkan kita dari dunia. Tapi pernahkah kita bertanya: Apakah salat kita benar-benar mengubah cara kita memandang sesama?
Di sudut gang, seorang ibu menahan tangis karena anaknya demam dan tak ada uang untuk membeli obat. Di masjid, kita baru saja mengangkat tangan, memohon rahmat dan ampunan. Namun langkah kita berlalu begitu saja, seolah tak ada yang perlu diperhatikan.
Inilah bentuk pendustaan yang tak terucap. Bukan karena kita mengingkari agama secara terang-terangan, tapi karena kita melupakan esensi dari ibadah itu sendiri—bahwa salat bukan hanya hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi juga panggilan untuk peduli secara horizontal kepada manusia.
Kisah dari sahabat Nabi, Abu Dzar al-Ghifari, mengajarkan bahwa keimanan sejati lahir dari keberanian menyuarakan keadilan dan kepedulian. Ia tidak hanya salat di padang pasir, tapi juga menggugat ketimpangan sosial di tengah umat. Ia hidup miskin, tapi hatinya kaya dengan kasih sayang dan keberanian. 
Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Abu Dzar mengkritik gaya hidup sebagian pejabat yang mulai hidup mewah. Karena kritiknya dianggap bisa menimbulkan keresahan, ia dipindahkan ke daerah terpencil bernama Rabadzah, tempat ia akhirnya wafat dalam kesederhanaan. Nabi ﷺ pernah bersabda tentangnya:
"Langit tidak menaungi dan bumi tidak memikul seseorang yang lebih jujur dari Abu Dzar." (HR. Tirmidzi)

Bagaimana kita memahami hal di atas ? Sudahkah dampak salat kita tapi peka terhadap lingkungan ? Berikut ini adalaj jawaban atas semua itu dalam Al Qur'an, Surah Al Ma'un, 107 : 1 -7.
Surat Al-Ma'un (الماعون) adalah surat ke-107 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 7 ayat. Surat ini mengandung kritik tajam terhadap orang yang mengabaikan nilai-nilai sosial dan ibadah yang benar, serta menekankan pentingnya kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari keimanan.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
4. Maka celakalah orang-orang yang salat,

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
6. Yang berbuat riya (pamer),
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
7. Dan enggan (memberikan) bantuan yang berguna.

Allah Swt. berfirman, bahwa tahukah engkau, hai Muhammad, orang yang mendustakan hari pembalasan ?
Itulah orang yang menghardik anak yatim. (Al-Ma'un: 2)
Yakni dialah orang yang berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, menganiaya haknya dan tidak memberinya makan serta tidak memperlakukannya dengan perlakuan yang baik.
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Al-Ma'un: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Sekali-kali tidak (demikian). sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, dan kalian tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. (Al-Fajr: 17-18)
Makna yang dimaksud ialah orang fakir yang tidak mempunyai sesuatu pun untuk menutupi kebutuhan dan kecukupannya. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya. (Al-Ma'un: 4-5)
Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan salatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak salat. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: bagi orang-orang yang salat. (Al-Ma'un: 4) Yaitu mereka yang sudah berkewajiban mengerjakan salat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.
Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik, itu adalah salatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari; dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan (yakni akan tenggelam), maka bangkitlah ia (untuk salat) dan mematuk (salat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.
Ini merupakan gambaran salat Asar di waktu yang terakhirnya, salat Asar sebagaimana yang disebutkan dalam nas hadis lain disebut salat wusta, dan yang digambarkan oleh hadis adalah batas terakhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan. Kemudian seseorang mengerjakan salatnya di waktu itu dan mematuk sebagaimana burung gagak mematuk, maksudnya ia mengerjakan salatnya tanpa tumaninah dan tanpa khusyuk. Karena itulah maka dikecam oleh Nabi Saw. bahwa orang tersebut tidak menyebut Allah dalam salatnya, melainkan hanya sedikit (sebentar). Barangkali hal yang mendorongnya melakukan salat tiada lain pamer kepada orang lain, dan bukan karena mengharap rida Allah. Orang yang seperti itu sama kedudukannya dengan orang yang tidak mengerjakan salat sama sekali. Allah Swt. telah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di Hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa: 142)
Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya:
orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma'un: 6)
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na' im, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Amr ibnu Murrah yang mengatakan bahwa ketika kami sedang duduk di majelis Abu Ubaidah, lalu mereka berbincang-bincang tentang masalah riya. Maka berkatalah seorang lelaki yang dikenal dengan julukan Abu Yazid, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Arnr mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang pamer kepada orang lain dengan perbuatannya, maka Allah akan memamerkannya di hadapan makhluk-Nya dan menjadikannya terhina dan direndahkan.



Dan termasuk hal yang berkaitan dengan makna firman-Nya: orang-orang yang berbuat ria. (Al-Ma'un: 6) ialah bahwa barang siapa yang melakukan suatu perbuatan karena Allah, lalu orang lain melihatnya dan membuatnya merasa takjub dengan perbuatannya, maka sesungguhnya hal ini bukan termasuk perbuatan riya.
Dalil yang membuktikan hal ini ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab musnadnya, bahwa: telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma'ruf, telah inenceritakan kepada kami Makhlad ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy; dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika aku sedang salat, tiba-tiba masuklah seorang lelaki menemuiku, maka aku merasa kagum dengan perbuatanku. Lalu aku.ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw., maka beliau Saw. bersabda: Dicatatkan bagimu dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.


Ayat 1–3: Kritik terhadap orang yang mendustakan agama
Mendustakan agama bukan hanya menolak secara lisan, tapi juga tidak peduli terhadap nilai-nilai sosial, seperti:
Menghardik anak yatim
Tidak mendorong pemberian makanan kepada orang miskin
Pesan utamanya : dampak Ibadah itu memberi kepedulian sosial.
Ayat 4–5: Salat yang lalai
Salat yang tidak dilakukan dengan khusyuk dan konsisten, atau hanya dilakukan untuk pamer, tidak bernilai di sisi Allah.
Ini adalah peringatan keras bahwa ritual tanpa hati dan niat yang benar adalah sia-sia.
Ayat 6–7: Riya dan enggan membantu
Orang yang salat hanya untuk dilihat orang lain (riya) dan enggan memberi bantuan kecil (al-ma’un: barang berguna seperti air, garam, piring, dll) adalah ciri orang munafik.
Islam menekankan kebaikan kecil sekalipun, sebagai bagian dari amal saleh.
Apa hubungannya antara menghardik anak yatim dengan orang yang lalai salatnya. Apakah iya orang yang lalai salatnya itu memiliki sifat menghardik anak yatim ? 
Pertanyaan ini sangat tajam dan menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap hubungan antara ibadah ritual dan akhlak sosial dalam Islam. Mari kita bahas secara sistematis:
Hubungan antara Menghardik Anak Yatim dan Lalai Salat dalam QS Al-Ma’un. 
1. Konteks Surat Al-Ma’un
Surat ini menyebut dua kelompok perilaku:
Ayat 1–3: Menghardik anak yatim dan tidak peduli pada orang miskin.
Ayat 4–7: Orang yang salat tapi lalai, riya, dan enggan memberi bantuan kecil.
Ini menunjukkan bahwa ibadah ritual (salat) dan kepedulian sosial tidak bisa dipisahkan. Salat yang benar harus berdampak pada akhlak dan empati sosial.
2. Apakah Orang yang Lalai Salat Punya Sifat Menghardik Anak Yatim ? Tidak selalu, tetapi ada korelasi yang penting:
Orang yang lalai salatnya (tidak khusyuk, tidak konsisten, atau hanya pamer) cenderung tidak memiliki kesadaran spiritual yang kuat. Akibatnya, ia kurang peduli terhadap nilai-nilai sosial, seperti menyantuni anak yatim dan membantu orang miskin.
Dalam konteks surat ini, kedua sifat itu berasal dari akar yang sama: ketiadaan iman yang sejati dan ketulusan dalam beragama.
3. Penjelasan Ulama
Ibnu Katsir: Surat ini menggabungkan antara penolakan terhadap nilai sosial dan ibadah yang tidak ikhlas, sebagai ciri orang yang mendustakan agama.
Quraish Shihab: Salat yang tidak berdampak pada perilaku sosial adalah salat yang kosong dari ruh dan makna.
Kesimpulannya : 
Menghardik anak yatim dan lalai salat adalah dua gejala dari penyakit hati yang sama: tidak memahami agama sebagai kesatuan antara ibadah dan akhlak.
Orang yang benar salatnya, seharusnya semakin lembut, peduli, dan dermawan. Maka, salat yang benar akan mencegah sifat kasar terhadap anak yatim dan orang miskin.
Salatlah dengan benar dengan dasar iman agar memiliki hati yang rindu untuk beramal saleh diantara mempedulikan anak yatim.

Alangkah indahnya saya kisahkan obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif) tentang ibadah dan amalan sosialnya. 
Mira: Kopi sore ini enak banget ya... Tapi aku tadi baca Surah Al-Ma’un, dan jadi kepikiran. Katanya orang yang mendustakan agama itu bukan cuma yang nggak salat, tapi juga yang cuek sama anak yatim dan orang miskin.
Mamat: Iya, aku juga pernah dengar itu. Jadi, kalau kita salat rajin tapi nggak peduli sama tetangga yang kelaparan, itu bisa termasuk mendustakan agama ya? Serem juga...
Bujang: Betul banget. Aku jadi ingat kemarin, ada ibu-ibu di ujung gang yang anaknya sakit tapi nggak punya uang buat beli obat. Kita lewat aja, padahal kita baru pulang dari masjid. Itu termasuk mendustakan agama nggak sih?
Mira: Kalau kita tahu dan bisa bantu tapi memilih diam, itu bisa jadi bentuk pendustaan. Karena agama itu bukan cuma soal ritual, tapi soal kasih sayang dan kepedulian.
Mamat: Jadi, salat itu harus bikin kita lebih peka ya? Bukan cuma gerakan, tapi harus bikin hati kita hidup.
Bujang: Setuju. Aku jadi pengen mulai dari hal kecil. Mungkin besok aku bisa ajak anak-anak di gang buat belajar bareng, atau bantu ibu itu beli obat.
Mira: Masya Allah, itu keren, Jang. Kadang kita nggak perlu jadi orang kaya buat peduli. Cukup punya hati yang mau berbagi.
Mamat: Yuk kita mulai bareng-bareng. Biar salat kita nggak cuma jadi rutinitas, tapi jadi sumber cahaya buat sekitar.

