Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Jumat, Maret 06, 2026

Pencitraan diri

Semangat pagi semunya. Saya masih terus memahami Al Qur'an untuk meningkatkan nilai iman saya dan mendorong saya untuk beramal saleh dan kerja yang maksimal. Al Qur'an mesti saya persepsikan sebagai petunjuk atau cara-cara atau pedoman hidup saya. Kalau tadi siang saya menulis tentang menipu, nah sekarang saya menulis tentang kemunafikan atau pencitraan begitu, dalam islam dikenal dengan nifaq.


Saya mulai dengan pemahaman dari kata Nifaq (نفاق) berarti kemunafikan, yaitu keadaan ketika seseorang menampilkan keimanan secara lahiriah tetapi hatinya tidak beriman atau tidak sesuai dengan apa yang ia tampakkan.
Nifaq adalah ketidaksamaan antara hati, ucapan, dan perbuatan dalam hal iman.
Orang yang memiliki sifat nifaq disebut munafik (منافق).
Mereka bisa:
  • Mengaku beriman
  • Menampilkan perilaku seperti orang beriman
tetapi di dalam hati tidak memiliki keimanan yang sebenarnya. 
Hal ini disebut dalam Al-Qur'an, misalnya:
QS. Al-Baqarah: 8
"Dan di antara manusia ada yang berkata: 'Kami beriman kepada Allah dan hari akhir', padahal mereka itu sebenarnya tidak beriman."

Makna yang lebih dalam adalah Nifaq sering terjadi karena hati tidak selaras dengan lisan. Contohnya:
  1. Lisan mengatakan benar, tapi hati menolak
  2. Menampilkan kebaikan untuk kepentingan diri
  3. Berpura-pura beriman untuk mendapatkan keuntungan 
Karena itu, nifaq sering berkaitan dengan penyakit hati seperti:
riya (pamer), dusta, khianat, menipu
Dua Jenis Nifaq dalam Islam
1️⃣ Nifaq I'tiqadi (kemunafikan dalam akidah). Ini yang paling berat. Cirinya :
  • Mengaku muslim tetapi sebenarnya tidak beriman
  • Membenci kebenaran dalam hati
Statusnya sangat berat karena termasuk kekufuran. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
QS. An-Nisa: 145
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada pada tingkatan paling bawah dari neraka."

2️⃣ Nifaq Amali (kemunafikan dalam perbuatan)
Ini terjadi ketika seseorang masih beriman tetapi memiliki sifat seperti orang munafik.
Contohnya disebut dalam hadits Nabi ﷺ:
Tanda orang munafik ada tiga:
Jika berbicara dia berdusta, Jika berjanji dia ingkari, Jika diberi amanah dia berkhianat
(HR. Bukhari dan Muslim)

Orang seperti ini tidak keluar dari Islam, tetapi memiliki sifat nifaq yang berbahaya bagi hati.


Hikmah untuk diri sendiri
Memahami nifaq sebenarnya adalah ajakan untuk muhasabah (introspeksi diri):
  • Apakah hati kita sama dengan ucapan kita?
  • Apakah kita jujur kepada Allah?
  • Apakah kita melakukan kebaikan karena iman atau karena terlihat baik?
Islam mengajarkan bahwa iman yang sehat dimulai dari hati yang bersih. Karena itu Allah sering mengingatkan tentang penyakit hati dalam Al-Qur'an.
Beberapa cara yang diajarkan ulama:
  1. Jujur kepada Allah dan diri sendiri
  2. Memperbaiki niat
  3. Memperbanyak dzikir
  4. Muhasabah hati
  5. Menjaga amanah dan kejujuran
Kesimpulan sederhana seperti ini :
Nifaq adalah ketidaksesuaian antara hati, ucapan, dan perbuatan dalam iman. Karena itu Islam sangat menekankan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) agar iman tidak hanya di lisan, tetapi hidup di dalam hati.

Dalam kehidupan saat ini sering disebut dengan Pencitraan (nifaq modern). Salah satu ciri zaman ini adalah kuatnya budaya pencitraan. Teknologi membuat manusia mampu menampilkan versi terbaik dirinya kepada dunia, sementara bagian lain dari dirinya tetap tersembunyi.
Media sosial menjadi panggung besar di mana banyak orang menampilkan kehidupan yang tampak sempurna.
Seseorang bisa menulis kata-kata bijak setiap hari, tetapi sulit meminta maaf ketika ia salah. Ia bisa berbicara tentang kejujuran, tetapi tetap mencari jalan pintas ketika ada kesempatan.
Fenomena ini tidak selalu berarti bahwa orang itu berniat buruk. Namun ia menunjukkan betapa mudahnya manusia membangun citra yang tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas batinnya.
Dalam bahasa Al-Qur’an, ini adalah wilayah nifaq.
Nifaq bukan selalu kebohongan besar yang jelas terlihat. Ia sering muncul dalam bentuk ketidaksesuaian kecil yang terus diabaikan.
  • Lisan mengatakan satu hal.
  • Hati menginginkan hal lain.
Perbuatan bergerak ke arah yang berbeda.
Dan semakin lama seseorang hidup dalam ketidaksesuaian itu, semakin sulit ia melihat dirinya dengan jujur.

Ini juga bentuk dari nifaq modern yaitu Kesombongan terutama intelektual. Di zaman ilmu pengetahuan berkembang pesat, manusia sering merasa bahwa akal cukup untuk menjelaskan segalanya. Banyak orang menganggap agama sebagai sesuatu yang hanya cocok untuk masa lalu, sementara manusia modern merasa telah cukup dewasa untuk menentukan sendiri apa yang benar dan salah.
Kesombongan intelektual ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari sikap Iblis. Iblis tidak menolak keberadaan Allah. Ia hanya merasa bahwa penilaiannya sendiri lebih benar daripada perintah Tuhan.
Ia berkata, “Aku lebih baik darinya.”
Kalimat ini terus hidup dalam berbagai bentuk.
Kadang ia muncul sebagai rasa merasa lebih pintar dari orang lain. Kadang muncul sebagai sikap meremehkan orang yang dianggap kurang berpendidikan. Kadang muncul dalam bentuk keyakinan bahwa ilmu manusia sudah cukup untuk menggantikan wahyu.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa semakin maju ilmu manusia, semakin jelas pula batas pengetahuannya.
Orang yang benar-benar berilmu biasanya justru menjadi lebih rendah hati. Mereka sadar bahwa pengetahuan manusia hanyalah setetes dari lautan yang sangat luas.

