Menyediakan pelatihan motivasi spiritual, pendampingan, e-book dan konsultasi pemberdayaan diri Islam, WA/CALL 087823659247

e-Book Munir Hsan Basri

e-Book Munir Hsan Basri

Rabu, Februari 18, 2026

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang nafsu dalam kerja. Kali ini ngebahas ambisi, karir dan keterkaitannya dengan amanah.



Ambisi sering dipandang buruk dalam wacana keagamaan. Padahal tanpa ambisi, tidak ada peradaban. Tidak ada kemajuan. Yang berbahaya bukanlah keinginan untuk naik, tetapi lupa dari mana kita naik dan untuk apa kita berada di atas. Setiap orang ingin berkembang. Naik jabatan. Diakui. Dihargai. Ambisi ini sering dianggap bertentangan dengan kesalehan. Namun tanpa ambisi, manusia berhenti bertumbuh.

Ada orang yang mengejar jabatan demi gengsi. Ada pula yang menerimanya dengan rasa takut, karena tahu semakin tinggi posisi, semakin berat pertanggungjawaban. Seorang pimpinan yang jujur pernah berkata, “Saya ingin jabatan ini agar bisa memperbaiki sistem, bukan hanya hidup saya.” Di titik itu, ambisi berubah menjadi amanah.

Islam tidak menolak keinginan untuk sukses. Yang Islam jaga adalah cara dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Ia mendorong profesionalisme, bukan manipulasi. Islam tidak memusuhi ambisi. Yang diuji adalah niat dan dampaknya. Ambisi yang dirahmati Allah melahirkan tanggung jawab, bukan kesewenang-wenangan. Ia membuat seseorang lebih berhati-hati, bukan lebih rakus.

Dalam dunia kerja, karier adalah medan ujian:

  • apakah kita adil saat punya kuasa
  • apakah kita tetap rendah hati saat dipuji
  • apakah kita melindungi yang lemah

Ketika nafsu karier dikaitkan dengan kebermanfaatan, ia keluar dari wilayah ego dan masuk ke wilayah ibadah sosial.

Ambisi yang diarahkan bukan musuh iman. Ia justru ladang ujian kedewasaan jiwa. Ambisi yang diserahkan kepada Allah tidak mengecilkan jiwa, justru mendewasakannya


Insya Allah kita diberikan cahaya dari sisi Allah dalam memahami ambisi dan karir sebagai amanah dari Allah. Hati-hati dengan keinginan sesaat, maka perlu sadar kepada Allah. 

Bukan Sekadar Ibadah

 Semangat pagi, Insya Allah tetap selalu bersemangat membuktikan amanah Allah dengan tanggungjawab. Aamiin. Kali ini saya masih meneruskan pembahasan tentang nafsu atau keinginan.

Memahami ‘Nafsu yang Dirahmati Allah’: Bukan Sekadar Ibadah

  • Meluruskan persepsi populer: nafsu dirahmati = hanya zikir & amal ritual
  • Tafsir: nafsu yang dirahmati adalah nafsu yang dikendalikan dan diarahkan
  • Yusuf AS tetap manusia yang punya keinginan, tapi dilindungi rahmat Allah
  • Rahmat Allah menjaga arah, bukan menghilangkan dorongan


Meluruskan Nafsu yang Dirahmati Allah :

Banyak orang merasa harus “membersihkan” niatnya sebelum bekerja, seolah niat yang bercampur dengan dunia membuat amal menjadi tidak sah. Kita lupa bahwa manusia bukan malaikat. Jiwa kita bergerak oleh kebutuhan, rasa aman, dan harapan. Maka ketika Al-Qur’an berbicara tentang nafsu yang dirahmati Allah, barangkali yang dimaksud bukanlah nafsu yang hilang, melainkan nafsu yang dijaga.



Nabi Yusuf bukanlah sosok tanpa keinginan. Ia manusia. Ia merasakan godaan. Namun yang membedakannya bukan ketiadaan nafsu, melainkan kehadiran rahmat Allah yang menjaga arah langkahnya.