Mari kita pahami dengan membaca surah Al Ma'un dengan tuma'ninah, mentadaburi ayat demi ayat  yang mengajari kita beberapa hal berikut :
  1. Salat dan ibadah lainnya mesti membawa dampak positif bagi kita terhadap orang sekitar kita, yang melahirkan kepedulian sosial.
  2. Ada hati yang terpanggil menyuarakan kebenaran adalah bagian dari iman. jangan sampai kita disindir oleh ayat di atas, yaitu orang yang mendustakan agama (hari pembalasan) , kita tahu tapi tidak melaksanakannya, dan bahkan menunjukkan sebaliknya.
  3. Kesederhanaan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kesederhanaan dalam hidup agar tidak menjadi ketimpangan dalam linkungan kita. Kekayaan bukan untuk ditimbun, tapi untuk dibagikan.
  4. Pendustaan agama bisa terjadi saat kita meninggalkan nilai-nilai sosial dalam ibadah. Salat yang benar harus membuat kita lebih peduli, lebih lembut, dan lebih dermawan. Kepedulian sosial adalah bagian dari keimanan yang sejati.
Insya Allah petunjuk Allah ini dapat mengingatkan kita, dan bersegera untuk melaksanakannya. Teruslah memberdayakan diri untuk menjadi semakin dekat dengan Allah, yaitu jalan iman dan ketaqwaan. Tiada hari untuk selalu memotivasi diri dengan motivasi yang islami. Hidup ini semakin dekat kepada Allah, karena usia mendekat kepada pertemuan denganNya, kedekatan itu terasa dengan karunia dan rahmatNya dan kita pun membiasakan setiap hari untuk dekat dengan petunjukNya. 

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Sabtu, Agustus 23, 2025

Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera, keselamatan dan keberkahan bagi kita semua. Keberkahan yang kita rasakan mampu memberi kebaikan dalam hidup ini. Salah satu merasakan keberkahan itu adalah mengingat Allah agar hati terbuka dan fokus kepada apa yang kita perhatikan.


 Ada kalanya seseorang menolong orang lain dengan ikhlas, tapi setelah itu terjadi penilaian orang itu menjadi berubah tidak ingin menolong lagi karena satu hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Apa iya begitu ? Yang paling sering kita alami saja terjadi dalam kehidupan kita seharu-hari. Misalkan pengemis atau pengamen di lampu merah. Bisa jadi kita memberi karena kita ikhlas memberi. Setelah sekian lama mungkin 1 bulan, terpikir oleh kita, orang itu peminta-minta atau profesinya begitu ? Hal inilah yang meragukan kita untuk memberi lagi. Setelah membaca artikel penghasilan pengamen atau pengemis itu ternyata mencapai 14 juta per bulan. Apa iya kita masih mau memberi ? Inilah yang menginspirasi saya menulis tentang ayat 77 dari surah Al Qasas.

Dalam Al Qasas ayat 77, Allah berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." — QS. Al-Qasas: 77

Ayat ini merupakan nasihat kepada Qarun, tetapi juga menjadi pelajaran umum bagi kita semua: untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta meneladani kebaikan Allah dengan berbuat baik kepada sesama.


Berikut adalah penjelasan tafsir dari QS Al-Qasas ayat 77 berdasarkan beberapa sumber tafsir utama:

1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah nasihat kepada Qarun agar:

  • Menggunakan harta dan nikmat sebagai bekal ketaatan kepada Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan meraih pahala di dunia dan akhirat.
  • Tidak melupakan bagian dunia, yaitu hal-hal yang dihalalkan seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, dan pernikahan. Karena manusia punya kewajiban terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan tamu.
  • Berbuat baik kepada sesama, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya.
  • Tidak berbuat kerusakan di bumi, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak.

2. Tafsir Al-Misbah (M. Quraish Shihab)

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menekankan:

  • Frasa "wala tansa nashibaka minad-dunya" bukan berarti larangan haram, tetapi mubah (boleh) untuk mengambil bagian duniawi.
  • Keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah prinsip penting. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tapi dimanfaatkan sebagai sarana menuju akhirat.
  • Berbuat baik kepada sesama adalah bentuk syukur atas kebaikan Allah.
  • Larangan berbuat kerusakan adalah peringatan agar tidak menyalahgunakan nikmat untuk hal-hal yang merusak.

3. Tafsir Jalalayn

Tafsir Jalalayn memberikan penjelasan ringkas namun padat:

  • Carilah kebahagiaan akhirat dengan menafkahkan harta di jalan ketaatan.
  • Jangan lupakan bagian dunia, yaitu beramal dengan harta untuk pahala akhirat.
  • Berbuat baiklah kepada orang lain, seperti bersedekah.
  • Jangan membuat kerusakan di bumi, yaitu dengan melakukan maksiat .

4. Tafsir Al-Munir (Wahbah Az-Zuhaili)

Dalam Tafsir Al-Munir, ayat ini dijelaskan sebagai:

Panduan hidup seimbang: mencari akhirat tanpa melupakan dunia.

  • Keseimbangan manhaj Ilahi: tidak membenci dunia, tapi tidak menjadikannya tujuan utama.
  • Berbuat baik sebagai balasan atas nikmat Allah.
  • Larangan keras terhadap kerusakan, karena Allah tidak menyukai pelaku kerusakan.


Sesuai dengan tulisan saya di awal yaitu kaitan dengan ayat 77 dari Al Qasas adalah "berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita" tentang memberi atau berbuat baik (ihsan). Ternyata ihsan dalam berbagai hadis dijelaskan sebagai berikut :
1. Hadis tentang Ihsan kepada Allah
Hadis ini berasal dari dialog Nabi Muhammad ﷺ dengan Malaikat Jibril:
"Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." 
— HR. Muslim
Hadis ini menjelaskan makna ihsan kepada Allah, yaitu beramal dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, seolah-olah kita melihat Allah. Ini adalah bentuk tertinggi dari spiritualitas dan keikhlasan.
2. Hadis tentang Ihsan kepada Sesama
"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
— HR. Bukhari

Hadis ini mendukung konsep ihsan sosial, yaitu memperlakukan orang lain dengan kebaikan yang sama seperti yang kita harapkan untuk diri sendiri. Ini sejalan dengan perintah dalam QS An-Nahl: 90 untuk berbuat baik dan memberi kepada kerabat.
3. Hadis tentang Ihsan kepada Diri Sendiri
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
— QS Al-Baqarah: 195, didukung oleh berbagai hadis yang melarang menyakiti diri sendiri.
Ihsan kepada diri sendiri berarti menjaga diri dari bahaya, baik fisik maupun spiritual. Islam melarang tindakan yang merusak diri sendiri, seperti maksiat, keputusasaan, atau kelalaian terhadap kesehatan dan keselamatan
Kesimpulannya :
Ketiga bentuk ihsan ini:
Ihsan kepada Allah → Hadis Jibril (HR. Muslim)
Ihsan kepada sesama → Hadis cinta kepada saudara (HR. Bukhari)
Ihsan kepada diri sendiri → Prinsip menjaga diri dari kebinasaan (QS Al-Baqarah: 195)

Lalu, Bisa jadi kita selalu memberi dan menjadi semakin baik jika diiringi niat yang ikhlas dan berdoa agar kehidupan yang baik. Tapi sekali lagi ... dengan ayat Al Qasas di atas. Allah memberi kita tidak pernah berhenti berupa karunia dan rahmatNya. Apa iya kita terus memberi juga kepada pengemis dan pengamen terus-menerus ??? Iya memberilah terus-menerus. Diakhir ayatnya disampaikan "janganlah kita berbuat kerusakan di muka bumi". Ini mesti menjadi perhatian kita memberi terus-menerus itu membuat kecenderungan kerusakan di muka bumi. Diantaranya "memanja orang yang awalnya meminta-minta berubah menjadi profesi meminta". Saat kita merasakan ini terjadi, maka berhenti memberi. Lengkapi ilmu kita tentang memberi, diantaranya memberi itu memiliki prioritas dari orang terdekat dari lingkup keluarga dan lokasi (tetangga) yang membutuhkan tapi "tidak meminta".

Yang saya ambil hikmah dari "berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepada kita" yaitu mesti ditindaklanjuti dengan petunjuk Allah yang lain seperti ;

1. QS An-Nahl: 90
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan (kebaikan), memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
  • Adil: Menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia secara seimbang.
  • Ihsan: Memberi lebih dari yang diwajibkan, seperti bersedekah, memaafkan, dan berbuat baik bahkan kepada yang menyakiti.
  • Memberi kepada kerabat: Bentuk silaturahmi dan dukungan sosial.
  • Larangan terhadap keji, mungkar, dan permusuhan: Ini mencakup semua bentuk maksiat, baik yang tersembunyi maupun terang-terangan.
Berbuat baik itu luas, tidak hanya satu hal saja. Tetapi selalu ingat bahwa berbuat baik itu selalu dikaitkan dengan Allah yang terlah baik kepada kita. Tidak ada berbuat baik itu karena melihat yang menerimanya, dia baik atau tidak baik. Dengan dasar ini, kita berbuat baiknya menjadi ikhlas dan hanya berharap hanya kepada Allah tanpa menilai penerima. Biarlah urusan berbuat baik itu, antara kita dan Allah, sedangkan yang menerima adalah urusan Allah.

