Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Kamis, Februari 19, 2026

Nafsu yang Dirahmati Allah Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi semua, semakin hari semakin "menua" kita bekerja. Ada kata semakin berpengalaman tapi keadaan tidak seiring. Insya Allah dengan meluruskan semua yang kita lakukan ini dapat memberi makna yang lebih baik.

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.

Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.


Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan 
kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Ada hal mesti kita Fokuskan :

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi.or

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Menjadi semakin baik jika Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah, kita memiliki kemampuan dan dimampukan Allah dalam merawat nafsu dan keinginan. Ini adalah memberi motivasi dan semangat agar menjadi semakin baik

Nafsu dalam Dunia Kerja : Masalah atau Potensi ?

Semangat pagi semuanya, kerja adalah bagian dari hidup kita. Kalau ada harapan dari kerja kita, maka sudah semestinya kita mewujudkannya menjadi kerja nyata. Kali ini bicara nafsu kerja, kurang lebih nafsu ditafsirkan keinginan. Mengapa saya tulis nafsu ? Karena memang kadang kata nafsu cenderung tidak baik dan menjadi netral saat kita bilang keinginan.

Banyak dari kita bekerja bukan karena ingin masuk surga, tetapi karena ingin hidup layak. Kita ingin gaji, keamanan, dan masa depan. Keinginan itu sering dicurigai sebagai nafsu dunia yang harus ditekan. Padahal Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan manusia untuk mematikan nafsunya—yang Allah kecam adalah nafsu yang dibiarkan tanpa arah. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah justru membuka ruang bahwa ada nafsu yang dirahmati-Nya. Maka pertanyaannya bukan lagi “apakah bekerja demi uang itu salah?”, melainkan “ke mana arah nafsu itu kita bawa?”

Tidak banyak dari kita yang bangun pagi dengan niat mulia ingin mengabdi kepada semesta. Kebanyakan bangun karena alarm, tanggung jawab, dan tagihan yang menunggu dibayar. Kita bekerja karena perlu. Karena ingin hidup lebih baik. Karena takut kekurangan. Dalam kejujuran sunyi itu, ada satu dorongan yang sering kita sembunyikan: keinginan akan uang dan materi. Dan sering kali, keinginan itu kita curigai sebagai sesuatu yang kotor.


Seorang karyawan pernah berkata lirih, “Saya ingin kerja yang berkah, tapi jujur saja, saya kerja karena gaji.” Kalimat itu terdengar bersalah, seolah niat mencari nafkah harus disamarkan dengan bahasa yang lebih suci. Padahal, justru di sanalah letak kejujuran manusia. Islam tidak dibangun di atas kepura-puraan niat, melainkan pengakuan atas kondisi jiwa. Apakah ini juga menjadi sebagian dari kisah Anda ??

Berikut ini kita bahas, Al-Qur’an tidak menutup mata terhadap realitas ini. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia memang cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini tidak sedang mengutuk keberadaan nafsu, tetapi menjelaskan sifat alaminya jika dibiarkan tanpa arah.

Masalahnya bukan pada bekerja demi uang. Masalahnya adalah ketika uang menjadi tuhan, bukan alat. Ketika nafsu bekerja tidak lagi berada dalam kendali nilai, maka ia menyeret manusia kepada kecurangan, keserakahan, dan kezaliman. Namun ketika nafsu itu disadari, dijaga, dan diarahkan, ia justru menjadi energi yang besar.

Pertanyaan awalnya bukan “bolehkah bekerja karena uang?”, tetapi “ke mana nafsu itu kita bawa?”. Dari sinilah perjalanan memahami nafsu dimulai.

Fokus kita dalam kerja diantaranya :

  • Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
  • Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
  • Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”

Berpegang kepada Ayat kunci ini :

  • QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk, tapi ada nafsu yang 

“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Jadi alangkah bijaknya kita meluruskan nafsu dan keinginan menuju jalan Allah.

Insya Allah ... nafsu dan keinginan itu mesti diback up dengan iman yang cukup dan dilatih untuk mampu menyikapinya dengan benar.

