Buat apa berbuat baik ?

Posted by Munir Hasan Basri 18.1.18 0 comments
Saat seorang teman ditanya, "kok baik banget sih sama dia ?" dan teman saya menjawab,"saya baik sama dia karena orang tuanya dulu baik sama keluarga kami". Begitulah sekilas pembicaraan tentang berbuat baik. Hampir semua orang ingin berbuat baik dan selalu dikaitkan dengan agama. Berbuat baik itu merupakan kewajiban sehingga ada beberapa orang merasa berat, kalau dibilang terpaksa ya tidak. Tapi untuk berbuat baik itu banyak yang berhitung untung ruginya. Apa yang saya dapatkan ? atau untuk mendapatkan apa ?
Mari kita pahami beberapa hal tentang berbuat baik,
1. Seseorang berbuat baik karena orang lain telah berbuat baik kepada kita
2. Bisa juga saya berbuat baik untuk mengharapkan orang lain berbuat baik kepada kita sesuai apa yang kita inginkan.
3. Ada juga yang berbuat baik ya berbuat baik aja. Tapi biasanya berbuat itu ada dasarnya juga seperti kasihan, mau bantu aja, atau ikhlas
Bagaimana dorongan berbuat baik yang kita lakukan ? Apakah seperti point 1 atau point 2 atau ada alasan lain. Kebanyakan dari kita memang berbuat baik karena point 1 dan 2. Semua itu berujung pada seberapa untungnya buat kita  ? Apa yang terjadi ? Berbuat baik itu menjadi berat ...
Berbuat baik itu tidak saja untuk orang lain tapi juga buat diri sendiri .... apakah ada makna lain. Ada pesan dari Al Qur'an yang berisi "berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita". Inilah solusi bagi keberatan kita berbuat baik atau berbuat baik dengan ikhlas.
Renungkan pesan tersebut ....
1. Perhatikan apa yang sudah diperbuat Allah kepada kita. Begitu banyak nikmat, petunjuk dan pertolongan yang membuat kita menjadi seperti ini ... banyak sekali dan kita pun tidak bisa menghitungnya (saking banyaknya).
2. Perbuatan baik Allah itu bukan sekedar kebaikan buat kita tapi membuat energi yang ada pada diri kita. Dan energi itu mesti dialirkan kepada pada diri kita sendiri dan orang lain. Energi yang tidak termanfaat membuat diri kita yang menerimanya menjadi buruk.
3. Berbuat baik kepada diri sendiri dan orang lain bisa menyehatkan diri kita secara fisik dan spiritual. Maknanya kita berbuat baik kepada orang lain TIDAK LAGI memiliki kepentingan (menjadi ikhlas). Dan sekaligus berbuat baik kepada orang lain itu telah menunjukan kita berbuat baik pula kepada Allah.
4. Saat kita menerima rezeki berupa pendapatan (gaji) yang Allah izinkan. Maka kebaikan Allah itu (berupa rezeki) mesti dikeluarkan sedekah atau zakat kepada orang yang berhak menerimanya. maka bersedekah bukan bersedekah tapi meneruskan kebaikan Allah itu kepada orang lain (alam semesta) agar kita tidak menjadi "buruk" (tidak bersedekah).
5. Bagaimana dengan pemberian Allah dengan kita menjadi pintar (ilmu dan petunjuk), maka kita sangat membutuhkan aktivitas mengajarkan kembali ilmu itu kepada orang lain. Jika kita tidak mengajarkan maka diri kita menjadi orang sombong (membuat diri kita menjadi buruk).
Saya yakin penjelasan di atas semakin membuka hati dan pikiran kita tentang ilmu Allah yang mutlak kebaikannya buat diri kita sendiri. Masihkah kita mencari ilmu selain Allah ??
Insya Allah kita selalu dituntun dan dbimbing untuk mendapatkan petunjuk Allah yang ada di alam semesta dan di dalam Al Qur'an. 

Baca Selengkapnya ....