Dalam QS Yusuf ayat 53, pengecualian itu jelas: “kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. Rahmat Allah tidak mematikan dorongan, tetapi mencegahnya melampaui batas. Nafsu yang dirahmati bukan hanya tentang shalat dan puasa, tetapi juga tentang bekerja tanpa menipu, mencari rezeki tanpa menzalimi. 

Kesalahan umum adalah menganggap nafsu yang dirahmati identik dengan menjauh dari dunia. Padahal, justru di tengah dunia itulah rahmat diuji.

Nafsu tidak perlu dimusnahkan. Ia perlu dirawat agar tetap berada di bawah cahaya rahmat Allah.

Insya Allah kita selalu tidak terburu-buru untuk merespon keinginan atau hawa nafsu sehingga memberi ruang bagi pikiran untuk merespon dengan akal sehat dan hati.

Nafsu tidak mesti dilawan, disadari dan diarahkan

Semangat pagi, saya masih tetap fokus menulis kerja dan ibadah yang selaras. Sebelumnya tentang niat, maka kali ini nafsu atau keinginan yang mendompleng kerja kita. Ada apa ? Bisa jadi setelah niat kita tetapkan, sering ada lintasan pikiran dari luar atau keinginan dari dalam dari hasil kerja. Apa itu ? Pengen uang banyak, pengen jabatan, pengen cari karir dan sebagainya.

Saya ingin menulis artikel ini agar bisa disadari lalu menselaraskan dengan Al Qur'an dan menerapkan ilmu yang bener. Saya mulai dari sebuah keinginan atau nafsu dalam kerja yang berorientasi kepada uang dan materi. Ada ayat Al Qur'an yang menjelaskan bahwa nafsu itu cenderung kepada keburukan, tapi yang dikuatkan adalah nafsu yang dirahmat Allah dalam surah yusuf ayat 53. Tentang hal ini banyak yang berpersepsi bahwa nafsu yang dirahmati Allah itu tentang ibadah dan amal saleh. 

Baik, gagasan ide ini sangat kuat dan relevan untuk dunia kerja modern, terutama bagi pembaca Muslim yang ingin berdamai antara dorongan materi dan ketaatan kepada Allah. 

QS Yusuf ayat 53 menyatakan dengan jelas:

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku.”

Ayat ini tidak membatasi konteks nafsu hanya pada ibadah, melainkan berbicara tentang jiwa manusia secara utuh, termasuk keinginan duniawi seperti kekuasaan, harta, dan pekerjaan—yang jika dirahmati Allah, arah dan dampaknya berubah.

Nafsu bekerja dan mencari uang bukan musuh iman, tetapi energi. Ia menjadi keburukan jika liar, dan menjadi rahmat jika diselaraskan dengan Allah.


Islam tidak mematikan keinginan materi, Islam mengarahkan, membersihkan, dan menundukkannya

Kerja → Uang → Manfaat → Nafkah di jalan Allah
Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi?
Kejujuran awal: kebanyakan orang bekerja karena uang
Nafsu mencari materi sebagai realitas manusia
Kesalahan persepsi: menganggap niat materi otomatis “duniawi dan tercela”
QS Yusuf 12:53 → nafsu cenderung buruk, bukan selalu buruk 
“Jika nafsu harus dimatikan, mengapa Allah menciptakannya?” Karena nafsu itu fitrah manusia.

Nafsu dalam Dunia Kerja: Masalah atau Potensi yang Disalahpahami

Beri ruang hati 
Setiap pagi, jutaan orang berangkat bekerja dengan hati yang berbeda-beda. Ada yang berangkat dengan semangat, ada yang dengan keterpaksaan, ada pula yang dengan kegelisahan. Namun di balik semua itu, ada satu dorongan yang hampir selalu sama: keinginan untuk hidup layak. Kita ingin makan dengan tenang, membiayai keluarga, dan merasa aman menghadapi masa depan. Keinginan itu sering disebut nafsu—dan sering pula dicurigai.