Rabu, Februari 18, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang nafsu dalam kerja. Kali ini ngebahas ambisi, karir dan keterkaitannya dengan amanah.



Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas. Setiap orang ingin berkembang. Naik jabatan. Diakui. Dihargai. Ambisi ini sering dianggap bertentangan dengan kesalehan. Namun tanpa ambisi, manusia berhenti bertumbuh.

Ada orang yang mengejar jabatan demi gengsi. Ada pula yang menerimanya dengan rasa takut, karena tahu semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban. Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.

Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi. Islam tidak memusuhi ambisi. Yang diuji adalah niat dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Ia membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih rakus.

Dalam dunia kerja, karier adalah medan ujian:

  • apakah kita adil saat punya kuasa
  • apakah kita tetap rendah hati saat dipuji
  • apakah kita melindungi yang lemah

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. Ambisi yang diserahkan kepada Allah tidak mengecilkan jiwa, justru mendewasakannya


Insya Allah kita diberikan cahaya dari sisi Allah dalam memahami ambisi dan karir sebagai amanah dari Allah. Hati-hati dengan keinginan sesaat, maka perlu sadar kepada Allah. 

Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi, Insya Allah tetap selalu bersemangat membuktikan amanah Allah dengan tanggungjawab. Aamiin. Kali ini saya masih meneruskan pembahasan tentang nafsu atau keinginan.

Memahami ‘Nafsu yang Dirahmati Allah’: Bukan Sekadar Ibadah

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan


Meluruskan Nafsu yang Dirahmati Allah :

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.



Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi. 

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah kita selalu tidak terburu-buru untuk merespon keinginan atau hawa nafsu sehingga memberi ruang bagi pikiran untuk merespon dengan akal sehat dan hati.

Nafsu tidak mesti dilawan, disadari dan diarahkan

Semangat pagi, saya masih tetap fokus menulis kerja dan ibadah yang selaras. Sebelumnya tentang niat, maka kali ini nafsu atau keinginan yang mendompleng kerja kita. Ada apa ? Bisa jadi setelah niat kita tetapkan, sering ada lintasan pikiran dari luar atau keinginan dari dalam dari hasil kerja. Apa itu ? Pengen uang banyak, pengen jabatan, pengen cari karir dan sebagainya.

Saya ingin menulis artikel ini agar bisa disadari lalu menselaraskan dengan Al Qur'an dan menerapkan ilmu yang bener. Saya mulai dari sebuah keinginan atau nafsu dalam kerja yang berorientasi kepada uang dan materi. Ada ayat Al Qur'an yang menjelaskan bahwa nafsu itu cenderung kepada keburukan, tapi yang dikuatkan adalah nafsu yang dirahmat Allah dalam surah yusuf ayat 53. Tentang hal ini banyak yang berpersepsi bahwa nafsu yang dirahmati Allah itu tentang ibadah dan amal saleh. 

Baik, gagasan ide ini sangat kuat dan relevan untuk dunia kerja modern, terutama bagi pembaca Muslim yang ingin berdamai antara dorongan materi dan ketaatan kepada Allah. 

QS Yusuf ayat 53 menyatakan dengan jelas:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Ayat ini tidak membatasi konteks nafsu hanya pada ibadah, melainkan berbicara tentang jiwa manusia secara utuh, termasuk keinginan duniawi seperti kekuasaan, harta, dan pekerjaan—yang jika dirahmati Allah, arah dan dampaknya berubah.

Nafsu bekerja dan mencari uang bukan musuh iman, tetapi energi. Ia menjadi keburukan jika liar, dan menjadi rahmat jika diselaraskan dengan Allah.


Islam tidak mematikan keinginan materi, Islam mengarahkan, membersihkan, dan menundukkannya

Kerja → Uang → Manfaat → Nafkah di jalan Allah
Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi?
Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”
QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk 
“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Karena nafsu itu fitrah manusia.

Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi yang Disalahpahami

Beri ruang hati 
Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan hati yang berbeda-beda. Ada yang berangkat dengan semangat, ada yang dengan keterpaksaan, ada pula yang dengan kegelisahan. Namun di balik semua itu, ada satu dorongan yang hampir selalu sama: keinginan untuk hidup layak. Kita ingin makan dengan tenang, membiayai keluarga, dan merasa aman menghadapi masa depan. Keinginan itu sering disebut nafsu—dan sering pula dicurigai.


Seorang ayah pulang larut malam, lelah setelah seharian bekerja. Di rumah, anaknya sudah tertidur. Ia duduk sebentar, menatap tagihan di meja, lalu bergumam, “Kalau bukan karena ini semua, mungkin aku sudah menyerah.” Tidak ada kata ibadah, tidak ada kalimat suci. Tapi di sanalah realitas manusia bekerja: antara tanggung jawab dan dorongan bertahan hidup.
Pembahasan Mendalam
Islam tidak lahir di ruang hampa yang steril dari kebutuhan dunia. Al Qur’an berbicara kepada manusia apa adanya. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini bukan vonis, melainkan diagnosis.
Nafsu bukan kesalahan. Ia adalah energi dasar manusia. Tanpa nafsu, tidak ada usaha. Tidak ada kerja. Tidak ada peradaban. Yang bermasalah adalah ketika nafsu berjalan tanpa kendali, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran akan Allah.
Bekerja demi uang sering diposisikan sebagai niat yang “rendah”. Padahal, mencari nafkah adalah bagian dari menjaga kehidupan. Yang membuat kerja menjadi gelap bukan tujuannya, tetapi ketika tujuan itu menghalalkan segala cara.

Nafsu tidak selalu harus dilawan. Kadang ia perlu dipahami. Karena dari situlah perjalanan menata kerja dan iman dimulai.

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi untuk menjadi semakin baik untuk memotivasi diri. Sesuatu yang kita hadapi itu normal atau netral, semua tergantung kita menyikapinya. Bangun diri untuk mampu bersikap yang baik, dan referensikan dengan Al Qur'an menjadi sikap dalam beriman.

Selasa, Februari 17, 2026

Ibadah sepanjang hari

Semangat pagi semua, hari ini saya menulis kembali setelah rehat cukup lama. Saya masih terdorong untuk berbagi tentang dunia kerja dan iman. Seringkali beberapa orang masih berpikir kerja itu ya kerja, dan iman itu (diantaranya salat - ibadah) ditafsirkan sebagai pengungkit kerja agar tercapai keinginan kita. Insya Allah semua dapat saya bagikan pula dari pengalaman selama menjadi karyawan dan pimpinan (manager).



 Untuk hal diatas, saya mulai dari niat kerja untuk mencari rezeki buat keluarga. Yang pertama kita mesti apresiasi niat baik ini. Dalam dalam hadist disebutkan perbuatan itu tergantung niatnya. Dari contoh niat ini mencari rezeki untuk keluarga. Artinya niat mencari rezeki ini mesti tertuju kepada Allah, mencari memberi makna cara kerja kita dalam mendapatkan rezeki. Niat ini mesti kita terjemahkan ke dalam action atau kerja kita yang lebih nyata. Tidak hanya  sekedar memdapatkan gaji dengan apa yang kita kerjakan. Tapi jauh lebih luas dari sekedar gaji, diantara kemampuan, ilmu, kemanfaatan kerja, fisik yang sehat, keluarga yang mampu mengadaptasi perjalanan kerja kita, dan ibadah yang semakin baik.

Kata mencari rezeki seperti kurang pas, karena Allah berfirman "Allahlah yang memberi rezeki kepada hambaNya". Mencari seringkali dipersepsikan kerja yang menghasilkan uang atau gaji. Mau dicari dimana ? Ditempat kerja ? Iya dong. kalau ada pendapat yang mengatakan gaji itu tidak perlu dicari, karena kita tidak pernah tahu malaikat pembawa rezeki dari Allah itu berada. Tapi malaikat pembawa rezeki itu tahu dimana rezeki yang  dibawa itu diberikan kepada siapa. Tentunya rezeki yang disalurkan dari Allah, karena Allahlah yang memberi rezeki. Diantara rezeki itu adalah gaji kita. Allah memberi rezeki atas apa yang kita kerjakan, baik ibadah khusus (salat cs) dan ibadah umum (kerja dan aktivitas harian). Sudahkah kita mempertunjukkan kedua ibadah itu menjadi luar biasa ?? atau membuat Allah takjub ?