Hadis tentang ihsan (berbuat baik) dalam segala hal, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ

"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat ihsan (kebaikan) dalam segala hal."
— HR. Muslim, No. 1955


Hadis ini merupakan bagian dari hadis yang lebih panjang, yang juga menyebutkan ihsan dalam menyembelih hewan:
"...Maka apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan menenangkan hewan sembelihannya."

Makna Hadis:
Ihsan adalah prinsip universal dalam Islam, mencakup ibadah, muamalah, akhlak, bahkan dalam hal yang tampak kecil seperti menyembelih hewan.
Hadis ini menunjukkan bahwa berbuat baik bukan hanya dianjurkan, tapi diwajibkan dalam setiap aspek kehidupan.
Ihsan berarti melakukan sesuatu dengan kesempurnaan, keikhlasan, dan kasih sayang.

Insya Allah, dengan membaca dan memahami penjelasan di atas, maka kita semakin memiliki dasar untuk berbuat baik. Allah berbuat baik kepada setiap makhlukNya, maka kita sebagai hamba Allah pun patut untuk berbuat baik. Ingin nikmat Allah, dan bersegeralah berbuat baik dengan nikmat untuk siapa saja dan alam semesta. Teruslah memberdayakan diri untuk semakin baik dengan belajar dan memahami petunjuk Allah. Inilah motivasi diri yang terus ditindaklanjuti dengan mengamalkannya.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Bos hebat karena ada bawahan yang hebat

Alhamdulillahirabbilalamin. Kehidupan dunia ini tidak selalu baik, kadang menyenangkan dan ada kalanya bikin kita tidak baik-baik saja. Tak perlu disesali, terima aja adanya. Dan teruslah berpikir tentang apa yang bisa kita lakukan sekarang. Ingat agar kita bisa mengerjakan satu hal saja sekarang ... lihat mau jadi apa kita di hari berikutnya. Ingat mati, maka pasti pengen beramal saleh. Ingat kaya, maka pasti pengen kerja luar biasa, dan seterusnya. Jangan sampai kita tidak ingat apa-apa.


Bagi kita yang bawahan, salah gunjingan seru adalah bos yang sok tahu dan efeknya suka emosional. Yang ada adalah selalu perintah tugas. Seolah bos ini tidak ada kerjanya, kerjanya hanya "nyuruh bawahannya aja". Lingkungan ini selalu ada di sebuah kantor, dan hidup lagi. Bawahan ya diam aja, karena merasa tak punya kuasa dan nurut saja. Dan bosnya semakin jadi. 

Bawahan yang sudah bertahun-tahun cukup kesel dan tidak berubah juga sikap bos mereka. Yang waras mengalah, maka diantara bawahan ini berinisiatif "mengoreksi" atasan mereka dengan santun. Apa yang bisa dilakukan :
Pertama, bawahan dengan kompak untuk menjadi pintar. Pintar bukan untuk mengakali bosnya. Tapi membuat kondisi Bos dan team mereka menjadi luar biasa dan dipercaya perusahaan. Apa yang terjadi ? Bawahan bos banyak belajar kompetensi dan kerjasama antar mereka, agar apa yang diperintahkan bos dikerjakan sempurna. Dan yang lebih hebat lagi adalah terlihat Bos sangat pintar dan jenius dengan apa yang dilakukan team. Bos merasa "dibantu" team, bos tak perlu pintar dan tak perlu kerja keras, semua dilakukan bawahannya.
Disini Bos belajar banyak hal tentang kompetensi dari bawahannya, terutama menangani proyek/progran satu demi satu. Cara belajar ini sangat menguntungkan Bos dan Bawahan, tidak ada rasa ketersinggungan dan tidak ada yang menggurui satu sama lain. Yang terpenting adalah tingkat performance tertinggi dari team. Bawahan sangat memberdayakan dirinya menjadi semakin hebat. Disini diperlukan peran "seorang" yang memimpin team, bisa seorang senior atau seorang yang memiliki kepemimpinan tinggi.  
Setelah dipercaya perusahaan karena hasil kerja yang produktif, Bos diberi kepercayaan lebih tinggi dalam karirnya. Apakah Bos merasa senang ? Pasti senang, tapi ada sedikit ganjalan. Apa itu ? Bos merasa "berhutang" budi dengan team yang mengangkat dirinya menjadi dipercaya. Saat Bos di atas, Bos ingin mengangkat bawahan untuk mendampinginya. Alhasil Bos dan Bawahan sama-sama menguntungkan. Inilah salah satu caranya yaitu "Memintarkan Bos", membuat team mensupport Bos untuk sukses.
Cara di atas tidak mudah dilakukan, hambatannya begitu besar. Hambatan teknisnya tidak lebih besar dari faktor emosional, gengsi dan sejenisnya. Semua itu fokus kepada pikiran negatif. Tapi ada pertanyaan yang bisa memacu menjadi sikap dan perilaku team yang baik. Masak sih anggota team tidak mau maju ?? Bukankah dengan mengangkat Bos semakin hebat itu amal soleh dan amal jariah anggota team ?? Tidakkah anggota team tidak mau untuk berkemampuan dan berkarir tinggi di kantor yang bisa dikerjakan bersama (team)  ... mudah dan ringan ??

Bayangkan kinerja perusahaan tersebut menjadi sangat tinggi. Dan semua itu bisa diciptakan dengan membuatnya terjadi, dikelola oleh HRD dan team Training secara profesional. Satu team bisa dibentuk dan dikelola manajemen karir atas semua karyawan. HRD dan team training menjadi "konsultasn" bagi Bos dan bawahannya. Tapi kebanyakan yang terjadi adalah banyak perusahaan "membiarkan" bos dan bawahan berjalan masing-masing, bahkan menutup mata dengan "saling tidak support" antara Bos dan Bawahan. Yang terjadi adalah team dibentuk karena Bos yang dominan dan Bawahan yang lemah.



Berikut obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif)  tentang "memintarkan bos".
Myra: “Gue udah kerja bertahun-tahun, tapi Bos kita tuh nggak berubah-ubah. Sok tahu, nyuruh mulu, tapi nggak pernah kasih solusi. Capek banget.”
Mamat:“Iya, kayak kerjaannya cuma nyuruh. Kita yang mikir, kita yang ngerjain, dia tinggal bilang ‘cepet ya’. Kadang gue mikir, ini Bos kerja nggak sih?”
Bujang: “Gue dulu kesel banget, tapi sekarang gue mikir: daripada ngeluh terus, mending kita bikin Bos kita jadi kelihatan jenius. Kita yang kerja, dia yang dapat pujian. Tapi kita juga naik bareng.”
Myra: “Maksudnya gimana tuh?”
Bujang:“Kita kompak, belajar bareng, kerjain tugas dengan sempurna. Biar Bos nggak perlu mikir detail, tinggal approve. Lama-lama dia sadar, tim ini yang bikin dia sukses.”
Mamat: “Wah, itu sih keren. Jadi kita nggak ngelawan, tapi kita bantu dia jadi lebih baik. Bos merasa dibantu, kita juga jadi makin pintar.”
Myra: “Tapi susah loh, gengsi, emosi, kadang bikin kita males. Apalagi kalau Bos nggak sadar-sadar.”
Bujang: “Makanya kita butuh satu orang yang bisa mimpin tim. Entah senior, atau yang punya jiwa kepemimpinan. Yang bisa jaga semangat dan arah.”
Mamat: “Kalau tim kita solid, kerjaan lancar, Bos naik jabatan, kita juga ikut naik. Bos jadi punya utang budi, dan bisa angkat kita.”
Myra: “Iya ya, kalau dipikir-pikir, bantu Bos sukses itu bisa jadi amal jariah juga. Kita kerja bukan cuma buat gaji, tapi buat kebaikan tim.”
Bujang: “Betul. Yang penting jangan lupa: jangan nunggu Bos berubah, kita yang mulai duluan. Bikin tim hebat, bikin Bos hebat.”

Ide dan implementasi ini dapat diambil inisiatif seorang karyawan dan beberapa karyawan atau oleh pemilik perusahaan dengan HRD dan team training sebagai pelaksana. Atau karena organisasi yang lemah dalam perusahaan, siapa saja bisa memulai untuk dirinya dan kebaikan team dan Bos. Insya Allah langkah yang diambil menjadi perhatian sesama karyawan lainnya. Tidak ada yang sia-sia, butuh ilmu dan komitmen untuk membuktikan kinerja hebat dari waktu ke waktu.

Insya Allah tulisan ini mampu menginspirasi siapa saja yang mau memberdayakan diri semakin berkembang, kemampuan teknis, manajemen dan kepemimpinan. Tulisan ini sangat ingin memotivasi diri dengan sikap dan perilaku baik. Tidak ada sikap dan perilaku emosional yang mengantarkan seseorang menjadi lebih baik.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri


Jumat, Agustus 22, 2025

Senyum itu bukan untuk orang lain saja

Alhamdulillahirabbilalamin. Di hari Jum'at yang dimaknai sebagai bentuk hari baik, dan Insya Allah kita selalu dimampukan berbuat baik hari ini. Kata berbuat baik itu menjadi berharga saat kita yang melakukannya dapat merasakannya dengan hati. Ada hikmah, dan mendorong untuk berbuat baik lagi. Seiring itu kita pun merasa berbuat baik itu untuk dinikmati orang lain, sehingga fokus ini suka melalaikan kita untuk memberi yang terbaik bagi diri.