Yang ini perlu diwaspadai, yaitu Spiritualitas Instan
Fenomena lain dalam kehidupan modern adalah munculnya spiritualitas yang serba cepat. Banyak orang ingin merasakan kedamaian batin, tetapi tidak selalu siap menjalani proses panjang yang diperlukan untuk membersihkan hati.
Akibatnya muncul berbagai bentuk spiritualitas instan: motivasi cepat, inspirasi singkat, atau pengalaman emosional yang terasa dalam tetapi tidak bertahan lama.
Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini melalui perumpamaan cahaya yang dinyalakan lalu dipadamkan.
Ada orang yang merasakan cahaya sesaat, tetapi cahaya itu tidak berakar dalam kehidupannya. Ia tidak mengubah cara seseorang memperlakukan orang lain. Ia tidak mengubah cara seseorang menghadapi kesalahan.
Cahaya sejati bukan hanya pengalaman emosional. Ia adalah perubahan yang konsisten.

Hati-hati jika semua hal di atas membentuk hati semakin beku.
Salah satu gejala yang paling jelas dari hati yang mulai mengeras adalah hilangnya kemampuan untuk menerima kritik.
Seseorang mungkin masih rajin membaca Al-Qur’an, tetapi setiap nasihat terasa seperti serangan pribadi. Ia mungkin masih berbicara tentang nilai-nilai agama, tetapi sulit menerima bahwa dirinya juga bisa salah.
Padahal dalam tradisi spiritual Islam, kemampuan menerima nasihat adalah tanda hidupnya hati.
Umar bin Khattab pernah berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kekuranganku.”
Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Ego manusia selalu ingin terlihat benar.

Kalau sudah hati membeku, hidup kehilangan makna. Salah satu paradoks terbesar dalam dunia modern adalah bahwa kemajuan materi tidak selalu diikuti oleh kedamaian batin.
Banyak orang memiliki lebih banyak kenyamanan daripada generasi sebelumnya, tetapi tetap merasa kosong.
Sebagian dari kekosongan ini muncul karena manusia kehilangan orientasi spiritual. Ketika hidup hanya dipahami sebagai rangkaian aktivitas duniawi—bekerja, mencari uang, mengejar prestasi—manusia bisa merasa sibuk tetapi tidak merasa bermakna.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia berasal dari ketiadaan dan akan kembali kepada Allah.
Kesadaran ini memberi perspektif baru terhadap kehidupan. Pekerjaan, kekayaan, dan keberhasilan tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi bagian dari perjalanan yang lebih besar.

Akhir kata, Ketika saya membaca Al-Baqarah ayat 6–33 dengan perspektif ini, kita akan menyadari bahwa ayat-ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang masa lalu.
Ia berbicara tentang manusia di zaman manapun.
Tentang hati yang bisa menjadi beku.
Tentang kesombongan yang bisa menghancurkan.
Tentang kesalahan yang bisa membawa kepada taubat.
Dan tentang pilihan yang harus dibuat setiap hari.
Al-Qur’an tidak pernah kehilangan relevansinya karena ia tidak hanya berbicara tentang peristiwa.
Ia berbicara tentang manusia.
Dan selama manusia masih memiliki hati, ayat-ayat itu akan terus menemukan jalannya untuk berbicara kepada mereka.

Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji hanya bagiMu ya Allah. Ini semua adalah rahmatMu dan menjadi nikmat yang bisa saya amalkan. Tanpa daya dan kekuatan kecuali pertolongan dariMu. Kami lemah dan Engakulah yang memberi pertolongan kepada kami. Tidak ada tuhan kecuali Engkau ya Allah swt, ya hamid, ya rahman, ya rahiim. Inilah upaya yang saya lakukan untuk menuju jalan Islam seperti Engkau beri jalanMu kepada orang yang telah Engkau beri nikmat sebelum kami. 

Buku Peta Perjalanan hati

Semangat pagi semuanya. Alhamdulillahirabbilalamin, hari demi hari saya lewati, ada kemudahan dan ada juga kesulitan. Perjalanan hidup saya semakin dekat kepada akhir. Dan menjadi baik untuk bertumbuh menjadi semakin baik. Hari ini saya menulis sebagai catatan belajar saya dari petunjuk Allah swt. Insya Allah segera saya amalkan. 

Petunjuk Al Qur'an tidak dibuat bukan hanya untuk waktu diturunkannya, tapi untuk waktu yang terbatas sampai akhir zaman. Oleh sebab itu, saya belajar untuk menerapkan Al Qur'an dalam kehidupan saya saat ini.

Ketika ayat-ayat Al Qur'an berbicara tentang kita saat ini

Ketika Al-Qur’an diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu, ia berbicara kepada manusia yang hidup di padang pasir. Namun anehnya, ketika saya membaca ayat-ayat itu hari ini, sering terasa seperti sedang membaca komentar tentang kehidupan modern.

Seolah-olah Al-Qur’an memahami manusia lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri.

Ayat tentang orang yang merasa memperbaiki padahal merusak, misalnya, sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sekarang.

Di zaman saya saat ini, orang jarang mengaku berbuat salah. Hampir semua orang merasa sedang melakukan sesuatu yang baik. Bahkan ketika seseorang menyebarkan kebencian, ia bisa berkata bahwa ia sedang membela kebenaran. Ketika seseorang memfitnah orang lain, ia bisa berkata bahwa ia sedang memperingatkan masyarakat.

Kerusakan hari ini sering datang dengan wajah moral.Inilah yang dimaksud Al-Qur’an ketika menggambarkan orang yang berkata, “Kami justru orang-orang yang memperbaiki.”