Semakin tahun semakin meriah

Posted by Munir Hasan Basri 2.1.18 0 comments
Tanggal 1 Januari pukul 24:00 selalu dirayakan hampir semua orang sebagai tahun baru. Kegemberiaan itu selalu menggoda untuk diikuti bersama teman, pacar, keluarga atau rekan bisnis. Dari tahun ke tahun semua lokasi atau semua orang ingin merayakannya semakin heboh dan semakin baik. Hasilnya adalah senang lalu capek.
Apakah hal itu mesti kita teruskan tradisinya ... "dari dulunya sudah begitu". "nggak ikut dibilang nggak gaul". Hasilnya juga sama SENANG dan CAPEK. Kok mau ya ? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu dan tenaga untuk kesenangan dan capek, lalu kita ulangi lagi.
Kita menjadi semakin baik untuk hal-hal yang baik buat kita. Bagaimana jika tahun baru itu tidak sekedar dirayakan tapi jauh lebih penting apa yang mesti saya lakukan mulai tgl 1 Januari itu untuk kebaikan kita.
Jadi seharusnya kita mesti MERAYAKAN setiap kebaikan yang kita jalani dan berhasil. Perayaan ini jauh lebih penting dan bermanfaat daripada MERAYAKAN MALAM TAHUN BARU.
Agar kebaikan itu semakin nyata maka perayaan atas kebaikan setiap hari itu mesti terus-menerus. Boleh dong kita tanya kepada diri kita sendiri,"apa mau hidup seperti yang dulu yang tidak membuat kita semakin baik ?" Ajukan terus pertanyaan ini kepada diri kita sendiri setiap hari ... Insya Allah kita semakin terdorong untuk semakin baik dan merayakannya juga wajib agar menambah semangat untuk semakin baik
Begitulah Allah mengajarkan hidup hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. kalau tidak lebih baik maka kita termasuk orang yang merugi. Merugi berarti sudah menghamburkan waktu dan tenaga sia-sia (tidak ada kebaikan). Islam juga mengajarkan jauhi perbuatan yang sia-sia yaitu perbuatan yang cenderung kepada keduniaan.
Soal tanggal 1 Januari tidak mesti juga kita ikuti, kalau sekedar momentum yang menyemangati nggak masalah. Sebenarnya waktu untuk semakin baik itu bisa dimulai kapan saja. Perhatikan saja, PERAYAAN TAHUN BARU yang dimeriahan dengan pesta, musik dan kembang api ... sebagai muslim tidak perlu menyainginya dengan mengisi juga acara di tahun baru itu dengan zikir, ceramah akbar dan sebagainya sampai jam 12:00. Bukankah sebagai muslim diajarkan di waktu malam untuk beristirahat lalu bangun di pagi hari untuk beribadah. Bayangkan seorang muslim yang merayakan tahun baru dengan zikir jadi ngantuk bahkan ketiduran di pagi harinya, bisa jadi ngga bisa bangun dan Subuh kesiangan.
bandingkan saat seorang muslim tidak merayakan tahun baru dan tidur seperti biasanya ... dan bisa bangun lebih pagi. Bukankah aktivitas ini jauh bermanfaat bagi kita untuk beribadah BUKAN ikut-ikutan untuk merayakan dengan cara islam. Nggak salah caranya, tapi waktunya yang ngga tepat bagi kebanyakan orang yang tidak biasa melek sampai dini hari dan bikin susah bangun di pagi hari.
Mari kita berpikir sederhana,"mau tahun baru atau hari baru ... beranikah kita bertanya sudahkah kita menjadi manusia baru yang semakin baik ? Apakah kita pernah merasa senang dengan keadaan kita yang semakin baik ? Rayakan secara personal dan berbagi.
Insya Allah kita selalu diberi petunjuk untuk terus-menerus memahami makna hidup dengan apa-apa yang sudah kita kerjakan agar perbuatan kita selalu mendatangkan kebaikan. Aamiin

Baca Selengkapnya ....