Pertanyaan terakhir inilah yang sering hany diterjemahkan sebagai hal yang biasa, salatnya (ibadah utama) dan kerjanya biasa-biasa saja. Yang ada dibenak banyak karyawan adalah kerja aja mengikuti SOP atau tugas yang diberikan. Padahal tidak ada yang salah jika kita salatnya luar biasa, salatnya dijalankan dengan benar dan kerjanya dilakukan lebih dari apa yang diminta. Sampai saat ini kita cenderung mengacu kepada atasan dan perusahaan. Ini tidak salah, tapi bisa diselaraskan kepada yang lebih tinggi lagi, apa itu ? Ternyata kerja kita adalah pengakuan kepercayaan oleh atasan/HRD atas kemampuan dan diizinkan oleh Allah. Izin Allah ini berupa kerja sebagai amanah Allah. Disinilah Allah menilai apa yang kita kerjakan, berarti kita yang menjadi karyawan dipercaya untuk dibuktikan dan diberi amanah untuk dipertanggungjawabkan kepada Allah. Disinilah sebenarnya apa yang kita sebut sebagai mencari rezeki dengan kerja kita.

Mncari rezeki itu adalah mencari kerja yang membuktikan dan bertanggung jawab. Apakah hal ini hanya dilakukan dengan kerja biasa-biasa saja ? Jawabannya pasti tidak. Perusahaan menginginkan kita bekerja maksimal dan terus bertumbuh, dan Allah meminta kita kerja di jalan Allah.  Apa yang terjadi dengan keinginan kita kerja mencari duit, maka alangkah indahnya kita luruskan niatnya.

Niat awal kerja itu mencari rezeki Allah, niat mencari rezeki itu adalah mempertanggung jawabkan amanah Allah dengan apa menjadi pekerjaan kita, niat mempertanggung jawabkan amanah itu menuntun kita menemukan petunjuk Allah agar apa yang kita kerjakan selaras dengan iman. Actionnya adalah kerja yang luar biasa, kerja yang melebihi apa yang diminta dalam SOP/job desc, dan beribadah yang membuat Allah takjub. Jadi kerja yang luar biasa (perusahaan takjub) yang mendorong rasa syukur untuk semakin bagus salatnya. Dan semakin salatnya bagus membuat semakin kerjanya semakin takjub lagi.

Dalam aktivitas kesehariannya, kita benar-benar produktif, semakin kerja bernilai di hadapan Allah. Rasanya tak mungkin ada orang yang mempertanggungjawabkan kepada Allah tidak mampu memberikan kerja yang luar biasa. 

Dari penjelasan ini kita bisa menarik hikmah, yaitu niat baik secara makna mesti dapat memberi persepsi baik di mata Allah. Oleh sebab itu perdalam niat kita kerja, perdalam terus sehingga menemukan niat dasar kita bekerja. Lalu jangan pernah ada persepsi yang tidak pas yang membuat kerja semakin tertekan. Dari sini kita belajar bahwa kerja dan ibadah itu adalah dua hal yang tidak terpisah tapi saling menguatkan di jalan Allah. Hindari ibadah seperti salat dan doa dijadikan pengungkit agar kita mendapatkan rezeki yang lancar dengan kerja kita.

Insya Allah tulisan ini memberi kekuatan bagi kita yang beriman untuk menghargai kerja itu ibadah juga BUKAN kerja sebagai ibadah. Teruslah bekerja dengan cara yang Allah ridhai, kerja bener dan efektif. Bayangkan sepanjang hari kita ibadah kepada Allah (sebagaimana tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu untuk mengabdi atau beribadah) lewat kerja dan ibadah salat kita.


Selasa, Agustus 26, 2025

Bos Sok tahu, ngga ada yang salah ...