Begitu juga saat saya merasa diri ini sudah banyak berbuat yang baik, tapi fakta hidup saat ini tidak menunjukkan tidak baik-baik saja. Kok bisa begitu ? Misalkan banyak orang mengaku sudah salat dan rutin, artinya tidak ada yang ditinggalkan. Sebagian orang masih berpersepsi bahwa salat itu membuat hidup berkecukupan (uang). Padahal tidak ada ayat menjelaskan langsung tentang hal itu. Yang ada, salat itu ibadah yang utama untuk mengingat Allah dan mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ini menjadi catatan saya untuk mendalami Al Qur'an.

Dalam surah Al Baqarah ada tema tentang orang kafir itu ingin menipu Allah dan orang beriman. Saya memikirkan lebih dalam tentang kata menipu, dulu saya membaca menipu hanya sampai batas menipu saja. Karena memang sudah begitu bagian dari sifat orang kafir. Ternyata setelah saya baca lagi beberapa ayat, saya menemukan hikmah buat adalah menipu bukan saja menipu orang lain (orang beriman), tapi menipu dirinya sendiri tanpa disadari. Mengapa begitu ? Apa yang terjadi saat orang menipu ? Orang itu berucap dan dia tahu secara sadar logika. Tapi tidak sadar secara hati. Disinilah orang yang menipu itu tidak sadar kepada Allah dan menipu dirinya sendiri. 

Ternyata menipu itu adalah penyakit hati dan memang sumbernya di hati. Mengapa menipu diri sendiri ? Karena sesungguhnya diri itu adalah apa isi hati kita sendiri. Sedangkan sadar secara logika hanya memiliki kriteria yang cenderung menguntungkan diri sendiri. Dari sini saya mendapatkan catatan belajar tentang ayat ini :


  1. Allah mengajak saya untuk melihat isi hati saya, mengapa hati itu tidak berfungsi ???
  2. Dengan adanya tipu-menipu ini membuat saya semakin sadar mawas diri, bisa jadi ada celah untuk orang menipu. Mawas diri dan waspada itu perlu untuk memperbaiki diri saya sendiri.
  3. Hindari untuk menipu atau berbohong karena itu bukan sifat orang yang beriman dengan hati yang bersih.
  4. Allah menginginkan kita mensucikan hati bukan menjerumuskan hati kepada penyakit hati. 
  5. Allah ingin mengajak untuk meningkatkan iman dengan hati yang lebih baik. Tak perlu langsung sempurna, tapi bertumbuh terus. Dengan bertumbuhnya iman dan hati yang semakin bersih, mampu membentengi diri dari orang yang suka menipu dengan sikap dan perilaku baik (tanpa perlu emosi, karena emosilah yang terpancing). 
Saya mengucapkan segala puji hanya kepada Allah yang telah memberi rahmatNya kepada saya dengan mendapatkan hidayah dari petunjuk, Al Qur'an. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan dari Allah  dan tidak tuhan selain Allah. Dan saya bersyukur untuk terus menumbuhkan diri saya dengan mensucikan hati saya, beribadah dengan semakin baik dan juga beraktivitas yang juga semakin produktif.

Insya Allah belajar saya ini mengarahkan perjalanan hati saya kepada Allah. Sekali lagi, dalam perjalanan ini tidak mudah karena selalu ada hambatan dan persoalan. Yang terpenting ada kesadaran diri untuk memahami apa yang terjadi dan segera memperbaikinya. Ini saya sebut langkah memberdayakan diri agar semakin bertumbuh dalam hidup ini yang semakin bermakna.   


Kamis, Maret 05, 2026

Sok bener, padahal kurang pas

 Semangat pagi semuanya. Semakin menarik saya mengikuti Al Baqarah ayat 6 sampai 33. Alhamdulillah masih bisa membuat catatan yang memberi pelajaran penting untuk kehidupan di kantor maupun dirumah

Merasa Paling Baik, atau sok jadi pahlawan, ini perilaku yang merusak diri sendiri maupun orang lain. Saya mulai dari 
Allah berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’”
(QS. Al-Baqarah: 11)
Mamat tepuk jidat,
“Ini nih yang bahaya. Merasa jadi pahlawan, padahal dalangnya.”
Allah tegaskan:
“Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Baqarah: 12)
Kerusakan itu bukan cuma bakar hutan.
Bisa juga:
Memecah ukhuwah
Menebar fitnah
Menghalalkan cara demi tujuan
Mengatasnamakan agama untuk ego
Dan lucunya…
Mereka alergi kritik.
Kalau dinasihati, jawabannya:
“Jangan sok suci.”


Dimulai awalnya ingin menipu, tapi ternyata menipu diri sendiri. Ini adalah bagian dari akibat dari sekian banyak perilaku dari penyakit hati. Sok Pahlawan ? Iya. Ini dapat ditemukan di kantor. Ada orang yang salah melakukan kerja, tapi merasa dirinyalah yang benar, karena hanya dia yang melakukan yang pertama. Salahnya tertutupi oleh inisiatifnya. Ingin dipuji dan mendapatkan pengakuan atasannya.


Obrolan pagi itu berakhir sunyi. Mamat menatap cangkir kopinya. Bujang menghela napas. Mira berkata pelan, “Yang paling bahaya itu bukan orang yang salah. Tapi orang yang salah dan merasa dirinya pasti benar.”
Mungkin ayat-ayat ini bukan hanya sedang berbicara tentang “mereka”.
Tapi… sedang berbicara tentang kita semua. Bagaimana ?

Perilaku yang masih dibilang sok jadi pahlawan ini juga upaya membela diri dari kelemahan atau kekurangan yang ada. Hanya mengandalkan pandai bicara, yang membuat orang lain terbius. Misalkan seorang pengusaha dengan dalih membuka peluang kerja bagi banyak orang, tapi dibalik itu pengusaha ingin mendapatkan keuntungan yang luar biasa dengan memanfaatkan peraturan yang ada. Pengusaha ini dikenal baik karena membuka usaha untuk karyawan. Ternyata banyak pengusaha yang membayar mengandalkan UMR sesuai aturan untuk kepentingan keuntungan pengusaha yang berlipat ganda. Tidak ada keseimbangan antara karyawan dan pengusaha.