Obrolan 3 sahabat kita, enaknya dipanggil 3 Sahabat Hati (hangat inspiratif). Angin pagi berhembus lembut, matahari hangat tapi belum terik. Di sekitar mereka, orang-orang berolahraga, anak-anak bermain, dan suara burung terdengar samar.
Myra: (sambil menyeruput teh hangat). “Pagi ini adem banget ya… rasanya damai. Kadang aku mikir, kalau semua orang bisa mulai hari dengan niat berbuat baik, dunia pasti lebih tenang.”
Mamat: (nyengir sambil stretching). “Setuju. Tapi kadang orang mikir, ‘berbuat baik itu harus besar’. Padahal senyum aja bisa jadi kebaikan.”
Bujang: (berdiri sambil melihat orang tua yang sedang jalan pagi)
“Benar. Aku pernah baca, ‘Berbuat baik bukan soal siapa yang melihat, tapi siapa yang merasakan.’ Kebaikan kecil bisa jadi cahaya buat orang lain.”
Myra: “Kadang kita nggak tahu, satu kata ramah atau satu bantuan kecil bisa jadi penyelamat buat orang yang lagi hancur.”
Mamat: “Makanya aku suka ungkapan ini: ‘Jadilah alasan seseorang tersenyum hari ini.’ Ringan, tapi dalam.”
Bujang: “Dan yang paling keren, kebaikan itu menular. Satu tindakan bisa nyebar ke banyak orang. Kayak domino, tapi versi positif.”
Myra: (tersenyum). “Yuk, kita mulai dari diri sendiri. Nggak perlu nunggu momen besar. Mulai dari hal kecil, tapi konsisten.”
Mamat: “Siap. Hari ini aku mulai dengan bantu ibu bersih-bersih rumah. Kecil, tapi semoga bermanfaat.”
Bujang: “Aku mau kirim pesan ke teman lama. Sekadar nanya kabar. Siapa tahu dia butuh teman bicara.”
Myra: “Lihat tuh, anak kecil bantu ambil botol minum buat neneknya. Kebaikan itu nggak kenal usia.”
Mamat: “Dan nggak kenal waktu. Pagi, siang, malam… selalu ada ruang untuk berbuat baik.”



Nah, saya mengambil kata kunci dari obrolan 3 sahabat Hati di atas ada kata berbuat baik, dari hal kecil, konsisten, memberi kebaikan kepada orang lain. Terus ? bagi saya untuk memudahkan saya untuk memahami dan menjelaskannya.

Apa sih yang dimaksud berbuat baik itu ? Ada yang bilang,"semua orang juga tahu". Tapi kan berbeda referensinya, tergantung lingkungan dan latar belakangnya. Misalkan berbuat baik di pulau Sumatera dan pulau Jawa ada perbedaan. Misalkan mendahalui orang di depan kita, mungkin di Sumatera lewat aja, tapi di Jawa mesti bilang permisi dulu, atau bahkan ada juga di adab Melayu lebih mendahulukan yang tua. Dan ada banyak lagi. Berbuat baik ? Iya semua itu berbuat baik. 
Berbuat baik adalah tindakan yang membawa manfaat, kenyamanan, atau kebahagiaan bagi orang lain, diri sendiri, atau lingkungan — dilakukan dengan niat tulus tanpa mengharapkan imbalan.
  1. Secara Sederhana: Berbuat baik adalah melakukan sesuatu yang benar, bermanfaat, dan penuh niat baik.
  2. Secara Emosional: Berbuat baik adalah memberi kelegaan, harapan, atau senyum kepada orang lain — bahkan jika itu hanya lewat kata-kata atau perhatian kecil.
  3. Secara Spiritual: Berbuat baik adalah bentuk ibadah, pengabdian, atau jalan menuju kedamaian batin dan keberkahan hidup.
Contoh Berbuat Baik yang Sederhana Tapi Bermakna
  • Menyapa orang dengan ramah
  • Mendengarkan tanpa menghakimi
  • Membantu rekan kerja menyelesaikan tugas
  • Memberi jalan kepada orang lain
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Menyemangati teman yang sedang lelah
Dampak Berbuat Baik
Bagi orang lain: Merasa dihargai, didukung, dan tidak sendirian.
Bagi diri sendiri: Meningkatkan rasa bahagia, percaya diri, dan makna hidup.
Bagi lingkungan: Menciptakan suasana yang harmonis dan saling peduli.
Kesimpulannya adalah Berbuat baik tidak harus besar, tidak harus terlihat, dan tidak harus dibalas. Yang penting: niatnya tulus, dampaknya nyata. Kalau dalam agama bernilai pahala dan memenuhi ketentuan syariat. Salah syaratnya adalah ikhlas.

Berbuat baik itu bisa seperti contoh di atas, tapi bisa juga hal yang lebih dari itu. Misalkan membantu seseorang yang kesusahan, mulai memberi solusi, dukungan sampai seseorang itu lepas dari kesusahan.
Pertanyaan apakah kita yang berbuat baik itu merasa "terpaksa" melakukannya karena lingkungan dan orang yang dihadapi ? Kok gitu, karena bisa jadi kita tersenyum saat bertemu dengan atasan kerja kita atau kita berada di lingkungan yang baik semua. Bisa jadi kita berbuat baik (senyuman) itu tidak hadir dari dalam diri, Apakah hal ini berdampak ? Saya rasa tidak. Karena buat diri sendiri aja tidak, senyumnya bukan dari dalam. Apalagi berdampak buat orang lain. Dari sini saat kita berbuat baik, maka mesti memenuhi ketentuan yang pertama yaitu dilakukan untuk diri sendiri dulu. Saya tersenyum karena saya ingin tersenyum atau lebih dalamnya saya tersenyum karena Allah. ketentuan ini pasti memberi kebaikan bagi diri saya sendiri. Bisa ikhlas dimana senyuman terpancar dari hati. Vibrasi senyum ini direspon positif oleh alam semesta dan menyentuh orang yang dihadapan kita. Dampaknya pasti ada kepada semua orang yang menangkap vibrasi berbuat baik, termasuk alam semesta. Kalau saya ingin mengatakannya sebagai berikut "Saya berbuat baik karena Allah atau saya berbuat baik seperti Allah telah berbuat baik kepada saya"

Dampak yang luar biasa adalah berbuat baiknya tidak meremehkan hal kecil dan tidak mau hanya sekali tapi terus-menerus (konsisten). Berbuat baik yang kecil itu jika dilakukan terus-menerus adalah berbuat baik yang besar, sebagai melatih jalan menuju berbuat baik yang lebih besar lagi. 

Apa yang menjadi ukuran bagi kita sendiri dalam berbuat baik ? karena berbuat baik itu dimulai dari diri sendiri, maka kitalah yang mengukurnya dan tidak perlu divalidasi kepada orang lain. Misalkan kita bertanya apa dampaknya kepada orang lain ? Kalau jawabannya tidak berdampak, apakah lalu kita belum berbuat baik ? Maka dari itu berbuat baiklah untuk diri sendiri saja dulu dan Insya Allah dapat dirasakan orang lain. Jadi ukuran berbuat baik itu adalah diri kita sendiri.
Sebagai contoh dimana berbuat baik yang sederhana itu berdampak kepada diri kita sendiri. Diantaranya kita mampu beraktivitas semakin produktif.
Misalkan kita tersenyum dalam kerja dan menyapa orang disekitar kita yang juga menampakkan semangat kerja di tempat kerja.
Sebenarnya Senyum dan semangat yang kita berikan adalah untuk diri kita sendiri, dan terhadap Allah yang kita hadapi dalam kerja, yang memberi amanahNya. Senyum dan semangat kerja yang kita pertunjukkan adalah untuk Allah, pastilah yang terbaik. Pancaran atau vibrasi atau aura senyum dan semangat itu terpancar kesemua arah, termasuk orang di sekitar kita. Yang bisa jadi saat kita menyapa mereka atau mereka yang melihat kita yang tersenyum dan bersemangat dalam kerja.
Yang menjadi perhatian kita adalah apakah kita mewujudkan senyum dan semangat sebagai energi untuk menggerakkan aktivitas atau kerja kita ? Jawabannya pasti iya, masak sih kita hanya tersenyum dan semangat aja kepada Allah tanpa menunjukkannya dalam kerja.  Inilah dampaknya yang kita mesti rasakan, ada hati yang bahagia (senang) yang mendorong kita ikhlas senyum, semangat dan beraktivitas.
Apakah kerja kita produktif ? Mestinya iya, karena kita dalam kesadaran kepada Allah. Produktivitas yang seperti apa ? Apa yang kita kerjakan pasti menuju satu tujuan utama dalam hidup kita, apa itu ? Semakin meningkatkan iman dan taqwa. Hati-hati jika kita kerja tapi tidak menuju kepada tujuan hidup, maka kerja ini bisa hanya menyenangkan saja dan tidak memiliki tujuan atau arahnya. Terus ada yang tanya ? Kalau kita bekerja menuju iman dan taqwa, bagaimana dengan target kerja secara profesional ? Tenangkan dan renungkan ... kerja yang profesional itu bagian dari kerja produktif menuju iman dan taqwa. Apa iya kerja produktif menuju iman dan taqwa itu hanya ibadah salat dan doa saja ? Saya jawab tidak seperti itu. Memang itu adalah bagian dari kerja produktif menuju iman dan taqwa. Ibadah itu dibagi 2 bagian yaitu ibadah khusus (salat dan sejenisnya) dan ada ibadah umum seperti halnya kerja profesional. Kerja profesional itu adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, Allah izinkan dan menjadikan kita sebagai khalifah (mewakili Allah) dengan apa yang kita pilih dalam bekerja. Apa begitu aja ? Tidak, kerja profesional yang amanah itu mesti dipertanggungjawabkan kepada Allah. Sama halnya dengan ibadah khusus. Kedua ibadah (umum dan khusus) saling menguatkan menuju kerja produktif menuju iman dan taqwa. 
Apa iya, kita dominan dalam ibadah khusus tapi meninggalkan amanah ibadah umum ... lalu disebut beriman. Misalkan ibadah khusus itu salat, bukankah salat itu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. Salatnya baik, maka perilaku dan kerjanya juga bagus yang terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Begitulah seharusnya iman dan taqwa itu membawa kita kepada ibadah khusus yang berkualitas dan membawa kita mempertanggungjawabkan ibadah umumnya secara berkualtias juga.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ukuran dari berbuat baik itu adalah tidak hanya sekedar ikhlas tapi memberi dorongan kita berakhlak (perilaku dan kerja) yang baik, yang Allah ridhai.