Alhamdulillahirabbilalamin, Allah telah memberi ilmu yang banyak, tapi kadang kita tidak merasakannya. Seringkali kita menganggap kecil ilmu tersebut. Padahal ilmu itu bila didalami memberi kebaikan yang banyak. Tetapi disisi lain ada orang yang tahu sedikit ngakunya tahu banyak. Insya Allah kita bisa sadar diri dan menjadi hamba yang mau semakin baik. 


Dalam dunia kerja, sudah lazim soal delegasi. Setiap hari delegasi berlangsung, dari atasan ke bawahan. Bisa bernilai kecil sampai yang besar. Kata atasan, "Saya banyak tugas dan target yang lebih besar, maka saya meminta bawahan bantu saya". Setiap karyawan pernah mengalami delegasi tugas atau wewenang, baik sebagai bawahan atau juga sebagai atasan. Secara umum, delegasi tugas biasanya dilakukan dari atasan ke bawahan karena atasan memiliki tanggung jawab untuk mengelola tim dan memastikan pekerjaan terselesaikan. Namun, dalam praktik kerja modern, delegasi dari bawahan ke atasan bisa saja terjadi, meskipun dalam konteks yang berbeda. Kali ini saya menekankan delegasi dan wewenang dari bos yang sok tahu. Bos yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, tapi berlagak bos. Bos yang tidak meniti dari bawah dan hanya belajar sedikit. Yang bisa dilakukan bos sok tahu ... hanya memberi tugas kepada bawahan yang dipercayanya agar tidak semua orang tahu bahwa dia adalah bos sok tahu.




Berikut ini ada obrolan 3 sahabat hati (hangat dan inspiratif) tentang kejadian dengan bos sok tahu, "Tiga Sekawan dan Satu Bos Maha Tahu"
Di Ruang kerja kecil, jam 10 pagi, kopi sudah dingin, tapi konflik masih panas.
Myra: “Guys, ini tugas dari Pak Damar lagi. Katanya urgent. Tapi brief-nya cuma satu kalimat: ‘Saya tahu, tolong diselesaikan.’ Lah, tahu apanya?!”
Mamat: “Gue udah bilang dari kemarin, kita butuh detail. Tapi tiap nanya, jawabannya selalu: ‘Saya sedang fokus ke hal yang lebih besar.’ Emangnya kita ini semut?”
Bujang: “Udah lah, kalian ribut mulu. Kita kerjain aja. Toh ujung-ujungnya kalau gagal, kita juga yang disalahin. Kalau berhasil, dia yang update di LinkedIn.
Myra: “Bujang, kamu tuh terlalu pasrah. Kita harus lawan sistem ini!”
Mamat: “Iya, kita bikin revolusi! Tapi... abis makan siang ya. Gue lapar.”
[Semua diam sejenak. Lalu notifikasi masuk: “Reminder: Deadline tugas jam 3 sore.”]
Bujang: “Oke, revolusinya kita jadwalin minggu depan. Sekarang kita kerjain dulu. Tapi sambil ngedumel, biar tetap waras.”
Myra: “Setuju. Tapi nanti kalau Pak Damar bilang ‘Saya tahu ini akan berhasil’, gue yang pertama lempar stapler.”
Mamat: “Gue yang pegang printer-nya.”
Bujang: “Gue yang rekam buat konten TikTok.”