Sok bener juga bisa terjadi saat kita sudah salah, malah nyolot hanya untuk membela kesalahan kita itu dengan menyalahkan orang lain. Pengusaha selalu memakai alasan karyawan belum produktif dan keuntungan sedikit sehingga tak mampu membayar karyawan selayaknya. Dalam hati karyawan juga nggak kerja maksimal karena di gaji UMR, dan begitulah siklus ini tidak pernah menjadi baik.

Insya Allah, kita dapat mengambil hikmah dari petunjuk Allah. Bercermin agar kita bisa tahu siapa diri kita dan bisa mengambil sikap mengantisipasi atau memberi solusi menghadapi orang yang seperti diungkap Al Qur'an. Yuk berdayakan diri kita sendiri untuk bertumbuh menjadi semakin baik agar tidak menjadi sifat buruk dan mampu menghadapi orang yang memiliki sikap buruk.


Branding dan pencitraan


Semangat pagi semuanya. Tak hasil kalau tidak dikerjakan, Penting mengevaluasi dan memperbaiki kerja agar hasilnya bagus. Jangan sampai mengupayakan hasil bagus tanpa kerja yang bagus.
 
Ngaku Beriman, Tapi Cuma Branding
Allah berfirman :
“Di antara manusia ada yang berkata, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,’ padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 8)

Bujang ketawa kecil, “Zaman sekarang kayak update status: ‘Alhamdulillah’, tapi habis itu nipu orang.”
Allah bilang: “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar.”
(QS. Al-Baqarah: 9)


Mereka tidak sadar bahwa yang mereka tipu itu diri sendiri.
Lisan: “Saya peduli umat.”
Hati: “Yang penting saya dapat untung.”
Tidak jujur pada diri sendiri itu bahaya.
Karena kalau sudah biasa bohong ke diri sendiri, nanti dosa terasa seperti prestasi.



Dari penjelasan di atas, ayat di atas sangat dan sangat relevan dengan kehidupan di kantor atau di rumah. Begitu banyak janji yang diumbar tapi pada kenyataannya tidak seperti yang dijanjikan. Tapi ada karyawan atau manager yang menjanjikan tercapainya target, faktanya targetnya tercapai tapi caranya tidak bener. Misalkan dalam sales sering ada titipan SO, dimana sebenarnya tidak ada penjualan tapi dibuatkan penjualan (nanti diretur), atau tercapai target tapi pembelian itu hanya untuk bulan ini saja dan tidak berlanjut (seperti dipaksakan, dan tidak sesuai kenyataan). Ada banyak trik dalam manajemen sales. Ada juga agar tercapai, tanggal closing sales diperpanjang. Semua itu adalah untuk membuat branding bahwa berhasil atau pencitraan positif, tapi dibangun dengan cara yang tidak pantas. Inilah yang disindir oleh ayat di atas.

Kata menipu itu sering menjadi biasa, karena semua orang melakukannya. Kalau berlanjut terus ini bisa bikin hati menghitam (mati). Menipu itu bukan hanya menutupi kebenaran kepada orang lain, tapi orang itu sendiri menjadi tidak sadar. Kok tidak sadar ? Kan menipunya dilakukan sadar. Betul sadar, tapi hatinya ditipu juga. Jadi nggak sadar dong, khususnya tidak sadar kepada hati, yang berati tidak sadar juga kepada Allah. Kalau sudah begini rugi 2 kali, dosa kepada Allah dan dosa kepada orang lain. Bagaimana ? Yang pernah jadi karyawan ?
Ada pura-pura kerja, tapi sebenarnya juga tidak ngapa-ngapain. Di depan komputer kayak serius, tapi nyata hanya akting aja. Hebatnya brandingnya.

Sebenarnya tidak hanya karyawan yang melakukan branding atau pencitraan, tapi dilakukan juga oleh pengusaha atau pemilik usaha. Apakah mau direktur bilang perusahaan tidak baik-baik saja ? Nggak ada lah. Yang ditampilkan adalah perusahaan baik dan memotivasi karyawan untuk bekerja lebih baik agar nanti bisa naik gaji. Pencitraan ?? Malah pemilik usaha lebih banyak menipunya. Menipu soal pajak agar untung lebih banyak, kan banyak karyawan yang tidak menerima slip gaji resmi. Disuruh diam dan menerima aja. Tipunya luar biasa. Tapi semua tetap berjalan tahu sama tahu. Padahal jika terjadi sebaliknya, posisi pengusaha jadi karyawan, pastilah tidak mau ditipu.

Dalam islam, ada iman dan ada amal saleh. Ada pernyataan beriman dan mesti dibuktikan dengan tindakan yaitu amal saleh. Boleh-boleh saja branding atau pencitraan, tapi buktikan dong hasilnya dan tentu caranya juga. Ini bisa terjadi jika kita berpikir dengan hati, BUKAN melihat tapi tidak melihat, mendengar tapi tidak mendengar. Hati bisa melihat yang tersirat dari yang tersurat. Hati-hati dengan pola branding atau pencitraan, ini adalah langkah yang tidak mengaktifkan hati sama sekali. Kalau begini terus menipu dan akhirnya diri selalu khawatir, gelisah dan takut. Ini penyakit yang sangat berat disembuhkan, bisa berdampak kepada penyakit fisik. Sembuh fisiknya, tapi hatinya tidak sembuh dan bikin kambuh lagi sakit fisiknya.

Kata orang menipu sekali, maka pasti menipu lagi berikutnya dan seterusnya. Pola ini membentuk diri yang tidak baik, karakter yang tidak baik. Jalan menuju hati yang tertutup. Yuk sadari ini dengan bener agar kita mampu memperbaikinya. Memang tidak ada yang sempurna, adakalanya kita menipu tapi bersegeralah memperbaikinya. Itulah cara terbaik mengambil hikmah dari ayat di atas.