Yakin atau Percaya

Posted by Munir Hasan Basri 29.12.17 0 comments
Yakin dan percaya sepertinya sama, bisa jadi hanya soal Bahasa dan persepsi saja. Jika kita percaya kepada Allah dengan segala kekuasaanNya, maka mengapa kita tidak mengikutiNya ? Kita percaya sesuai dengan pengetahuan yang kita dapatkan, tapi apakah kita yakin di hati ? Saat kita percaya banyak orang yang menjatuhkan diri dari ketinggian pada alas yang empuk TIDAK MEMBUAT ORANG SAKIT. Kita pun melihat sendiri mereka melakukan dan tidak ada masalah. Kita adalah orang yang takut berada di ketinggian, maka kita PERCAYA. Tapi mengapa kita tidak berani melakukannya sendiri ? Diisinilah kita tidak YAKIN.
Begitu pula halnya untuk menjawab bahwa kita sebagai muslim masih bisa benar-benar taat kepada Allah. Maksudnya adalah kita belum beriman … belum YAKIN tapi sudah percaya. Hati kita belum utuh kepada Allah, karena bisa jadi ada beberapa hal yang merusak hati itu diantara dosa kita, kelalaian kita dan tidak patuhnya kita untuk mengikuti petunjuk Allah (bahkan tidak pernah membaca petunjuk Allah). Perhatikan saat kita belum YAKIN dalam bersabar, maka kita berhenti untuk sabar karena berbagai alasan,”sampai kapan saya sabar dengan keadaan ini”. Saat kita PERCAYA maka kita tahu bahwa kesabaran itu tidak ada ujungnya dan buah kesabaran itu manis. Tapi saat kita menjalani yang sebenarnya, “kok sabar itu berat dan susah”, ada pikiran lain yang mengajak untuk tidak sabar lagi karena sepertinya ada angan-angan yang memberi solusi lain selain sabar. Bisa karena ilmu yang kurang atau salah yang bisa menyebabkan kita sulit sabar lalu menjadi tidak sabar. Inilah situasi yang menentukan apakah kita YAKIN atau tidak ? Kesabaran itu selalu mengajak hal lain dalam diri kita seperti mengajak kita selalu mengevaluasi dan memperbaikinya, mengajak kita menyempurnakan ilmu sabarnya, mengajak kita untuk terus konsisten dengan harapan Allah, mengajak pula semakin banyak ibadah (shalat) dan banyak lagi. “Mintalah pertolongan kepada Shalat dan Sabar”. Kunci keYAKINan kita adalah tuntasnya persoalan yang kita hadapi.

Terus gemana dong kalau kita yang hanya sebatas PERCAYA tapi belum YAKIN ? bersyukurlah bahwa modal PERCAYA yang kita miliki dengan semakin banyak melakukan ibadah hati agar semakin terbuka hati kita dan diizinkanNya memperoleh hidayah untuk YAKIN kepada Allah. Memohonlah dengan doa agar kita selalu dilindungi dan dibimbing untuk mendapatkan IMAN itu (keYAKINan).

Baca Selengkapnya ....

Lapang dada

Posted by Munir Hasan Basri 0 comments
Orang yang bahagia itu orang yang memiliki hati yang lapang. Perhatikan saat kita memiliki hati yang lapang, keburukan yang kita alami menjadi baik dimata kita. Kita menerima dengan ikhlas apa yang kita alami dan berusahan untuk memperbaiki keadaan menjadi semakin baik sabar dalam ketaatan kepada Allah. Sebaliknya kita yang lapang dada mampu menerima keadaan yang baik untuk disyukuri, tidak sombong dan semakin taat dalam mensyukurinya dengan banyak berbagi.
Sudahkah kita lapang dada ? Lapang dada mesti kita usahakan dengan ketaatan kepada Allah dan berdoa agar diizinkanNya. Selama menjalani ketaatan itu sudah membuat Allah Bersama kita, semakin taat semakin yakin Allah Bersama kita dan lapang lah hati ini.
Jalani ketaatan itu dalam kerja … dimana saat kerja kita mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, berbicara yang baik dan benar, memberi yang terbaik yang kita miliki baik itu ilmu, tenaga, materi untuk orang lain, bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan, mengerjakan dengan ilmu yang benar, selalu ingat waktu untuk beribadah, berlaku santun dan sebagainya.

Lapang dada membuat kita bahagia dan hidup dalam lindungan Allah. Berani nggak ? Just do it.

Baca Selengkapnya ....