Di sebuah kantor yang sibuk, ada seorang bos bernama Pak Damar. Ia dikenal bukan karena kepemimpinannya yang inspiratif, tapi karena satu kalimat andalannya: "Saya tahu, tolong diselesaikan karena saya tidak ada waktu dan ada tugas yang lebih besar yang saya lakukan."
Setiap kali tim menghadapi masalah kompleks, alih-alih berdiskusi atau memberi arahan yang jelas, Pak Damar langsung memotong pembicaraan. Ia tidak ingin mendengar penjelasan panjang, apalagi masukan dari tim. Baginya, semua masalah bisa diselesaikan asal "dikerjakan saja."
Suatu hari, tim menghadapi kendala teknis dalam proyek klien besar. Mereka butuh keputusan strategis, tapi saat mereka mencoba menjelaskan, Pak Damar langsung berkata: 
"Saya tahu masalahnya. Ini bukan hal besar. Tolong diselesaikan. Saya sedang mengurus hal yang lebih penting."
Tim pun terdiam. Mereka tahu, Pak Damar sebenarnya tidak benar-benar memahami masalahnya. Tapi karena perintah sudah keluar, mereka mencoba menyelesaikannya sendiri. Hasilnya? Proyek jadi kacau, klien kecewa, dan akhirnya... Pak Damar menyalahkan tim karena tidak "mengantisipasi risiko."
Cerita seperti ini sering terjadi di lingkungan kerja di mana komunikasi satu arah dan ego lebih dominan daripada kolaborasi. Bos yang sok tahu sering kali merasa harus terlihat paling pintar, padahal justru menghambat solusi yang lebih baik.

Bosku, Sang Maha Tahu
Di sebuah kantor yang katanya “inovatif”, hiduplah seorang bos bernama Pak Damar. Gelarnya bukan S.T. atau M.M., tapi S.M.T. — Sang Maha Tahu.
Setiap pagi, tim rapat. Mereka sudah siap dengan data, analisis, dan solusi. Tapi sebelum satu slide pun ditampilkan, Pak Damar langsung angkat tangan:
“Saya tahu. Ini masalah kecil. Tolong diselesaikan. Saya sedang mengurus tugas yang lebih besar.”
Tugas lebih besar itu? Menentukan warna latar presentasi untuk meeting minggu depan.
Ketika tim bertanya soal anggaran yang tidak cocok, Pak Damar menjawab: “Saya tahu. Anggaran itu fleksibel. Kita pakai feeling saja.” Saat sistem error dan butuh keputusan teknis, Pak Damar berkata: “Saya tahu. Restart saja komputernya. Kalau masih error, ya berarti bukan masalah kita.”
Tim pun bingung. Mereka mulai membuat istilah baru: “Damarisasi”, yaitu proses menyederhanakan masalah kompleks menjadi kalimat ajaib: “Saya tahu, tolong diselesaikan.”
Suatu hari, proyek besar gagal total. Klien marah, sistem kacau, dan reputasi hancur. Pak Damar pun mengumpulkan tim dan berkata: “Saya tahu ini akan terjadi. Tapi saya sedang fokus pada hal yang lebih besar: rebranding logo kantor.”

Seringkali bos Sang Maha Tahu, hanya bisa ngomong dengan pintar, yang hanya bicara dikit-dikit dan kalau ditanya detail, si Bos gelapan dengan berbagai alasan. Pengalaman orang menjadi penting saat menghadapi bo Sang Maha Tahu