Rabu, Maret 04, 2026

Penting loh untuk evaluasi

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah pagi mencerahkan kita semua dalam beraktivitas. Saya melanjutkan petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Menyadari dan mengantisipasinya dengan lebih baik.


Ini adalah lanjut yang  tadi siang, ayat yang saya pelajari dan mencatatnya sebagai hikmah. 
Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat. (QS. [2] Al-Baqarah : 7)
 
Saya awali dengan obrolan berikut :
Mamat nyeletuk: “Kalau hati udah di-lock kayak HP lupa password, mau dikasih tausiyah 100 episode YouTube juga nggak masuk.”
Mira tersenyum, “Masalahnya bukan nggak dengar… tapi nggak mau jujur sama diri sendiri.”
Hikmahnya adalah
Kadang bukan kita tidak tahu yang benar.
Kita tahu. Tapi kita tidak mau mengakuinya.
Itulah yang disebut: “mereka tidak sadar.”
Padahal sadar. Tapi pura-pura tidak sadar. Itu awal hati mulai mati.


Ada kisah menarik seorang karyawan yang sudah lama bekerja, tapi kalau diberitahu suka ngeyel dan tidak paham-paham. Mengapa ini terjadi ? Ini bukan salah orang yang memberitahu, tapi orang yang dengernya. Nyata sih ini, bisa jadi kalau lihat seseorang bawaan sudah emosional aja. Kondisi ini membuat tidak mau berpikir apalagi pakai hati. Jadi apa yang didengar udah tidak masuk. Apakah kita seperti ini ? Ini terjadi karena memang Allah sudah mengunci hati, berpikir logis tak masalah tapi untuk mengambil maknanya tidak bisa. Misalkan membantu orang itu baik, semua orang tahu. Tapi ada orang yang bawaannya tidak mau bantu, apa untungnya buat saya ? Saya rugi dan dia untung. Di kantor pasti ada orang seperti ini. Apakah ia disenangi banyak rekan kerjanya ? Tidak pastinya. Lalu apakah dia paham ? Sangat paham, tapi itulah yang terjadi. Mau bilang apa ? Dicuekin aja karena dia masih karyawan. Alhasil team tidak bekerja maksimal. Ada seorang karyawan bilang,"banyak-banyak berdoa aja". 


Sebenarnya yang terjadi itu dapat diambil hikmahnya. Apa hikmahNya ? Karena Allah Maha berkuasa dan berkehendak, maka kita mesti hati-hati dalam bertindak. semakin awal merenungkan apa yang kita kerjakan, apakah baik atau lebih baik ? Ini penting agar kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan dan kerjakan lagi itu bisa menjadi kebiasaan kita dan lama-lama menjadi karakter. Disinilah kalau sudah karakter tidak mudah diubah. Kata orang menunggu hidayah aja. Disinilah peran kita untuk selalu ada evaluasi kerja, bisa harian, bisa mingguan atau bulanan. Tanpa ada evaluasi kita menjerumuskan diri ke dalam karakter yang cenderung tidak baik. Kalaulah evaluasi itu belum mampu dilakukan, maka kita perlu berteman untuk dimintain masukannya. Atau sering-seringlah kita mendengar komentar dari orang lain atas apa kita kerjakan.

Kalau dari teladan nabi, setiap malam Nabi Muhammad saw selalu bermuhasabah dengan perbanyak istighfar sampai 100 kali. Istighfar ? Iya berarti nabi Muhammad saw tahu apa yang salah dan ingin memperbaikinya di hari berikutnya. Boleh dong kita meneladani Nabi, sebagai bentuk ketaatan.Jadi kita berharap ayat di atas sebagai peringatan, jangan sampai terjadi. hati yang telah dikunci Allah itu artinya sudah mati dan secara logis tidak bisa kembali kepada Allah. Dalam ilmu orang Jepang dengan manajemen PDCA, Cnya adalah cek. Cek sama dengan evaluasi, yaitu evaluasi cara kerjanya (Do) dan hasilnya. Dengan demikian kita dapat merencanakan perbaikan dengan Plan baru. Tak dengan banyak cara, cara inipun sudah paling mudah untuk selalu mengevaluasi kerja.

Sudah punya plan untuk bekerja hari ini ? kalau belum teruskan aja kerjanya, lalu hari berikutnya mulai dengan plan atau niat. Oke dong. pastilah Donya adalah kerja yang sesuai plan, sama halnya dengan kerja atau amal yang mesti sesual dengan niat. Cek berarti muhasabah cara kerja dan hasilnya, lalu Action lagi untuk perubahan. Semakin bener siklus PDCA ini dilakukan semakin tidak terbentuk kebiasaan yang tidak baik, apalagi karakter yang tidak menguntungkan kita.

 Insya Allah selalu ada hikmah dari ayat ini, semakin hati seseorang terbuka, yang dibukakan Allah lewat pertolongannya, semakin banyak pula hikmah yang didapat. Jangan pernah bilang, ayat Al Qur'an itu begitu-begitu aja, baca aja tafsirnya. Yang terpenting ayat itu mesti relevan dengan keadaan sekarang, menyadarinya, mengevaluasi dan melakukan perbaikan. Dinamis sebagai orang beriman.

Perjalanan hati manusia

Semangat pagi semuanya, Alhamdulillah saya bisa menulis lagi dan kali ini bertemakan perjalanan hati manusia dari merupakan perenungan dari surah Al Baqarah ayat 6 sampai 33. Ini catatan belajar saya yang saya sebut dengan TAJUK (caTAtan petunJUK) dari Allah yang ada dalam Al Qur'an. Seperti catatan itu, yang pasti adalah tentang kita di masa sekarang.



Saya kutip ya surah Al Baqarah ayat 6 :
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (QS. [2] Al-Baqarah : 6)
Mohon maaf bahwa saya bukan ustad atau sejenisnya. Saya ingin memahami ayat ini sebagaimana ilmu saya, tetap berpegang kepada tafsir yang ada sebagai referensi. Maka saya menyebutnya sebagai catatan belajar saya tentang petunjuk Allah.