Kalau bukan karena karunia dan rahmatNya

Posted by Munir Hasan Basri 28.12.17 0 comments
Apa yang terjadi pada diri kita saat ini ... cenderung kita katakan karena kita sendiri yang melakukannya. Perhatikan saat kita makan, kan karena kita bisa makan dimana tangan dan mulut dikontrol dari kita sendiri. kita berjalan bukankah karena kita yang menggerakkan kaki kita sendiri. Apalagi ya ... kita berpikir seolah kita yang mengendalikan pikiran ini.
Jika direnungkan lebih dalam .... sepertinya tidak ada peran Allah. Apakah ini yang kita sebut "saya beriman kepada Allah" ? Mestinya tidak begitu, "saya beriman kepada Allah maka saya pun sadar kekuasaan Allah ada pada setiap langkah kehidupan saya dan setiap nafas saya". Bahkan kita pun sering mengucapkan "tanpa daya dan kekuatan hanya dari Allah", tapi faktanya tidak demikian


 Kita pun memulai kehidupan ini dengan lahir ke dunia ini seperti tidak merasa ada apa-apa. Iya lahir aja dari ibu kita. Kita bahkan tidak merasa apapun.
Allah memberitahu kita lewat Al Qur'an ... Kalau bukan karena karunia dan rahmatNya semua ini terjadi atas izinNya.
Di dalam surah An Nuur, surah ke-24 Allah mengulangi makna kalimat judul di atas sebanyak 3 kali pada ayat 10, 14 dan 20

 وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ١٠
10. Dan andaikata tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١٤
14. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu

وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ٢٠
20. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar)


Bukankah kita tidak dibiarkan begitu saja untuk hidup. Tapi diminta pertanggungjawabannya kepada Allah. Oleh karena itu karunia dan rahmat Allah itu mesti disyukuri dengan mengerjakan apa yang diperintahkan.
Bayangkan apa yang sudah kita kerjakan selama ini lebih banyak tidak taatnya, lalu apakah ketidaktaatan itu tidak ada balasannya ? Pasti ada.
Mulai lalai meninggalkan shalat tepat waktu, tidak ikhlas kerja, tidak ikhlas berbagi, tidak jujur, malas, marah, mau menang sendiri, ngikutin godaan syetan, cenderung pada dunia, melakukan banyak kesalahan dan dosa sepanjang hidup kita. Jika dihitung maka timbangannya berada di kiri kita alias banyak dosanya.
Lalu beranikah kita bertanya pada diri sendiri, kok saya masih ngga di apa-apain sama Allah ? Kok seolah kita ini sudah benar imannya ? 
jawabannya adalah Karena karunia dan rahmat Allah lah kita masih tidak dibalas di dunia setimpal dengan apa yang kita sudah perbuat. berprasangka baik dengan sadar atas apa yang kita alami adalah Allah memberi kesempatan untuk merubah segalanya dengan ketaatan kepadaNya.
Syukur-syukur dosa kita sudah diampuni karena ibadah dan amal kita yang sedikit.
Begitu juga dengan keinginan kita yang belum terkabul, bisa jadi doa kita yang dikabulkan Allah pun merupakan berkat karunia dan rahmatNya. Karena banyaknya doa yang kita inginakan belum sebanding dengan amalnya (ketaatannya).
menyadari keadaan ini sangat baik buat kita untuk selalu memperbaiki iman kita semakin baik. Insya Allah kita selalu diberi petunjuk dan bimbingan untuk selalu taat kepadaNya. Aamiin







































Baca Selengkapnya ....