Apakah berbuat baik itu mesti perlu biaya ? Apa Itu Kebaikan Kecil dan Mudah? Ternyata Kebaikan kecil adalah tindakan positif yang:
  • Tidak membutuhkan biaya besar
  • Tidak memakan waktu lama
  • Bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja
Contoh di lingkungan kantor:
  • Menyapa rekan kerja dengan senyum
  • Membantu rekan yang kesulitan tanpa diminta
  • Memberi pujian tulus atas hasil kerja
  • Menawarkan bantuan saat ada deadline
  • Membagikan informasi atau tips kerja yang bermanfaat
Bagaimana Kebaikan Kecil Meningkatkan Produktivitas di Kantor? Seperti yang telah dijelaskan di atas, lakukan saja untuk diri kita sendiri (kebaikan untuk diri sendiri).
1. Meningkatkan Suasana Kerja
  • Kebaikan menciptakan lingkungan kerja yang hangat dan suportif. Ketika orang merasa dihargai dan didukung, mereka:
  • Lebih semangat bekerja
  • Lebih terbuka untuk berkolaborasi
  • Lebih tahan terhadap stres
Produktivitas meningkat karena suasana kerja yang sehat.

2. Memperkuat Hubungan Antar Tim
Tindakan kecil seperti membantu atau mendengarkan bisa membangun kepercayaan dan rasa saling menghargai.
Tim yang solid bekerja lebih efisien dan minim konflik.

3. Meningkatkan Motivasi Pribadi
Berbuat baik memberi rasa puas dan makna. Ini memicu hormon positif seperti dopamin dan oksitosin.
Karyawan yang merasa bahagia cenderung lebih fokus dan produktif.

4. Mengurangi Ketegangan dan Stres
Kebaikan kecil bisa meredakan suasana tegang, misalnya:
  • Menenangkan rekan yang panik
  • Memberi kata-kata penyemangat saat rapat
  • Stres berkurang, kerja jadi lebih lancar.
5. Menciptakan Budaya Positif
Jika kebaikan kecil dilakukan secara konsisten, itu akan menjadi budaya kerja.
Budaya positif = karyawan betah, turnover rendah, dan produktivitas tinggi.

Contoh Nyata di Kantor
Kebaikan kecil     : menawarkan dan membawa kopi buat temen
Dampak langsung : Meningkatkan keakraban dan saling suport
Kebaikan kecil : memberi semangat dan pujian di chat 
Dampak langsung : meningkatkan kepercayaan diri
Kebaikan kecil : Membantu menyusun laporan
Dampak langsung : Mempercepat pekerjaan tim dan meningkatkan kepercayaan atasan

Bagaimana pendapat Anda setelah membaca dan memahami tulisan di atas ? Anda bisa melakukannya dan membuat diri Anda sendiri merasa bahagia dan menyenangkan. Semua itu semakin bermakna saat Anda juga mampu memberdayakan diri di rumah, di kantor dan di masyarakat yang memampukan produktivitas menuju iman dan taqwa. Inilah motivasi Islam membangun diri seseorang yang menjadi semakin baik. 

Buatlah catatan kecil apa yang ingin Anda evaluasi dan Anda ingin wujudkan untuk mencapai keberhasilan dalam kerja dan iman ! Just do ti Now or You die.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri


Kamis, Agustus 21, 2025

Udah bisa bangun paginya

Alhamdulillahirabbilalamin masih diberi kesempatan hari ini, dibangunkan dan diberi pikiran fresh untuk memperbaiki keadaan sendiri. Hari sepertinya sama pagi hingga malam, tapi setiap hari berbeda. Setiap hari yang dilewati adalah mengurangi jatah waktu hidup di dunia ini. Dengan berkurangnya jatah waktu hidup di dunia ini, mesti diimbangi dengan berapa banyak hari telah mengubah diri kita menjadi semakin baik. Beruntunglah orang yang timbangan kebaikannya banyak.


Apa yang saya tulis tentang keinginan bangun pagi ... sudah lewat. Tapi bangunnya belum setiap hari pagi sekali. Praktek demi praktek telah dilakukan ... dan hasilnya adalah belum maksimal. Ada hal yang menarik tentang alarm, biasanya alarm diletakkan di dekat kita tidur. Waktu itu ada strategi bangun pagi itu meletakkan alarm jauh dari saya. Dan ada hari dimana saya meletakkannya disamping tempat tidur. Apa yang terjadi ? Saya bangun oleh alarm di dekat saya, saya pun mematikan alarmnya karena bunyinya menganggu ... lalu saya tidur lagi. Tapi apa yang lakukanketika bangun pagi dengan alarm jauh dari saya. Saya bangun, lalu saya berdiri dan mematikan alarm. Ternyata berdiri dan bangunnya itu membuat saya telah melepaskan ikatan setan yang pertama, berikutnya ? Apakah saya tidur lagi atau ke kamar mandi untuk wudhu ? Dominasi penguatan dalam pikiran mesti diarahkan kepada yang baik, ingin bertemu Allah dalam Tahajud. Maka Penguatan ini cenderung mengarahkan saya melepaskan ikatan setan yang kedua dan seterusnya. Bangun deh pagi itu. Jadi saya memiliki pengalaman tentang alarm dan dorongan untuk  melepaskan ikatan setan dalam tidur saya. Apakah hanya pengalaman saja ??  Ternyata memberi dampak positif, apa itu ?
  1. Saya sangat kuat untuk membuat kebiasaan baru meletakkan alarm jauh dari saya. Selalu ada khawatir "susah" matiin alarmnya, dan dibalik kesusahan itu ada kebaikan yang mendorong saya berdiri dan bangun.
  2. Saya sangat ingin membuat afirmasi (penguatan) yang lebih kuat tentang salat Tahajud yang mendorong saya melepaskan semua ikatan tidur oleh setan. Tidak ada cara lain saya mesti mempelajari segala hal tentang salat Tahajud.
  3. Pengalaman saya bisa bangun pagi telah menjadi memori dalam pikiran bawah sadar. Dan saya ingin ini terjadi lagi dan lagi, menciptakan kebiasaan yang bisa mentrigger saya bangun pagi. Setelah bangun pagi, saya mesti sadarkan diri untuk melakukan kebaikan bersama Allah.
itulah hikmahnya.



Saya jadi ingin menulis tentang keinginan saya bangun pagi ini dalam bentuk yang lebih terstuktur agar mudah dipahami. Saya mulai dari keinginan saya bangun pagi.
Pikiran sadar saya :
Keinginan : Bangun pagi 02:30 
Apakah keinginan saya ini baik ? Karena saya beriman kepada Allah, maka saya mesti memiliki tujuan atau keinginan yang baik yang dirahmati Allah. Untuk apa ? Agar Allah merahmati keinginan saya dan mensupport saya. 
Agar keinginan itu menjadi baik, maka saya membuat bangun pagi saya diisi dengan banyak kebaikan. Perlu membuat list kebaikan yang bisa dilakukan agar "membuat" pikiran saya berimanjinasi.
Pertama apapun kebaikan yang saya lakukan adalah bentuk ketaatan kepada Allah dengan menjalankan perintahNya. BUkankah ini adalah jalan ketaqwaan ?? Insya Allah.
Kedua adalah bangun pagi saya untuk menghadap Allah dalam Tahajud saya. Dimana Allah telah menunggu saya di atas langit bumi untuk melihat dan mendengar curhatan saya, dan tentu mengabulkan doa saya. Ini adalah kesempatan yang ditawarkan Allah dan sangat sedikit yang bisa melakukannya. Ketaatan ini bisa menjadi kecintaan saya kepada Rasulullah, karena saya meneladani tidur dan bangunnya rasulullah.
ketiga adalah saya bisa banyak berzikir atau beristighfar, mengaji dan belajar apa saja atau saya bisa berolah raga.
Tujuan atau keinginan yang baik itu tentu baik di mata Allah dan berharap dirahmati Allah. 
Tujuan dari yang baik ini bisa membuat saya berniat yang baik pula. Niat untuk beribadah dan bertaqwa kepada Allah.
Apa dampak dari tujuan baik dan niat saya ?
Pikiran saya berimajinasi kepada Allah yang memberi (mengizinkan) saya mendapatkannya. Disini saya merasa yakin dan tanpa ragu, Allahlah yang merespon dengan benar dan sesuai janjiNya. Maka hadir semangat di hati, semangat yang diiringi oleh La haula wala quwata ilabillah. Allah mencukupkan dan menyempurnakan dengan daya dan kekuatanNya. Ada enegi untuk menggerakkan semuanya.

Apa latar belakang : 
Pertama dorongan untuk hidup semakin baik terutama meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah.  
Kedua karena saya selama ini bangunnya tidak pagi, tidak seperti orang-orang beriman. Bisa jadi ada korelasi antara bangun pagi dengan kehidupan saya yang tidak baik-baik saja.