Saya mulai darikata sesunguhnya yang berarti janji Allah, bahwa orang kafir itu sama saja diperingatkan atau tidak, dia tidak beriman. Tentunya orang kafir itu adalah orang yang ingkar kepada Allah, tidak percaya dan tidak beriman kepada Allah. Dan bahkan memiliki aktivitas untuk melawan dan melarang orang beriman menjadi bener-bener beriman. Sepertinya "temennya setan". Tidak ikhlas orang menjadi beriman kepada Allah.


Tapi dibalik itu, ada pertanyaan. Apakah kita sekarang tidak memiliki sifat itu ? Sifat yang tidak mau mendengar nasehat, mendengar peringatan agar tidak terjerumus kepada lebih dalam dari orang terdekat, temen dan siapa pun yang ditemui. Seperti orang biasa, orang kantoran punya sifat ini. Mengapa memilikinya ? Karena egonya tinggi atau agak "sombong". Kalau di kantor sih, ada bos atau pemilik perusahaan yang dianggap bener. Kalau bos bilang A, maunya dikerjakan oleh bawahan. Tapi sebaliknya ada komentar atau saran bahkan penolakan cenderung tidak mau menerima. Bukan sifat ini banyak tercermin di banyak perusahaan ? Keadaan ini seringkali berdampak dalam kehidupan di kantor berupa bawahan menjadi orang yang "yes men" atau seringkali "takut ketemu bos". Jadi kalau saya dulu kerja di kantor, anak buah itu kepikiran kalau ketemu bos. Kepikiran salahnya apa dan kayak mau negor saya yang salah. Dampak lebih lanjutnya adalah bos semakin merasa dirinya bener dan anak buah semakin nurut alias takut. Buahnya adalah tidak tercipta lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh. Menjadi lamban dalam bertumbuh dan disitulah banyak terjadi manipulasi oleh anak buah agar terlihat kerjanya bagus, terjadi bisik-bisik karyawan yang berisi keluhan dan komentar tentang perusahaan "mentang-mentang bos, sok bener dan sebagainya". Apa ini yang bos inginkan ? Dalam hati kecilnya maunya sih nggak. Tapi hatinya sudah tertutup sehingga kalau mendengar masukan, bantahan, kritik dan sejenisnya bawaan maunya "saya bosnya".

Tidak hanya bos aja, tapi ada juga karyawan atau managerlah yang seperti itu. Mengapa itu terjadi ? Karena merasa ilmunya tinggi dan berpengalaman. Misalkan seorang manager Marketing, kalau diberikan masukan tentang strategi marketing cenderung membuatnya menolak halus, "saya paham dan menerima masukan itu, tapi dalam hati kecilnya bilang ilmu saya lebih hebat". Apalgi masukannya dari karyawan baru atau baru lulus.  Biasanya team ini tidak bisa bertumbuh lebih baik. Bertumbuh tapi sangat lambat. Mengapa ? Strategi bagus, tapi actionnya tidak sempurna karena dilakukan oleh karyawan "yes men", tidak dengan hati dan akal sehat. 

Ini bukan dominasi orang kantoran, tapi di rumah juga begitu. Misalkan seorang isteri, apa iya banyak isteri yang taat suaminya ? Hanya sedikit. Isteri lebih suka egonya tinggi dan pastilah tidak mau mendengar anak dan suaminya. Isteri merasa menang dan disisi lain kalah. Padahal ini bukan soal menang dan kalah tapi kepada bertumbuh semakin baik. tahulah kalau yang kalah cenderung tidak ikhlas menerima keputusan dari pasangannya. 

Semua itu adalah masalah hati, bukannya tidak pintar. Tapi tidak dapat menerima dengan lapang dada. Pola berpikir hanya kepada ego saja, tidak memberi ruang pikiran untuk berlogika sehat. Apalagi hati. Jauh banget. Saya membuat levelnya seperti ini 
level terendah adalah berpikir atau mengambil tindakan berdasarkan ego atau nafsu atau keinginan tanpa ilmu, maka yang menjadi indikatornya adalah kenyanaman personal. Semakin nyaman bagi seseorang, itulah yang diputuskan. Kalau tidak nyaman, maka tidak mau terjadi. Level berikutnya adalah level berpikir logika atau hanya berdasarkan ilmu saja. Bagus nggak ? Baguslah. berpikir sehat dan jangka panjang. Indikatornya ini yang masih belum mampu menyentuh hati, apa itu ? Manfaat dan kepentingan (keuntungan) untuk dirinya dan temannya. Kalau tidak untung tidak dikerjakan. kalau manfaat, pasti dikerjakan, tapi untuk siapa dulu ? kalau manfaat untuk orang lain ? Stop dulu. Tapi bisa jadi manfaatnya buat orang lain, tapi adakah keuntungannya buat saya ? Itulah yang menjadi landasan bertindaknya. Level terakhir adalah hati, yang bisa menembus ilmu dengan memahami makna dari apa yang dihadapi. Dibalik itu ada amanah dari Allah, dan mesti  dipertanggungjawabkan kepada Allah. Jadi tindakannya tidak lagi melihat orang, yang pasti kepada Allah dan pasti pula memberi kebaikan dan keuntungan bagi manusia.

Jadi ayat ini saya bercermin bahwa adakah hati kita tertutup dan dominan ego ? Jawaban iya. Hati kecil setiap orang bilang,"Iya sih saya jarang mau dengar nasehat atau peringatan dari orang lain, merasa dirinya lebih hebat. Saya tidak mau kalah". Yuk belajar dari orang yang mudah berpikir sehat seperti pemikir, orang yang terbuka menerima kritik, ilmuwan, dan orang yang kita zalimi (kalahkan dengan ego) yang sabar menjadi pendengar yang baik. Saya paham jika statusnya dibalik, saya adalah mendengar ego orang lain. Pastilah saya banyak curhatannya.