Balas kejahatan dengan kebaikan

Posted by Munir Hasan Basri 27.12.17 0 comments
Judul di atas tidak mudah dilaksanakan. Apakah kita siap membalas kejahatan atau keburukan yang menimpa kita dengan kebaikan ? Pesan ini baik dan secara manusia hampir membalas keburukan atau kejahatan dengan hal yang sama atau bahkan lebih buruk lagi. Terus mengapa pesan itu disampaikan Allah kepada kita lewat Al Qur'an ?
Hampir setiap hari kita menerima pesan yang baik baik dari ucapan kita sendiri atau dari orang lain. Tentunya pesan itu untuk diamalkan sehingga kita menjadi semakin baik. Atau pesan baik itu sudah menjadi pencitraan diri dalam pergaulan kita.
Duduklah dengan tenang dan sabarlah untuk memahami makna pesan di atas,"balas kejahatan dengan kebaikan". Boleh kita bertanya pada diri sendiri :
1. Mengapa kejahatan mesti dibalas dengan kebaikan BUKAN dengan kejahatan lagi. Tanpa melihat latar belakang yang berbuat jahat dan melihat hasilnya ke depan, maka jika kejahatan dibalas dengan kejahatan maka tidak pernah selesai urusannya. Bahkan semakin menambah masalah baru. Saat kita dimarahin orang, lalu kita balas dengan memarahinya lagi. Orang yang berbuat marah bisa semakin marah dan terus aja saling memarahi.
2. Tidak ada orang yang ingin bermasalah, maka jauh lebih baik untuk menyelesaikan masalah dan begitulah Allah mengajarkan. "boleh saja membalas keburukan orang lain dengan nilai keburukan yang sama, tapi jika kita bisa bersabar menjadi lebih baik di sisi Allah". Jadi balaslah kejahatan itu dengan kebaikan.
Bagaimana caranya ? Jika kejahatan atau keburukan itu berupa fisik (seperti memukul) berusahalah untuk menghindar dan jika kejahatan itu bukan fisik maka kita cukup diam dan berdoa untuk kebaikan orang yang melakukan kejahatan
3. Tidak ada orang yang suka dengan kejahatan, apalagi menimpa dirinya. Misalkan dirampok atau ditipu atau dipukul atau berupa keburukan seperti sakit, dihina dan sebagainya. Ingat pesan dari Allah juga mengatakan,"setiap manusia tidak dizalimin kecuali dia sendiri yang menzalimin dirinya sendiri dari perbuatan buruk (ketidaktaatan kepada Allah)" dan "setiap dosa dibalas Allah sekecil apapun. Dan keburukan yang kita lakukan pasti dibalas Allah dan kita sendiri yang bertanggung jawab". Atas dasar itulah bahwa kejahatan yang kita terima bisa jadi adalah balasan atas ketidaktaatan kita kepada Allah atau Allah menguji kita dengan kejahatan ...jika hal ini yang terjadi maka kita lakukan seperti point 2. Tapi kita bisa mencegah atau meminimalkan kejahatan yang terjadi pada diri kita dengan BANYAK BERBUAT KEBAIKAN YANG TERUS-MENERUS.
4. Lakukan kebaikan setiap hari agar kita memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat.
Alhamdulillahi rabbil alamiin, atas petunjuk yang Engkau berikan kepada kami hari ini dan mampukan kami untuk mengamalkannya.
Insya Allah dengan pemahaman sedikit demi sedikit kita selalu diberi petunjuk dan kemampuan untuk menjadi manusia yang semakin baik hari ini.

Sampai jumpa lagi ...

Baca Selengkapnya ....

Kesalahan dan banyak amal

Posted by Munir Hasan Basri 6.12.17 0 comments
Boleh dong kita fokus sebentar …. Ambil gelas dan isi gelas dengan air susu (putih). Lalu tumpahkan beberapa tetas betadin maka warna air di dalam gelas menjadi merah. Bagaimana caranya untuk membersihkan tetesan betadin di dalam air susu tadi ?
1.       Buang semua air di dalam gelas dan menggantinya dengan air susu yang baru
2.       Menambah air susu lagi sebanyak-banyaknya sampai air menjadi sedia kala (tetesan betadin hilang)
Gambaran gelas dan air susu itu seperti hati kita yang dulunya bersih menjadi kotor saat kita melakukan dosa atau kesalahan. Sedikit saja kesalahannya membuat sulit untuk menormalkannya lagi, butuh energi dan tindakan yang banyak dan terus-menerus. Bisa dibayangkan dengan banyaknya kesalahan yang kita buat membuat hati ini sulit untuk difungsikan .. dengan kata lain hati kita sulit untuk menerima petunjuk kecuali ada kekuasaan dan kehendak Allah.
Secara logika sulit membuat hati jadi bersih lagi, maka tidak ada lagi langkah lain dengan terus-menerus melakukan kebaikan yang sungguh-sungguh dan berdoa agar Allah memberi rahmatNya kepada hamba yang kehendakiNya. Bahkan disaat kita baru memulai dengan sungguh-sungguh dimana Allah yang Maha mengetahui isi hati kita bisa dengan kehendaknya untuk menyempurnakan hati kita yang kotor.
Selalu ada harapan, bayangkan kita berkata yang baik setiap saat, ibarat air susu yang dimasukkan lagi ke gelas …. Insya Allah hati kita menjadi semakin bersih.
Bagaimana dengan pikiran kita ? Insya Allah otak kita semakin dalam ilmunya dan memudahkan kita untuk beribadah dan beramal yang banyak.