Seorang ayah pulang larut malam, lelah setelah seharian bekerja. Di rumah, anaknya sudah tertidur. Ia duduk sebentar, menatap tagihan di meja, lalu bergumam, “Kalau bukan karena ini semua, mungkin aku sudah menyerah.” Tidak ada kata ibadah, tidak ada kalimat suci. Tapi di sanalah realitas manusia bekerja: antara tanggung jawab dan dorongan bertahan hidup.
Pembahasan Mendalam
Islam tidak lahir di ruang hampa yang steril dari kebutuhan dunia. Al Qur’an berbicara kepada manusia apa adanya. Dalam Surah Yusuf ayat 53, Allah menegaskan bahwa nafsu manusia cenderung mendorong kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh-Nya. Ayat ini bukan vonis, melainkan diagnosis.
Nafsu bukan kesalahan. Ia adalah energi dasar manusia. Tanpa nafsu, tidak ada usaha. Tidak ada kerja. Tidak ada peradaban. Yang bermasalah adalah ketika nafsu berjalan tanpa kendali, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran akan Allah.
Bekerja demi uang sering diposisikan sebagai niat yang “rendah”. Padahal, mencari nafkah adalah bagian dari menjaga kehidupan. Yang membuat kerja menjadi gelap bukan tujuannya, tetapi ketika tujuan itu menghalalkan segala cara.

Nafsu tidak selalu harus dilawan. Kadang ia perlu dipahami. Karena dari situlah perjalanan menata kerja dan iman dimulai.

Insya Allah tulisan ini dapat menginspirasi untuk menjadi semakin baik untuk memotivasi diri. Sesuatu yang kita hadapi itu normal atau netral, semua tergantung kita menyikapinya. Bangun diri untuk mampu bersikap yang baik, dan referensikan dengan Al Qur'an menjadi sikap dalam beriman.

Selasa, Februari 17, 2026

Ibadah sepanjang hari

Semangat pagi semua, hari ini saya menulis kembali setelah rehat cukup lama. Saya masih terdorong untuk berbagi tentang dunia kerja dan iman. Seringkali beberapa orang masih berpikir kerja itu ya kerja, dan iman itu (diantaranya salat - ibadah) ditafsirkan sebagai pengungkit kerja agar tercapai keinginan kita. Insya Allah semua dapat saya bagikan pula dari pengalaman selama menjadi karyawan dan pimpinan (manager).



 Untuk hal diatas, saya mulai dari niat kerja untuk mencari rezeki buat keluarga. Yang pertama kita mesti apresiasi niat baik ini. Dalam dalam hadist disebutkan perbuatan itu tergantung niatnya. Dari contoh niat ini mencari rezeki untuk keluarga. Artinya niat mencari rezeki ini mesti tertuju kepada Allah, mencari memberi makna cara kerja kita dalam mendapatkan rezeki. Niat ini mesti kita terjemahkan ke dalam action atau kerja kita yang lebih nyata. Tidak hanya  sekedar memdapatkan gaji dengan apa yang kita kerjakan. Tapi jauh lebih luas dari sekedar gaji, diantara kemampuan, ilmu, kemanfaatan kerja, fisik yang sehat, keluarga yang mampu mengadaptasi perjalanan kerja kita, dan ibadah yang semakin baik.

Kata mencari rezeki seperti kurang pas, karena Allah berfirman "Allahlah yang memberi rezeki kepada hambaNya". Mencari seringkali dipersepsikan kerja yang menghasilkan uang atau gaji. Mau dicari dimana ? Ditempat kerja ? Iya dong. kalau ada pendapat yang mengatakan gaji itu tidak perlu dicari, karena kita tidak pernah tahu malaikat pembawa rezeki dari Allah itu berada. Tapi malaikat pembawa rezeki itu tahu dimana rezeki yang  dibawa itu diberikan kepada siapa. Tentunya rezeki yang disalurkan dari Allah, karena Allahlah yang memberi rezeki. Diantara rezeki itu adalah gaji kita. Allah memberi rezeki atas apa yang kita kerjakan, baik ibadah khusus (salat cs) dan ibadah umum (kerja dan aktivitas harian). Sudahkah kita mempertunjukkan kedua ibadah itu menjadi luar biasa ?? atau membuat Allah takjub ?