Selanjutnya saya membuat catatan perjalanan yang dimulai dari hati yang beku yang tertutup dan sejenisnya. 
Ada seorang manager HRD yang sok berkuasa, semua karyawan nurut karena takut "dipecat". Seorang trainer yang merasa dirinya paling bener, hampir semua bos yang ingin anak buahnya nurut tanpa protes, dan pasangan yang sok hebat di keluarga dan sebagainya.

Insya Allah diberikan petunjuk yang baik dalam diskusi pagi ini, saya ingn mendalami al Baqarah 6 sampai 33, Sebagai sebuah perjalanan orang yang kafir kepada Allah yang pasti tidak bisa mendengar nasehat. Hal ini karena hati dan inderanya telah dikunci oleh Allah. Mungkin bisa jadi awalnya mereka bilang beriman tapi sebenarnya mereka tidak beriman, mereka percaya kepada Allah dan hari akhir, tapi sebenarnya itu hanya bohongan. Semua kebohongan itu untuk mengelabui orang beriman. Sok berbuat baik dan perbaikan tapi kenyataannya merekalah yang telah melakukan pengerusakan. Tanpa sadar mereka lakukan karena mereka itu adalah tidak jujur kepada dirinya sendiri, lisan dan perbuatan tidak sejalan dengan hati. Mereka itu diajak menjadi sadar, tapi mereka tidak mau karena komunitasnya bukan orang jujur (orang beriman). Mereka selalu memperolek-olokan orang beriman seperti tidak memiliki akal. Tapi sebenarnya mereka sendirilah yang tidak menggunakan akalnya, hatinya telah tertutup walaupun memahami dengan akal. Keadaan ini membuat Allah mengizinkan keadaan ini terus berlanjut dan membuat mereka tersesat. Ini bukan kehendak Allah tapi mereka sendiri yang menjerumuskan ke dalam kekafiran. Disini hati-hati terhadap orang beriman yang melakukan kesalahan-kesalahan yang terus-menerus karena bisa jadi telah membawa mereka kepada Allah yang membiarkan mereka tersesat (salah lagi dan salah lagi). Ini sebagai bentuk mereka telah membeli petunjuk Allah dengan kesesatan, dan ini pasti merugi. Allah menggambarkan seperti orang yang menyalakan api yang menerangi sekelilingnya, dan Allah melenyapkan cahaya sehingga mereka tidak melihat. Orang yang senang yang jauh dari Allah juga seperti itu, keadaannya seperti hebat dan diakui orang banyak, tapi saat mereka dipadamkan apinya (kehebatannya dicabut Allah), mereka pun terdiam. mereka Tuli, bisu dan buta serta tidak bisa kembali kepada Allah. Hal ini dicontohkan sebaliknya oleh Nabi Ayub yang selalu zikir dan taat kepada Allah, yang mengembalikan kejayaan dan apa yang dimiliki yang dulu, Bukan membeli petunjuk Allah dengan ketidaktaatan. Atau seperti orang yang kehujanan dengan petir dan kegelapan langit tanpa matahari. Orang itu ketakutan untuk menghindari semua itu karena takut mati. tetapi Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu, Allah bisa menghilangkan itu semua. Maka Allah memerintahkan orang untuk mengabdi kepada Allah agar menjadi taqwa, seperti hal orang sebelum kamu dulu mengabdi kepada Allah. Allah menciptakan seluruh alam semesta ini, dan janganlah manusia menyekutukannya. Jika kamu ragu dengan Al Qur'an yang menjelaskan semua itu, buatlah Al Qur'an tandingan. Tapi Allah memastikan bahwa itu tidak terjadi. Jadi buat apa kita tidak beriman dan mengabdi kepada Allah. Dan akhirnya Allah memberikan balasan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh dengan surga dengan segala kenikmatannya. Yang memberi perumpamaan seekor nyamuk, ada yang beriman dan ada yang kafir (disesatkan), orang yang melanggar perjanjian dengan Allah setelah diteguhkan, dan memutuskan apa yang Allah perintahkan (malah memutuskan dan berbuat kerusakan). Pastilah ini seperti ini adalah rugi. Allah bertanya begaimana kamu tidak percaya (ingkar), padahal tadinya kita ini mati lalu dihidupkan Allah, kemudian mati dan dibangkitkan lagi. Semua kembali kepada Allah lewat kematian. Allah menciptakan segala sesuatu dan Allah Maha mengetahui segalanya. Allah buktikan sewaktu menciptakan manusia yang ditanyakan oleh malaikat, bahwa nanti makhluk yang namanya manusia itu pasti membuat kerusakan. Tapi Allah buktikan ternyata Adam as, memiliki kemampuan berpikir dan memahami setelah Allah ajarkan. Yang tidak ada di malaikat dan makhluk lainnya. Adam as berkata, Maha suci Allah dan Engkaulah yang Maha mengetahui dan Maha bijaksana. Manusia tidah tahu apa-apa selain apa yang diajarkan Allah. Bantu Tulisan ini bisa dibuat ulang secara mudah untuk dipahami dengan bahasa humor dan reflektif dengan kehidupan saat ini. Misalkan ppoitn penting diantaranya "mereka tidak sadar" yang bisa ditafsir mereka tidak jujur (hatinya mati), membeli petunjuk (Al Qur'an) dengan pengrusakan di muka bumi tapi mereka mengaku berbuat baik (tidak jujur lagi kepada diri sendiri), mereka suka tidak mau menerima kritik, dan saat ini terjadi Allah membiarkan mereka terjerumus. Tapi Allah masih baik menunggu mereka kembali. Bahwa juga hadil beriman dan berbuat baik itu bikin tenang dan hasilnya nanti dinikmati di akhirat. Kayaknya bisa dibuat berseri agar bisa hidup ... melalui tokoh bujang, mamat dan mira. Sertai dengan ayat dan hadisnya

Apa yang sebaiknya dilakukan ? Yang pertama adalah memang harus menyadari dengan mengenal gejalanya. Perhatikan hari in  atau kemarin dan kemarinnya lagi, apakah saya pernah menolak nasehat orang lain (sekalipun itu baik dan dengan cara halus disampaikannya) ? Kalau pernah walaupun sekali, pertanda saya mesti menyadarinya, lalu berpikir lebih dalam dan mengambil hikmahnya. Setelah itu belajarlah untuk menahan diri, caranya jujur kepada diri sendiri, artinya berkatalah dengan hati, mendengarlah dengan hati dan bertindaklah dengan hati. Jangan bila A tapi tindakan B, ini tidak sejalan, ya bisa dibilang tidak jujur. Dengan hati yang mulai aktif, maka mendengar itu pun (nasehat dan peringatan) menjadi baik.