Pikiran bawah sadar saya :
Afirmasi : Semua yang positif saya pikirkan untuk bangun pagi adalah kekuatan yang saling menguatkan. Termasuk self talk saya mengarahkan saya untuk bangun,"bangun pagi baik buat saya, lakukan saja". Tidak hanya itu ada afirmasi baru berupa ilmu dan pengetahuan baru. Misalkan 
  1. "Saya batu tahu tentang tidur saya dininabobokan setan dengan 3 ikatan, selama saya bisa melepaskannya maka saya bisa bangun sempurna. Bayangkan saya hanya bangun tapi tidak wudhu dan salat ... rasa ngantuknya masih ada atau setan masih berada dalam diri saya sepanjang hari" 
  2. "Turunnya Allah di langit pada 1/3 malam dan menunggu hambanya berdoa dan Dia mengabulkannya. Apa nggak pengen ? Pastilah saya pengen dilihat, dipantau, didengar dan dikabulkan doanya" dan banyak afirmasi lainnya.
Tidak sekedar afirmasi yang saya kuatkan, saya pun mulai berpikir positif tentang bangun pagi, tidak lain untuk menghalangi kekhawatiran dan ketakutan saya, diantaranya  
Kekhawatiran dan ketakutan saya :
  1. tidak bisa bangun pagi, karena sebelumnya tidak lagi bangun pagi. Apalagi cuaca saat ini sangat dingin.
  2. iya apa iya, hanya sebuah keinginan saja ???
  3. Semua yang dirumah ini juga tidak ada yang bangun pagi.
  4. Biasanya juga udah pengen bangun pagi, karena dingin tidur lagi
  5. Iya sih saya bisa bangun pagi, tapi nantinya tidak ngantuk di awal hari menjelang bekerja/aktivitas.
  6. kalau saya bangun pagi nanti tidak cukup waktu tidur saya.
  7. Pernah bangun pagi tapi juga gagal untuk konsisten.
  8. Tidur yang baik itu mesti tenang dan nyenyak.

Kenapa kekhawatiran dan Ketakutan Ini Muncul?
Karena pikiran bawah sadar menyimpan pengalaman negatif atau asumsi yang belum diuji. Karena tubuh dan otak terbiasa dengan rutinitas lama yang nyaman.
Karena belum ada penguatan positif dari pengalaman bangun pagi yang menyenangkan.

Apa akibatnya ? Vibrasi dari pikiran bawah sadar yang negatif ini direspon oleh alam semesta sebagai bagian dari hukum tarik-menarik (LOA). Responnya bisa menguatkan saya untuk dihalangi untuk bangun tidur.
Misalkan saat saya bangun saat alarm bunyi, lalu pikiran bawah sadarnya merasakan udara dingin banget. bila dibiarkan saja, otomatis pikiran bawah sadar menarik selimut dan tidur lagi. Disinilah pikiran sadarnya untuk bangun pagi tidak kuat dan akhirnya jadi tidur lagi.
Sama halnya di siang hari, paginya sudah bangun. Ada lintasan pikiran dari bawah sadar mengatakan "nanti ngantuk" dan memang kejadian. Mengapa ? Pada saat pikiran bawah sadar itu hadir "ngantuk", maka direspon oleh tubuh secara otomatis jadi lemes dan capek serta matapun layu. Jadi dengan kejadian ini pikiran menyimpulkan bangun pagi itu ngantuk dan disimpan lagi sebagai memori lagi yang semakin kuat.
Bagaimana melawan hal di atas ?
Kita mesti mengambil alih pikiran bawah sadar itu dengan pikiran sadar. Saat sadar dijaga kesadarannya dengan memori yang baik yang juga berada dalam pikiran bawah sadar. Saat bangun dan merasakan dingin, maka alihkan kesadaran saya "memang dingin tapi saya ingin bertemu dengan Allah" maka keputusan menarik selimut dan tidur lagi TIDAK JADI. Akhirnya bangun. Atau kita ingat afirmasi positif yang telah kita buat. "Saya mau berdoa dan berharap Allah kabulkan". Maka pikiran bawah sadar yang negatif dan LOAnya segera berganti dengan pikiran sadar yang positif.  Dalam contoh bangun pagi itu bikin ngantuk, saat siang hari kita mesti sadar bahwa "ngantuk"nya itu dihadapi dengan "cuci muka" atau mengalihkan dengan sadar masak sih saya mau tidur di siang bolong atau fokus kerja aja. Seiring waktu "pikiran bawah sadar yang bilang ngantuk" hilang atau berganti.

Bagaimana sudah paham dengan penjelasan di atas ? Bangun pagi tidak saja hanya sebuah keinginan, tapi mesti diupayakan terjadi. 

Untuk dapat memahami makna pikiran bawah sadar, pikiran sadar dan LOA, yuk baca ya ...


Setiap manusia memiliki keinginan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Namun, perubahan bukan hanya soal tindakan fisik, melainkan juga melibatkan pikiran sadar, emosi, dan alam bawah sadar. Dalam perspektif Law of Attraction (LOA), perubahan diri dimulai dari frekuensi energi yang kita pancarkan melalui pikiran dan perasaan. LOA menyatakan bahwa apa yang kita pikirkan dan rasakan secara dominan akan menarik pengalaman serupa ke dalam hidup kita.
Memahami Dasar LOA dalam Perubahan Diri
LOA bekerja berdasarkan prinsip bahwa energi menarik energi yang serupa. Jika seseorang ingin berubah menjadi lebih baik, ia harus terlebih dahulu mengubah frekuensi energinya—yaitu pikiran, keyakinan, dan emosi yang ia pancarkan.
Tiga Pilar LOA dalam Transformasi Diri:
  • Pikiran dan Logika (Mindset dan Keyakinan)
  • Semangat dan Emosi (Energi dan Motivasi)
  • Alam Bawah Sadar (Program Internal dan Kebiasaan)
1. TINDAKAN (ACTION)
Mulai dari langkah nyata yang bisa dilakukan setiap hari.
Tentukan tujuan perubahan (misalnya: lebih percaya diri, lebih produktif).
Buat rutinitas harian: afirmasi pagi, jurnal malam, visualisasi.
Ambil langkah kecil yang konsisten (misalnya: berbicara di rapat, menyelesaikan tugas tepat waktu).
Tips: Jangan tunggu motivasi datang, mulai dulu dari tindakan kecil.

2. Pikiran dan Logika: Menyusun Mindset Positif
Perubahan dimulai dari kesadaran. Pikiran sadar adalah alat utama untuk mengarahkan hidup. Dalam LOA, pikiran adalah emancar sinyal ke alam semesta. Gunakan akal sehat untuk mendukung perubahan.
Langkah-langkah Praktis:
  • Identifikasi Pola Pikir Lama: Tuliskan keyakinan negatif yang selama ini menghambat, seperti “saya tidak cukup baik” atau “saya tidak bisa sukses.”
  • Ganti dengan Afirmasi Positif: Ubah pola pikir tersebut dengan afirmasi seperti “Saya layak untuk sukses” atau “Saya mampu berubah.”
  • Evaluasi keyakinan lama: “Apakah ini benar atau hanya asumsi?”
  • Ganti dengan logika baru: “Saya pernah berhasil, berarti saya bisa.”
  • Gunakan bukti nyata untuk memperkuat keyakinan positif.
  • Contoh: “Saya pernah menyelesaikan proyek besar, berarti saya mampu.”
2. Visualisasi: Bayangkan diri Anda yang sudah berubah. Rasakan emosi positif dari versi diri yang lebih baik itu.
Logika sebagai Pendukung: Gunakan logika untuk memperkuat afirmasi. Misalnya, jika Anda berkata “Saya bisa sukses,” dukung dengan bukti nyata dari pengalaman atau kemampuan Anda.
Contoh Afirmasi LOA :
“Saya menarik perubahan positif ke dalam hidup saya setiap hari. Saya terbuka untuk pertumbuhan dan kesuksesan.”

3. Semangat dan Emosi: Mengatur Frekuensi Energi
Emosi adalah bahan bakar dari LOA. Pikiran tanpa emosi tidak cukup kuat untuk menarik realitas baru. Semangat dan motivasi adalah bentuk energi yang mempercepat manifestasi.
Cara Meningkatkan Energi Positif:
Syukuri Hal-Hal Kecil: Rasa syukur meningkatkan frekuensi energi secara instan.

4. PERASAAN (EMOSI)
Perasaan adalah bahan bakar manifestasi.
Rasakan emosi positif saat membayangkan perubahan.
Latih rasa syukur setiap hari.
Hindari tenggelam dalam emosi negatif terlalu lama.
Latihan: Tulis 3 hal yang kamu syukuri setiap hari.

5. HATI (INTUISI & NIAT)
Hati adalah kompas perubahan.
Dengarkan intuisi: apa yang benar-benar kamu inginkan?
Tetapkan niat yang jelas: “Saya ingin menjadi versi terbaik dari diri saya.”
Jaga niat tetap murni dan tidak dipenuhi ego atau pembuktian.
Refleksi: “Apakah perubahan ini untuk kebaikan saya atau hanya untuk menyenangkan orang lain?”

6. Lakukan Aktivitas yang Membuat Bahagia: Musik, olahraga, meditasi, atau berkarya.
Kelilingi Diri dengan Energi Positif: Hindari lingkungan atau orang yang toksik.
Jaga Konsistensi Emosi: Jangan biarkan emosi negatif mendominasi terlalu lama. Sadari, terima, lalu lepaskan.
Teknik LOA: Emotional Guidance Scale
Gunakan skala emosi untuk mengetahui di mana posisi Anda. Dari rasa takut ke rasa syukur, setiap emosi memiliki frekuensi. Tujuannya adalah naik ke emosi yang lebih tinggi.