Insya Allah ya Rahman ya rahiim selalu mengingatkan kita untuk selalu membersihkan diri, hati dan pikiran dan kita pun dimampukan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aamiin

Baca Selengkapnya ....

Wajib belajar

Posted by Munir Hasan Basri 4.12.17 0 comments
Ada pesan yang menarik dari Al Qur'an,"janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuannya. Karena pendengaran, penglihatan dan hati diminta pertanggungjawabannya". Suatu hari kita pernah mengalami kejadian seperti ini,"kenapa mas kok salah terus sih dengan pekerjaan yang sama ?" dan jawabannya "ngga ada yang ngajarinnya". Salah ngga ? Ngga salah sih .. karena memnag tidak tahu maka pekerjaannya jadi salah terus. Ditambah lagi," saya kan ngga sekolah tinggi dan yang pintar lah yang punya tanggung jawab ngajarin saya"
Pesan di atas mengingatkan kita untuk bisa melihat bahwa kesalahan itu menandakan kita belum memiliki ilmu yang cukup untuk mengerjakan sesuatu ... lalu bukan berarti membiarkan kita terus begitu. yang tersirat mengajak kita untuk menjawab pesan di atas agar setiap pekerjaan itu membutuhkan ilmu dan soal ilmu itu hanya bisa diperoleh dimulai dari diri kita sendiri.
Mulailah mencari tahu mengapa kita salah ? pertanyaan inilah yang mengajak kita ingin belajar dan bertanyalah kepada mereka yang tahu dan paham ilmunya.
Bisa jadi faktanya memang kita malas belajar dan membiarkan keadaan ini terus berlangsung. yang disalahkan adalah orang lain yang tidak mau membantu dan support. padahal kita lah biangnya. Kita lebih suka mencari alasan yang membenarkan keadaan yang membuat kita tidak ingin belajar.
Pertama yang mesti kita lakukan adalah mensyukuri pendengaran, penglihatan dan hati ... memelihara agar tetap berfungsi dengan baik, caranya ya harus sering dipergunakan setiap saat.  lalu yang kedua adalah memaksimalkan potensi ketiga indera itu agar mampu memahami pengetahuan dari apa yang kita kerjakan. Yang ketiga adalah tetap terus mengevaluasi dan memperbaiki pengetahuan semakin baik.
Begitulah pemahaman saya tentang pesan di atas. pastilah ada hal lain yang menyempurnakan hikmah dari pesan di atas. Insya Allah kita selalu dibukakan hati untuk bisa menerima kebenaran dan siap menjalaninya. Aamiin

Baca Selengkapnya ....