Strategi Menghadapi Bos Sok Tahu & Tukang Salahkan
1. Dokumentasi adalah Kunci
Selalu simpan bukti komunikasi, instruksi, dan keputusan. Bisa lewat email, chat, atau catatan rapat. Ini berguna saat ada konflik atau tuduhan yang tidak adil.
Contoh: “Sesuai arahan Bapak di email tanggal 12, kami sudah jalankan langkah tersebut.”
Atau ada kesalahan dalam membuat surat dan saat memperbaiki surat disalahkan lagi dan seterusnya. Langkah yang ditempuh adalah pada surat yang salah minta bos menuliskan kata yang bener (dengan mencoret yang salah). Lalu saat menghadap lagi, kita bawa coretan dari bos, saat kita menghadap lagi. 
2. Jangan Debat, Tapi Klarifikasi
Daripada berdebat, ajukan pertanyaan yang mengarah ke klarifikasi. Ini bisa bantu bos merasa tetap “berkuasa” tapi kamu tetap dapat informasi yang kamu butuhkan.
“Baik Pak, jadi maksudnya kita fokus ke bagian A dulu, lalu lanjut ke B, ya?”
Atau kita mencari tahu tentang bos dari sekretaris atau orang yang dipercaya. Dengan tahu banyak gaya dan perilaku bos dari sumber yang dipercaya, maka kita tidak perlu banyak berdebat tapi memberi solusi yang biasa disukai bos.
3. Gunakan Bahasa yang Diplomatis
Kalau bos mulai menyalahkan, jangan langsung defensif. Gunakan bahasa yang netral dan fokus pada solusi.
“Terima kasih masukannya, Pak. Kami evaluasi dan pastikan ke depan lebih tepat sasaran.”
4. Bangun Aliansi Internal
Kalau kamu punya Myra, Mamat, dan Bujang di tim, manfaatkan mereka! Diskusi bareng, saling backup, dan jaga kekompakan. Kadang solidaritas tim bisa jadi tameng dari tekanan atasan.
5. Tetap Profesional, Tapi Jangan Jadi Karpet
Jangan biarkan dirimu jadi tempat bos “mengelap” kesalahan. Kalau memang bukan tanggung jawabmu, sampaikan dengan sopan tapi tegas.
“Kami siap bantu, Pak. Tapi untuk bagian ini, sepertinya perlu koordinasi dengan tim X dulu.”
6. Evaluasi Jangka Panjang
Kalau situasinya terus berulang dan merusak mental atau kariermu, mungkin saatnya evaluasi: apakah lingkungan ini masih sehat untukmu?

Ternyata ada kalanya bos delegasikan tugasnya karena beberapa hal. Sikap atasan terhadap bawahan yang  mendelegasikan tugas bisa sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan mereka. Mari kita lihat dua tipe yang kamu sebutkan: bossy dan sebaliknya (mungkin lebih terbuka atau kolaboratif).
1. Atasan Bossy (Otoriter atau Dominan)
Ciri-ciri:
  • Suka mengontrol detail pekerjaan
  • Kurang memberi ruang untuk inisiatif bawahan
  • Menganggap dirinya sebagai satu-satunya pengambil keputusan
  • Respons terhadap delegasi dari bawahan:
  • Bisa merasa tersinggung atau menganggap bawahan tidak kompeten
  • Menolak permintaan dengan alasan “itu tugasmu”
  • Kurang terbuka terhadap diskusi atau kolaborasi
Cara menyikapi:
Gunakan pendekatan komunikasi yang diplomatis, misalnya:
“Saya sudah berusaha menyelesaikan bagian ini, tapi ada kendala yang mungkin lebih cocok ditangani oleh level manajerial. Boleh saya minta arahan atau dukungan?”
Fokus pada eskalasi masalah, bukan “mendelegasikan” langsung
Sertakan data atau alasan kuat kenapa tugas tersebut perlu bantuan atasan
Atasan Kolaboratif atau Terbuka
Ciri-ciri:
  • Mendorong komunikasi dua arah
  • Memberi ruang untuk diskusi dan ide dari tim
  • Tidak keberatan turun tangan jika dibutuhkan
  • Respons terhadap delegasi dari bawahan:
  • Lebih terbuka untuk membantu atau mengambil alih sebagian tugas
  • Bisa melihat ini sebagai bentuk kepercayaan dan kerja sama
  • Memberi umpan balik konstruktif
Cara menyikapi:
  • Bisa lebih langsung dan jujur, misalnya: “Saya sedang overload dengan beberapa tugas, dan bagian ini membutuhkan keputusan strategis. Apakah bisa Bapak/Ibu bantu atau ambil alih sementara?”
  • Gunakan momen ini untuk membangun kepercayaan dan komunikasi tim
Tips Umum:
Kenali gaya komunikasi atasan sebelum menyampaikan permintaan. Jangan gunakan kata “delegasi” secara langsung, karena bisa terdengar seperti “memindahkan tanggung jawab”
Gunakan pendekatan kolaboratif dan berbasis solusi