5. Alam Bawah Sadar: Mengubah Program Internal
Alam bawah sadar menyimpan program otomatis yang mengendalikan 95% perilaku kita. Jika ingin berubah, kita harus memprogram ulang alam bawah sadar.
Cara Kerja Alam Bawah Sadar dalam LOA:
Ia menerima sugesti berulang.
Ia tidak membedakan antara realita dan imajinasi.
Ia bekerja berdasarkan kebiasaan dan emosi dominan.
Teknik Reprogramming:
  • Afirmasi Berulang: Ulangi afirmasi setiap pagi dan malam.
  • Meditasi dan Visualisasi: Dalam kondisi relaks, bayangkan perubahan yang diinginkan.
  • Hypnosis Ringan: Dengarkan audio afirmasi saat menjelang tidur.
Di sinilah perubahan jangka panjang terjadi.
Contoh Afirmasi: “Saya layak untuk sukses dan bahagia.”
Tulis perasaan, afirmasi, dan visualisasi setiap hari.
Hari ini saya merasa: bahagia
Afirmasi saya: “Saya berkembang semakin bahagia setiap hari.”
Visualisasi saya: imajinasi kebahagiaan yang dirasakan

6. Proses Perubahan: Dari Niat ke Manifestasi
Perubahan bukanlah proses instan. LOA mengajarkan bahwa niat yang jelas, keyakinan yang kuat, dan tindakan yang selaras akan membawa hasil.
Tahapan Manifestasi LOA:
  • Niat (Intention): Tentukan dengan jelas apa yang ingin Anda ubah.
  • Keyakinan (Belief): Percaya bahwa perubahan itu mungkin dan layak untuk Anda.
  • Emosi (Feeling): Rasakan seolah-olah perubahan itu sudah terjadi.
  • Tindakan (Action): Ambil langkah nyata yang mendukung niat Anda.
  • Penerimaan (Receiving): Terima perubahan dengan terbuka dan syukur.
7. Hambatan Umum dan Cara Mengatasinya
Keraguan dan Ketakutan:
Solusi: Hadapi dengan logika dan afirmasi. Tanyakan, “Apakah ketakutan ini benar-benar nyata?”
Lingkungan Negatif:
Solusi: Batasi interaksi atau ubah cara Anda merespons.
Kurangnya Konsistensi:
Solusi: Buat rutinitas harian LOA seperti afirmasi pagi, jurnal malam, dan meditasi.

8. PRASANGKA BURUK (NEGATIVE ASSUMPTIONS)
Ini adalah penghalang energi positif.
Sadari prasangka seperti: “Pasti gagal lagi,” “Orang lain lebih hebat.”
Tantang prasangka itu dengan pertanyaan logis: “Apa buktinya?”
Ganti dengan prasangka baik: “Saya sedang belajar dan berkembang.”
Latihan: Tulis prasangka buruk → ubah jadi prasangka baik.

9. SELF-TALK NEGATIF (SUARA DALAM DIRI)
Ini sering tidak disadari tapi sangat berpengaruh.
Perhatikan kalimat yang kamu ucapkan ke diri sendiri.
Ganti “Saya bodoh” → “Saya sedang belajar.”
Ganti “Saya tidak bisa” → “Saya belum bisa, tapi saya akan belajar.”
Tips: Perlakukan diri sendiri seperti sahabat terbaikmu.

8. Studi Kasus: Perubahan Diri dengan LOA

Bujang, seorang profesional yang ingin menjadi lebih produktif dan percaya diri, mulai menerapkan LOA:

  • Ia menulis afirmasi setiap pagi: “Saya produktif dan percaya diri.”
  • Ia memvisualisasikan dirinya berbicara dengan percaya diri di depan tim.
  • Ia mulai merasa lebih semangat dan mulai mengambil tindakan kecil seperti berbicara lebih aktif di rapat.

Dalam 3 bulan, ia merasa lebih percaya diri dan mulai mendapatkan tanggung jawab baru.

Menjadi Magnet Perubahan Positif
Perubahan diri bukan hanya soal disiplin, tapi juga soal energi yang kita pancarkan. Dengan LOA, kita belajar bahwa pikiran, emosi, dan alam bawah sadar adalah alat utama untuk menciptakan versi terbaik dari diri kita.
Pesan Akhir:
“Kamu tidak perlu menjadi sempurna untuk berubah. Kamu hanya perlu menjadi sadar, konsisten, dan terbuka untuk menerima versi terbaik dari dirimu.”

KESIMPULAN: KUNCI PERUBAHAN DIRI
Aspek                      :Tindakan
Fokus Utama      : Konsistensi Langkah Kecil
Latihan Praktis    : Rutinitas harian LOA
Aspek                      : Logika
Fokus Utama      : Rasakan emosi positif
Latihan Praktis    : Latihan bersyukur
Aspek                      : Hati
Fokus Utama      : Dengarkan intuisi dan niat
Latihan Praktis    : Refleksi tujuan
Aspek                            : Alam Bawah Sadar
Fokus Utama      : Reprogram dengan afirmasi & visualisasi
Latihan Praktis    : Meditasi dan audio afirmasi
Aspek                            : Alam Bawah Sadar
Fokus Utama      : Reprogram dengan afirmasi & visualisasi
Latihan Praktis    : Meditasi dan audio afirmasi
Aspek                      : Prasangka buruk
Fokus Utama      : Sadari dan ubah
Latihan Praktis    : Tulis dan ganti prasangka
Aspek                      : Self talk negatif
Fokus Utama      : Ubah cara bicara ke diri sendiri
Latihan Praktis    : Afirmasi positif harian

Berikut ini adalah langkah-langkah yang tepat untuk merubah diri menjadi semakin baik.
Buatlah aktivitas harian dengan mempertanyakan hal beriktu :
  • Tanggal
  • Afirmasi hari ini
  • Visualisasi saya hari ini
  • Hal-hal yang saya syukuri
  • Perasaan dominan saya hari ini
  • Tindakan kecil yang saya ambil hari ini
  • Prasangka buruk yang muncul dan cara saya mengubahnya
  • Self-talk positif yang saya ucapkan hari ini
1. 🧠 Niat Sadar Hari Ini
Tuliskan niatmu secara jelas:
Contoh: "Saya ingin bangun pukul 05:30 pagi dengan penuh semangat."
...........................................................................
...........................................................................
2. 💬 Self-Talk yang Muncul
Tuliskan pikiran otomatis atau keraguan yang muncul:
Contoh: "Apa iya saya bisa bangun pagi?" atau "Saya takut bangun pagi bikin ngantuk."
...........................................................................
...........................................................................

3. 💓 Emosi Dominan Saat Ini
Identifikasi emosi yang kamu rasakan terkait niat bangun pagi:
Contoh: Semangat, ragu, takut, optimis, malas, dll.
...........................................................................
...........................................................................
4. 🔁 Afirmasi Positif Hari Ini
Tuliskan afirmasi yang ingin kamu ulangi hari ini:
Contoh: "Saya mudah bangun pagi dan merasa segar."
...........................................................................
...........................................................................
5. 🌅 Visualisasi Pagi Ideal
Bayangkan dan tuliskan seperti apa pagi yang kamu inginkan:
Contoh: "Saya bangun dengan senyum, membuka jendela, dan menikmati udara segar."
...........................................................................
...........................................................................
6. 📝 Refleksi Harian (Ditulis Setelah Bangun)
Tuliskan pengalamanmu setelah bangun pagi:
- Apakah kamu berhasil bangun sesuai niat?
- Apa yang kamu rasakan?
- Apa yang bisa ditingkatkan?
...........................................................................
...........................................................................

🌙 LATIHAN MALAM HARI: MENYIAPKAN VIBRASI POSITIF UNTUK BANGUN PAGI
🧘‍♂️ 1. Afirmasi Sebelum Tidur
Ulangi afirmasi berikut dengan tenang dan penuh keyakinan:
- "Saya bangun pagi dengan mudah dan penuh semangat."
- "Tidur saya nyenyak dan menyegarkan tubuh saya."
- "Saya siap menyambut pagi dengan energi positif."
🌅 2. Visualisasi Singkat
Luangkan waktu 2–3 menit untuk membayangkan:
- Kamu bangun pagi dengan senyum.
- Kamu membuka jendela dan merasakan udara segar.
- Kamu melakukan aktivitas pagi yang menyenangkan (minum teh, olahraga ringan, meditasi).
📓 3. Refleksi Harian
Tuliskan jawaban dari pertanyaan berikut:
- Apa hal terbaik yang terjadi hari ini?
- Apa yang saya syukuri malam ini?
- Apa pelajaran yang saya dapatkan hari ini?
🎯 4. Penetapan Niat untuk Bangun Pagi
Tuliskan niatmu secara jelas:
- Jam berapa saya ingin bangun besok?
- Apa alasan saya ingin bangun pagi?
- Apa yang akan saya lakukan setelah bangun?
Contoh:
"Saya berniat bangun pukul 05:30 untuk memulai hari dengan meditasi dan membaca buku. Saya ingin merasa segar dan produktif."

Tips Tambahan:
- Matikan perangkat elektronik 30 menit sebelum tidur.
- Siapkan alarm dengan suara yang lembut.
- Tidur dengan perasaan damai dan penuh syukur.


Selamat tidur dan sampai jumpa di pagi yang cerah! 🌞

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi dan memberdayakan diri untuk selalu semakin baik. Inilah motivasi Islam yang memotivasikan diri untuk melakukan yang terbaik. Teruslah berbuat baik karena Allah telah berbuat baik kepada kita sepanjang hidup ... yang merupakan perjalanan kita menuju tempat kembali.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri 

Selasa, Agustus 19, 2025

Dari Mata turun ke pikiran

 Salam bahagia selalu, merasa bahagia itu penting dan membuat diri kita menjadi semakin bahagia. Insya Allah imajinasi dan apa yang kita lihat menjadi bagian apa yang kita cari selama ini. 


Dari mana datangnya cinta ? Dari mata turun ke hati. Begitu kata banyak orang. Itulah yang terjadi, dan indera mata sebagai fungsi melihat baik itu fisik maupun yang tidak nampak. Sebenarnya hal yang tidak nampak ditafsirkan oleh kita menjadi bagian dari kesimpulan kita. Misalkan ... seorang wanita yang mengedipkan di depan kita saat bicara, keadaan ini tidak sekedar kedipan mata yang terlihat. Tapi pikiran kita menangkap sinyal lain berupa kebaikan atau mengiyakan atau hal lain, dan sangat tergantung latar belakang seseroang yang menerimanya. 