Pertanyaan terakhir inilah yang sering hany diterjemahkan sebagai hal yang biasa, salatnya (ibadah utama) dan kerjanya biasa-biasa saja. Yang ada dibenak banyak karyawan adalah kerja aja mengikuti SOP atau tugas yang diberikan. Padahal tidak ada yang salah jika kita salatnya luar biasa, salatnya dijalankan dengan benar dan kerjanya dilakukan lebih dari apa yang diminta. Sampai saat ini kita cenderung mengacu kepada atasan dan perusahaan. Ini tidak salah, tapi bisa diselaraskan kepada yang lebih tinggi lagi, apa itu ? Ternyata kerja kita adalah pengakuan kepercayaan oleh atasan/HRD atas kemampuan dan diizinkan oleh Allah. Izin Allah ini berupa kerja sebagai amanah Allah. Disinilah Allah menilai apa yang kita kerjakan, berarti kita yang menjadi karyawan dipercaya untuk dibuktikan dan diberi amanah untuk dipertanggungjawabkan kepada Allah. Disinilah sebenarnya apa yang kita sebut sebagai mencari rezeki dengan kerja kita.

Mncari rezeki itu adalah mencari kerja yang membuktikan dan bertanggung jawab. Apakah hal ini hanya dilakukan dengan kerja biasa-biasa saja ? Jawabannya pasti tidak. Perusahaan menginginkan kita bekerja maksimal dan terus bertumbuh, dan Allah meminta kita kerja di jalan Allah.  Apa yang terjadi dengan keinginan kita kerja mencari duit, maka alangkah indahnya kita luruskan niatnya.

Niat awal kerja itu mencari rezeki Allah, niat mencari rezeki itu adalah mempertanggung jawabkan amanah Allah dengan apa menjadi pekerjaan kita, niat mempertanggung jawabkan amanah itu menuntun kita menemukan petunjuk Allah agar apa yang kita kerjakan selaras dengan iman. Actionnya adalah kerja yang luar biasa, kerja yang melebihi apa yang diminta dalam SOP/job desc, dan beribadah yang membuat Allah takjub. Jadi kerja yang luar biasa (perusahaan takjub) yang mendorong rasa syukur untuk semakin bagus salatnya. Dan semakin salatnya bagus membuat semakin kerjanya semakin takjub lagi.

Dalam aktivitas kesehariannya, kita benar-benar produktif, semakin kerja bernilai di hadapan Allah. Rasanya tak mungkin ada orang yang mempertanggungjawabkan kepada Allah tidak mampu memberikan kerja yang luar biasa. 

Dari penjelasan ini kita bisa menarik hikmah, yaitu niat baik secara makna mesti dapat memberi persepsi baik di mata Allah. Oleh sebab itu perdalam niat kita kerja, perdalam terus sehingga menemukan niat dasar kita bekerja. Lalu jangan pernah ada persepsi yang tidak pas yang membuat kerja semakin tertekan. Dari sini kita belajar bahwa kerja dan ibadah itu adalah dua hal yang tidak terpisah tapi saling menguatkan di jalan Allah. Hindari ibadah seperti salat dan doa dijadikan pengungkit agar kita mendapatkan rezeki yang lancar dengan kerja kita.

Insya Allah tulisan ini memberi kekuatan bagi kita yang beriman untuk menghargai kerja itu ibadah juga BUKAN kerja sebagai ibadah. Teruslah bekerja dengan cara yang Allah ridhai, kerja bener dan efektif. Bayangkan sepanjang hari kita ibadah kepada Allah (sebagaimana tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu untuk mengabdi atau beribadah) lewat kerja dan ibadah salat kita.


Featured post

Ambisi, Karier, dan Amanah

 Semangat pagi semua, Insya Allah selalu mampu merespon dan melurusan keinginan di jalan Allah. Aamiin. Masih menjadi seri tulisan tentang n...