Waktunya SAMA

Posted by Munir Hasan Basri 0 comments
Kesungguhan kita dalam beramal saleh terus diuji dengan berbagai godaan dari syetan. Terkadang godaan itu tidak terlihat dari syetan lagi karena sudah rutin sebagai sebuah kebutuhan. Awalnya kita ingin sedekah dengan nilai tertentu (yang lebih banyak), tapi karena godaan syetan jadilah sedekahnya hanya Rp 2.000 yang penting ikhlas. Apa yang terjadi selanjutnya, kita menjadi biasa bersedekah terus Rp 2.000 dan jika ditanya ikhlas nggak ? Yang penting ikhlas.
Perhatikan waktu yang kita habiskan untuk bersedekah Rp 2.000 dan bersedekah Rp 10.000 adalah sama dan sama-sama ikhlas. Jika pakai logika maka kita memilih Rp 1.000 dengan alasan ekonomis, dan jika pakai hati ... memilih Rp 10.000 karena belum tentu masih ada waktu lagi buat kita bersedekah.
Renungkan sesaat ... iya ya. Mengapa begitu ? Karena ibadah dan amal saleh itu mestinya menggunakan hati (atau menghidupkan hati). Banyak professor yang tahu Islam dan banyak pula yang hafal Al Qur'an serta banyak pula orang yang sudah shalat dan puasa... bisa jadi semua itu karena mereka hanya menggunakan logika saja dan tidak menghidupkan hatinya. Berita tentang orang Islam yang banyak korupsi, bunuh diri dan berbuat kejahatan bisa menunjukkan bahwa hatinya tidak hidup.
Bayangkan lagi waktunya sama, berbuat baik dan berbuat buruk. Berbuat baik dengan sedekah itu sama waktunya dengan berbuat buruk dengan merampok. Allah berfirman, tidak sama orang yang berbuat baik dengan orang yang berbuat buruk.
Demi masa semua orang merugi kecuali yang beriman dan beramal saleh. Mari kita bersyukur dengan mengisi waktu kita dengan banyak beriman dan beramal saleh.
Bagaimana dengan shalat kita yang mau cepat-cepat selesai karena ada tugas yang mau diselesaikan ? Benarkah kita shalat yang hanya 3 menit saja dan setelah shalat pun kita tidak langsung bekerja yang luar biasa. Apakah kita mau mengorbankan waktu yang 3 menit demi pekerjaan atau kita BERANI shalat lebih lama lagi 5 menit saja demi Allah ? 
jangan sampai kita menjadi biasa shalat "cepat selesai" dan BERANIkan diri untuk shalat yang tenang demi Allah.
Insya Allah kita selalu diberi kemampuan untuk berani beriman dan beramal saleh. Aamiin

Baca Selengkapnya ....

Penampilan diri yang semu

Posted by Munir Hasan Basri 22.9.17 0 comments
Penampilan yang menjadi penting dalam organisasi, bisnis dan masyarakat. Apa yang kita tampilkan ? Tampilan yang biasa yang diperbarui sehingga terlihat menarik dan menjadi sorotan banyak orang. Banyak atribut yang kita pasangkan pada diri kita seperti jabatan, pekerjaan yang "terlihat sangat sibuk", pakaian yang bagus, pulpen yang bermerek, kendaraan yang bagus dan ternama serta banyak hal lain.
Benarkah ? 90% benar. Perhatikanlah diri kita, saat kembali ke rumah kita tidak menunjukkan perilaku yang sama saat berada di luar. Demi apa ? demi gengsi dan harga diri untuk dilihat dan dihargai orang lain. Padahal harga diri adalah nilai dari diri kita yang diukur dari seberapa banyak yang sudah kita lakukan untuk kebaikan orang banyak (bukan sebagai bentuk pencitraan).
Sebenarnya harga diri itu bukan diberikan orang lain terhadap kita, tapi penilaian diri kita sendiri. kitalah yang tahu apa yang sebenarnya sudah kita lakukan.
Apakah harga diri kita itu dinilai dari pulpen bermerek yang digunakan untuk menorehkan tanda tangan ? Apakah harga diri itu dinilai dari merek baju yang kita gunakan ? dan seterusnya Tentunya tidak jika kita berkata jujur. 
Harga diri kita sepadan dengan apa yang kita kerjakan atau sama dengan amal saleh kita. Renungkan apakah kita bekerja untuk menampilkan pencitraan diri ? atau apakah kita bekerja karena Allah ?
Bagaimana kerja karena Allah ?? yang pasti dimulai dari niat bahwa hidupku (matiku) untuk Allah, maka selanjutnya kita bekerja sesuai petunjuk Allah. Awali pekerjaan dengan Bismillahi rabbil alamin dan ada kesabaran dalam bekerja untuk mengikuti proses yang ada, istiqamah dalam bekerja untuk menemukan solusi, jujur dalam mengungkapkan fakta, bersyukur dengan memanfaatkan nikmat (potensi yang ada) untuk mendapatkan hasil yang bernilai tambah, berdoa agar diberi kemampuan dan petunjuk, berkata yang baik dan banyak amal saleh lainnya.
Harga diri kita ditinggikan Allah atas apa yang kita kerjakan menjadi dirahmatiNya. Insya Allah kita diberi petunjuk dengan sering membaca Al Qur'an dan dimampukan untuk mengamalkannya. Aamiin

Baca Selengkapnya ....
:
Kultum Motivasi.