Saya menuliskan dari mata turun ke pikiran, dan selanjutnya menjadi memori tanpa kita dapat menyaringnya.Maksud saya adalah banyak informasi yang bertebaran di mana-mana yang telah mengubah pikiran dalam bertindak. mata yang melihat pastilah melihat banyak hal baik berupa kata atau kata-kata. Kadang mulut diperintah setelah mata melihat untuk membaca tulisan dilihat. Misalkan kita melihat warung, didepan warungnya ditulis "Warung enak dan hangat ... Soto Bening yang menghangatkan". Apakah saya hanya melihat saja ? Tentunya tidak melihat saja, tapi membaca tulisannya dan menyimpannya di dalam memori kita. Bahkan terjadi self talk saya,"Ini warung yang saya cari. Apa enak sotonya ? Kayaknya enak. Mahal nggak ya ? dan seterusnya". Self talk ini semakin menguatkan apa yang lihat dan baca, tersimpan kata kuncinya "warung enak", atau "soto bening" atau lokasinya dan lainnya. Jika jalan yang saya lalui setiap hari, maka hal tersebut berulang dan menjadi memori yang kuat dan mudah hadir saat saya lapar sebagai pilihan makan. Apa yang terjadi beberapa hari kemudian, saya jadi penasaran untuk makan di warung tersebut. Pertama ditahan-tahan dan akhirnya pada suatu hari saya makan di warung tersebut. Bayangkan sekali jalan saja dalam sehari, saya melihat banyak hal. Entah itu warung makan lagi, toko HP, optik, pasar dan sebagainya. Semua itu sama seperti warung soto bening tadi mengajak saya membaca, mengimajinasikan, mikir dan akhir tersimpan di memori pikiran. Saya simpulkan agar mudah dipahami ;

Pikiran sadar saya bekerja saat saya melihat dan membaca Warung yang saya lewati. Dan juga saat saya memutuskan untuk makan di warung setelah mendapat sinyal dari pikiran bawah sadar saya (ingat warung tersebut)

Pikiran bawah sadar saya bekerja setelah tersimpan sebagai memori dan saat tanpa diketahui saya jadi pengen makan di warung

Lalu ? Saya tak pernah memikirkan bagaimana besarnya pikiran bawah sadar saya mempengaruho saya bertindak atau melakukan sesuatu. Dan ini terjadi. Begitu banyak memori yang saya imajinasikan sebagai kamus berjalan yang menuntun kehidupan saya. Saat pikiran sadar saya mau makan saja, maka pikiran bawah sadarnya bekerja otomatis mencari dalam kamu tentang makan. Maka hadir warung A,B dan seterusnya. Setelah itu pikiran sadar saya memutuskan makan di warung Z. Normalkan ? Iya normal, tapi apa yang membuat saya bertanya, jika warung Z tidak baik buat saya, maka tindakan saya menjadi salah dan merugikan. Sekarang siapa yang bisa menjamin apa yang saya simpan dalam memori itu semuanya baik buat saya ??? Tidak ada. Sangat tergantung apa yang saya lihat dan baca, kalau lingkungan yang saya lewati itu mengandung unsur baik maka bersyukurlah saya. Tapi sebaliknya yang terjadi, maka saya bisa terjerumus ke dalam keburukan. Bila ini terjadi, maka pikiran sadar saya mesti menetralisirnya dengan sadar untuk melihat dan membaca yang baik-baik dan berguna bagi saya.

Misalkan saya yang setiap hari menonton film silat, bisa jadi saya terbentuk menjadi pemberani dan juga menjadi gampang menyelesaikan masalah dengan "perkelahian" (main fisik). Semua yang saya tonton itu menjadi memori dan masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Dua hal berani dan main fisik, selalu memberi pilihan saat saya menghadapi masalah. Yang sederhana saja, Juru Parkir minta uang lebih dari biasanya. Maka saya berani menghadapi Juru parkir dengan berdebat sampai merasa menang. Atau bisa jadi saya bisa mengancam. Semua itu terjadi karena pikiran bawah sadar saya. Tapi halnya jika saya sadar, dan bertanya dengan sopan karena keinginan untuk tidak terjadi masalah. Lalu pikiran sadar mengatakan buat apa juga ribut, "ngga ada yang menang atau kalah, kalau bayar lebih juga tu anggap sedekah saja". Maka pikiran sadar saya menuntun untuk berbuat baik. Maka dalam hal ini dominasi pikiran sadar atau pikiran bawah sadar menjadi penting saat itu, bisa dipengaruhi temen atau suasananya adem atau lagi ada masalah tertentu. Bukankah kita pernah membaca berita hanya gara-gara parkir dan uang Rp. 2000 saja bisa terjadi saling emosi yang berakhir kepada pembunuhan.

Berhati-hati ... dalam menghadapi apapun mesti dipikirkan dengan pikiran sadar yang baik. Tentunya pikiran sadar yang baik itu mesti juga diisi dengan bacaan-bacaan baik, ilmu baik, temen baik, lingkungan baik dan sebagainya. Karena tanpa ada semua itu, tidak mungkin saya bisa berpikir sadar yang baik. Ini juga menjadi perhatian saya, seseringlah membuat suasana hati yang tenang. Suasana hati bisa mempengaruhi saya kepada sikap dan tindakan emosional. Mendekatkan diri kepada Allah dan mengendalikan diri mampu membuat diri semakin tenang. Ketrampilan kerja dan hidup juga dapat memberi ruang saya untuk berpikir sadar yang baik, misalkan mampu menyelesaikan berbagai masalah hidup dan kerja. Masalah yang tidak selesai menjadi beban pikiran dan mempengaruhi untuk bertindak yang baik. Misalkan saja, orang yang stress dalam kerja dan suka marah karena performance kerjanya tidak baik-baik saja, apa iya orang seperti ini bisa berpikir sadar yang baik ? Cenderungnya tidak. Oleh sebab itu berhati-hati dengan apa yang kita lihat, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, apa yang kita rasakan dan seterusnya ... semua terjadi tanpa kita bisa edit atau filter masuk ke dalam memori, pikiran bawah sadar. Yang perlu kita lakukan adalah dominannya untuk berpikir kritis (dengan sadar) terhadap apa yang terjadi agar kita secara logika dapat mengalahkan memori "negatif" dari pikiran bawah sadar.

Saya tutup dengan obrolan pagi  3 Sahabat: Myra, Mamat, dan Bujang

Udara pagi sejuk, matahari baru naik, aroma rumput basah dan kopi hangat terasa. Di sekitar mereka, orang-orang jogging, bersepeda, dan senam. Myra membawa termos teh, Mamat duduk bersila sambil mengunyah pisang, dan Bujang baru selesai stretching.

Myra: (tersenyum sambil menuang teh). “Pagi ini enak banget ya… sejuk, tenang. Tapi jujur, tadi aku hampir nggak bangun. Alarm bunyi, tapi rasanya kasur tuh kayak magnet.”

Mamat: (tertawa). “Wah, itu sih pertempuran klasik antara niat dan kenyamanan. Aku juga gitu. Padahal semalam udah niat bangun jam 5, eh jam 6 baru melek.”

Bujang: (nyengir sambil duduk). “Tau nggak, itu bukan cuma soal malas. Itu pikiran bawah sadar kita yang masih nyimpen program lama. Kayak, ‘Tidur itu enak, bangun pagi itu berat.’ Jadi walau kita niat, tubuh kita nurut ke yang udah terbiasa.”

Myra: “Jadi kayak ada ‘konflik batin’ gitu ya? Niat sadar pengen bangun pagi, tapi bawah sadar bilang ‘tidur aja dulu’.”

Mamat: “Betul. Dan kalau kita terus-terusan nurut ke bawah sadar yang negatif, LOA juga bakal nangkep vibrasi itu. Akhirnya ya… kita tetap bangun siang.”

Bujang: “Makanya penting banget sebelum tidur tuh kita ‘set’ ulang pikiran. Aku sekarang tiap malam afirmasi: ‘Saya bangun pagi dengan semangat.’ Terus aku bayangin suasana pagi yang damai. Lumayan bantu loh.”

Myra: “Wah, aku mau coba deh. Mungkin aku juga harus tulis jurnal malam. Biar pikiran bawah sadar aku nggak sabotase niat aku.”

Mamat: “Setuju. Kita harus jadi ‘sutradara’ buat pikiran kita sendiri. Kalau nggak, kita cuma jadi penonton dari kebiasaan lama.”

Bujang: “Dan pagi kayak gini tuh bukti kalau kita bisa menang. Kita di sini, bangun pagi, nikmatin udara segar. Itu udah satu langkah maju.”

Myra: (tersenyum sambil menyeruput teh). “Setuju. Yuk, kita terus jaga vibrasi positif. Biar LOA bantu kita wujudkan pagi-pagi yang penuh makna.”

Obrolan di atas, juga memberi masukan bahwa pikiran bawah sadar itu, menimbulkan vibrasi yang direspon negatif oleh alam semesta. Apa yang terjadi penolakan atau hambatan untuk berpikir sadarnya semakin berat. Seperti contoh dengan Juru Parkir di atas, alam semesta merespon dengan menguatkan pikiran bawah sadar seperti "kalau saya tidak lawan (tidak berani), maka semakin ditindas" dan sebagainya.

So penting dong untuk selalu berpikir sadar yang positif dan baik, dan berpikir kritis agar kita dapat mengimbangi pikiran bawah sadar yang negatif. Hal ini harus terus dilakukan (update) sehingga memori dan pikiran bawah sadar pun bisa berganti dengan hal yang semakin positif/benar.

Insya Allah tulisan ini dapat membuka pikiran kita bahwa apa yang kita lakukan selama ini dapat menjadi renungan. Apa iya begitu ? Kok saya begitu sih ? Akhirnya kita sadar dengan keadaan kita sendiri dan mampu memberdayakan diri untuk menjadi semakin baik. Jadikan tulisan ini sebagai motivasi diri menuju produktivitas diri. 

Sahabatmu

Munir Hasan Basri








Buat versi audio obrolan ini


Buat naskah drama pendeknya



Featured post

Pekerjaan sebagai Jalan Kebaikan dalam Kehidupan

 Semangat pagi semuanya. Pada hari ini saya menuntaskan tema kerja dan kebaikannya bagi kehidupan. Tak terbayang, saat menyikapi kerja yang ...