Insya Allah tulisan ini menjadi inspirasi dan upaya sadar diri untuk mengembangkan diri semakin baik dan banyak temen. Saya berharap hati ini tidak tertutup, sekalipun ada noda hitamnya, semakin hari semakin baik. Indikatornya jarang untuk marah, emosian, suka malas, mau gampangnya aja, suka kecewa dan mengeluh, spontan dan sebagainya. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya. 

Selasa, Maret 03, 2026

Makna sebuah keinginan

 Semangat pagi semuanya. Insya Allah sehat ya, dan dengan pertolongan Allah kita dapat mengerjakan aktivitas baik setiap hari. Aktivitas baik awal dan perjalanan menuju amanah besar dari Allah yang telah mengizinkan kita bekerja hari ini.


Dalam beberapa hari sebelumnya, saya menulis tentang keinginan-keinginan yang hadir dalam kehidupan kantor. Semua keinginan itu tidak ada yang salah, kan keinginan itu hadir tidak kita minta. Hadir aja. Tapi ada orang yang dibilang pemimpi, karena memiliki keinginan yang tidak masuk akal. Untuk yang ini, semua keinginan itu memang belum masuk akal saat ini, menjadi masuk akal jika diwujudkan. kalau kita berkaca penemuan produk-produk yang sekarang ini kita gunakan, ditemukan sebagai mimpi yang tidak masuk akal di masanya. Jadi apa yang salah dengan keinginan kita ? Tidak ada.


Kalau keinginan itu kita anggap sebagai persoalan (soal), seperti sewaktu kita sekolah atau kuliah selalu ada soal, soal yang dibuat guru atau dosen itu pasti ada jawabannya. Tapi bagi murid atau mahasiswa, soal itu disebut susah dan tidak mungkin. Apa yang kita lakukan ? Kita mesti menjawab soal itu, jawaban inilah yang menentukan kualitas kita. Kualitas yang bergantung ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Ada yang menjawab hanya dengan jawaban ringan,"susah". Inilah yang tidak boleh kita teladani. Karena jawaban ini adalah reaktif, dan memiliki kecenderungan tidak bener. Atau ada yang menjawabnya dengan cara curang (tindakan tidak baik), maka langsung menghasilkan Tidak lulus. Begitu juga dengan keinginan, selalu ada kemungkinan menjawabnya dengan tindakan tidak baik. Mau sukses ? Kok dengan cara nggak bener. Tindakan kecil yang bertumbuh mampu mengantarkan kita sukses. 

Oleh sebab itu, setiap ada keinginan. Temukan terlebih dahulu apa dibalik keinginan itu. Lalu beri penilaian dari alasan di balik keinginan itu. Banyak keinginan itu mulia, tapi alasannya aja yang tidak mulia. Misalkan mau sejahtera, alasannya bosen hidup miskin atau ingin dilihat orang sekitar. Hati-hati dengan alasan-alasan di balik keinginan kita, Alasan yang tidak mulia bisa menentukan cara kita mewujudkannya. Terus, berarti keinginan itu tidak baik dong ? Disinilah kita mesti tenang, memberi ruang kepada pikiran sehat untuk menganalisa keinginan dan alasannya. Mau sejahtera, boleh dong kita luruskan alasannnya sebagai rasa syukur. Rasa syukur itu membuat kita mewujudkannya dengan cara yang bener. kalau begini, keinginan itu menjadi baik karena alasannya pun baik.

Kuncinya adalah diri kitanya yang tenang menyikapi setiap keinginan. Kalau tidak tenang, membuat kita tidak mampu berpikir sehat. Disinilah "setan" selalu menggoda dengan rayuannya. Keinginan itu bisa kok diraih dengan cara curang, cara curang ini terlihat jalan pintas yang mesti dilakukan. Ditampakkan semua itu "bener" karena semua orang melakukannya juga begitu. "Zaman sekarang mau jadi orang jujur, mana mungkin". Sederhana godaan setan ini, tapi menyesatkan. Emangnya setelah sejahtera kita nggak tahu nantinya pasti mati, mati begitu aja ? Pasti nggak lah, mesti ada tanggung jawab sama pemilik diri kita. Oleh sebab itu, kita mesti berhati-hati dan waspada dengan semua "bisikan" ini. 

Agar keinginan itu menjadi bernilai, setelah kita sadar dan berpikir secara logik. Perlu untuk self talk yang didasari iman, untuk menemukan apa dibalik keinginan itu. Apakah mesti diikutin sekarang atau menundanya dulu atau menyikapinya dengan cara yang benar dan mengerjakannya dengan makna ?? Renungkan dan pahami bagaimana keinginan selama ini disikapi ? Apapun sikap dan cara menyikapinya ... salah atau benar. Yang penting sekarang kita sadar dan tahu cara yang bener. Mulailah bertumbuh menjadi semakin baik.

Insya Allah tulisan membuat kita mengambil hikmah dan dapat menjadi inspirasi untuk memberdayakan diri untuk semakin baik. Niat dan cara yang baik adalah jawaban yang bener untuk naik kelas. Dan sejalan dengan pemilik dunia ini dan alam semesta yang mendukung. 

Featured post

Pekerjaan sebagai Jalan Kebaikan dalam Kehidupan

 Semangat pagi semuanya. Pada hari ini saya menuntaskan tema kerja dan kebaikannya bagi kehidupan. Tak terbayang, saat menyikapi kerja yang ...