Bagaimana solusi kalau atasannya tersinggung
Kalau atasan tersinggung karena merasa “didelegasikan” tugas oleh bawahan, itu memang situasi yang sensitif. Tapi masih bisa diatasi dengan pendekatan yang bijak dan komunikatif. Berikut beberapa solusi yang bisa kamu coba:
1. Klarifikasi Niat dengan Rendah Hati
Segera temui atau hubungi atasan dan sampaikan bahwa maksudmu bukan untuk memindahkan tanggung jawab, tapi untuk mencari solusi bersama.
Contoh kalimat:
“Maaf kalau penyampaian saya sebelumnya kurang tepat. Maksud saya bukan untuk melempar tugas, tapi saya merasa perlu dukungan atau arahan agar pekerjaan ini bisa berjalan lebih baik.”
2. Tunjukkan Komitmen dan Tanggung Jawab
Tegaskan bahwa kamu tetap bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan hanya ingin melibatkan atasan karena ada bagian yang membutuhkan keputusan atau otoritas lebih tinggi.
Contoh:
“Saya tetap akan mengerjakan bagian teknisnya, tapi ada aspek yang saya rasa lebih tepat jika Bapak/Ibu yang menangani, terutama karena menyangkut kebijakan atau keputusan strategis.”
3. Gunakan Pendekatan Kolaboratif
Alih-alih “mendelegasikan”, ubah narasi menjadi permintaan kolaborasi atau masukan.
Contoh:
“Saya ingin memastikan hasilnya sesuai ekspektasi. Kalau Bapak/Ibu berkenan, saya sangat terbantu jika bisa mendapat masukan atau dukungan dalam bagian ini.”
4. Evaluasi Cara Komunikasi
Kadang bukan isi pesannya yang salah, tapi cara penyampaiannya. Gunakan bahasa yang sopan, tidak menyudutkan, dan hindari nada menyuruh.

Sebagai bawahan tentu secara fungsional, atasan itu lebih tahu dan paham yang lebih luas. Saya ibaratkan, bawahan berada di lantai bawah, yang kalau melihat hanya sebatas di hadapannya. Kalau ada jalanan macet karena melihat beberapa mobil bergerak lambat atau berhenti. Lalu karena pandangan ini, kita sering protes dengan keadaan ini. Tapi atasan yang berada di lantai 3 atau lebih tinggi, mampu melihat di depan sejauh mata memandang. Atasan melihat keadaan macet tapi melihat juga seberapa parah macetnya. Dan ada kalanya untuk jarak beberapa meter dari sudut pandang yang berada di lantai bawah tidak terjadi kemacetan. Dengan demikian atasan memang memiliki posisi yang lebih tinggi dan mampu melihat lebih luas, maka dia bisa menentukan tugas mana yang mesti didelagasikan. 
Bawahan yang selalu menerima delegasi atau tugas dari atas, sebaiknya tak perlu merisaukan hal ini. Yang perlu dikuatkan adalah mengerjakan dan terus menambah ilmu agar tugas yang diberikan membuat bawahan menjadi semakin mampu. Bila perlu memohon kepada atasan untuk bisa mengerjakan tugasnya. Sikap ini jauh lebih baik daripada kita menganggap bos sok Tahu. 

Di dunia kerja, kita tidak selalu bisa memilih atasan, tapi kita bisa memilih cara menyikapi. Belajar dari Myra, Mamat, dan Bujang, kita tahu bahwa kerja keras, komunikasi yang baik, dan sedikit humor bisa membuat suasana kerja jadi lebih sehat dan produktif.

Insya Allah wawasan atasan dan bawahan di atas, dapat membuka pikiran kita untuk lebih bijak baik sebagai atasan (bos) atau sebagai bawahan. Soal waktu saja kalau kita bisa mengambil hikmahnya ... mau tetap jadi bawahan atau naik menjadi atasan (bos). Upaya ini adalah sikap dan perilaku untuk memberdayakan diri semakin baik. Inilah motivasi diri yang baik dan mesti terus disemangati.

Sahabatmu
Munir Hasan Basri

Featured post

Ketika Slip Gaji Terasa Lebih Meyakinkan daripada Janji Allah

Semangat pagi semuanya. Insya Allah  kita selalu merasa berkecukupan dalam hidup ini, dan rezeki selalu tercurahkan dalam setiap langkah hid...